Jongos Bukan Pembantu?

Baru sore ini Bang Jali ikut duduk-duduk di depan rumah Cing Aji. Biasanya, Bang Jali pulang larut malam. Jangankan buat mengobrol santai di rumah Cing Aji, mengobrol dengan anak istri saja susahnya bukan main. Pergi sebelum matahari terbit, pulang sesudah semua orang tidur.

“Nasib jadi jongos begini, Jii,” katanya. Semuanya tertawa sampai terlihat semua sisa makanan di giginya masing-masing. Ada cabe, irisan tomat, buntut toge, sampai bihun. Yakinlah bahwa BPS tidak perlu repot-repot survey persentase orang miskin. Cukup bikin mereka tertawa dan cari apa yang masih terselirp di giginya, sudah mutlak status mereka. Yang makan cabe, orang kaya. Yang makan bihun, masih sempat beli bakso. Yang makan toge, di bawah garis kemiskinan. Apalagi kalau togenya berjejer. Setiap hari togeee…

 

“Siapa yang jongos, Bang Jali?”

 

“Ya gua. Masak eluu. Makanya dah elu, Sose. Jadi orang kudu belajar yang bener biar pinter. Biar kagak jadi jongos kayak gua aje ntar elu.”

 

Marsose tertawa terbahak-bahak. “Mana mungkin, Baaaang?”

 

Lah, siapa juga yang mau jadi jongos terus menerus? Tambah usia, ya tidak “jongos” lagi dong. Apalagi umur Bang Jali sudah lewat setengah abad. Cucunya udah mau tiga. Istrinya udah…. #eh, nggak deh. Baru satu. Cukup segitu aja.

 

“Jongos” itu muncul karena salah dengar dan ucap lidah dari kata “Jongens” [B. Belanda]. Menurut riwayat yang nyaris-nyaris sahih, orang Belanda sering minta dibantu oleh pelayan di Kampung Kompeni. Kebanyakan pelayan, baik yang di rumah, took, atau gudang, addalah anak-anak muda –atau ya, lebih muda dari para tetuan Belanda. Maka, panggilan, “Hi Jongens!” mengalami bias pendengaran dan berubah jadi “Hoi, Jongos!”.

Gambar huisjongen. Anak muda yang jadi pekerja di rumah. Gambar diambil dari https://www.pinterest.co.uk/regreg54/nederlandsch-indi%C3%AB/

Gara-gara si ‘jongos’ itu banyak jadi pelayan, maka orang-orang yang bekerja kasar kemudian dipanggil juga dengan ‘jongos’. Mau muda ataupun tua.

 

Tapi, emang gitu sih. Ente kalau masih kecil, paling junior di kantor, anak baru muka cecurut, kudu dimapram dulu dan haram bisa langsung jadi bos. Jadi jongos aja dulu. Nasib. Feodal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s