Sense of Insecurity

Ada satu pasien yang bolak-balik datang ke meja praktik saya. Berkali-kali dijelaskan tentang penyakitnya, tetap saja tak ada yang berubah dari perilakunya. Penyakitnya kronik, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Setiap kali datang ke meja praktik saya, keluhannya selalu bertumpuk. Entah benar, entah mengada-ada. Nyaris tak ada penyesalan karena dianggapnya semua pengeluaran untuk berobat ke dokter dan membeli obat-obatan sudah ditanggung perusahaannya. Dia cukup datang membawa diri dan keluhannya, diperiksa, mengambil obat, dan pulang. Edukasi sudah bertubi-tubi, tapi terasa seperti menghantam tembok.

Pasien lain berulangkali datang tanpa keluhan yang jelas dan preokupasi penyakitnya yang makin lama makin saya kenali. Sampai suatu saat pihak asuransi menelepon dan curiga pada keluhannya. Barangkali klaimnya membengkak di luar batas perkiraan sang penjamin. Saya edukasi pula berkali-kali dan tampaknya memang nyaris tak menemui hasil.

 

Kedua pasien itu, bagi saya, sudah tak punya cost-consciousness lagi. Perusahaan dan pihak asuransi yang berperan membuatnya begitu –dan boleh jadi memang sudah diperkirakan sebelumnya. Orang yang sudah memiliki asuransi kesehatan akan merasa terjamin untuk mengakses layanan kesehatan sesuka hati mereka. Lihatlah Puskesmas –yang untuk berobat ke sana hanya perlu dua ribu perak sebagai biaya pendaftaran. Biaya yang sangat terjangkau dan kepemilikan asuransi memang baik di satu sisi untuk menjamin ekuitas, tapi itu menyimpan efek buruk di sisi lain. Ia membuat seseorang merasa terjamin mengenai masa depan layanan kesehatannya. Mau sakit apapun, bisa mudah berobat. Tak ada lagi kepedulian berapa harganya, yang penting terjangkau dan terpenuhi. “Di-cover perusahaan kok, Dok…” Begitu kata pasien saya.

 

Itu yang dikenal sebagai moral hazard. Asuransi, dalam bentuk jaminan kesehatan sosial maupun asuransi pribadi, memang punya efek samping menginduksi munculnya moral hazard. Saya tak tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia yang tepat –apakah bisa disebut ‘bahaya moral’?. Ia dapat berupa perilaku berisiko yang kerap terus dilakukan karena merasa akses layanan kesehatan bagi dirinya sudah terjamin (ex-ante moral hazard) atau berulangkali datang ke layanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan yang sebenarnya tak benar-benar ia perlukan (ex-post moral hazard). Tapi, saya tak perlu menceramahi itu semua. Saya hanya berpikir, barangkali keduanya telah kehilangan sense of insecurity, rasa tidak aman dan kerentanan.

 

Selesai mengingat kedua pasien itu, saya lantas teringat kisah Umar bin Khattab yang bertanya kepada Ubay bin Kaab tentang taqwa. Ubay bertanya balik, “Pernahkah Engkau berjalan di titian yang penuh duri?” dan Umar mengiyakan. “Apa yang engkau lakukan?” Tanya Ubay lagi. Umar menjawab bahwa ia akan berhati-hati berjalan, menggulung lengannya dan berjuang. “Itulah taqwa,” jawab Ubay. Ada sense of insecurity, keberhati-hatian dalam hidup.

 

Kita mungkin tak mampu lagi berhitung berapa banyak moral hazard yang sudah kita lakukan dalam hidup.  Allah, dalam bahasa ekonomi, adalah the Perfect Agent. Dia Mengetahui segalanya. Jika dokter tak pernah yakin 100% outcome pengobatannya, Allah Maha Tahu tentang akhir perjalanan hidup. Jika dokter tak pernah bisa menjamin kapan seseorang sembuh, Allah Maha Tahu bagaimana caranya seseorang mendapatkan ridha dan ampunanNya. Tapi, sense of insecurity kita seringkali hilang, merasa bahwa kita sudah begitu ‘aman’ dari penglihatanNya, juga merasa ‘aman’ akan mendapatkan tempat di surgaNya. Ketika sense of insecurity kita hilang, ada dosa yang seringkali kita lakukan, perilaku kita berisiko akan azabNya –ex-ante moral hazard kita kepada Allah. Di kesempatan lain, ada taubat yang tak pernah menjadi taubatan nasuuha, berkali-kali taubat tanpa penyesalan yang berarti –ex-post moral hazard kita kepada Allah. Padahal, sesungguhnya Allah sudah berikan panduan lengkapnya dalam al Qur’an dan hadits –yang tak akan tersesat bila kita memegang teguh keduanya. Allah sediakan jalan kebaikan, juga Allah sediakan pintu taubat. Insurance tentang surga pun berlimpah, tapi ancaman neraka pun mengimbangi. Barangkali ada yang tak seimbang dalam hidup kita.

 

Sense of insecurity itu yang membuat para sahabat kerap menangis dalam shalat malamnya. Sense of insecurity itu yang membuat para salafus shalih memperbanyak ibadahnya dan menguatkan sikap wara’. Karena kearifan kita tak pernah menyamai kearifan Rasul yang terus menerus berterima kasih dalam ibadahnya meski telah dijamin surgaNya, maka cukuplah memelihara sense of insecurity dalam diri kita. Itu yang disebut dengan taqwa, yang menginduksi lahirnya sikap muraqabatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah) dan wara’ (berlepas diri dari segala keharaman).

 

Saya merenung lagi. Barangkali ketika nanti menerima pasien, perlulah pula saya mewasiatkan taqwa kepadanya. Ittaqullah, ittaqullaha haqqa tuqaatihi. Taqwa yang seharusnya tak hanya berdiam di mimbar-mimbar masjid, tapi hadir di ruang praktik dan gelas-gelas penyerta minum obat. Agar semua mengerti: betapa rentannya hidup kita ini.

 

Rotterdam, Oktober 2012

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Sense of Insecurity”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s