Tahdiri

Begini semestinya Tahdiri. Ia punya makna yang jelas dalam filosofi madrasah: “attending”, menghadiri. Ia punya makna lebih tepat dibandingkan istilah lain yang kerap dipakai, misalnya ‘Bustanul Athfaal’ atau Taman Kanak-Kanak sekalipun.

img_20161013_0952351

Tepat sepekan setelah ulang tahunnya yang keempat, Birru masuk sekolah di lingkungan yang sama sekali baru. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga kami, orangtuanya. Ia masuk Grup 1 –setingkat Taman Kanak-kanak (TK) di Indonesia. Pada usia yang sama, saya dulu masuk kelas tahdiri di sebuah madrasah.

Mengapa tidak masuk ke TK? Pertanyaan itu memang sempat mampir di kepala saya. Tetapi, keputusan masuk kelas Tahdiri saat itu, seingat saya, adalah keputusan bersama saya dan orangtua. Tidak keputusan yang bulat dalam sebuah mufakat. Mereka menganjurkan, saya mengangguk, lalu kami mencoba. Jawaban yang saya ingat kala itu adalah bahwa kelas Tahdiri lebih baik, pelajarannya lebih bagus dan akan lebih siap masuk Sekolah Dasar (SD).

Kami menemani Birru di dua hari pertamanya; masa percobaan sebelum liburan musim gugur. Dan memang, seperti yang disebutkan kepala sekolah dan guru kelasnya, masa Grup 1 adalah masa bermain. “Ia cukup hadir di kelas, melihat-melihat apa yang akan dilakukannya nanti di Grup 2 dan seterusnya,” begitu kata guru kelasnya. Kelasnya penuh dengan mainan, tanpa pelajaran formal dengan guru berdiri di depan kelas dan murid menyimak di mejanya. Tidak ada pelajaran baca tulis, juga berhitung.

Hari-hari pertamanya adalah hari-hari dengan mainan binatang serupa kebun binatang mini: boerderij. Gurunya membiarkan sesuai apa yang membuat Birru nyaman sampai akhirnya ia dapat bermain dengan kawan-kawannya meski dalam bahasa yang saling tidak dapat dipahami. Tapi, gurunya sekali lagi menegaskan, “Playing is a language.” Jadi, jangan khawatir.

Begini semestinya Tahdiri. Ia punya makna yang jelas dalam filosofi madrasah: “attending”, menghadiri. Ia punya makna lebih tepat dibandingkan istilah lain yang kerap dipakai, misalnya ‘Bustanul Athfaal’ atau Taman Kanak-Kanak sekalipun. Di situlah masa anak-anak melihat apa yang akan mereka lakukan dalam beberapa tahun ke depan tanpa ada ‘tekanan’ untuk mampu membaca dan berhitung. Tapi, filosofi yang baik itu hilang seiring dengan perkembangan pendidikan yang kerap menuntut anak sudah mampu membaca dan berhitung –bahkan, diseleksi untuk masuk SD.

Tuntutan itu membuat filosofi belajar di masa kanak-kanak menjadi amat sempit dengan duduk dalam kegiatan pembelajaran yang formal –meski juga selalu ada sesi bermain. Tahdiri bukan berarti hanya bermain, ia juga belajar. Learning by taking experiences. Karena anak-anak dapat belajar dengan cepat, maka mereka dapat pula membaca, menyusun huruf-huruf namanya, dan berhitung tanpa harus dituntun untuk menghafal. Lebih dari itu, karakter mereka ikut dibentuk untuk dapat bekerjasama, saling membantu, bergiliran dalam antrean, dan sikap-sikap baik lain yang membuat anak-anak juga ikut mengingatkan orangtuanya di rumah ketika mereka melakukan hal yang keliru.

Tahdiri bukan berarti pula hanya bermain, ia juga belajar. Ada penugasan dalam permainan, tetapi tidak ada target capaian kognitif apapun. Tidak perlu ada pekerjaan rumah yang harus dibawa pulang, tidak perlu pula membebani orangtua dengan prakarya apapun. Tahdiri berarti ia cukup hadir di dalam kelas, menikmati belajar yang menyenangkan di dalamnya, dan menyenangi hal-hal baik yang perlahan akan membentuk dirinya.

Rotterdam, November 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s