Fakir Sejati

Suatu ketika, Abu Bakar as Shiddiq masuk ke dalam Baitul Midras – tempat orang-orang Yahudi mempelajari Taurat. Di sana sudah ada beberapa orang berkumpul mengerumuni seorang lelaki. Finhash, namanya. Lelaki yang dianggap pakar keagamaan di kelompok mereka dan sering dijadikan rujukan spiritual bagi orang Yahudi yang kehilangan kompas hidupnya.

Finhash – sebagian lagi mengatakannya Fanhash, dengan fathah di atas huruf fa – berhadap-hadapan dengan Abu Bakar. Dengan pongah ia berkata, “Hai Abu Bakar, sesungguhnya kami tidak membutuhkan Allah, tetapi Dia-lah yang membutuhkan kami.”[1] Abu Bakar geram bukan kepalang. Baru saja mereka semua mendengar wahyu turun kepada Muhammad ﷺ: man dzalladzi yuqridhullaaha qardhan hasana, fayudhaa’ifu lahu adh’aafan katsiraa.[2] Siapa yang memberi pinjaman kepada Allah dengan sebaik-baiknya pinjaman, ia akan mendapat pengembalian berlipat ganda yang begitu banyak. Adh’aafan katsiraa. Tak berbilang, tak terhingga.

Kabar turunnya ayat itu menyeruak ke lorong-lorong Madinah dan hinggap di telinga orang Yahudi yang lantas menertawakannya. Mereka berbisik-bisik mengejek. Tuhan-nya Muhammad ﷺ tengah mencari pinjaman, sindir mereka. “Seandainya Dia – Tuhanmu itu, Abu Bakar – tidak membutuhkan kami, tentu Dia tidak akan meminta pinjaman kepada kami, seperti yang dilatakan sahabatmu – Muhammad itu,” kata Finhash membakar telinga Abu Bakar.

Abu Bakar tak dapat menahan emosinya. Finshash dipukul dengan satu pukulan yang membuatnya tergeletak. Ada jejas pukulan Abu Bakar yang tersisa di wajahnya. Jika saja tak ada perjanjian damai antara mereka saat itu, Abu Bakar mungkin saja menebas lehernya karena mengganggapnya telah menghina ayat Allah dan Muhammad ﷺ. Tidak ada yang lebih membakar emosi sahabat serupa Abu Bakar selain penghinaan dan ejekan kepada Allah dan Muhammad ﷺ. Dirinya boleh diejek sampai mati, dihina sampai habis nafasnya, tetapi tidak ada ruang baginya untuk menampung emosi hinaan terhadap Rabb dan sahabat terbaiknya, Muhammad ﷺ.

Orang-orang Yahudi itu meledek Allah secara verbal – sesuatu yang mungkin muskil kita lakukan hari ini. Tetapi, ledekan kita kepada Allah berubah dalam bentuk lain.

Ledekan kita menjelma dalam bentuk ketidakyakinan kita sendiri kepada Allah bahwa Allah yang telah menyiapkan segala urusan kita, memelihara hidup dan perangkat hidup kita. Kita sering tak yakin pada masa depan, memenuhinya dengan segala kerisauan dan kecemasan. Makan apa besok hari, kerja apa pekan depan, dapat uang dari mana bulan depan, ke mana bersekolah tahun depan, dari mana membayar cicilan berbulan-bulan ke depan?

Ledekan kita menjelma dalam bentuk mispersepsi terhadap harta dan segala isi dunia yang kita genggam. Kita mengira bahwa harta kita adalah nominal yang kita simpan di bank, lembaran uang kita selipkan di dompet dan saku, investasi yang dititipkan di perusahaan dan pasar modal, kendaraan yang kita kemudikan di jalan-jalan besar, rumah yang kita bangun melebar dan menjulang, hasil dagang yang kita upayakan siang dan malam, atau aliran gaji yang kita terima setiap awal bulan. Kita ragu pada apa yang kita keluarkan di jalan Allah – dan menganggapnya akan hilang belaka tak berbekas. Padahal, itulah harta yang sesungguhnya.

Ledekan kita menjelma kesombongan kita untuk menghadapi pelik dunia ini sendirian. Di kepala kita berhimpun ribuan teori, resultan bacaan dari buku dalam dan luar negeri, deretan gelar dari sekolah dasar hingga universitas. Di tangan dan kaki kita tersusun keterampilan yang kita asah sejak kecil, skill yang makin hari kita anggap makin mahir. Di sekeliling kita berkumpul para pakar, para cendekia, para ilmuwan, para pesohor, para follower yang kita anggap cukup untuk menemani kita menghadapi segala permasalahan hidup personal, masyarakat, bahkan negara.

Ledekan kita menjelma ketidakmengertian kita pada definisi fakir. Kita sekadar menganggapnya sebagai garis batas – angka penghasilan yang tak memenuhi kecukupan satu koma sembilan dolar per hari per kepala.[3] Kita menyangkanya sebagai ketidakberdayaan pemenuhan kebutuhan pokok belaka. Kita mengiranya sebagai ketidaksanggupan finansial sehingga diidentifikasi lewat besaran pinjaman, hutang, dan tergerusnya kepemilikan properti.

Ledekan kita menjelma sepinya doa dan harapan kepada Allah. Mengira bahwa kita baik-baik saja tanpaNya.

Kita kerap lupa bahwa kita pernah disapa: yaa ayyuhannasu antumul fuqaraa-u ilallah.[4] Kita ini fakir sefakir-fakirnya, tak pernah kaya di hadapan Allah. Tidak pernah lolos dari jurang kemiskinan dalam standar dan kriteria susunan Allah. Tidak pernah berhasil keluar dari bencana katastrofik takdir yang tak pernah dapat pula kita duga-duga kapan datang dan perginya.

Pada bencana-bencana personal, keluarga, masyarakat, hingga bencana berskala epidemi dan pandemi, kita barangkali sering meninggalkan Allah di pojok-pojok ruang yang tak pernah kita jenguk. Kita merasa telah begitu pandai untuk menyelesaikan persoalan. Data dihimpun sekadar angka, grafik disusun sekadar garis dan batang. Kita buta bagaimana cara membacanya.

Padahal, perkara pertama yang diminta Allah kepada Muhammad ﷺ adalah iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.[5] Bacalah segala data, segala fenomena, segala fakta, segala persoalan, segala bencana yang menimpa dengan nama Tuhan yang Menciptakanmu. Bi ismi itu bukan lafal di lidah belaka. Bi ismi itu adalah hendaya, proses, dan upaya kita membawa serta Allah dalam setiap pembacaan dan analisis, dalam setiap strategi dan kebijakan, dalam setiap langkah kecil yang kita ayunkan untuk menyelesaikan persoalan hidup.

Padahal, perkara kedua dalam pembacaan yang dimintakan Allah kepada Muhammad ﷺ adalah iqra’ warabbukal akram.[6] Yang pada setiap kesuksesan, keberhasilan, kehebatan, dan lolosnya kita dari perkara rumit, tidak ada upaya kita yang lebih besar daripada tetes keilmuan Allah yang Maha Mulia, Maha Besar. Dia yang ‘allamal insaan maa lam ya’lam,[7] yang memberi kita petunjuk pengetahuan, solusi ketidakberdayaan, cahaya ilmu yang menerangkan dari apa yang kita buta dan tak pahami selama ini.

Tetapi, kita jarang pergi untuk kembali mengais lagi kearifan itu. Kita tak pernah benar-benar merasa fakir, merasa membutuhkan Allah dalam setiap kesusahan yang menimpa. Kita berdoa menengadahkan tangan ke langit, tetapi kaki kita sibuk pula melangsungkan pengabaian hak-hak Allah. Kita memohon kebaikan dan kesejahteraan yang melimpah dari Allah, tetapi menggerusnya sendiri dengan keburukan yang kita lakukan kepada sesama manusia.

Tidak ada jalan kembali yang lebih pantas daripada merenungi dan masuk ke dalam diri sendiri. Memulai lagi untuk membersihkan jiwa yang tak kita sadari telah dikotori oleh kesibukan dunia kita sendiri. Waman tazakkaa fainnamaa yatazakkaa linafsihi.[8] Allah tak butuh kita mendekat, tak perlu kita merapat. Allah tak butuh kita bersih-bersih, tak butuh kita merapikan diri. Justru kitalah yang membutuhkan itu semua. Butuh untuk merapikan, mensucikan, dan membersihkan diri kita lagi. Butuh untuk menyelami lagi makna fakir yang sejati.

Kita ini fakir sejati di hadapan Allah. Tak pernah kaya.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

[1] HR Ibnu Murdawaih dan Ibnu Hatim. Dikisahkan dalam Kitab ‘Asbabun Nuzul’ Imam As Suyuthy.

[2] QS Al Baqarah: 245

[3] Deinisi keluarga miskin berdasarkan kriteria Bank Dunia

[4] Lihat QS Fathir: 15

[5] QS Al Alaq: 5

[6] QS Al Alaq: 3

[7] QS Al Alaq: 5

[8] Lihat QS Fathir: 18

Gambar fitur diambil dari: https://www.islampos.com/33283-33283/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s