Re-thinking: Muslim Kafir

Hidup kita ini sesungguhnya sudah berakhir ketika kita sudah merasa aman, selamat, bahagia dan sejahtera. Persoalan merasa aman dan selamat itu memang menjerumuskan; membuat kita terperosok pada kejumawaan, bahkan terhadap Tuhan. Kita merasa berhak untuk memberikan label selamat meskipun kita tak benar-benar tahu siapa yang sesungguhnya selamat.

Pada satu kejadian musibah, media meassa memberitakan, “Seluruh korban selamat dan kini dirawat di rumah sakit.” Tentu, maksudnya adalah selamat dari kematian. Tapi, apakah lolos dari maut itu selamat yang sesungguhnya, atau justru kematian bagi seseorang itu sebenarnya adalah keselamatan baginya; state of the real security.

Pandangan dan judgement kita terhadap selamat dan keselamatan seringkali dibatasi pada situasi potong lintang, cross sectional, dan tidak membentangkannya pada konteks waktu yang panjang. Siapa yang menyangka bahwa ketika Muhammad datang dengan membawa kitab dan ajaran tauhid, yang menentangnya adalah mereka yang dulu mengais-ngais kepada Tuhan agar diberikan kemenangan. Wa kaanuu min qoblu yastaftihuuna álalladziina kafaruu.. Dan dahulu kala, mereka justru memohon-mohon agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Dalam rentang waktu yang sekuensial itulah segala sesuatunya dapat berubah. Tahun per tahun hingga detik per detik.

Maka, ketika sudah tertanam rasa aman, siapa yang dapat menjamin ia mendapat keselamatan sesungguhnya?

Kalaupun hari ini kita telah memeluk Islam, perkara selamat juga belum mampu kita jaminkan. Bahkan, boleh jadi dalam status keislaman, kita tengah menjadi seorang kafir. Lidah kita tidak memberikan keselamatan kepada orang lain; penuh hardikan, cacian, tuduhan, fitnah, dan gunjingan yang secara tidak sadar kita rutinkan setiap hari, bahkan ketika tengah berbicara tentang agama dan keimanan. Tangan dan kebijakan kita tidak memberikan keselamatan bagi banyak orang; memiskinkan mereka yang tak berdaya, memarjinalkan yang tidak disukai, menguntungkan urusan pribadi, dan merugikan kepentingan umum.

Sudah terlalu lama kita berbincang dalam kaidah yang terlampau teknis, fiqhiyah, berdebat apakah sebaiknya disebut kafir atau non-muslim, tapi luput memaknai muslim dan kafir dalam kaidah yang substantif. Muslim itu berarti kita berserah diri, sepenuhnya patuh dan manut kepada Dia yang kita percaya mampu membawa diri kita kepada keselamatan. Dengan begitu, muslim itu tidak sekadar dipandang sebagai sebuah status, state, tapi proses berkelanjutan. Maka seruan Allah itu bersifat kontinu. Tidak selesai dalam persoalan percaya, Dia berseru, Yaa ayyuhalladziina aamanuu. Hai orang–orang yang beriman. Udkhuluu fis silmi kaaffah. Masuklah kalian dalam keselamatan secara total. Berburulah keselamatan hingga titik ekstrem yang mampu kalian jangkau.

Jangan berdiam diri dan merasa diri bahwa keislamannya telah penuh, lantas bertingkah dan berperilaku yang justru lebih dekat kepada kekufuran –menutupi kebenaran dan pengakuan kepasrahan dirinya kepada Tuhan. Bisnis yang menipu itu kufur –mengingkari aturan Tuhan. Bermalas-malasan itu kufur –menutupi kenikmatan yang telah disuguhkan Tuhan. Mencuri dan korupsi itu kufur –merusak tatanan kemasyarakatan yang semestinya ditegakkan. Membuang sampah sembarangan, mengotori lingkungan, tidak antre, mengganggu ketertiban itu kufur –menutupi nilai-nilai keselamatan yang diperintahkan Tuhan dalam koridor manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Menggunjing orang, mencari-cari kesalahan, mengumbar dan memojokkan mereka dengan keburukannya itu kufur –melawan ukhuwah yang semestinya dishalihkan, didamaikan, diluruskan, dan ditenteramkan.

Dengan begitu, barangkali predikat kita, kata kerja pribadi kita, masih muslim kafir. Setengah-setengah. Dan menjadi lebih berbahaya jika dalam aktivitas yang kita anggap penuh nilai keislaman, kita masih mencampuradukkannya dengan kekufuran. Berda’wah, tapi menyakiti. Merasa diri lebih tinggi, lebih baik, tanpa membuka ruang perbedaan pendapat. Menegakkan agama dalam pemerintahan, tetapi dengan kecurangan, manipulasi, dan kezaliman. Apa yang kita ingin tegakkan dengan pondasi yang rapuh dan dengan mudah dapat Tuhan luluhlantakkan?

Maka, kita layak memandang lagi kepada diri Muhammad –yang tidak sekadar dipuja-puji dalam syair, tetapi mendekatkan perilaku kita seperti perilakunya. Toh, Tuhan jelas-jelas menyebut Muhammad itu patron terbaik: uswatun hasanah. Perangainya kepada keluarga, sikapnya terhadap sahabat, perlakuannya kepada orang yang memusuhinya, bisnis yang dilakoninya, politik yang dibangunnya, kebijakan yang ditatanya, dan semua titik kehidupannya yang mempunyai singgungan langsung dan tak langsung dalam kehidupan kita.

Itulah inti hidup, kata Imam Ahmad bin Hanbal. Hidup ini kontinu, tidak berhenti pada satu keadaan, ruang hampa, yang dengannya kita merasa aman. Tidak ada istirahat dalam perkara mengejar keselamatan. Kecuali, kata Imam Ahmad, ‘inda awwalu qadamun tadha’uha fil jannah. Hingga kakimu sudah menginjak surga, itulah sebenar-benarnya selamat.

 

Rotterdam, Rabiuts Tsani 1439

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s