Khilaf-nya Khalifah dan Khilafah

Urusan khalifah dan khilafah ini memang membuat kepala penat. Kita terjebak dengan melokalisir urusan khalifah dan khilafah pada terma radikal atau tidak radikal, merongrong atau tidak merongrong negara, dan berbahaya atau tidak berbahaya terhadap Pancasila. Kita juga terlanjur terbiasa membincangkan perkara khalifah dan khilafah ini dengan membatasinya pada sistem ketatanegaraan, membandingkannya dengan sistem demokrasi, dan –oleh karenanya –dijadikan target utama pencapaian kemanusiaan.

Padahal, sebelum bicara jauh tentang dunia dan sistem manajemennya, Allah mengundang kita dengan pengingatan: Idz. Hei, ayo coba ingat-ingat lagi. Coba renung-renungkan lagi kisah awal mulanya. Allah mengundang para malaikat untuk berbincang pengaturan dunia dan mencanangkan bahwa harus ada yang bertanggungjawab di dalam tata aturan dan tata kelola dunia. Inniy jaa’ilun fil ardhi khalifah. Sesungguhnya Aku akan menobatkan khalifah, pengatur, pengurus, dan penyelenggara urusan-urusan di muka bumi.

Kita semestinya menarik pikiran lebih jauh untuk menelisik apakah khalifah itu sebatas Adam atau termasuk juga keturunan dan cucu cicitnya, apakah khalifah itu tunggal atau jamak, dan apakah khalifah dinisbatkan semata pada sesuatu yang ditentukan dengan kriteria-kriteria tertentu atau sebuah bentuk umum yang dapat melekat pada siapa saja. Padahal, Allah menajamkannya istilah khalifah dengan derivat-derivat khalafa, dalam bentuk khulafaa-a dan khalaa-ifa di ayat-ayatNya yang lain.

Ketika Allah sebutkan Dia-lah yang menjadikan kalian, wahai manusia, sebagai khalaaifa fil ardhi, maka kita –tanpa terkecuali –memang sudah dicanangkan mengemban tanggung jawab pengelolaan itu tanpa harus melalui mekanisme elektoral kepemimpinan, perubahan dasar negara, atau percik picu perang-perang dunia. Bahkan, kalaupun Allah ingin, laja’alnaa minkum malaa-ikatan fil ardhi yakhlufuun, para malaikat bisa diveto untuk turun menggantikan posisi dan peran manusia di bumi. Namun, Allah tidak memilih itu. Allah –dengan Keluasan IlmuNya– tetap menyerahkan tugas penyelenggaraan dunia itu kepada manusia  meski semula sempat dipertanyakan para malaikat tentang risiko kerusakan dan pertumpahan darah.

Jadi, sejak seorang manusia beranjak mukallaf, sudah mendapat sertifikat ‘bertanggungjawab’, dia sudah menjadi khalifah. Mahasiswa itu khalifah, karyawan kantoran khalifah, tukang bakso itu khalifah, manajer perusahaan itu khalifah, presiden dan menteri-menterinya itu khalifah, pembina Pancasila itu khalifah, sekjen PBB itu khalifah. Jadi, Presiden itu khalifah, bahkan sebelum ia menjadi presiden. Kapolri itu khalifah, bahkan sebelum ia jadi Kapolri. Menristek itu khalifah, bahkan sebelum ada tanda-tanda ia duduk di kursi menteri. Mengapa sekarang kita ribut bahwa khalifah itu bertendensi negatif, berpotensi merusak keajegan negara, padahal semua orang yang saling tuduh dan bela itu sama –sama berada dalam rombongan yang berharap wayastakhlifakum fil ardhi fayanzhura kayfa ta’maluun? Allah akan menggilirkan, mengganti urusan jabatan dan tanggung jawab, serta menaik-turunkan derajat keduniaan kalian di muka bumi itu untuk Dia lihat dan uji lagi: apa saja dan bagaimana kalian berbuat.

Yang membedakan urusan khalifah ini hanya skala dan spektrum khilafah-nya, tanggung jawab dan perannya. Mahasiswa duduk dalam singgasana khilafah personalnya –bagaimana ia mampu mengelola segala bentuk ujian, prestasi, dan potensi dirinya, serta meletakkan dirinya dalam rel yang diridhoi Tuhannya. Dosen dan pimpinan kampus berada dalam koridor khilafah penyelenggaraan perguruan tinggi yang dibangunnya. Menteri mengelola khilafah kementeriannya, lengkap dengan urusan kesejahteraan staf-staf aparatur sipil negara-nya. Kapolri sibuk mengurus khilafah kepolisiannya. Bahkan, tukang bakso punya wilayah khilafah-nya sendiri: bagaimana meracik bakso terenak, memuaskan pelanggan, menerima orderan, dan mengalokasikan pendapatannya untuk dirinya, keluarganya, dan Tuhan-nya.

Namun, pedebatan kita tentang khalifah dan khilafah belakangan ini terlampau tegang, tidak asik, dan penuh curiga. Kita membatasi diri dengan hanya meributkan hal-hal yang superfisial. Kita mendaku-daku diri untuk mengatakan yang paling mengerti tentang khilafah, orisinalitasnya, perkembangan sejarahnya, tataran geopolitiknya, serta potensi dan ancaman-ancamannya, tetapi tanpa sadar merusak peran khalifah yang telah menancap dalam diri kita sendiri dan mengobrak-abrik tatatan khilafah kita sendiri.

Kalau kita sudah menyadari bahwa tugas kita adalah mengatur dan mengelola urusan-urusan di muka bumi, maka kita ini tidak pernah merasa lebih tinggi dari sekadar sopir. Tugas kita mengemudi, tidak melanggar aturan lalu lintas, tidak parkir sembarang tempat, tidak menabrak-nabrak pengendara lain, tidak seenaknya sendiri, tidak mengebiri hak pejalan kaki, dan tidak menyatakan diri sebagai penguasa tunggal tafsir jalan raya. Tugas kita ada di belakang kemudi, sedangkan arah dan tujuannya sudah ada yang menetapkan: Allah. Baik benarnya arah kendara dan betul kelirunya tata kelola, ditentukan seberapa patuh kita pada arahan-arahan dan nilai-nilai ketuhanan. Maka, tugas kita hanya memastikan agar khilafah kita dijalankan dengan dasar peran khalifatullah.

Jangan sampai urusan khalifah dan khilafah ini sekadar membawa serta Tuhan dalam diskursusnya, tetapi meninggalkan nilai-nilaiNya ketika masuk pada tataran eksekusi kebijakan dan strategi penumbuhkembangannya. Jangan sampai urusan khalifah dan khilafah ini hanya membenarkan prasangka para malaikat bahwa kita menyuruk-nyurukkan kepala kita ke golongan man yufsidu fiihaa yasfikud dimaa-a; debat, kebijakan, dan strategi kita hanya mendorong kerusakan-kerusakan baru, penghangusan martabat manusia, dan penumpahan darah dan kehormatan sesama. Jangan sampai urusan khalifah dan khilafah ini membuat kita menolak kebenaran-kebenaran yang ada; yang ketika diperingatkan untuk tidak berbuat kerusakan, kita masih saja membela diri, innamaa nahnu mushlihuun. Kita berteriak-teriak dan merasa sedang menata urusan dunia, menjaga kestabilan masyarakat, dan meletakkan dasar keharmonisan antar sesama, padahal tangan kita berlumur dengki dan benci yang memberai ikatan-ikatan ketuhanan yang semula sudah dipintal rapi.

Substansi kekhalifahan kita sesungguhnya sama. Kita hanya tengah menjalankan skenario dan peran dalam skala dan spektrum khilafah kita masing-masing. Allah tengah rafa’a ba’dhakum fawqa ba’dhin darajaat, yang satu nampak lebih tinggi posisi, derajat, jabatan, dan area kekuasaannya. Namun, intinya tetap sama: liyabluwakum fii maa aataakum. Semua ini perkara ujian yang bertubi-tubi untuk melihat bagaimana kita bereaksi, bersikap, memberikan respons, dan menjawab ujian-ujian dari segala yang Allah telah berikan.

Khalifah itu juru kemudi. Allah yang jadi arah tujuannya. Kalau tak becus, kita tentu harus ingat bahwa fakhalafa min ba’dihim khalfun. Akan ada generasi-generasi yang siap menggantikan di belakang. Karena khalifah itu tak tunggal. Ia jamak, dan berpindah-pindah tongkat estafet. Mengapa harus menjadi angkuh?

Rotterdam, 24 Ramadhan 1439

Gambar fitur diambil dari: https://crcs.ugm.ac.id/news/10955/tiga-khilaf-dalam-memahami-khilafah.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s