Intel Pensiun

Jika kita menelisik ulang posisi kita dalam pengelolaan dunia, label khairu ummah yang disematkan Allah di dada kita punya implikasi besar dalam tanggungjawab. Label ini bukan saja panggilan amanah mengisi peran kerasulan –ta-muruuna bil ma’ruf wa tanhawna ‘anil munkar, menyeru kebajikan dan menghalau kemunkaran. Lebih dari itu, ketiadaan rasul menuntut kita meneladani sikapnya yang mulia –khuluqin ‘azhim, dalam menghadapi kondisi apapun.

Rasulullah Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) diserang karakternya; dianggap lelaki gila dengan igauan tentang kenabian dan wahyu. Rasulullah Saw. bukan sekadar dikriminalisasi, ia diboikot dan diperangi. Ia menjadi target pembunuhan nomor satu. Namun, tidak satu pun kalimat meluncur dari lidahnya untuk menyerang balik musuhnya dengan aura kesumat yang menggelora. Mereka yang membencinya adalah target da’wah Rasulullah Saw. yang sebenar-benarnya. Maka, beliau hadir sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira; tak pandai melabel mad’u-nya –yang diserunya untuk masuk ke jalan yang lurus– dengan panggilan buruk dan stempel hina.

Suatu ketika menjelang Perang Badar, seorang laki-laki menyusup dari kejauhan. Ia mengamati gerak-gerik pasukan Rasulullah Saw., menghitung jumlahnya, menganalisis kekuatannya, dan mencari-cari kelemahannya. “Kekuatan mereka sekitar tiga ratus orang,” katanya di depan pasukan Quraisy. “Aku tidak melihat apa-apa lagi di belakangnya kecuali pusara menganga yang menanti kematian mereka. Mereka tidak memiliki pembela, kecuali pedang mereka sendiri.”

Lelaki itu Umair bin Wahab, intel Quraisy yang diberi gelar ‘Setan Quraisy’. Ia menggelorakan semangat memusnahkan pasukan Islam di sumur Badar. Bahkan, ketika pasukannya kalah, ia kembali ke Mekkah dengan dendam yang lebih dahsyat.

Marilah kita bunuh Muhammad. Begitu ajakannya kepada Shafwan bin Umayyah, pamannya sendiri yang kehilangan Umayyah bin Khalaf, ayahnya, di Badar. Mereka mengikat janji rahasia yang tak didengar siapapun. Umair akan pergi ke Madinah, berpura-pura melobi melepaskan anaknya yang menjadi tawanan, kemudian membunuh Muhammad Saw. dengan pedangnya yang telah ditaburi racun.  Shafwan menjadi pihak kedua yang akan mengurus segala hutang Umair di Mekkah dan membereskan urusan rumah tangganya. Klop! Maka, berangkatlah sang intel menuju Madinah dengan pedang tersarung di pundaknya.

Saat Umair tiba di majelis Rasulullah Saw., Umar bin Khattab ra. menghadangnya. Namun, apa sikap Rasulullah Saw.? “Biarkanlah ia, wahai Umar,” kata beliau. Bahkan, Rasulullah Saw. menyambut salam ‘selamat pagi’ Umair dengan pernyataan yang kokoh. “Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan ucapan kehormatan yang lebih baik daripada ucapanmu, wahai Umair, yaitu ucapan salam yang merupakan penghormatan kepada ahli surga.”

Apa yang kita lakukan hari ini kepada orang-orang yang kita anggap ‘musuh’ kita? Perbedaan sikap dan pandangan politik kita membuat kita dengan mudah bersikap kasar, berkata tak pantas, dan melabeli mereka tanpa hak. Padahal, mereka belum tentu sekeji Umair, sedangkan kita masih jauh pula dari level Muhammad Saw. Perselisihan kita di ruang kerja, di kompleks rumah, di meja diskusi, atau bahkan di mimbar masjid, membuat kita dengan ringan mengumpat, mencaci, dan merendahkan mereka yang berseberangan pemikiran dengan kita. Padahal, kebenaran adalah inti hidup yang semestinya kita cari, kita mintakan untuk dipandu menemukannya dan mengikutinya, bukan untuk diklaim semena-mena. Allahumma arinal haqqa, haqqa, warzuqnattibaa’ah.

Jika Rasulullah Saw. menginginkan, Umair bisa saja dilumpuhkan saat itu juga. Ia seorang diri memasuki benteng berisi Umar bin Khattab ra. dan sahabat pendekar yang lain. Namun, Rasulullah Saw. tidak memilih opsi tersebut. Ia tidak menghinakan posisi mereka yang lemah. Ia justru mengungkapkan rahasia langit, “Bukankah engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayah di atas batu?” tanya Rasulullah sambil mengungkit perjanjian rahasia antara Umair dan Shafwan yang seharusnya tak didengar oleh siapapun.

Sang intel Quraisy terseguk-seguk. Ia sadar ada Intel lain yang lebih Kuasa, ada Mata lain yang lebih Melihat, ada Telinga lain yang lebih Mendengar. Seketika itu juga ia berteriak, “Demi Allah, tidak ada yang memberimu kabar itu, kecuali hanyalah Allah.” Ia lantas bersyahadat dan mensyukuri jalannya menemui Islam. Sang ‘Setan Quraisy’ insaf, sang intel telah pensiun.

Tak berhenti sampai di situ. Sang intel pensiun kembali ke Mekkah, berbalik mengajak Shafwan –sekutunya di masa lalu, untuk masuk Islam, dan mengganti narasi kejinya tentang Muhammad Saw. di masa lampau dengan narasi baru, “Rasulullah adalah manusia paling utama, paling banyak kebajikannya, paling penyantun, dan paling baik.” Apa yang mampu mengubah itu semua, membolak-balikkan situasi yang sebelumnya nampak muskil, kecuali kemurnian hati dalam da’wah –menyeru, memanggil langkah menuju Allah dengan hati yang jernih dan tulus?

Kemurnian da’wah Rasulullah Saw. kepada Umair itu pula yang membuat Umar bin Khattab ra. pun mengoreksi pandangannya kepada sang intel pensiun, “Sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakku sendiri.”

Barangkali belum cukup bagi kita untuk mengibarkan bendera khairu ummah, bila jalan menuju keteladanan Rasulullah Saw. masih kita blokir sendiri dengan sikap tinggi hati kita terhadap kebenaran. Semoga puasa Ramadhan ini melunakkan hati yang keras, melembutkan lisan yang tajam, dan mendamaikan jemari yang penuh ego.

Rotterdam, 8 Ramadhan 1439

Gambar fitur diambil dari: https://www.youtube.com/watch?v=LXhovKLzIPY

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s