Menanam Bencana

Siapakah yang lebih sabar dari Muhammad Sang Rasul –yang ketika Jibril tak datang menyampaikan wahyu, ia diolok-olok;[1] yang ketika menyampaikan wahyuNya, ia disebut gila;[2] yang ketika menyerukan murninya tauhid, ia ditantang untuk menyegerakan azab[3]? Muhammad berhadapan dengan mereka yang bersikukuh tak sedikitpun berkeinginan menerima kebenaran.[4]

Kita menyimak kisah Abu Jahal, Abu Lahab, dan manusia-manusia sejenisnya, yang ketika ditanyakan siapa yang menciptakan alam raya, menurunkan hujan, menyalurkan rizki, menghidupkan serta mematikan, mereka menjawabnya dengan lantang: Allah![5] Tapi, mereka terbelenggu pada nafsunya sendiri agar kuasa politiknya tak runtuh, agar kemewahannya tak perlu dibagi secara adil, agar perdagangannya tak perlu diatur-diatur agama, agar keistimewaannya di atas para budak tak diganggu, agar kenikmatan seksualnya tak perlu dikekang.

Hari ini kita melantangkan kebenaran yang sudah kita rawat dalam kepala kita sendiri. Kita meletakkan kursi hawa nafsu, lalu memilah mana kebenaran yang pantas untuk mendudukinya dan kita usung sebagai “kebenaran”, padahal sesungguhnya kita membenci kebenaran yang sebenarnya. Kita mencocok-cocokkan dalil, menyusun rangka logika, kemudian menempatkannya pada cawan nafsu untuk disuguhkan dan ditawar-tawarkan. Kita sudah memiliki standar kebenaran sendiri –sehingga kebenaran apapun yang datang dari penjuru yang lain akan kita tolak, kita abaikan, bahkan kita tentang. Kita bermetamorfosa menjadi semacam Abu Jahal milenial.

Tanpa kita sadari, kita tengah menanam bencana, memilah-milih biji potensi azab yang kita tantang kapan datangnya. Kita tunaikan shalat dan zakat, tapi kita memalingkan kiblat kepada keserakahan dan keadidayaan. Kita rutinkan umrah dan haji, tapi kita menggeser ka’bah hati pada kekayaan dunia yang kita genggam dan tak dibagi-bagi. Kita umbar kesaksian keimanan, tetapi kita sebarkan pula benih kebencian dan permusuhan. Kita kehilangan arah untuk memaknai adzillah dan a’izzah, tertukar-tukar di mana keduanya mesti ditempatkan –‘alal mu’minin atau kafirin. Kita pelan-pelan mengingkari nasihat baik untuk pertama-tama menegakkan Islam dalam diri kita sebelum berharap nilai-nilainya tegak di muka dunia.

Sebentar saja kita menyeruput kisah Muhammad kembali.

Pada duka penolakan dan tentangan yang bertubi-tubi, Muhammad mendapat nasihat mulia dari TuhanNya –maka bersabarlah dengan kesabaran terindah.[6] Kesabaran yang juga dituahkan Allah kepada siapapun yang beriman agar menjadi jalan meminta pertolongan, lebih awal daripada shalat dan permohonan: dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.[7] Sabar yang selalu menuntun kepada khusyu’ dan yakinnya kita bahwa setiap sebiji zarrah kebaikan pun akan dibalas, dan sebiji sawi keburukan akan dimintakan pertanggungjawabannya.

Maka, seperti apakah kita mengharapkan perjumpaan denganNya nanti? Dalam duka azab yang kita semai dari laku dunia kita, atau dalam kebahagiaan tak terperi –seperti janjiNya bagi mereka yang berpuasa[8] dan menahan hawa[9]?

Rotterdam, Ramadhan 1438

[1] QS Adh Dhuha: 3

[2] QS Al A’raf: 184, QS Al Hijr: 6, QS Ash Shaffat: 36

[3] QS Al Ma’arij: 1-4

[4] QS Al Mu’minun: 70

[5] QS Yunus 31, QS Al Ankabut: 64

[6] QS Al Ma’arij: 5

[7] QS Al Baqarah: 45

[8] HR Muttafaq Alaih

[9] QS An Nazi’at: 40-41

Foto diambil dari: http://s1.dmcdn.net/Kivl9/1280×720-gO_.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s