Bungkusan Plastik Mami

Gambar

Dari dulu Mami, begitu saya menyebut ibu saya, punya satu kebiasaan yang mungkin berakar dari tradisi di keluarga, yaitu membagi-bagikan makanan. Setiap ada kelebihan makanan, entah karena habis ada syukuran di rumah, sedang masak banyak, atau apapun, ibu saya membungkusnya dalam plastik dan meniatkannya untuk dibagikan ke tetangga dan kerabat. Lalu, dipanggillah anak-anaknya untuk membawakan kantong-kantong itu ke Cing[1] Anu, Cang[2] Ini, Bang Ono[3], atau Mpok Ene (semua bukan nama asli demi menjaga harkat dan martabat, hehe).

Kadang saya kesal dan bermalas-malasan mengerjakannya. Sedang enak-enak bermain, bersantai-santai, atau menonton televisi kok ya disuruh antar-antar bungkusan plastik? Terlebih, saya anak yang paling kecil di rumah, paling mudah disuruh, dan memang serumah dengan ibu saya, bahkan sampai saya menikah.

Bahkan, saya sempat menggeleng-gelengkan kepala karena ibu saya tiba-tiba memberikan saya bungkusan plastik berisi biskuit kaleng besar. “Nih, bawa kalau datang ke rumah Cing Anu,” katanya. Tanpa ada nasihat tambahan apapun. Pokoknya, harus dibawa. Ibu saya tidak bilang, “Kalau ke rumah orang lain kamu harusnya begini dan begitu, begono dan begunu[4]” Tidak. Ibu saya hanya menyuruh saya membawa bungkusan plastik itu. Titik.

Tradisi ini tidak hanya berlaku pada keluarga ibu saya. Encing dan Encang[5] saya pun begitu, apalagi nenek saya. Seringkali, saya bersama sepupu-sepupu yang lain diminta mengantarkan makanan semasa kecil dulu. Bergerombollah kami, dua orang ke gang ini, tiga orang ke gang anu, yang lain ke jalan ono. Saya yang paling kecil biasanya hanya menguntit dan jejingkrakan[6] di belakang. Kalau ramai-ramai pasti senang. Kalau sendiri, barangkali lebih sering ngedumel.[7]

Perlu waktu lama untuk menyadari pola pendidikan ibu saya itu. Setelah saya menikah, punya anak, terlebih tinggal jauh di Belanda, saya mulai menyadari sedikit demi sedikit. Pertama, ibu saya mengajarkan saya untuk kenal dengan tetangga, dengan saudara, terlebih kerabat dekat. Bahasa betawinya, jangan ampe ame encing sendiri lu kagak kenal. Bagaimana saya tidak kenal? Sebelum berangkat membawa kantong-kantong itu, saya selalu di-briefing.

Rumahnye Cing Ono, dari sini masuk gang belok kiri, mentok belok kanan. Nah, sebelom pojokan, rumahnye yang cat putih, pagarnye ijo, ade pohon pinangnye due biji. Ntar tanya, Cing Ono-nya ade? Salamin. Ada titipan dari Mami.”

Nah, saya jadi kenal kan sama Cing Ono, bahkan mungkin sama anak-anaknya.

Entar kalo ditanya, Mami siapa? Jawabnya apa?”

“Bilang aje dari Cing Iik.”

Dengan begitu, si Cing Ono dan keluarganya pun mulai recognize: oh, saya ini anaknya Cing Iik yang paling bontot[8]. Sudah bontot, pakai ‘paling’ pula. Saya pun harus laporan kalau ditanya, “Ade Cing Ono-nye?” sampai “Siape yang bukain pintu?” Dengan begitu saya tahu kalau yang tadi membukakan pintu itu anaknya Cing Ono yang kedua. Anaknya yang pertama sudah menikah dan pindah rumah, sedangkan anaknya yang ketiga masih sekolah. Begonoo

Sudah begitupun, saya masih banyak tidak kenal dengan kerabat. Ibu saya memaklumi, “Dulu dia (maksudnya: saya) di pesantren sih, terus kuliah pagi sampai malam. Wajar kalau masih banyak nggak kenal.” Ah, baiknya ibu saya itu… Dan ketika sudah berkeluarga dan jauh dari orangtua, saya mulai memahami pelajaran-pelajaran ini. Membawakan keluarga lain bingkisan apapun, mulai belajar masak, mengundang orang-orang, dan menyuguhi makanan. Saya mulai menyukai tradisi ini, yang sebenarnya secara teori sudah saya hafal dari hadits-hadits nabi, tapi belum juga saya praktekkan. Malah, saya mulai ketagihan menyiapkan makanan di masjid kalau ada pengajian atau shalat Jum’at untuk menjaga silaturrahim, menambah kenalan, dan berharap bisa tambah saling mencintai. Nah, ini ternyata pelajaran kedua, ketiga, dan seterusnya.

Di tengah melajunya zaman, saya sadar bahwa ancaman untuk tidak mengenal tetangga dan kerabat itu makin besar. Saya, atau istri dan anak keturunan saya, bisa jadi tidak mengenal kerabat-kerabat saya lagi. Begitu pun sebaliknya. Saya sadari bahwa Allah mengirim saya ke Belanda bukan sekadar untuk kuliah master, tapi belajar hal-hal praktis silaturrahim yang dulu tidak saya pahami dengan benar di rumah. Allah memberi saya kesempatan untuk mengubah keluhan-keluhan saya di masa lalu ketika diminta untuk mengantar makanan atau mengantar orangtua kondangan[9], menjadi pelajaran yang harus disyukuri. Dan saya belajar pula, seperti yang Rasulullah ajarkan, carilah dan pergilah ke masjid saat pertama kali memasuki satu lingkungan baru. Temui sebanyak-banyaknya orang dan berkenalanlah di sana. Insya Allah, di situlah letak keberkahan.

 

Rotterdam, Juni 2013


[1] Cing (Betawi): sebutan untuk paman atau bibi yang lebih muda dari orangtua. Mirip Pak/Bu Lik (bahasa Jawa).

[2] Cang (Betawi): sebutan untuk paman atau bibi yang lebih tua dari orangtua. Mirip Pak/Bu De (bahasa Jawa).

[3] Anu, Ini, Ono, dan Ene untuk menggantikan sebutan si fulan/fulanah saja. Bukan nama asli.

[4] Begono dan begunu hanya untuk menunjukkan variasi.

[5] Tambahan bunyi “En” pada kata “Encing”, bukan Cing, karena kebutuhan aksen saja.

[6] Jejingkrakan (Betawi): berlompat-lompatan dengan gembira.

[7] Ngedumel (Betawi): mengeluh di belakang

[8] Bontot (Betawi) : bungsu

[9] Kondangan (Betawi): pergi menghadiri undangan pernikahan

Gambar diambil dari: http://www.greenradio.fm/images/stories/demo/artist/r215609_837743plastic.gif

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s