Sumbu Ketidakadilan

Ketika Muhammad Shallallahu álayhi wassallam (Saw.) memutuskan berpindah dari Mekkah ke Madinah, beliau tak sepenuhnya lepas dari masalah. Kekangan dan siksaan terhadap kaum muslimin di Mekkah memang terhindarkan. Quraisy tak mampu menjangkau mereka lagi. Madinah pun tak sebengis Mekkah. Namun, sesungguhnya Muhammad Saw. tengah berada dalam tahapan baru da’wah. Beliau tak lagi menjumpai muka-muka kasar dan hinaan. Kesepakatan damai pun telah diteken. Situasi aman terkendali. Namun, siapa yang mengira bahwa di dalam ketenangan ada ancaman yang lebih besar: kemunafikan.

Mereka bermuka manis di hadapan satu kaum, tapi mengubahnya menjadi masam di hadapan kaum lain. Wa idzaa khalaw ilaa syayaathinihim qaaluu innamaa nahnu mustahzi-uun. Mereka bersandiwara, menjadi aktor-aktor panggung paling cendekia. Jika Muhammad Saw. mengatakan sesuatu di hadapannya, mereka mengangguk patuh dan mengafirmasi. Jika Muhammad Saw. telah menjauh dari pandangan, mereka mulai berkata dusta lagi. Kami sedang akting saja, pikir mereka.

Mereka tumbuh di bumi Madinah sejak lama. Tidak keras, namun licik. Sendi kehidupan masyarakatnya di masa lalu dibangun dalam tradisi saling tipu dan mengambil keuntungan sendiri. Pasar-pasar adalah mula lumbung kemunafikan. Di situlah standar ganda ditumbuhsuburkan. Abdullah bin Umar ra. pun sempat ditanya oleh Hilal bin Talq ra. dalam sebuah perjalanan, “Siapakah manusia yang paling baik dalam hal takaran; penduduk Mekkah ataukah Madinah?” Mereka –penduduk Madinah– memang terkenal curang dalam hal takaran.

Hingga turunlah firman Allah: waylul lil muthaffifiin.  Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang! Mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain, menuntut keras untuk dipenuhi. Mereka yang di saat lain menakar dan menimbang untuk orang lain, mengurangi timbangannya demi keuntungannya sendiri.

Ini bukan sekadar perkara di lorong-lorong pasar. Ini perkara dalam hidup seutuhnya; dalam ruang pengadilan, hukum, pekerjaan, pendidikan, politik, bahkan hubungan pertetanggaan. Kita kerap menjelma muthaffif; penerap standar ganda. Jika kita berada pada kondisi yang merugikan, kita menuntut sekuat tenaga. Kita mempertanyakannya di ruang-ruang publik, di media sosial, di meja-meja makan betapa ketidakadilan menjadi target yang harus dilenyapkan di muka bumi. Kita seketika berubah menjadi jaksa, menyebar-nyebarkan berita dan meme yang memojokkan siapa saja yang kita anggap sedang tidak berlaku adil. Standar kita patok setinggi mungkin sehingga apapun yang dilakukan lawan politik, musuh rumah tangga, atau saingan kerja akan selalu nampak salah dan tak memenuhi kriteria kebenaran. Namun, ketika berada di kursi pesakitan, kita menolak untuk didakwa. Kita mencari alibi untuk dibebaskan dari segala sengatan kritik publik.

Seberapa sering kita berlaku adil dan setara? Kita kerap membela apa yang kita ingin bela, bukan yang harus kita bela. Objektivitas kita kabur. Jika kawan seperjuangan kita keliru, tokoh pujaan politik kita terpeleset langkah, ajengan kita membuat salah, orang yang kita senangi tak berlaku benar, kita mencari-cari alasan untuk membenarkan –atau setidaknya menetralkan. Aku kan begini, dia kan begitu.

Jika yang melawan hukum adalah kawannya sendiri, maka berita buruknya dilokalisir dan dinetralisir. Tidak ada lagi ruang implementasi terhadap ungkapan masyhur Rasulullah Saw, “Jika saja Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Namun, kita memilih jalan orang-orang Quraisy ketika seorang perempuan dari Bani Makhzumiyah ketahuan mencuri. Kita mengorek-ngorek strategi apa yang dapat dilancarkan demi keberpihakan hukum untuk kelompok sendiri.

“Siapa yang dapat melobi Rasulullah?” bisik-bisik orang Bani Makhzumiyah agar derajat kaumnya tak tercoreng. Diutuslah Usamah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. untuk menyampaikan keluhan mereka.

Muhammad Saw. tidak pandang bulu. Beliau adalah pribadi yang adil dan mengajarkan keadilan. Tidak ada ruang bagi standar ganda dalam hidup orang beriman. Rasulullah Saw. lalu berdiri dan berkhutbah, “Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia, tinggi kedudukannya di antara mereka mencuri, mereka dibiarkan tanpa hukuman. Namun, jika orang-orang lemah yang mencuri, mereka dengan mudah menegakkan hukumnya.”

Hari ini, barangkali kita tengah memupuk ketidakadilan, jika kita memulai pandangan-pandangan kita sendiri dengan standar nilai yang ganda. Kita menetapkan standar tinggi bagi orang lain, menyudutkan kesalahan-kesalahannya, dan mendiskreditkan siapa saja yang tak kita sukai. Di seberang sisi, kita memaafkan diri dan kelompok kita sendiri, mencari-cari pembenaran dari setiap langkah yang kita lakoni, dan mendayaupayakan sekuat tenaga untuk melobi pemaafan dari kesalahan yang dibuat agar terhindar dari hukuman yang pantas.

Ketidakadilan yang kita lihat hari ini di ruang pengadilan, di kantor-kantor polisi, di podium segala mahkamah, tidak begitu saja muncul tanpa sumbu yang membakarnya. Barangkali, sumbu ketidakadilan itu kita bakar sendiri di ruang-ruang privat kita, di meja makan kita, di ruang tengah keluarga kita, di gunjingan grup obrolan kita, dan di status media sosial kita. Kita membakarnya dengan standar ganda yang kita rayakan sendiri dengan gegap gempita.

Puasa ini, kata Rasulullah Saw., adalah perisai. Jika ia menghalangi kita dari segala gangguan yang dapat merusak hubungan cinta kita dengan Allah, mengapa masih kita rawat ketidakadilan di kepala kita sendiri?

Rotterdam, 13 Ramadhan 1439

Foto fitur diambil dari: https://www.youtube.com/watch?v=PaR9L8VDUfY

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s