Penjaga Rumah Allah

Sepasukan tentara, siang itu, tiba di Al Maghmas – sebuah daerah tak jauh di pinggiran kota Mekkah. Bekas debu Yaman di pakaian mereka hampir hilang setelah menempuh perjalanan panjang hingga ke Thaif, dan kini menjelang Mekkah. Satu per satu tentara turun merampas ternak yang ada di sekelilingnya, termasuk dua ratu unta milik Abdul Muthallib, seorang pemuka suku terpandang di kota Mekkah.

Abrahah, pemimpin pasukan itu, tengah memberi umpan dan menarik pelatuk keresahan orang-orang Mekkah. Pasukannya dalam rombongan besar jelas tak akan mampu dilawan oleh orang-orang Quraisy yang tak begitu lihai berperang padahal memiliki tugas besar menjaga Ka’bah. Ketika seorang lelaki bernama Hannatah al Himyari diutus Abrahah untuk mencari Abdul Muthallib, kerendahan diri orang-orang Quraisy terpancar jelas. “Kami tidak berniat untuk memerangi pasukan Abrahah itu. Kami juga tidak mempunyai kekuatan untuk itu,” jawab Abdul Muthallib.

Kedatangan Abrahah ke Mekkah adalah upaya destabilisasi konstruksi keagamaan global pada masanya. Mekkah, bersama Ka’bah, sejak lama dicemburui banyak kaum karena selalu menjadi pusat perhatian umat seluruh dunia sebagai tempat ibadah suci. Ia juga menjadi pusat perdagangan dan wisata religi yang paling menguntungkan dengan banyaknya orang yang hilir mudik berziarah. Quraisy, suku utama yang tinggal di radius paling dekat dengan Ka’bah, adalah penikmat gelimang keuntungan dari itu semua.

Kaum Ghassan pernah mendirikan rumah ibadah suci di Hira untuk mencoba menandingi Mekkah. Abrahah pun, setelah menguasai Yaman, membangun sebuah rumah suci semacam gereja yang superbesar dan didaulatnya sebagai pusat keagamaan baru dunia di Sana’a.[1] Segala cara ia lakukan untuk mengubah arus konstelasi ziarah dunia dan memindahkan pusat perhatian agama dari Mekkah ke Sana’a.

Pertarungan politik-agama semacam ini tak lekang oleh zaman – dalam konteks dan skalanya masing-masing. Tiap-tiap kelompok berebut pengaruh untuk membuktikan siapa yang paling besar daya tariknya. Tuhan dan spiritualitas dimarjinalkan, lalu digantikan oleh rasa dahaga terhadap legitimasi kekuasaan dan ekonomi. Pengajian tak lagi menjadi sumur jernih untuk mendekat kepada Rabb, tetapi ruang untuk menepuk-nepuk dada sendiri sebagai yang terhebat dan terbaik, sekaligus menjelek-jelekkan kelompok lain yang dianggap tak murni, tak putih, tak lurus, dan tak benar.

Masjid barangkali didirikan secara megah dengan arsitektur mewah, tetapi menjadi sekadar daya tarik bisnis untuk mendorongan sekumpulan orang yang datang atau serobongan peziarah yang berwisata. Bahkan, jalur-jalurnya telah dipetakan dalam paket-paket wisata religi. Lengkap dengan kompleks pemakaman, hotel dan wisma, toko pernik oleh-oleh, lokasi pemandangan, dan para juru da’wah yang menjadi pemandunya.

Abrahah, dan para pendahulunya, telah memulai perkara geser-menggeser magnet politik-agama. Sayangnya, niat menjadikan Sana’a sebagai pusat keagamaan baru dunia terlacak dan tak disukai orang-orang Arab. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengutip Muqatil bin Sulaiman yang menyebutkan bahwa seorang pemuda dari Quraisy membakar gereja besar Abrahah tersebut yang kemudian memantik eskpedisi besar Abrahah ke Mekkah. Gajah-gajah besar dikerahkan untuk eksibisi kekuatannya. Meski tak ada yang dapat benar-benar memastikan berapa jumlah gajah yang dibawa, pasukan itu memang dikenal dengan Pasukan Gajah sehingga peristiwa besar ini dicatat sejarah sebagai Tahun Gajah.

Bagi Abrahah, tidak ada jalan lain untuk menuntaskan ambisinya, kecuali dengan menghancurkan Ka’bah. Cara paling brutal dan kotor itu adalah peluru terakhirnya.

Abdul Muthallib pun menghadap Abrahah. Ia datang dengan penuh kewibawaan dan wajah tampannya yang membuat Abrahah luluh hatinya. Abdul Muthallib sama sekali tak menantang Abrahah berjibaku dalam perang. Ia justru hadir penuh kesantunan untuk meminta unta-untanya dilepaskan dan dikembalikan. Abrahah terkejut bukan main. “Apakah Engkau berbicara kepadaku hanya untuk persoalan dua ratus ekor unta yang telah kurampas darimu? Sedangkan Engkau meninggalkan rumah Tuhan-mu yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk merobohkannya. Mengapa Engkau tidak berbicara kepadaku soal rumah itu, Ka’bah-mu?”

Pancingan Abrahah meleset. Sebaliknya, bagi Abdul Muthallib, dirinya bukanlah sejatinya pembela rumah Allah. “Sesungguhnya aku adalah pemilik unta itu,” kata Abdul Muthallib. “Dan sesungguhnya rumah itu telah mempunyai Pemiliknya sendiri yang akan membelanya.”[2]

Tak ada jawaban yang lebih padat dan menghujam daripada jawaban Abdul Muthallib semacam itu. Tak ada pengakuan yang lebih murni dan tegas daripada pengakuan Abdul Muthallib semacam itu. Tak ada pula kepasrahan yang lebih tunduk dan lapang daripada kepasrahan Abdul Muthallib semacam itu.

Abdul Muthallib telah melampaui garis paling ujung sebagai penjaga rumah Allah. Ia melepas segala atribut personalnya sebagai pemuka kaum, meruntuhkan egonya sebagai orang yang dikenal menjaga rumah Tuhannya. “Ini adalah Baitullah yang disucikan dan merupakan rumah kekasihNya, yaitu Ibrahim,” kata Abdul Muthallib. “Maka jika Dia mempertahankannya, itu adalah sebuah keniscayaan karena ini adalah rumahNya yang disucikan. Dan jika Dia membiarkan perkara antara rumahNya dan Abrahah, kami pun tak memiliki kemampuan apapun untuk mempertahankannya.”

Garis lurus yang ditarik Abdul Muthallib adalah garis yang sering luput kita perhatikan. Ilmu kita menggunung, tetapi ego kita pun ikut menumpuk. Pengikut kita mengular dalam barisan panjang, tetapi menjadi pupuk bagi atribut personal yang sering tak sanggup kita lepaskan. Kita sering merasa lebih besar dari agama yang kita duga tengah kita jaga. Kita sering merasa lebih hebat dari ajaran yang kita sangka telah kita kuasai detailnya dari dasar bumi hingga tinggi angkasa. Kita merasa ababil siap menolong kita dengan hujaman batu panas kepada mereka yang kita anggap lalim tanpa memiliki pandangan yang cermat untuk mendeklarasikan tiang kebenaran dan kelaliman itu sendiri.

Barangkali kita belum berjumpa Abrahah yang nyata permusuhannya, tetapi kita sering mencari-cari sendiri abrahah-abrahah kecil yang kita anggap musuh. Bukan karena ia benar-benar musuh, tetapi karena kita terlampau percaya diri bahwa kita tengah menjadi penjaga rumah Allah. Kita kerap tidak bermurah hati untuk membagi peran dalam da’wah: siapa melakukan apa, siapa menyiapkan apa, siapa menjaga apa, siapa menumbuhkan apa. Jangan-jangan, kita justru menjadi abrahah-abrahah kecil yang menarik marka pembeda antara kelompokku dan kelompok mereka, antara pengajianku dan pengajian mereka, antara oragnisasiku dan organisasi mereka, antara kepentinganku dan kepentingan mereka, antara afinitas politikku dan afinitas politik mereka.

Jangan sampai kita keliru memberi cap di kening orang lain sebagai pesaing, musuh, hanya karena terlampau ge-er telah menyandang selendang kebaikan. Kita semestinya kembali dalam perenungan yang mendalam ketika ayat-ayat itu datang ke pangkuan Muhammad ﷺ. “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.[3]

Ayat-ayat itu, yang dengan mudah kita hafal dan rapal, adalah pengingat bagi Quraisy yang telah dijaga oleh Allah dengan penjagaan sempurna, tetapi berbalik badan ketika perintah menyempurnakan diri ke dalam Islam datang menghampiri. Bagi mereka, ketuhanan telah nyata milik Allah, tetapi penghambaan mereka kepada Allah tersangkut oleh beratnya hati melepaskan hasrat dunia dan pengakuan diri yang berlebihan.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

 

[1] Lihat catatan ini dalam Sejarah Hidup Muhammad karya M Husin Haikal.

[2] Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Al Fiil 1-5.

[3] Lihat QS Al Fiil 1-5

 

Gambar fitur diambil dari: https://alif.id/read/rizal-mubit/tafsir-surah-al-fiil-bagian-2-b226960p/

3 tanggapan untuk “Penjaga Rumah Allah”

  1. Yg saya dengar dan lihat dengan kacamata ilmu yang terbatas, katanya dalam rangka saling memberi nasehat, disampaikan kritik telanjang kepada seorang ustadz kepada ustadz lainnya yang keduanya kami kagumi kapasitas keilmuannya. Membuat kami yg mendengar merasa risih, merasa syak wasangka, mungkin krn tidak tahu hakikatnya. Apakah sebaiknya kritik semacam ini dihindari oleh para asatidz atau biarkan saja dan tidak usah ikut-ikut kami mendengarkannya?

    Suka

    1. Asatidz hendaknya berpolemik secara akademik. Perbedaan pendapat sudah terjadi sejak masa lampau. Imam Syafii berbeda pendapat dengan gurunya, Imam Malik. Ditulisnya buku, dijelaskan landasannya, lalu ia ingatkan kepada muridnya untuk tetap saling menghormati. Kalau ada asatidz yang berbeda pendapat, ssbaiknya tidak saling menyindir. Jika sudah pada tahap itu, kita yang menjadi muridnya cukup menahan diri dn tidak ikut masuk dalam sindir menyindir, apalagi menyerang. Wallahua’lam.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s