Lindungi Kami dari THR

Kita tak perlu mengusik sukacita rakyat yang mendapat kucuran tunjangan hari raya (THR). Biarkan saja itu menjadi kegembiraan rakyat menjelang hari rayanya. Kalaupun saat ini kita belum dapat menambah kegembiraan di hati mereka, setidaknya kita tidak perlu membuat hati mereka kisruh dan mencemburui kebaikan yang diterima mereka. Itu mesti kita yakini sebagai perkara dasar dan urusan orang beriman. Jika tak mampu menambah kebaikan untuk orang lain, setidaknya jangan menambah kesedihannya dengan komentar lisan dan digital.

Urusan kucuran THR itu harus dipahami sebagai takdir –bahwa Allah melapangkan rizki secara serentak kepada para pengabdi negara dengan kadar dan ukurannya masing-masing. THR itu nirnilai. Ada harta yang masuk ke rekening yang membuat jumlah uangnya bertambah. Namun, yang terpenting dari THR bagi rakyat bukan rupa dan bentuk THR itu sendiri; juga bukan kebisingan yang menyertainya di luaran tata kehidupannya yang sederhana.

Yang penting dari THR dan menentukan nilai kita di hadapan THR –tak peduli kita ini abdi negara atau karyawan swasta, pegawai tinggi atau rendahan– adalah sikap kita setelahnya dan bagaimana kita memandang ‘tunjangan’ bagi hari raya kita. Jika Idul Fitri kita maknai sebagai sekadar ritual perayaan material, maka THR akan berujud sekadar materi yang menumbuhkan ruang-ruang konsumsi di sekitaran hari raya.

Penguasa akan berkata, “THR ini yang akan menggerakkan ekonomi.” Konsumsi di kuartal II akan meningkat. Perekonomian akan menggeliat. Dalam perspektif materi penguasa, THR akan selalu mentok dalam ujaran angka-angka dan statistik. Dan, ketika THR sampai di tangan rakyat, kegembiraan juga selalu mentok dalam perayaan konsumsi. Besok beli apa, lusa makan apa, minggu depan pergi ke mana.

Konsumsi sama sekali tidak keliru. Yang keliru adalah merawat atmosfer konsumsi yang berlebihan. Yang salah adalah memantik hawa konsumsi yang tidak perlu. Yang tidak benar adalah menurunkan threshold, ambang batas, syahwat konsumsi sehingga apa saja ingin dibeli, apa saja ingin dimakan, apa saja ingin diraih. Bahkan, ketika ia berada dalam ruang keceriaan hari raya.

Kita mesti berpikir ulang tentang apa yang sebenarnya kita definisikan sebagai “tunjangan hari raya”. Apa yang menunjang dan menyokong kegembiraan dan kebahagiaan kita di hari raya? Bahkan, sebelum sampai di titik pertanyaan itu, kita semestinya melangkah mundur sedikit untuk dapat menyatukan pemahaman, “Apa kebahagiaan hari raya kita?”

Ketika Rasulullah Saw. menyebutkan, “Bagi mereka yang berpuasa, ada dua kebahagiaan,” kebahagiaan pertamanya adalah kebahagiaan mereka ketika berbuka, mencapai ujung Ramadhan, melunasi lintasan pacu madarasah bercinta-cinta dengan Allah. Kegembiraan itu tidak datang sekonyong-konyong. Kebahagiaan itu meluncur masuk ke dalam sanubari orang-orang yang menjadikan puasa sebagai perayaan hubungan romantisnya dengan Allah. Yang ketika ada orang lain yang mengusiknya dengan kata-kata kotor, dengan dorongan menggunjing, dengan ajakan berdesas-desus, dia berkata, “Hei, aku sedang berpuasa. Aku sedang berasyik masyuk dengan Tuhanku. Janganlah kau ganggu aku.” Kegembiraan itu juga adalah luruhnya dosa yang telah lalu karena upaya kita menimbun amalan Ramadhan dengan penuh yakin dan harap.

Jika itu yang kita sebut sebagai kegembiraan dan kebahagiaan hari raya, maka “tunjangan” hari raya harus melintas batas materi. Kebahagiaan itu harus kita geser dari pasar dan mal –offline maupun online. Kegembiraan itu harus kita setel ulang tidak semata di butik dan di tukang jahit. Infrastruktur menuju kegembiraan itu harus kita susun ulang dengan kembali lagi menyusuri makna puasa. Puasa kita harus menuju substansi terdalamnya: imsaak, proses dan upaya menahan diri dari godaan nafsu sendiri. Menekan yang sering meletup-letup, menahan yang kerap mendorong-dorong.

Dengan apa itu bisa ditunjang? Bifadhlillahi wabirahmatihi, fabidzaalika falyafrahuu. Kegembiraan itu dicapai dengan ‘karunia Allah’ dan ‘rahmat Allah’. Dengan Islam dan al Qurán, dalam penafsiran Jalalayn. Dengan ketundukan penuh kepada Allah dan keyakinan mengikuti petunjuk dan syariat di dalam Al Qurán.

Jika kegembiraan kita dilimitasi sebatas uang yang masuk –dan kemudian mengeluarkannya lagi untuk urusan pernak-pernik dunia– kita pantas merasa berhati-hati dan mengingat apa yang diungkapkan kepada Qarun: laa tafrahuu. Jangan kamu bergembira hati. Kenapa tidak boleh, kenapa Allah tidak menyukai? Karena Qarun –dalam konteks ayat tersebut –membuat demarkasi baru antara dirinya dan Allah, memisahkan Allah dari urusan-urusan dunianya, mencantumkan kebahagiaan dunianya sebagai satu-satunya poin dalam visi hidupnya.

Ramadhan masih berjalan. Dan, mumpung hari raya masih jauh di hadapan, kita perlu membereskan yang masih berantakan di dalam hati kita. THR itu, pada kadar aslinya, sesungguhnya ujian bagi yang memberi, yang menerima, dan yang menonton dengan segala sorak sorainya.

Jika penguasa masih memandang hari raya dalam perspektif material saja, kemudian dikapitalisasi dalam langkah politik THR, kita layak berdoa: Ya Allah, lindungi kami dari THR. Jika kita masih beranggapan pula bahwa THR akan menyelamatkan gengsi kita di hari raya, membantu kita melunaskan syahwat konsumsi yang tak berbatas, kita layak berdoa: Ya Allah, lindungi kami dari THR. Jika urusan THR ini juga masih membuat kita saling menggunjing dan mencela, saling mencemburu dan mendengki, saling hasut dan berdesas-desus, kita lebih patut lagi berdoa: Ya Allah, lindungi kami dari THR.

Rotterdam, 19 Ramadhan 1439

Gambar fitur diambil dari: https://spn.or.id/tunjangan-hari-raya-memberi-harapan-palsu/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s