Dokter Online dan Disrupsi Layanan Kesehatan

Siapa yang tidak tertarik? Siapapun bisa membuat janji ‘bertemu’ dengan dokter hanya dengan jentikan jari dalam hitungan detik, dan mengobrol dengan dokter dalam waktu dua jam setelah booking.

dokter online
Foto diambil dari: https://www.pinterest.com/pin/328622104036448056/

Awal November ini, layanan kesehatan di London, Inggris dikejutkan dengan peluncuran aplikasi dokter online, GP at Hand. Antrian yang panjang menunggu dokter menjadi musabab munculnya ide terobosan ini yang secara jelas mengubah tatanan layanan kesehatan tradisional dari konsultasi di meja menjadi konsultasi di layar telepon pintar. Dokter siap kapan saja dihubungi dalam 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Siapa yang tidak tertarik? Siapapun bisa membuat janji ‘bertemu’ dengan dokter hanya dengan jentikan jari dalam hitungan detik, dan mengobrol dengan dokter dalam waktu dua jam setelah booking. Ringkas, tidak njelimet. Bayangkan dengan skema tradisional saat ini, menemui dokter harus dengan perjanjian, seringkali diatur tidak pada hari itu juga, bahkan kadang cukup disuruh minum obat sendiri oleh perawat teregistrasi. Hal yang serupa terjadi juga di Belanda dalam intensitas yang berbeda.

Fenomena ini menegaskan tradisi teknologi yang menyodorkan inovasi di tengah masalah manusia yang menumpuk. Kemunculan toko, taksi, dan ojek online dalam beragam merknya juga merupakan jawaban dari kebutuhan yang ada. Orang tak mau bersusah-susah lagi mengantre, menempuh jalan macet, bergonta-ganti kendaraan umum, berpanas-panasan, apalagi menunggu sampai larut malam.

Peluang di Indonesia

Tidak mustahil hal yang sama juga akan mendera Indonesia. Antrean panjang di Puskesmas sekaligus waktu konsultasi dan pemeriksaan yang terbatas menjadi kendala serius yang sama-sama merugikan penyedia layanan kesehatan dan kliennya. Dokter harus bekerja keras menangani banyak pasien dalam waktu singkat, sedangkan pasien harus menerima implikasi pemeriksaan yang kemungkinan besar tidak komprehensif –dan itu justru didapatkannya setelah berlama-lama mengantre. Rugi dobel.

Pangsa pasarnya siapa lagi jika bukan penyedia layanan kesehatan primer swasta dan calon kliennya. Mirip dengan tren taksi, ojek, dan toko online, ceruk pasar ini menggeliat di kalangan menengah ke atas yang semakin manja teknologi.

Tentu, inovasi ini bukan hal baru. Beberapa platform konsultasi kesehatan online sudah didirikan di Indonesia, baik yang baru berupa pembuatan janji secara online (online appointment) tanpa harus berebutan karcis dan mati kebosanan di ruang tunggu hingga yang menyediakan chat konsultasi kesehatan. Sayangnya, kebanyakan platform tersebut sekadar lintas lalu. Konsultasi sebatas ‘bertanya genit’. Pertanyaannya pun masih seputar, “Kalau saya merasa begini, itu tanda apa ya?”, “Saya sedang hamil, bolehkah makan ini-itu?”, atau malah “Dok, penyakit XXYY itu penyakit apa ya?”

Dengan begitu, platform yang ada hanya menjadi saluran lain dari kebanyak konsultasi selintasan –yang juga kerap terjadi lewat chat-chat informal antara dokter dan klien di media sosial. Apa yang didapat? Jika teledor, maka informasi kesehatan tidak disampaikan dengan benar.

GP at Hand menyediakan platform yang lebih serius –dan karenanya, menjadi peluang sekaligus ancaman yang serius bagi layanan kesehatan. Peluangnya, teknologi serius seperti ini menjadi terobosan dari jumudnya layanan kesehatan dengan antrean panjang dan diskursus tentang rationing yang berkepanjangan. Dengan berkolaborasi bersama sistem asuransi kesehatan yang ada, klien teregister secara valid, dan dapat ditelusuri catatan mediknya, teknologi ini memberikan peluang penyederhanaan hubungan dokter dan pasien.

Tantangan dan Tentangan

Sayangnya, kita tidak dengan serta merta dapat melakukannya kepada semua pasien. Ini yang menjadi tantangan sekaligus tentangan pertama. Pasien seperti apa, dan konsultasi seperti apa, yang secara klinis bukan saja bermanfaat, tapi juga tidak membahayakan? Secara tradisional, menegakkan diagnosis pasien perlu penelusuran riwayat dan pemeriksaan fisik yang lengkap –dan itu tidak dapat ditunaikan dalam platform online apapun saat ini. Kecuali, jika suatu saat ada aplikasi virtual yang mampu melakukan pemeriksaan fisik jarak jauh. Bahkan, untuk konsultasi, komunikasi online memiliki keterbatasan untuk menampakkan gesture dan komunikasi non-verbal pasien yang dapat membiaskan simpulan diagnosis.

Tapi, dengan begitupun layanan GP at Hand sudah berjalan di London dan menimbulkan ancaman kontemporer: disrupsi layanan kesehatan. Dalam hal ini, pasien yang melakukan registrasi di GP at Hand akan keluar dari daftar klien di layanan kesehatan konvensional (off-line) dan pembayaran dari asuransi pun pindah aliran ke platform online. Klinik off-line tergerus, seperti taksi konvensional dan toko offline yang tergerus pasar online. Seperti dikemukakannya sendiri di The Guardian, Nauren Bhatti, seorang dokter umum di Timur London, merasakan dampak ini segera setelah GP at Hand meluncurkan programnya dalam jarak dua mil dari tempat prakteknya saat ini. Bukan saja jumlah klien yang turun, tapi tipe klien yang ditangani berubah dari klien yang cenderung sehat menjadi kebanyakan pasien yang memang dalam kondisi sakit parah atau kronik.

Mau tidak mau memang akan ada perubahan kontur dan komposisi klien. Mereka yang relatif sehat dan membutuhkan sekadar konsultasi penyakit ringan, misalnya flu atau demam sehari, cenderung memilih layanan inovatif ini. Bayangkan saja, di Belanda, pasien yang demam dan menelepon klinik, diminta untuk meminum parasetamol di rumah dan dibuatkan janji konsultasi dengan dokternya 1-2 hari ke depan. Rationing by supply bisa saja dilakukan pada kondisi masyarakat dengan pengetahuan dan kultur yang relatif maju. Tetapi, apa yang terjadi bila masyarakat Indonesia diminta untuk melakukan hal sama dengan strategi kebijakan yang serupa? Gagal. Mereka akan mencari penyedia lain yang lebih ramah bagi kebutuhan manjanya. Dan, teknologi yang serius ini akan menjadi santapan lezat bagi mereka.

Ancaman berikutnya, tentu saja, inekualitas akses layanan kesehatan. Teknologi, bagaimanapun mudah dan praktisnya, belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Siapa yang diuntungkan dan dirugikan? Asumsi dasarnya, terobosan ini akan mahir dimanfaatkan oleh kalangan muda dan berpendidikan menengah ke atas, dan menepikan orang-orang yang masih gagap dan kesulitan akses penggunaan teknologi. Toh, belum ada pula studi valid yang mengevaluasi secara jelas dampak dari aplikasi dokter online seperti ini. Apakah benar dokter online menjawab masalah kesehatan yang ada: memperbaiki akses, meningkatkan luaran kesehatan, dan mengurangi pengeluaran kesehatan negara? Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan terus diperdebatkan, termasuk di Indonesia bila diterapkan. Bukan untuk ditentang sampai ke akar-akarnya, tetapi untuk menajamkan apa yang sudah menjadi kebutuhan jaman.

Pemilihan kepala daerah “jaman now” barangkali juga sudah semestinya dipikirkan ulang dengan mengubah strategi dari kampanye layanan kesehatan gratis menjadi upaya memunculkan terobosan layanan kesehatan yang juga a la “jaman now”. Tentu, semua dengan pertimbangan kompatibilitas terhadap aspek kultur dan antropologis masyarakat sekitarnya. Tujuannya pun harus jelas: meningkatkan taraf hidup masyarakat, bukan sekadar menguntungkan sebagian pihak yang mengatasnamakan inovasi demi kepentingan profitnya belaka. Dengan demikian, meski tidak dapat diabaikan, disrupsi layanan kesehatan bisa ditekan.

Rotterdam, Shafar 1439

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s