PUASA, BERHENTI

Keterampilan hidup sesungguhnya adalah memahami kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Tidak ada kebaikan pada pergerakan yang berlebihan, seperti tidak pula ada kebaikan dari diam yang dipelihara. Sayangnya, keterampilan itu tidak diajarkan dan tidak diasah pada sekian banyak institusi pendidikan formal kita. Dunia lantas dipahami dari kuantitas belaka: seberapa besar rumah yang kita punya, seberapa banyak uang yang kita simpan, seberapa tinggi jabatan yang kita duduki, dan seberapa luas jangkauan follower kita yang terus menguntit di belakang.

Allah juga sering kita pahami secara material. Rizki dariNya kita kuantifikasi, bahkan dalam permintaan kita di doa-doa panjang selepas shalat. Tambahkan rizkiku, naikkan gajiku, perbaiki rumahku, indahkan hidup duniaku. Allah tak akan merugi sedikitpun dengan segala permintaan itu. Kas dan perbendaharaanNya tak akan terkikis. Tapi, siapa yang dapat meyakinkan bahwa dirinya tidak terperangkap pada dunia yang materialistis dalam doa-doanya sendiri. Mereka yang jama’a maalan wa ‘addadah; mengumpulkan terus hartanya dan menghitung-hitungnya. Kurang, dan masih kurang. Masih bisa bertambah, dan harus bertambah. Dapat lebih tinggi lagi kedudukannya, dan harus lebih tinggi. Kita lantas terperosok dan tak lagi paham kapan harus berhenti. Kita mengira semua materi dan kejayaan mampu kekal dan mengekalkan. Yahsabu anna maalahu akhladah.

Maka, pergilah sejenak ke hadapan Abu Darda radhiyallahu ánhu (ra.), sahabat Nabi Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) pengumpul hikmah. Ia saudagar kaya sebelum masuk Islam. Tajir melintir. Di manapun ia membuka lapaknya, keuntungan mengikutinya. Selepas bertemu Muhammad Sang Nabi, Abu Darda menemukan pemuas dahaganya: mengabdikan dirinya kepada Penguasa Alam, Pencurah Rizki. Abu Darda memilih berhenti sebagai pedagang.

Ini sudah waktunya berhenti, menurut Abu Darda ra. Ia bukan fatalis –mengambil satu jalan tasawuf sambil mengharamkan segala jejak dunia dalam hidupnya. “Aku tak mengatakan kepada kalian bahwa Allah mengharamkan jual beli,” katanya pada suatu waktu. Ia menghalau segala prasangka manusia yang mungkin mengira bahwa dirinya mengharamkan jual beli. “Tetapi, secara pribadi aku lebih senang bila aku termasuk ke dalam golongan orang yang perniagaan dan jual beli itu tidak melalaikan zikir kepada Allah.”

Abu Darda ra. telah mencoba menyeimbangkannya, tapi ia merasa gagal. Ia masuk menyelam ke dalam lubuk sanubarinya lagi, menganalisis apa yang sejatinya ia cari dan ia telah dapati. Undur dirinya, keputusannya pensiun dari dunia perniagaan, adalah keputusan yang lahir dari keterampilan hidup yang sejati. Ia memahami kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Ke mana ia menuju dan dari mana ia harus melarikan diri. Ia telah mencapai imsak yang sesungguhnya: menahan dan menghentikan keinginan nafsu yang menderu-deru. Ia telah melampaui puasa yang sebenarnya: meninggalkan yang sesungguhnya diperbolehkan Allah, dengan keputusan untuk mencintaiNya tanpa amukan rayuan dunia.

.

Puasa membawa kita pada perhentian sejenak dari syahwat di sepanjang siang. Namun, jejasnya justru baru nampak setelah matahari terbenam: apakah kita masih menahan diri, memutuskan terus berhenti dari segala yang merusak kemistri kita dengan Allah? Ataukah kita justru menghibahkan dendam dari semua yang telah kita tahan sepanjang siang pada malam harinya?

Rotterdam, 1 Ramadhan 1439

 

Foto fitur diambil dari: https://anthuz.deviantart.com/art/berhenti-sejenak-178112009

Iklan

One thought on “PUASA, BERHENTI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s