Menantang Azab

Suatu ketika seorang laki-laki datang ke hadapan Muhammad ﷺ. Langkahnya angkuh. Sorot matanya tajam. Tak berbilang sudah berapa banyak sahabat Muhammad ﷺ yang ia siksa, berapa banyak pula hoax yang ia sebarkan tentang Muhammad ﷺ: lelaki yang ia sebut gila, plagiator syair, sekaligus tukang tenun.

Kali ini ia datang dengan tantangan baru. “Tuhan! Jika ini semua yang dibawa Muhammad adalah kebenaran dari sisiMu,” katanya sambil meremehkan, “maka turunkanlah kepada kami batu yang berjatuhan dari langit.”[1] Tantangan itu menjadi doa teatrikal yang terkenal; diselipkan Allah ﷻ dalam firmanNya yang masyhur dan menjadi sebab bagi pelipur lara di ayatNya yang lain, “Seorang penantang telah datang dan menantang azab yang lekas ia minta datangnya.”[2]

Lelaki itu an Nadhr bin al Harits. Seorang dokter terpandang di kalangan Quraisy. Ia habiskan masa mudanya untuk belajar kedokteran di sebuah sekolah Persia di Gundeshapur. Ia penikmat cerita-cerita Arab kuno –yang dengannya ia meracik cerita tentang Muhammad ﷺ yang memplagiasi hikayat Arab kuno dalam wahyu yang disampaikannya. Ia hadir di Mekkah sebagai pembesar, lalu merasa tersudut ketika Muhammad ﷺ menjelma kekuatan baru di sekitarannya.

An Nadhr tidaklah sendirian. Ia menjadi model yang direplikasi pada setiap zaman. Bukankah manusia memang teramat takut pada perubahan? Mereka yang telah ajeg pada singgasananya, pada kuasa tahtanya, pada jalar bisnisnya yang merajalela, pada struktur sosial masyarakat bertingkat yang memuaskan hasratnya, akan berusaha merawat ketidaklaziman itu. Selamanya, jika perlu.

Berhala, pada masa kelam Mekkah, tidak berdiri sendiri sebagai sebuah peribadatan. Berhala dan pemujaannya adalah juga lahan bisnis, komoditas politik, dan jejaring kuasa tribal. Di situ ada jenjang sosial, tanpa ekuitas dan kesetaraan. Maka, ketika Muhammad ﷺ datang dengan seruan anti-perbudakan, mereka menyebar hoax bahwa Muhammad telah gila. Di situ ada eksibisi syair tak pernah henti yang ditempel di dinding Ka’bah, podium para penyair yang hafal titik dan saktahnya di luar kepala. Maka, ketika Muhammad ﷺ yang tak pernah belajar baca tulis datang dengan wahyu dalam struktur kata yang indah, mereka menggulirkan penolakan dengan menyebutnya tukang syair plagiat. Di luar tradisi leluhur yang dilestarikan, di situ ada bisnis besar dari keluar masuknya pemuja berhala, pariwisata religi yang selalu berhasil membakar tungku asap di dapur-dapur Quraisy. Maka, ketika Muhammad ﷺ datang dengan pemurnian esa Tuhan, mereka menyebar fitnah: Muhammad gila kuasa.

Tetapi, Muhammad ﷺ dan ajarannya adalah bola salju di tengah gurun yang pekat panas. Pengikutnya semakin banyak. Ajarannya semakin tersebar luas.

Quraisy terpojok. Keterpojokan yang dilamun disrupsi atas kekuasaan fisik, tradisi, keyakinan, dan bisnis yang selama ini ajeg mereka tampuk di punggung-punggung para pemuka suku. Dan, keterpojokan mereka adalah keterpojokan manusia kebanyakan yang merasa nyaman dalam kondisi mereka yang menguntungkan dan tidak siap menerima perubahan. Keterpojokan mereka barangkali juga adalah keterpojokan kita –ketika nilai kebenaran yang baru datang, dan kita tidak siap, bahkan menolaknya, hanya karena kedatangannya kita anggap merugikan. Ruang hijrah kita hijab sendiri. Pintu kritik kita gembok dengan perasaan benar sendiri.

An Nadhr mengingatkan kita tentang kejumudan, keterpojokan, dan penolakan nilai kebenaran dengan cara yang tidak pernah disukai Tuhan dan semesta. Upayanya dilumuri dengan kejahatan. Tidak hanya fitnah, ialah yang mendokumentasikan program boikot Muhammad ﷺ di Mekkah. Ia menjadi corong restriksi sosioekonomi para pengikut Muhammad, pelepas tali kasih sayang antarkeluarga, dan penyiksa ulung bagi mereka yang tak jera dirundung kesusahan ekonomi.

Tapi, An Nadhr gagal. Mentok. Ia mencari jalan lain ketika menantang azab itu, “Turunkan hujan batu kalau kau benar!”

Maka, benar ketika Muhammad ﷺ mengatakan bahwa tak ada sejengkal tanah surga pun bagi kesombongan. Rasa sombong tak akan tumbuh subur dan berbuah di tengah rumpun kebaikan surga. Dan, nenek moyang kesombongan adalah ketika ia menolak kebenaran –seberapapun rasionalnya kebenaran itu di mata dan kepalanya.

Mereka yang sombong, angkuh, merasa bahwa azab itu teramat jauh. Mereka yang merasa kebenaran mutlak di sisinya akan mengira bahwa tidak ada kemungkinan bagi siksa menjalari tubuh mereka. Dunia telah lekat di matanya, sedangkan siksa adalah kemustahilan baginya. Innahum yarawnahu ba’iidan wanarrahu qariiban.[3] Yang benar-benar memelihara iman di hati mereka justru tak pernah merasa dirinya aman, damai, sentosa dan bebas dari segala kemungkinan azab dan petaka. Karena dengan begitulah, hidup ini dijalani dengan kerendahan hati. Karena dengan itu pulalah, kesombongan akan selalu dinihilkan dalam hidupnya.

Maka ber-imsak-lah sejenak. Berhenti dari merawat hawa yang melonjak-lonjak. Tanpa itu, rasa angkuh dan kecintaan pada dunia tanpa sadar menggiring kita untuk mendeklarasikan tantangan kepada Tuhan.

Rotterdam, 1 Ramadhan 1440

[1] Lihat QS Al Anfal 32.

[2] Lihat QS Al Ma’arij 1-2.

[3] Lihat QS Al Ma’arij 6-7.

Gambar fitur diambil dari: https://muslim.or.id/11364-siapakah-thaghut.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s