Anak Hujan

anak-hujan

hujan memaksa kayuh kita menepi

memungut kenangan yang tak jua sepi

kita yang berboncengan di bawah hujan

tak punya kita atap, kecuali pelukan

ketika gembos ban di jalanan

dan mesin mati saat kebanjiran

perutmu sudah membuncit, Sayang

kita merapat di emper warung yang padat

selepas kau tak mengerti: harus duka atau bahagia

yang tumbuh dalam perutmu menerbitkan asa

lagi setelah harapan yang tertunda

ia pula yang memaksa gurumu berkata

: tak perlulah ke rumah sakit dulu. istirahatlah

yang kecil tumbuh dalam perutmu, Sayang

kini menepuk-nepuk pundakku dan tertawa

: jalan saja, Buya. hujan pun tak apa. aku tak gentar

lupa kita, ia telah besar

dan tak takut hujan, sejak dalam kandungan

Rotterdam, Januari 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s