Syahadat Kita, Syahadat Donat

Selepas kran da’wah terang-terangan terbuka, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) bergerak taktis. Beliau pergi ke lembah Batha, lalu naik ke bukitnya. Ia berteriak keras, “Awas, ada musuh di pagi ini!” Teriakan itu membuat geger orang-orang sekitar. Mereka bergegas berkumpul dan meminta penjelasan Muhammad Saw. “Bagaimana pendapat kalian semua jika aku katakan bahwa ada musuh yang akan datang menyerang kalian di pagi dan petang hari? Apakah kalian percaya kepadaku?” Pertanyaan itu retoris belaka. Muhammad Saw. sudah tahu setinggi apa kepercayaan orang-orang Quraisy kepadanya. Jikapun dicucuk hidungnya untuk ditarik ke manapun oleh Muhammad Saw., mereka pasti rela. Ia terpercaya, dia Al Amin. Dia tak mungkin berdusta.

Namun, urusan tak berhenti pada percaya atau tidak percaya. Muhammad Saw. melanjutkan pernyataan intinya, “Maka, sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan azab yang keras.” Muhammad Saw. mengajak kepada tauhid –ajaran baru yang menyelisihi praktik ritual keagamaan Quraisy di masa itu. Muhammad Saw. memang terpercaya. Ia memang tak pernah berdusta. Namun, untuk urusan mengikuti ajaran baru, Muhammad Saw. bukanlah orang yang dianggap patut untuk digugu lagi.

Bahkan, Abu Lahab menepiskan kedua tangannya, lalu berteriak balik dengan kencang sambil mencerca. “Celakalah kamu ini! Karena inikah engkau mengumpulkan kami?” Ia berbalik arah meninggalkan Muhammad Saw., dan menyusun agenda penting berikutnya untuk melawan keponakannya sendiri. Ia membangun kekuatan bersama Abu Jahal dan penentang lainnya. Mereka memetakan kampanye negatif dan hitam, memproduksi hoax, dan menjalankan strategi blokade untuk meredam kebisingan yang dimunculkan Muhammad Saw. dan pengikutnya.

Apakah ajaran yang dibawa Muhammad Saw. itu sama sekali baru sehingga mereka merasa penting untuk menolaknya secara keras? Tidak. Jika Abu Lahab, Abu Jahal, dan para pengikutnya ditanya tentang siapa yang memberikan mereka rizki dari langit dan bumi, fasayaquuluunallaah, mereka akan menjawab, “Allah.” Jika mereka ditanya siapa yang berkuasa membuat mereka mampu mendengar dan melihat, mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, fasaquuluunallaah, mereka dapat menjawab, “Allah.” Jika mereka ditanya siapakah yang menciptakan mereka, membentuk rupa wajah mereka, dan mengirimi mereka keturunan yang berurut-urutan, fasaquuluunallaah, mereka dengan ringan menjawab, “Allah.”

Pengetahuan mereka tentang Allah tak kalah hebat. Tauhid rububiyah-nya mantap. Namun, itu tidak berimplikasi sedikitpun pada kerelaan untuk membangun tauhid uluhiyah-nya, untuk merelakan hidup dan matinya dipersembahkan kepada Allah.

Abu Jahal bukan tak mengerti syahadat. Bahkan, ia mungkin lebih paham makna syahadat daripada kita yang sibuk berkomat-kamit berulang kali menyebutnya dalam tasyahud di shalat-shalat kita. Ia lebih mengerti implikasi dari kalimat pendek yang begitu ringan kita baca itu. Syahadat bukan sekadar persaksian. Ia perjanjian teguh. Ketika kita nyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah, maka tidak boleh ada visi hidup selain berjalan ke arah Allah, tidak boleh ada cita-cita yang lebih tinggi selain menuju Allah, tidak boleh ada kiblat dari segala aktivitas kita selain diarahkan ke wajah Allah, dan tidak boleh ada urusan-urusan lain yang mengalahkan urusan antara Allah dengan kita.

Abu Jahal tak mampu menerima syahadat karena ia tak ingin kehilangan tahta, kekuasaan, kesenangan dan kenyamanan  yang selama ini dikuasai dan dieksploitasinya. Ia tidak ingin tunduk pada sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsunya. Ia tidak ingin terkekang pada aturan-aturan yang dianggapnya menghimpit kegembiraan dunianya, merongrong kekuasaannya, dan membuat stabilitas ekonomi dan finansial diri, keluarga, dan kelompoknya terancam.

Jika hari ini kita tak mampu juga menyerahkan diri kita kepada Allah, barangkali pemaknaan syahadat kita sebatas formalitas kata dan ucap. Pemahaman kita, bahkan, tak seajeg pemahaman Abu Jahal. Kita tak mengerti juga implikasi dari pernyataan singkat syahadat. Kita mengaku beriman, mempercayai segala urusan dunia diatur oleh Allah, dan meyakini bahwa ada kematian setelah kehidupan, namun diam-diam kita meletakkan harta, uang, posisi, jabatan, dan kekuasaan lebih tinggi daripada Allah. Kita meletakkan kiblat-kiblat selain Allah dalam visi hidup kita. Kita mendahulukan kepentingan selain Allah. Kita menyingkirkan syariat ke tepian dan mengambil jalan yang kita anggap lapang, meski menerabas aturan-aturan Allah.

Syahadat kita, syahadat donat. Syahadat kita cantik membuat lingkaran di tepian –menyatakan diri bahwa kita percaya dan beriman kepada Allah dan segala perangkat keimanannya. Namun, syahadat kita bolong di tengah, tak berisi. Ketundukan kita terkikis nafsu. Kepasrahan kita kepada Tuhan tak berbekas. Nafsu kita dimenangkan, keinginan dan cita-cita dunia kita ditinggikan, perkara dan urusan-urusan dunia kita lebih diprioritaskan ketimbang Allah. Syariat kita pilih sesuka hati: yang menguntungkan kita comot, yang merugikan kita abaikan.

Syahadat kita, syahadat donat. Tauhid rububiyah kita mengental dalam kajian-kajian keislaman, namun tauhid uluhiyah kita mengendur dan berlubang.

Di ujung Ramadhan, barangkali kita harus mengambil waktu lebih banyak untuk menambal yang masih berlubang, untuk menutupi yang tak sempurna, untuk melengkapi syahadat yang tergerus.

Rotterdam, 26 Ramadhan 1439

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s