Menuju ‘Smoke-Free’ Tahlilan

Di tahun 1990-an, saya menikmati fenomena rokok di rangkaian acara pernikahan. Saya masih kecil waktu itu, dan selalu bertanya-tanya mengapa ada rokok yang diselipkan di amplop undangan pernikahan. Jangan bayangkan undangan pernikahan yang mewah, tebal, wangi, dan dibubuhi tempat bonafid sebagai lokasi resepsi. Jangan! Undangannya sederhana, dibungkus amplop plastik transparan, dan menggembung jika tujuan penerimanya adalah para lelaki. Ya, menggembung karena di dalamnya ada satu-dua batang rokok yang diselipkan.

Dari undangan itu anda akan tahu seberapa royal dan seberapa tinggi derajat ekonomi si pengundang. Anda dapat dengan mudah membedakan antara pengundang yang menyelipkan rokok kretek dengan mereka yang menyelipkan rokok filter. Dengan begitu, anda juga bisa mulai mengira-ngira seberapa megah makanan yang disajikan nanti saat resepsi. Ya, meskipun tidak mutlak, korelasinya cukup kuat.

Resepsi, pada masa itu, punya caranya tersendiri. Siang hari untuk makanan prasmanan formal, dan malam hari akan dibuka banyak meja melingkar atau kotak dengan sajian kue –dan tentu saja rokok yang dijejalkan di gelas, di atas meja. Ibarat pagi hari ruangan berbentuk kelas formal, malam hari adalah round-table meeting. Dan kepulan asap bisa Anda nikmati sesuka hati, lengkap dengan tape-uli, wajik, rengginang, dan kacang goreng tak bermerk –karena dibeli literan dari warung pojok dan digoreng sendiri dengan pasir.

Belakangan konstelasi acara pernikahan berubah. Rumah di Jakarta semakin padat dan menghimpit-himpit. Kontrakan di mana-mana, termasuk di halaman rumah yang dulu masih leluasa dipakai bermain sepakbola dan petak umpet –juga sekaligus pelaminan jika ada yang menikah. Maka, mereka yang tak sanggup menyewa gedung akan menginvasi jalanan raya. Di ujung jalan, para hansip menutup akses dengan bangku kayu dan panduan arah jalan alternatif. Di pasar, sopir-sopir mikrolet sudah sejak awal akan bilang, “Jalannye muter ya, Buuu. Sebelah sono ada kawinan. Ditutup!” Mereka yang terlanjur berkendara, akan misuh-misuh di depan para hansip karena merasa tak diberitahu sebelumnya dan tidak mendapat notifikasi dari GoogleMap dan Waze. Khusus Jakarta pinggir, memang perlu ada fasilitas notifikasi tambahan: “Tarub[i] Gede, Jalan Ditutup” dengan ikon ‘tenda biru’.

Diambil dari: https://www.kaskus.co.id/thread/5661132a5c779823038b456b/bikin-hajatan-dan-nutup-jalan-umum-ganggu-ga-sih/

Acaranya pun semakin sederhana, mengikut praktik orang-orang kota kebanyakan. Meski masih sering resepsi siang-malam yang membuat pengantin pegal-pegal salaman dan berdiri, desain interiornya mulai berubah. Beberapa memasang AC portable di dalam tenda, yang lainnya memasang kipas angin dengan siwir-siwir muncatan air yang segar. Itu mengubah satu hal: reduksi jumlah perokok di dalam tenda! Mereka yang bermigrasi menyelenggarakan resepsi di dalam gedung ber-AC, akan menjumpai asap rokok mendekati 0% di dalam ruangan.

Saya menyibak pelajaran penting: konteks mengubah sikap, perilaku dan praktik.

Dua pembicara dari Korea di sebuah konferensi internasional mengagung-agungkan keberhasilan mereka menyelenggarakan Piala Dunia 2002 pertama dengan kebijakan tanpa asap rokok. Smoke-free policy, atau tobacco-free policy. Keberhasilan yang membuat WHO dan FIFA, juga perhimpunan olahraga dunia lainnya, semakin getol menggemborkan kebijakan smoke-free di setiap acara superbesar (mega events).

Diambil dari: http://www2.paho.org/hq/index.php?option=com_content&view=article&id=8440%3A2013-paho-welcomes-tobacco-ban-at-2014-fifa-world-cup-brazil&catid=4045%3Achronic-diseases-news&Itemid=40276&lang=en

 

Mengapa di acara superbesar? Pertama, banyak orang yang terpapar sehingga harus diproteksi sedemikian rupa agar risiko bisa dimitigasi sejak awal. Kedua, banyaknya orang yang hadir membuat kampanye smoke-free semakin leluasa diterima. Ketiga, karena acara superbesar mensyaratkan persiapan yang baik, fasilitas yang hebat, dan infrastruktur yang nyaman sehingga meningkatkan peluang orang untuk meninggalkan rokok. Ini yang saya sebut sebagai ‘konteks’ yang mengubah sikap dan praktik.

Anda tidak akan mudah meminta orang tidak merokok dalam acara konser musik di lapangan, misalnya, karena konteksnya tidak mendukung. Anda mudah meminta rokok tak berseliweran ketika konser musik Anda pindahkan ke dalam ruang ber-AC.

Piala Dunia, Olimpiade, Asian Games atau konser-konser musik adalah kegiatan temporer. Kita tak bisa berharap banyak semua itu akan mengubah kultur jangka panjang. Ketika Anda ingin mengubah kultur, maka paparannya harus semakin sering dan sedekat mungkin dengan kehidupan masyarakat.

Smoke-free resepsi pernikahan itu contohnya. Tidak perlu ada spanduk atau himbauan poster di depan pintu masuk untuk melarang pengunjung merokok. Konteksnya terbentuk dalam jangka panjang dan dipengaruhi oleh kapabilitas finansial masyarakat. Semakin terpapar pada tradisi baru, kemampuan menjangkau fasilitas-fasilitas yang (cukup) mewah, dan situasi-situasi ‘keterpaksaan’, bahkan tanpa perlu memperhatikan tingkatan pendidikan dan persepsi dasar, kultur akan bergeser dengan sukarela.

Lalu, kita mesti bergerak ke praktik-praktik yang lebih sering dan dekat dengan komunitas. Saya terbayangkan betapa seringnya orang-orang di sekitar saya menyelenggarakan ‘tahlilan’ dalam kaitan apapun, mulai dari kehamilan, kelahiran, pernikahan, kematian, sampai bepergian dan plesiran, ada keperluan tradisi menyelenggarakan tahlilan dalam skalanya masing-masing. Pada bentuk yang lain, ia berupa maulidan, muharraman, nisyfu sya’banan, atau halal bihalalan. Anda akan jumpai asap rokok membumbung di mana-mana, dari mulai pintu masuk, ujung karpet yang digelar, sampai mendekati podium.

Rekayasa kultural pertama barangkali adalah membangun tempat penyelenggaraan yang megah. Jika Anda berharap di setiap tahlilan di rumah warga ada kebijakan smoke-free, yang perlu Anda pastikan adalah mereka naik taraf hidupnya. Mampu membeli AC dan membiayai listrik tiap bulannya –sehingga setiap rumah merasa perlu menyalakan AC dan dengan begitu asap rokok tak punya tempat yang layak. Bukan sekadar bilang bahwa “yang merokok kebanyakan kelompok menengah ke bawah, dan mereka harus diedukasi”. Pajak dinaikkan, sehingga dayabeli menurun. Tidak! Jika Anda berharap smoke-free, yang perlu Anda perhatikan adalah semakin perhatian dan seksamanya Anda berupaya meningkatkan kesejahteraan semua. Buat dayabeli rumah tangga mereka meningkat.

Setelah itu, bolehlah kita wujudkan, misalnya: Menuju Smoke-Free Tahlilan. Target tahunnya, silakan Anda tulis sendiri.

Rotterdam, 2017.

[i] Tarub: tenda yang digunakan untuk resepsi

Iklan

2 tanggapan untuk “Menuju ‘Smoke-Free’ Tahlilan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s