Bakal Bekal

Kiai Badrun tampak sedang berkemas-kemas. Beberapa lembar pakaiannya dimasukkan ke dalam koper besar. Bukan koper mahal, hanya dibelinya dengan terburu-buru di pasar loak sehari yang lalu. Tanpa merk, juga tanpa label harga yang bisa dibanggakan. Sebenarnya Kiai punya satu koper besar, tapi ia sendiri tak pernah tahu diletakkan di mana lagi sekarang. “Kau pikir kapan terakhir kita berhaji?” Kiai balik bertanya ke Hindun, istrinya, yang bolak balik ke gudang dan tidak menemukan satu pun isyarat benda bernama koper. Warnanya pun Kiai lupa. Kiai Badrun keluar dari varian normal para Kiai yang mampu berhaji dan umrah berkali-kali. “Itu kan sekali-kalinya kita pergi haji. Kalaupun hilang atau lupa, mudah-mudahan yang menemukan dan mengambilnya jadi bisa pergi haji. Anggap saja itu haji kita kedua. Haji koper.” Hindun tak bertanya lagi setelah itu. Mukanya lega menatap wajah suaminya yang tanpa beban sepulang dari pasar loak. Dua buah koper besar berwarna hitam dijinjingnya di kanan-kiri. Tak ada koper kecil untuk kabin, juga tak ada tas selempang yang bisa dibawa berjalan-jalan. Ah, dua koper pun cukup. Hati yang lapang, bahkan, lebih dari cukup.

Jarun yang sedari tadi menunggu di pondok kecil Sang Kiai mengintip sebentar-sebentar ke dalam. Kiai masih berkemas-kemas, lengkap dengan peluhnya yang mulai bercucuran dari kening.

“Menganak pinak, Run?” Manun menarik-narik lengan Jarun, mencari tahu apa yang sesungguhnya yang terjadi di dalam sana. Murid-murid berpeci itu mendadak berubah jadi wartawan infotainment yang sudah menyuarkan berita meski belum tahu kebenaran kejadiannya. “Basah kuyup, Nun. Basah kuyup,” kata Jarun. Keduanya duduk berhadapan. Yang satu bercerita hiperbolik, yang satu lagi duduk khusyu’ mendengarkan sambil menyimpan niat dalam-dalam untuk segera menyuarkan lagi ceritanya kepada yang lain. Memang ada berita penting yang tidak penting dan ada berita tidak penting yang menjadi penting. Tak perlu pula ikut pelatihan apalagi kuliah jurnalistik berlama-lama karena pewarta boleh jadi cukup memiliki blog yang disebar-sebar ke penjuru dunia. Boleh juga menyimpan artikel di portal berita terkenal secara bebas. Lebih boleh lagi menyebar berita yang salin-tempel di status jejaring sosial. Jurnalisme orang kota, barangkali. Yang masih di kampung, cukup dengan istilah gosip di warung kopi. Dari mulut ke mulut.

“Aku update status dulu,” sela Manun. “Penting ini, semua orang mesti tahu kalau Kiai mau pergi jauh. Jauh sekali.” Sibuk mencari-cari telepon selulernya di dalam saku, Manun tak sadar jika Kiai Badrun tiba-tiba keluar ke ruang tamu.

“Loh, kok masih di sini? Sudah berkemas-kemas kalian?

Kiai Badrun berdiri tegap. Manun memperhatikan dalam-dalam periuk wajah sang Kiai. Tak ada lenguh, tak ada peluh. Bajunya pun tak basah kuyup. Diliriknya Jarun dengan picingan mata tajam seperti ada dendam membara yang menggelora di matanya. Ia baru saja sadar bahwa ada yang sempat berdusta dan hampir saja kedustaan itu disebarluaskan tanpa saringan apapun. Tanpa konfirmasi, tanpa cek ricek. Asal ketik, asal tempel. Asar koar, asal ceblak.

Ngg… anu Kiai. Sudah semua kami kemas. Lengkap dua koper, plus satu ransel. Lebih lengkap dari kemas-kemas Kiai.” Jarun menjawab lepas sambil membereskan kemejanya yang sedikit lusuh karena tak henti duduk dan berdiri mengawasi Kiai sedari tadi. Kain sarungnya ikut dibenahi sambil meluruskan posisi peci hitamnya yang agak miring. Lalu tersenyum.

“Ada yang kurang, Kiai? Jangan sampai nanti kami terlupa.” Manun menyela, mencari perhatian.

“Kalian mau pergi ke mana?”

“Belanda, Kiai. Eropa.”

Kiai Badrun, Hindun, Jarun, dan Manun memang akan pergi ke Belanda. Berempat. Farous Ibnu Wahab, seorang cendikia Islam dari Syiria yang memiliki sebuah intitut pendidikan Islam di Rotterdam mengundang Kiai Badrun untuk mengajar selama setahun. Tak banyak kisah tentang Farous. Ia hanya dikenalkan oleh Kiai Salamun kepada Kiai Badrun saat berkunjung ke Negeri Sukun. Dalam suratnya yang singkat, ia hanya mengungkap ketertarikannya kepada Kiai Badrun dan mengajaknya berkisah di Belanda. Ya, berkisah. Kiai badrun tak ingin berceramah dan menjadi pemateri kuliah. Kesepakatannya bersama Farous hanyalah berkisah, seperti yang ia lakukan di Negeri Sukun.

“Saya ndak punya video yang bisa bikin histeris. Saya juga ndak jago menulis. Saya cuma punya lidah, barangkali ada yang mau mendengar kisah-kisah saya. Kalau itu dianggap ceramah atau kuliah, silakan saja.” Begitu katanya kepada Farous dalam sebuah perbincangan telepon jarak jauh.

Kiai Badrun awalnya ragu. Meninggalkan Negeri Sukun untuk sementara waktu pastilah menyisakan beban yang harus ia tanggung. Dua murid sontoloyonya, Jarun dan Manun, belum bisa dilepas begitu saja meski tak lagi tampak pandir di depan jamaah. Maka, Kiai meminta syarat bahwa istrinya dan dua muridnya harus diikutsertakan. Farous menyanggupi. Kiai Badrun dan rombongan pun diberikan tempat tinggal tiga tingkat, lengkap dengan semua perlengkapan rumah tangga. Semua aktivitas pengajaran dipusatkan di institut Islam milik Farous, sedangkan segala tingkah kekonyolan murid sang Kiai dipadatkan pada sepanjang jalan kota Rotterdam.

“Kiai, apa pantas kita pergi kalau ndak ada syukuran?” Manun menyela lagi. Perhatian yang tadi sepertinya belum cukup banyak. Kali ini ia memasang muka yang lebih serius dengan alis mata yang saling menukik menuju pangkal hidung. Tangannya perlahan diangkat, menopang dagu yang entah mengapa selalu dielus-elusnya meski tak punya jenggot.

Haflatul wada[1], maksudmu Nun?” Jarun bertanya, tak kalah serius.

Walimatus safar[2]. Ramai-ramai sebelum berangkat. Jangan kalah sama yang pergi haji, Kiai. Bikin pesta besar-besaran seperti ingin menikahkan anaknya. Bikin seperti walimatul ursy[3].”

“Siapa tahu ada yang mau mbekeli[4]. Kasih rantang atau rice cooker buat dibawa ke sana?”

“Atau mau titip oleh-oleh.”

“Biar semua orang tahu, Kiai. Kita mau pergi ke negeri jauh. Bukan haji, lebih jauh dari haji, bahkan. Saya siap undang semua orang. Saya invite pakai status saya.” Manun sibuk mencari-cari telepon selulernya yang belum ketemu dari tadi.

Hahaha… Kiai Badrun tertawa. Khas.

“Saya ndak punya apa-apa, Run, Nun.”

“Kami yang bantu persiapannya, Kiai. Ndak perlu khawatir.”

“Ah, Rasul itu mau pergi, mau perpisahan, punya wasiat untuk umat. Saya ndak punya apa-apa sebagai wasiat, lalu mengapa justru memestakan kepergian dan perpisahan?”

Jarun dan Manun mendadak diam. Sunyi.

“Setiap saat kita itu safar, dalam perjalanan. Ndak ada yang tahu pasti tujuan akhir saat kita di-cap wada’, kapan sesungguhnya wada’ kita, perpisahan kita dengan orang yang kita cintai di dunia ini. Cukuplah berkemas, berbekal. Ndak perlu pesta dan bermewah-mewah.”

Semakin sunyi.

Tiba-tiba telepon seluler Manun berbunyi. Ah, akhirnya ia temukan. Langsung tangannya menyambar.

“Mak-mu kirim pesan?” Jarun penasaran.

“Mak mana bisa pakai hape. Ini notification, ada yang re-tweet.”

“Nah, kau sudah tahu kan apa bekalnya sekarang?”

Manun melepas telepon selulernya, memasukkannya ke bawah kain sarungnya.

“Ketakutanmu, kekhawatiranmu, kecemas-harapanmu. Itu yang kau persiapkan, yang jadi awal bekalmu.”

Telepon seluler Manun berbunyi berkali-kali. Tidak juga ia buka. Ia ingat, baru saja menuliskan “Away” pada statusnya.

Rotterdam, November 2012


[1] Haflatul wada : pesta perpisahan

[2] Walimatus safar : pesta (sebelum melakukan) perjalanan

[3] Walimatul ursy : pesta pernikahan

[4] Mbekeli : memberi bekal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s