Yang Gagal Beribadah

Perjanjian Hudaibiyah sudah ditandatangani kedua belah pihak. Kesepakatan sudah diketuk. Tak ada jalan mundur, tak ada ruang untuk berkhianat. Muhammad ﷺ telah yakin bahwa keputusannya menerima poin-poin yang disodorkan pihak Quraisy adalah yang terbaik meski beberapa sahabat masih menunjukkan ketidakrelaannya.

Dalam pertemuan yang menegangkan itu, tiba-tiba Abu Jandal menyeruak ke tengah-tengah kerumunan. Lelaki itu adalah putera Suhail – ahli diplomasi yang diutus Quraisy untuk mendikte Muhammad ﷺ sepanjang konferensi. Tapi berbeda dengan ayahnya, Abu Jandal telah berpindah agama dan memeluk Islam. Ia sengaja dikurung ayahnya di rumah agar tidak ada kesempatan sedikit pun baginya untuk ikut serta bersama rombongan Muhammad ﷺ kembali ke Madinah. Dan meskipun Abu Jandal akhirnya lolos dari kerangkeng ayahnya, upayanya untuk berhijrah ke Madinah telah tertutup rapat karena kesepakatan yang telah dikunci. Wajahnya dipukul di depan kedua mata ayahnya sendiri, diseret keluar, dan dikembalikan masuk ke Mekkah.

Dalam kesepakatan Hudaibiyah tercatat bahwa mereka yang beragam Islam dan tinggal di Mekkah tak boleh berpindah ke Madinah. Jika mereka berhasil lolos ke Madinah, mereka harus dikembalikan ke Mekkah. Sebaliknya, mereka yang dari Madinah tertawan di Mekkah, tak ada hak baginya untuk kembali ke Madinah. Ia sepenuhnya berada dalam kuasa Mekkah.

Abu Jandal berteriak, “Apakah kalian rela aku dikembalikan ke orang-orang musyrik yang akan menyiksa saya karena agama ini?” Tetapi, Muhammad bergeming. Tak banyak yang dapat beliau lakukan saat itu. “Tabahkan hatimu, Abu Jandal,” pesannya. “Semoga Allah membuatmu dan orang-orang Islam yang ditindas bersamamu menjadi sebuah jalan keluar.”[1] Muhammad ﷺ tak mungkin mengkhianati perjanjian, tetapi doa-doa selalu meluncur ke langit, berharap bahwa Allah menjadikan pengorbanan Abu Jandal adalah bagian dari rahasia kemenangan yang sebenarnya.

Lepas dari perjanjian, Muhammad ﷺ menyadari ada keresahan dan kekecewaan yang mendalam dari orang-orang di sekitarnya yang ikut menempuh perjalanan jauh dari Madinah. Mereka gagal menunaikan ibadah yang telah diniatkan. Tujuh puluh unta yang dibawa mereka sebagai hadyu – hewan sembelihan – mulai dipotong untuk sejumlah 700 orang yang ikut dalam rombongan. Dari situlah pula muncul interpretasi hukum bahwa penyembelihan satu unta setara bagi sembelihan sepuluh orang.

Muhammad ﷺ bukannya tidak gelisah. Ia gamang. Wajah orang-orang yang bersamanya menggelayut pula di air mukanya. Siapa yang tak kecewa ketika musim beribadah yang dinanti-nantikan justru harus ditanggalkan hanya oleh kesepakatan dengan manusia yang tak beriman kepada Allah? Siapa yang tak lesu jiwanya ketika hasratnya mengabdikan diri kepada Allah justru terhalang oleh situasi yang dianggapnya sebagai ketidakberdayaan?

Keperihan di atas tanah Hudaibiyah kala itu seperti meretas kembali di atas tanah orang-orang mu’min di seantero bumi hari ini. Mereka yang telah bersiap menunaikan ibadah dan merayakan Ramadhan dengan penuh suka cita harus memendam kerinduannya dalam-dalam karena ketidakberdayaan mereka kepada makhluk superkecil yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Coronavirus itu telah membungkam tempat-tempat ibadah, menyurutkan keramaian, dan membangun penjara-penjara kecil di dalam rumah masing-masing manusia.

Kekecewaan tentu saja menyebar, mengular, membelukar. Ada kepedihan yang tak dapat dibantah. Tetapi, kepedihan apa yang lebih besar dan nyata dibandingkan kepedihan yang diterima Muhammad ﷺ dan para sahabatnya di Hudaibiyah? Kesedihan apa yang begitu menggelayut dan lebih besar bebannya ketimbang kesedihan Muhammad ﷺ dan para sahabatnya di Hudaibiyah?

Kekecewaan Muhammad ﷺ adalah kekcewaan yang nyata. Ia memiliki pilihan besar untuk menyerang ketika kekuatan militernya merangkak naik ke puncak, tetapi pilihan itu tidak diambilnya. Ia memiliki strategi kunci untuk masuk ke Mekkah secara damai dan dibentengi rasionalitas sosial budaya yang mendukungnya secara penuh. Ia memiliki kedekatan kepada Allah yang nyaris tak berhijab, tak berjarak. Kesedihannya dan kesedihan para sahabatnya – jika itu pun dianggap sebagai kesedihan dan amarah yang terpendam – murni karena kecintaan yang tertahan dan tak dapat diluapkan, jernih karena niat rayaan ibadah yang terhempas.

Kekecewaan kita barangkali masih berwajah ganda. Bukan ruku’ dan sujudnya yang kita rindukan, tetapi kehingarbingarannya. Bukan ketundukpasrahan Ramadhan yang kita kangeni, tetapi festivalisasinya, keriuhannya, keasyikan kumpul-kumpulnya, kemewahan makanannya, keceriaan program televisinya, keuntungan finansial yang didapuk darinya. Bukankah Allah ada di manapun saja berada? Menjadi yang ketiga ketika kita berdua, menjadi yang keempat ketika kita bertiga, menjadi yang kelima ketika berrempat, menjadi peneman setia kedua ketika kita sendirian.

Allah tak ke mana-mana. Ia selalu ada bersisian. Dan dengannya pula, tak ada ibadah yang gagal. Yang mungkin hilang dan lepas adalah manasik yang tertahan dan perangkat ritual yang terlucuti. Padahal, setitik air mata dalam permohonan ampun adalah ibadah – meski ia mengalir di dalam goa pengap tak bercahaya. Padahal, sedikit harap yang merangkak naik ke langit dalam doa adalah ibadah – meski ia tak bertutup kubah masjid dan beralas karpet merah. Padahal, setiap langkah menyiapkan makan di dapur, menyelesaikan pekerjaan kantor di komputer, menunaikan tugas di lembar-lembar perkuliahan dan sekolah, mengais rejeki demi memenuhi permintaan asupan tubuh, menemani anak-anak di ruang keluarga, obrolan hangat di depan televisi, adalah semua ibadah – meski mata kita tak pernah jelas melihat jejak-jejaknya menuju Allah ketika lafal bismillah diluncurkan dari lisan.

Muhammad ﷺ duduk terpekur selepas menyembilh hewan-hewan hadyu. Dalam keheningan itu di tengah-tengah sahabatnya, ia berdoa: Allahummarham al muhalliqiin. “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut.” Mencukur rambut dengan sepenuh cukurannya.

Sahabat terheran. Mencoba mengoreksi, barangkali ada yang keliru karena tidak semua orang saat itu mencukur habis rambut mereka. Wal muqasshiriin, ya Rasulallah? “Dan mereka yang memotong, memendekkan rambutnya, ya Rasulullah?”

Tetapi Rasulullah tetap berdoa yang sama. “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut.” Doa itu berulang dari lisan Muhammad ﷺ. Sahabat mengoreksi lagi. Barangkali juga ada kekhawatiran yang muncul dalam dada mereka – orang-orang yang hanya memotong rambutnya sebagian, tak penuh. Muhammad ﷺ pun mengafirmasi permintaan mereka sejenak, “Dan mereka yang memotong rambutnya.”

Tetapi, itu tidak cukup melegakan. Tidak cukup untuk menghela nafas kembali seperti sedia kala. Para sahabat masih penasaran, mengapa Muhammad ﷺ mendahulukan doa untuk mereka yang mencukur rambut penuh, dua kali, baru menyebut mereka yang memotong rambut.

“Karena mereka sudah tidak ragu-ragu,” jawab Muhammad ﷺ. Karena telah hilang rasa gundahnya akan keputusan Allah, takdir baik dan burukNya. Karena telah terbit kerelaan dan keridhaan dalam dada mereka, dan telah bersemi hikmah di dalam jiwa mereka dari keputusan yang semula mereka tak yakini kebaikannya.[2]

Kita masih tertambat pada Ramadhan berhari-hari ke depan dengan menyisakan rambut ketidakrelaan yang masih lebat. Banyak pilihan terhampar. Kita dapat saja membiarkannya lebat, menggerogoti kemurnian ibadah kita kepada Allah tanpa meninggalkan jejas apapun, dan menempatkan Ramadhan jauh lebih besar daripada Penciptanya sendiri. Kita dapat pula memangkasnya sedikit, menyisakan ketidakrelaan dengan terus menerus mempertanyakan mengapa pilihan ‘buruk’ untuk mengunci diri di rumah harus diambil, dan mengakhirinya dengan sisa Ramadhan yang harus dijumpai lagi setahun ke depan. Kita juga dapat mencukur ketidakrelaan itu sepenuhnya, mengubahnya sebagai kerelaan penuh dalam penghambaan meski menghadapi berbagai keterbatasan, dan memahami sedalam-dalamnya bahwa Allah tak pernah hilang di manapun kita berdiri – Ramadhan ataupun bukan Ramadhan.

Muhammad kembali ke Madinah. Tidak ada jalan lain bagi muslimin. Mereka harus kembali ke Madinah dengan harapan kembali lagi Mekkah tahun depan. Dan dari kerelaan yang penuh itulah, di tengah perjalanan, Jibril datang menyampaikan wahyu, “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah mengampuni segala kesalahanmu yang telah lampau dan yang akan datang, dan agar disempurnakan karuniaNya untukmu, serta membimbingmu ke jalan yang lurus.”[3]

Ibadah semestinya tak pernah gagal. Yang gagal beribadah adalah kita tak memenuhi ruang takdir dengan kerelaan dan tak memadatkan ruang penghambaan dengan keikhlasan.

Ahmad Fuady

Rotterdam, 1441

 

 

[1] Lihat tafsir Ibnu Katsir terhadap QS Al Fath 25-26, mengutip Sirah Ibnu Ishaq, diriwayatkan oleh Az Zuhri.

[2] HR Bukhari. حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ ارْحَمْ الْمُحَلِّقِينَ قَالُوا وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اللَّهُمَّ ارْحَمْ الْمُحَلِّقِينَ قَالُوا وَالْمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَالْمُقَصِّرِينَ وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي نَافِعٌ رَحِمَ اللَّهُ الْمُحَلِّقِينَ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ قَالَ وَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ وَقَالَ فِي الرَّابِعَةِ وَالْمُقَصِّرِينَ Hadits ini sering dipakai sebagai dalil mjstahabnya mencukur habis rambut ketika selesai menyelenggarakan umrah dan/atau haji.

[3] Lihat QS Al Fath 1-2.

 

Gambar fitur diambil dari: https://www.diadona.id/travel/momen-bersejarah-kabah-tutup-dan-kosong-tak-ada-aktivitas-thawaf-para-jamaah-200306u.html

2 tanggapan untuk “Yang Gagal Beribadah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s