Elektabilitas Thalut

Jauh selepas Musa álayhissalaam (as.) wafat, sebuah kaum mengalami kekalahan beruntun, terusir dari negerinya, dan terpisah dari anak keturunannya. Duka derita itu tertumpah ruah di hadapan seorang nabi –As Saddi menyebutnya Syam’un as., sedangkan Qatadah menduganya bernama Syamuel as.. “Angkatlah bagi kami seorang raja,” pinta mereka. Persis seperti yang diceritakan dalam Al Qur’an. “Supaya kami berperang di (bersamanya) di jalan Allah.”

Kerinduan untuk menang sudah menderu-deru. Kekalahan demi kekalahan membuat malu. Lebih-lebih, penguasa telah menunjukkan kelaliman yang dahsyat, menggerogoti kesejahteraan rakyat, dan menolak kebenaran Tuhan. Namun, semurni itukah motivasi mereka, Bani Israil, kala itu? Mereka harus menghadapi Jalut –raksasa politik dengan gurita jaringan yang menancap kuat di mana-mana, dengan logistik hampir tak berbatas, serta dengan pendukung dan penyokong paling meruah.

Semurni itu pulakah yang kita harapkan dari kepemimpinan hari ini? Seperti Bani Israil –kita merengek diturunkan pemimpin baru yang dengannya kita bersumpah akan berjuang bersama di jalan kebenaran Allah, menegakkan keadilan, dan melangsungkan pengurusan semesta dengan kasih sayang.

Nabi Syamuel  as.menerima wahyu, “Siapa di antara Bani Israil yang tingginya sama dengan tongkat ini, dan minyak al Qudsi di tanduk tongkat ini mencair saat ia datang di hadapanmu, maka ialah raja, pemimpinmu.” Tiada seorangpun memenuhi syarat itu, kecuali Thalut –seorang rakyat biasa penyamak kulit. Ia bukan pengusaha, bukan politikus di jajaran dewan pimpinan pusat, bukan menteri, bukan mantan panglima, bukan pula penceramah kondang. Jika lembaga survey meriset, ia ada di tumpukan bawah dengan elektabilitas terendah.

“Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan kekuasaan daripadanya, dan tak sedikitpun ia punya kekayaan?” pongah mereka yang sedari kemarin meminta-minta pemimpin baru. Thalut tidak punya garis keturunan mentereng. Thalut juga tidak punya kesiapan logistik mumpuni. Penolakan demi penolakan itu disambut Nabi Syamuel as. dengan penjelasan, “Sesungguhnya Allah telah memilihkan bagi kalian raja dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”

Apa yang menjadi kriteria kepemimpinan di kepala kita hari ini? Ia yang disukai khalayak belaka, yang muncul dari deretan tokoh ternama, yang membawa serta dukungan finansial tak berbatas, atau yang menyimpan kartu rahasia guna menyelamatkan kepentingan segolongan saja? Ia yang memuncaki klasemen elektabilitas?

Sekali-kali, Thalut tidak hadir dari ruangan narasi itu. Ia lahir dari keputusan Allah yang melimpahkan pengetahuan yang luas, pemahaman konstelasi politik global, dan keterampilan strategi jitu melumpuhkan lawan –meski ia tak pernah disebut-sebut dalam kocokan kandidat pemimpin. Ia, beserta kenabian Syamuel as., menjadikan keimanan sebagai indikator kunci kemenangan.

Persiapan kemenangan adalah persiapan memupuk keimanan pasukan, bala tentara, dan konstituen. Kemenangan tidak lahir dari khayal dan bual, dari ocehan yang bertentangan dengan nilai keimanan, dari kesemrawutan cara berpikir dan inkonsistensi pandangan, atau dari serangan-serangan politik membabi buta tanpa kemuliaan akhlak. Di depan sana, akan banyak ujian melintang, seperti Thalut mengingatkan pengikutnya tentang sungai di tengah perjalanan mereka. “Maka, siapapun di antara kalian meminum airnya, bukanlah lagi pengikutku. Sesiapa yang tidak meminumnya, kecuali menciduknya seukuran tangannya saja, maka ia pengikutku.”

Ada filtrasi, penyaringan, dan seleksi dari ujian-ujian yang menjelang di depan sana. Barangkali ia berupa lambai rayuan jabatan atau kesempatan menangguk keuntungan kapital yang memuaskan dahaga dunia. Pemimpin yang kita cari adalah mereka yang mampu menyampaikan firman Allah dengan teguh tanpa dipotong-potong, yang melaksanakan ajaran Allah dan kenabian dengan lurus tanpa garis simpang, dan yang jernih menyatakan ke mana arah tujuan kepemimpinan yang dibawanya.

Thalut kehilangan banyak pengikut di tengah jalan. Kesetiaan kepada nilai-nilai ketuhanan selalu berpotensi menggerogori kuantitas sumber daya. Kekukuhan pemimpin kepada kebenaran selalu memunculkan keraguan, “Tak ada kesanggupan kami melawan Jalut dan tentaranya.” Namun, kepemimpinan yang serupa itu pula yang mampu menjawabnya dengan kokoh, “Sudah berapa banyak fakta peristiwa; mereka yang sedikit mampu mengalahkan mereka yang banyak, dengan izin Allah.” Kepemimpinan serupa itu pula yang sanggup menenangkan hatinya dan konstituennya, “Ya Allah, tuangkanlah kesabaran atas diri kami.”

Bertempurlah dua pasukan: sang kuasa adidaya melawan pasukan kecil dengan pemimpin berelektabilitas nomor buncit.

Kita sudah hafal akhir ceritanya. Tapi, benarkah kita telah memahami jalan prosesnya, sungguhkah kita telah mengerti tahapan dan undakannya? Kemenangan yang lahir tidak semata dari kelihaian dan kecerdikan strategi manusia, tetapi membawa serta Allah dan setiap keputusan-keputusannya.

Makinkah rajin kita berdoa di bulan puasa ini agar Allah mengizinkan lahir pemimpin yang Dia rahmati? Makin seriuskah kita menata diri agar dipantaskan Allah mendapatkan pemimpin yang Dia sayangi? Ataukah kita masih saja sibuk dalam ruang khayal: mengais pinta kepada Allah sambil menggali lubang kemaksiatan kepadaNya?

Rotterdam, 10 Ramadhan 1439

 

Gambar fitur diambil dari: https://marketdirectionsmr.com/2016/01/05/survey-questions-require-a-framework/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s