INSENTIF LALAT

Pergilah ke bandara Schipol, dan akan Anda jumpai lalat di urinoir para lelaki. Ya, lalat. Yang semestinya ada di bak sampah dan tempat jorok. Sempat saya bertanya mengapa mereka memasang gambar lalat di urinoir para lelaki?

Berterimakasihlah kepada para ekonom. Lalat-lalat itu hinggap lewat kelihaian matematika dan amatan yang seksama. Para lelaki seringkali abai ketika buang air kecil, terutama ketika berdiri. Jika tak percaya, cobalah tengok toilet umum khusus mereka. Acak-acakan, muncrat ke mana-mana. Untuk airport sebesar Schipol dengan ribuan pengunjung setiap hari tentu soalan ini merepotkan. Tim ekonom kemudian membuat intervensi unik. Mereka menempel gambar lalat di sisi kiri lubang urinoir.

Hasilnya? Gambar lalat itu berhasil menurunkan rerata muncrat-muncratannya buang air kecil para lelaki hingga 80%. Para lelaki itu memang terdorong untuk mengarahkan arah buang air kecilnya ketika diberikan target. Ini yang disebut sebagai “heuristic decision making”. Secara tanpa sadar, mereka membuat keputusan berdasarkan apa yang terlintas begitu saja dalam kepalanya –dan ternyata direkam oleh Ekonom peraih nobel, Richard Thaler, untuk membuat teori yang diistilahkan olehnya sebagai “Nudge”.

Ada beragam pengertian ‘nudge’, tetapi sederhananya: Anda berikan insentif kepada mereka, maka mereka akan terdorong untuk memilih yang Anda sodorkan itu.

Dalam strategi kesehatan publik, ‘nudging’ juga menjadi senjata yang, sayangnya, jarang dipakai. Untuk membuat orang mengonsumsi makanan sehat, pasar swalayan (apakah terminologi ini masih pas dipakai di Indonesia?) perlu meletakkan buah dan sayuran di pintu masuk, memberikannya diskon, atau menyusun arsitektur interior sedemikian rupa yang membuat pengunjungnya hanya berpikir tentang makanan sehat. Letakkan ia di tempat yang mudah dijangkau, dan letakkan makanan tak sehat di keranjang yang sulit digapai.

Ekonomi perilaku ini menarik –dan tidak melulu bicara tentang fiscal space, inflasi, dan tetek bengek yang membuat kening berkerut. Kalau pemerintah ingin rakyatnya masuk sebagai peserta JKN, pahami perilaku ekonomi mereka; bagaimana rakyat membuat keputusan untuk membayar premi dan bukan membeli rokok. Jika ingin dokter menyebar ke seantero jagad Indonesia, pahami apa yang mendasari mereka membuat keputusan untuk ikut atau tidak ikut, untuk suka atau tidak suka, untuk rela atau tidak rela.

Sayangnya, kebijakan seringkali mengacu pada budaya paternalistik. Seperti bapak yang bilang kepada anaknya, “Hus, kamu tidak tahu apa-apa. Ikuti saja kata Bapak…”

Mungkin kita perlu belajar kepada lalat di urinoir para lelaki. Jika Anda belum mampu memahami perilaku pengambilan keputusan, setidaknya Anda bisa mengerti sedikit: para lelaki butuh diberikan target, tenggat, deadline, agar mereka fokus dan punya tujuan.

Rotterdam, April 2017

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s