Pirates of Somalia: Perjalanan Ambisi

Ketika kita tahu bahwa kita biasa-biasa saja, padahal kepala kita penuh dengan cita-cita dan bayangan kesuksesan masa depan, maka harus ada langkah terobosan dan berani yang dipilih. Nekat, jika perlu.

Cover film ‘Pirates of Somalia’. Gambar diambil dari: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Pirates_of_Somalia_(film)

Langkah nekat itu yang diambil oleh Jay Bahadur, freshgraduate yang berambisi menjadi jurnalis terkenal dan menulis buku best seller, bahkan menjadi pemenang Pulitzer. Sayangnya, selepas lulus, ia hanya menjadi peneliti pasar dan mendapati proposal reportasenya ditolak berkali-kali. Setelah bertemu secara tidak sengaja dengan seorang jurnalis pahlawan, Seymour Tolbin, ia mendapat ide brilian sekaligus mengerikan: pergi ke Somalia dan menulis tentang perompaknya yang terkenal.

Dengan cepat ia mendapat kontak rekan Somalia yang secara ajaib merupakan anak Presiden terpilih Somalia, Abdirahman Farole. Ia seorang pengusaha dengan gelar doktor yang lama tinggal di Australia, kembali untuk memenuhi panggilan rakyat menuju pemilihan presiden, dan terpilih. “Kau tahu bagaimana rasanya engkau bisa hidup dengan gelar PhD, sedangkan kau harus memimpin mereka yang bahkan untuk mencicipi pendidikan saja tak mampu?” kata sang Presiden. Ia mengambil pendekatan berbeda terhadap perompak Somalia dan berharap Bahadur –yang sesungguhnya bukan siapa-siapa dan tak punya rekam jurnalistik apapun– mengubah pandangan dunia tentang Somalia.

Bahadur menjadi sentral film “Pirates of Somalia” yang sebelumnya diluncurkan dengan judul asli “Dabka”. Ia tokoh sungguhan, non-fiksi, jurnalis yang menjadi besar karena kombinasi kenekatan dan kesempatan emas yang tidak disia-siakan. Ia melakukan wawancara dengan pimpinan perompak Somalia dan mendapati fakta bahwa perompak memiliki alasan yang berbeda-beda mengapa mereka merompak kapal laut milik asing.

Awalnya, perompak berasal dari warga nelayan yang tak rela kekayaan lautnya dikuras oleh kapal asing. Boyah, pemimpin salah satu kelompok perompak yang digambarkan dalam film, bahkan dianggap sebagai ‘Robin Hood’-nya Somalia. Bahadur meneliti bagaimana Boyah dan kelompoknya melakukan serangan secara teliti, mendapatkan uang jutaan dollar, kemudian membagi-bagikannya kepada penduduk miskin.

Tetapi, perompak yang muncul belakangan menjadi lebih sadis dan menjadikan perompakan sebagai lahan bisnis baru. Mohammed Abdi Hasan yang dijuluki ‘Big Mouth’ atau Afweyne dalam Bahasa Somalia, menjadi pengusaha perompakan dengan kehidupan glamor, banyak istri –yang digambarkan juga ditinggalkannya, dan tentu saja sepasukan pengawal bersenjata.

Farole, sang presiden, ingin dunia memahami bahwa Somalia tak seperti yang dibayangkan dunia luar sebagai negara perompak yang harus dialienasi dari peta politik dunia. Bahkan, secara sinikal, film ini berkali-kali mengkritik film Black Hawk Down, film peraih Oscar tahun 2002, sebagai film yang tidak membumi, jauh dari fakta, dan –perlu dicatat– tak melibatkan satu orang Somalia pun di dalamnya. Dalam hal ini, ‘Pirates of Somalia’ berusaha berujar bahwa menjadikan film sebagai corong penggiringan isu politik tidak  ceroboh dan tetap harus berlandaskan fakta detail di lapangan.

Film ini sendiri tidak lepas dari cacat dan banyak membuat simplifikasi. Brian Buckley, sang sutradara, juga terlihat kepayahan untuk tetap menyeimbangkan antara muatan serius buku asli Bahadur dan upayanya untuk menjadikan film ini tetap menghibur. Ia mencampuradukkan gambaran mimpi buruk, tari-tarian, bahkan animasi dalam film, tetapi kehilangan kekuatan untuk membuatnya sampai pada klimaks film.

Bahadur bersama Abdi, yang diperankan dengan apik oleh Barkhad Abdi. Gambar diambil dari: http://www.dallasmoviescreenings.com/2017/12/pirates-of-somalia.html

Beruntung, Barkhad Abdi –aktor Somalia-Amerika yang mendapat nominasi Oscar dari film ‘Captain Phillips’– tampil prima dan memberi nyawa film ini. Ia dan keluarga besarnya hadir untuk menunjukkan betapa orang Somalia sesungguhnya juga ramah, penuh canda, dan hangat. Tidak seperti gambaran film lain yang terperosok pada generalisasi picik.

Harus diakui, film ini berakhir pada alur yang datar dan gagal membuat keseruan yang semestinya bisa dibuat. Padahal, setelah menambah aksesori-aksesori fiktif dalam film ini, jika saja Buckley mau mengambil risiko lebih besar, ia dapat menambah skenario fiktif yang lebih kuat untuk membuat klimaks film.

Setelah kehabisan uang dan melakukan kekeliruan, Bahadur, pada akhirnya, mampu menerbitkan buku yang menjadi best seller sungguhan. Bukunya memang memiliki kekuatan khusus dalam memberikan detail yang maksimal tentang perompakan. Tak ada yang lebih detail dari buku Bahadur tentang perompak Somalia, menurut banyak review. Beruntunglah pula Bahadur, karena momen ia menyusun dan mengajukan naskahnya ke penerbit bertepatan dengan perompakan Maersk Alabama, kapal kargo milik Amerika.

Buku Jay Bahadur, “The Pirates of Somalia” yang menjadi New York Times best seller di tahun 2011. Gambar diambil dari: https://www.amazon.com/Pirates-Somalia-Inside-Their-Hidden/dp/0307476561

Bukunya telah mengubah pandangan politik luar negeri Amerika terhadap Somalia. Ambisinya telah terpenuhi. Ia bukan saja menjadi jurnalis terkemuka, penasihat kebijakan, tetapi juga insiprasi bagi generasi selanjutnya bahwa untuk menuntaskan ambisi, perlu kenekatan dan kemauan untuk masuk ke dalam detail persoalan –bukan memandangnya dari kejauhan dan kesinisan.

Rotterdam, Rabiul Awal 1439

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s