Benar Berwajah Munkar

Malam Jumat, 17 Ramadhan, kala itu adalah malam yang kelam. Tiga lelaki bersepakat dalam gelap. Pedangnya terhunus, matanya menyalak-nyalak. Si pemimpin, Abdurrahman bin Amru –kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam– menyampaikan skenario jahat. Di kepalanya masih terngiang-ngiang bagaimana kerabat dan kawan-kawannya terbunuh di Nahrawan. Dendamnya menggumpal di dada. “Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib,” katanya berbulan-bulan sebelum malam itu. Kawannya yang lain juga berencana. Al Burak bin Abdillah berharap dapat membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu (ra.), sedangkan Amru bin Abu Bakar berencana membunuh Amr bin Ash ra.

Tetapi, malam itu Al Burak dan Amru tidak hadir. Posisi mereka diganti Wardan dan Syabib bin Barjah. Skenario telah disiapkan. Jika Ali bin Abi Thalib ra. keluar untuk shalat subuh, mereka akan mengepungnya, lantas membunuhnya seketika itu juga. Tidak ada keberatan terhadap usulan skenario. Kesumat telah membara. Dan, ketika waktu subuh menjelang, Ali keluar dari rumahnya dan membangunkan orang-orang untuk shalat, saat itulah mereka menyergap. Syabib menerjang leher Ali dengan pedangnya. Ibnu Muljam menebas pedangnya ke atas kepala Ali. Darah mengalir deras dari kepala Ali, lalu mengalir turun membasahi jenggotnya. Ali sekarat. Ibnu Muljam bergembira, “Tidak ada hukum, kecuali milik Allah, bukan milikmu, bukan pula milik teman-temanmu, Hai Ali!”

Tunailah sudah dendam itu –dendam yang lama dipendam, terakumulasi dari kekecewaan tanpa alasan yang hak. Peperangan di Nahrawan, yang menjadi sebab terbitnya kesumat itu, dipicu oleh orang-orang yang pandangan terhijab dari kebenaran. Mereka yang menyempal dari kelompok Islam, merasa dirinyanya yang paling benar, dan menyorongkan narasi keindahan surgawi dengan pemberontakan. Mereka lancar berorasi, mengutip ayat tentang takwa dan kekhalifahan. Ketika ditunjuk menjadi pemimpin kelompoknya, Abdullah bin Wahab ar Rasibi berpidato dan menutupnya dengan pekikan, “Mereka (Ali dan orang-orang yang bersamanya) telah berbuat zalim dalam perkataan dan perbuatan. Berjihad melawan mereka adalah kewajiban kaum mu’minin.”

Abdullah bin Syajarah as Sulami terisak mendengarnya. Gilirannya berorasi, dan ia memekik pula, “Pukullah wajah dan dahi mereka dengan pedang hingga hanya Allah Yang Pengasih dan Penyayang sajalah yang ditaati.” Mereka pun merencanakan pemberontakan terhadap kepemimpinan Ali!

Ali memang menjadi musuh utama mereka selepas khalifah Utsman bin Affan wafat. Padahal, mereka sendiri yang menabur benih kerusakan, mencetuskan kebencian dan jalan terbunuhnya Utsman. Ketika Ali memerangi ulah mereka yang melampaui batas, mereka makin defensif dengan melakukan kemunkaran-kemunkaran lain yang ofensif –lagu-lagi, dengan menyelewengkan narasi ketuhanan. Firman Allah dikutip sepotong, disebarkan di ruang-ruang gelap kekecewaan untuk mengobarkan kebencian terhadap apa yang mereka anggap salah, dan membenarkan kemunkaran yang mereka lakukan.

Mereka berkumpul di Nahrawan, menyabot jalan, menumpahkan darah tanpa hak, menawan siapa saja, dan menghalalkan apa yang diharamkan. Mereka menjadi radikalis pertama dari sempalan kaum muslimin –dan jejasnya masih bersisa hingga hari ini. Di satu sisi, mereka menampakkan lembutnya hati: mereka takut dan mempertanyakan apakah memakan buah kurma yang jatuh dari pohonnya tanpa izin pemiliknya lebih dulu dibenarkan oleh syariat. Rigid sekali pada hal-hal kecil. Namun,di sisi lain, mereka mempertontonkan kemunkaran besar. Abdullah bin Khabbab ra., sahabat Rasulullah, yang terjebak di Nahrawan, dipenggal kepalanya tanpa hak. Istrinya yang tengah hamil ikut dibunuh. Dibelah isi perutnya dan dikoyak-koyak janinnya.

Mana ada kebenaran berwajah kemunkaran?

Kebenaran itu nilai sejati, dan buahnya dalam tindak perilaku adalah kebaikan dan keindahan. Tidak ada kebenaran yang dikibar-kibarkan, disuar-suarkan, dipamer-pamerkan, diiklan-iklankan, atau diviral-viralkan, tetapi berubah wajah menjadi kemunkaran. Sekali-kali, tidak! Jika ia bercampur baur, itu bukanlah kebenaran. Jika ia melebur tak berbatas, itu adalah syahwat yang ditiup-kobarkan rayuan setan.

Narasi kaum radikalis khawarij adalah narasi ketuhanan, ketakwaan, dan kemuliaan surga yang sebenarnya hanya dijadikan amunisi bagi syahwat mereka. Kebenaran dan kebatilan dicampuradukkan. Dengan itu, mereka menggiring opini orang-orang yang limbung, orang-orang yang kecewa, orang-orang yang menyimpan sedikit dendam hingga dibuatnya kembali membara. Mereka bukan orang yang tak mengenal Islam, bahkan hafal ayat-ayat Qur’an dan menggemari kaji hadits, namun tidak meraih saripati Islam, kecuali kebenarannya sendiri –dan yang lain salah; kemarahan terhadap yang keliru –dan tak peduli kelembutan; serta membunuh yang tak sepandangan dan menerabas batas antara haq dan bathil.

Hari ini masyarakat kita limbung. Ketika kekecewaan terhadap jewantahan nilai Islam menumpuk, orang-orang dibuai ajak serupa teriakan mereka di perang Nahrawan, “Tidak ada hukum melainkan Allah, marilah bersegera menuju surga!” Orang-orang dibuat serupa mereka: wahum yahsabuuna annahum yuhsinuuna sun’aa. Mengira bahwa mereka telah berbuat kebajikan-kebajikan, padahal tengah menempuh jalan kekufuran.

Kita berlepas diri dari mereka yang menempuh jalan kelompok khawarij, yang mengeluarkan diri dan pemikiran mereka dari jama’ah Islam. Namun, bibit-bibitnya, bukan tak mungkin masih kita lakoni dalam hidup sehari-hari –dalam skala apapun: kecil-besar, privat-publik, lokal-nasional, rumahtangga-negara. Bibit yang membuai kita untuk merasa benar dan menonjolkannya, tanpa memperhatikan batas-batas kemunkaran. Bibit yang mendorong kita untuk tergesa-gesa menyimpulkan perkara dalam kekecewaan dan amarah, tanpa memberi ruang untuk bertafakkur dan menganalisis kebaikan-kebaikan yang mungkin lepas tak berbekas setelahnya.

Benar dan munkar itu, jangan-jangan, hanya berbatas garis tipis. Batas itu dikaburkan oleh syahwat kita sendiri, yang lantas membuat kita lupa bahwa kebenaran tak mungkin berwajah kemunkaran. Sekali-kali, kebenaran yang sesungguhnya hanya akan menampikan wajah kebaikan dan keindahan, bahkan dalam situasi peperangan sekalipun.

‘Alaykum bish shidqi, fainna shidqa yahdiy ilal birri, wainnal birra yahdiy ilal jannah. Berlakulah benar dalam kesetiaan kepada nilai-nilai kebenaran yang sesungguhnya. Kepatuhan kita kepada nilai sesungguhnya itulah yang mengantar menuju kebaikan-kebaikan, menuntun langkah kita menuju surga sungguhan.

Rotterdam, 17 Ramadhan 1439

Gambar fitur diambil dari: http://citebest-ni.blogspot.com/2013/07/kilang-pembuatan-topeng-guy-fawkes-aka.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s