Harga Khianat

Selepas Quraisy pulang ke Mekkah, pasukan Muhammad ﷺ kembali masuk ke kota Madinah dan bersiap menyelesaikan persoalan lain yang tak kalah rumit. Oposisi yang sengit di dalam kota: Bani Quraizah. Mereka diam-diam telah berkhianat, mengacak-acak perjanjian damai Madinah, dan mencoba menusuk pasukan muslimin dari belakang. Meski kelelahan masih mendera kaum muslimin, sepasukan orang diminta Muhammad ﷺ untuk berangkat ke Bani Quraizah. “Shalat ashar-lah kalian di Bani Quraizah!” kata Rasulullah ﷺ memberi pesan perjalanan – yang kemudian tercatat dalam perkara perbedaan pendapat fikih para ulama. Rasulullah ﷺ sendiri berangkat pada rombongan berikutnya.

Ali bin Abi Thalib yang memimpin rombongan pertama sudah terlebih dahulu mendengar segala caci maki dari dalam benteng Bani Quraiza. Tapi, tak perlu ada balasan caci dan maki dari pasukan muslimin. Mereka menahan diri dari segala pancingan yang meresahkan batin. Benteng Bai Quraizah itu pun dikepung selama dua puluh lima hari – dengan sesekali terjadi saling lempar panah dan batu.

Bani Quraizah merasakan benar pahitnya harga khianat. Kepungan di benteng sendiri terasa sudah begitu menyesakkan dada mereka. Tak ada satupun dari mereka yang berani beranjak keluar. Bahkan, satu per satu jatuh dalam keyakinan yang begitu menyedihkan. Mereka, cepat atau lambat, akan kalah dan hanya dapat menggantungkan nasib dari kebaikan hati kaum muslimin.

Pengkianatan – dalam rupa apapun – selalu menerbitkan rasa gundah. Tak ada pengkhianatan bercita rasa manis. Jika khianat itu berhasil, kegundahan akan terus lestari di dalam dada, berubah wujud menjadi ketakutan akan dikhianati, ditelikung, dan diserang dari belakang di kemudian hari. Khianat selalu takut mendapat pembalasan khianat pula. Jika khianat itu gagal, semakin getir harganya. Bukan hanya ketakutan, tetapi juga robeknya harga diri dan martabat, dan hilangnya hasrat untuk terus menghirup napas di dunia. Mereka yang kalah dalam pengkhianatan merasa maut lebih baik daripada kehidupan yang mereka sempat bangga-banggakan.

Kita barangkali belum pernah berkhianat sebesar Bani Quraizah – mencederai perjanjian besar antar kelompok umat manusia. Tapi, kita sangat mungkin menimbun sifat khianat setumpuk demi setumpuk. Kepada atasan – mengatakan ya, padahal tidak. Kepada kawan – menyatakan dukungan, padahal tikaman. Kepada pasangan – mengungkapkan setia, padahal menyimpang. Kepada guru – mengaku hormat, padahal menghina. Kepada tumpukan pekerjaan, tugas-tugas sekolah, amanah rumah tangga, titipan anak dan keluarga – kita menaburkan kata-kata yang sempurna, padahal menyisakan pengabaian, kecerobohan, dan kelalaian dalam menunaikannya. Bukankah semua perkara dalam hidup ini adalah amanah yang keamanannya harus dijaga? Dan setiap penyimpangannya adalah khianat yang menumpuk rasa gundah gelisah ketika tidak ditunaikan dengan sempurna.

Saking putus asanya Bani Quraizah, dan takutnya mereka jika keturunannya tak mewariskan lagi ajaran nenek moyangnya, satu rencana tercetuskan. “Kita bunuh saja para perempuan dan anak-anak,” kata salah satu dari mereka. Jika mereka kalah, mereka tak khawatir istri dan anak mereka berpindah keyakinan. Jika mereka menang, mereka dapat mencari istri lagi di pusaran kota Madinah. Tetapi, usul itu ditolak di antara mereka sendiri. Bagi sebagian orang yang lain, pilihan untuk bernegosiasi nampak lebih masuk akal.

Pergilah mereka mencari pertolongan kepada kaum Aus – kelompok sekutu yang dulu sering bertempur melawan Khazraj dan kemudian berdamai dengan Rasulullah ﷺ. Beruntung usulan mereka diterima hingga mereka menyodorkan satu nama yang dipercaya dapat menolong nasib mereka: Sa’ad bin Muadz. Artbitrase dilakukan. Muadz berada di tengah, menyediakan kedua telinganya untuk mendengar segala macam usulan sebelum ia mengakhiri dengan simpulan hukum yang akan dikeluarkan dari kebijaksanaannya.

Ada permohonan ampunan yang bersahut-sahutan di telinga Muadz. Tetapi Muadz – dengan segala memori yang ia pendam di kepalanya – meyakini bahwa Bani Quraizah adalah musuh dalam selimut yang berbahaya. Risiko keamanan yang merongrong dari dalam benteng mereka sangat mungkin terjadi kembali di masa depan. Maka, ia memberi putusan konvensional: semua lelaki Bani Quraizah harus diberi hukuman mati.

Apa jawab Muhammad ﷺ? Persetujuan. “Demi yang menguasai diriku,” kata Rasulullah ﷺ, “Keputusanmu telah diterima Allah dan orang-orang beriman. Maka, dengan begitu, aku diperintahkan.”

Inilah peristiwa hukuman mati massal pertama yang tercatat dalam sejarah Islam. Sekitar tujuh ratus lelaki dihukum mati. Tampak mengerikan memang di mata manusia. Tetapi, Bani Quraizah sendiri telah membayangkan apa yang akan terjadi pada diri mereka sendiri. Tidak ada kesan keterkejutan pada wajah mereka seolah mereka telah menakar harga khianat yang mereka pasang sendiri di wajah mereka.

Ini bukanlah kebencian Muhammad ﷺ terhadap ajaran Yahudi yang mereka anut, tetapi karena demikianlah harga khianat yang harus dibayar. Di tengah konstelasi politik kesukuan dengan tensi tinggi, ini adalah pesan genting dan teramat kuat yang disampaikan oleh Muhammad ﷺ kepada Yahudi di Khaibar dan orang-orang Badui. Ini adalah eksibisi kekuatan yang tangguh dan tidak main-main terhadap setiap jentik keteledoran dan pengabaian, dan diharapkan memberikan jalan yang lempang menuju akhir dari konflik yang ada di sekitaran jazirah Arab pada masa itu.

Ini bukanlah eksekusi atas landasan agama atau ras. Muhammad ﷺ justru tengah mengajarkan filosofi utama dalam kepercayaan, trust. Pada logika umum manusia, tidak ada yang menolak hukuman atas pengkhianatan seperti pula tak ada satu pun dari tujuh belas kelompok Yahudi lain di sekitaran Madinah yang keberatan akan eksekusi itu. Harga telah dipampang. Bayaran datang menjelang.

Setidaknya, stabilisasi Madinah tercapai sudah. Quraisy tunggang langgang dari parit. Bani Quraizah tercekat dalam kematian di lubang pengkhianatannya sendiri. Orang-orang munafik yang masih berada di tengah kota Madinah pun kini mengunci mulutnya rapat-rapat hingga tak lagi terdengar suara mereka. Wibawa Muhammad ﷺ dan kaum muslimin perlahan tegak menjulang, mendapat kehormatan besar dari kabilah-kabilah yang ada di jazirah Arab. Bukan karena sikap rasialisnya, bukan pula karena ego keagamaannya. Muhammad ﷺ telah tegak berdiri dalam menunaikan kebenaran, ketegasan bersikap melawan api pengkhianatan yang selalu berkobar di balik mulut manis kesetiaan.

Kita yang masih sering melanggar batas, janji, dan amanah, hanya akan mendapat kenihilan di akhir segala cita-cita. Yang tersisa dari khianat – seberapapun kecilnya ia – adalah kehampaan, juga kegetiran. Kita hanya dapat menekuri jalan ke jati diri masing-masing: sebesar apa khianat yang pernah kita taburkan dalam hidup – dan seberapa besar kiranya harga yang harus kita bayar setelahnya?

Kita masih dapat berupaya memotong setiap jalur yang terbuka ke arahnya, juga kea rah kemunafikan yang gerbangnya selalu menganga. Agar terhindar dari salah satu sifatnya yang hina: yang berdusta ketika berwicara, yang meneledorkan diri pada setiap jani yang telah terucap, yang berkhianat ketika diberikan kepercayaan.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

Gambar fitur diambil dari: https://tzkrh.com/perang-bani-quraizah-kisah-pengkhianatan-kaum-yahudi-di-bulan-zulkaedah/

2 tanggapan untuk “Harga Khianat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s