Status Quo Terbaik

Hari-hari kemenangan telah datang ketika sepuluh ribu muslimin masuk ke kota Mekkah dengan damai. Fathu Mekkah. Tidak ada pertumpahan darah, tidak ada lagi pula permusuhan. Abu Sufyan – yang dulu paling getol memusuhi Muhammad ﷺ – kini mendapati rumahnya sebagai tempat yang paling aman untuk berlindung. Suhail – yang dulu dengan gagah mendikte Muhammad ﷺ di Hudaibiyah – kini berkumpul bersama serombongan orang yang mendapatkan pemaafan dan kasih sayang yang sempurna dari Muhammad ﷺ.

Muhammad ﷺ membalikkan segala prasangka negatif yang disampirkan ke pundaknya selama ini oleh orang-orang Quraisy. Mereka semula mengira bahwa Muhammad ﷺ akan mengambil alih kekuasaan mereka dengan semangat ajaran baru yang dibawanya. Mereka khawatir Muhammad ﷺ akan membumihanguskan mereka dan keluarganya dalam setiap kesempatan yang ia miliki untuk melakukannya. Mereka berprasangka pula bahwa Muhammad ﷺ akan berlaku sebagaimana penguasa Romawi dan Persia mengganti rezim secara brutal, melucuti semua pangkat dan status musuhnya, menghinakan keturunan musuhnya, dan menerbitkan sejarah kelam yang tidak akan pernah dapat dihapus memori buruknya dari kepala musuh-musuhnya.

Ternyata, Muhammad ﷺ tidak menjelma manusia yang mereka bayangkan semula. Ustman bin Affan datang ke hadapan Muhammad ﷺ dengan membawa permintaan besar terhadap Abdullah bin Abi Shar – saudara sesusuannya. Abdullah saat itu masuk dalam daftar tawanan yang belum dimaafkan Muhammad ﷺ.  Alasannya sangat masuk akal. Abdullah sempat masuk Islam dan turut serta dalam penulisan wahyu. Tetapi, pada satu titik sejarah hidupnya, ia berbalik arah. Ia kembali bergabung dengan orang-orang musyrik Quraisy dan mengklaim bahwa dirinya telah memalsukan wahyu yang dulu sempat dituliskannya. Pemalsuan wahyu adalah kesalahan besar yang hampir muskil dimaafkan. Implikasinya terlalu besar, apalagi jika wahyu yang telah dipalsukan itu telah menyebar, menggelinding bagai bola salju ke sana ke mari, dan memberi ruang kesesatan yang semakin besar di tengah masyarakat.

Wahyu berubah menjadi hoax, berita bohong. Wahyu dusta itu digemari bukan karena kebenarannya, tetapi karena kesesuaiannya dnegan nafsu penolakan terhadap kebenaran yang membabi buta. Quraisy menyukainya sebagai bahan ejekan, sebagai sumbu mesiu untuk memborbardir kebenaran. Tidak ada cek dan ricek, tidak peduli benar atau keliru. Berita-berita yang tersebar sudah dianggap benar ketika sesuai dengan kehendak dirinya sendiri.

Kita mungkin tak punya andil seburuk Abdullah bin Sahr, tetapi secara tidak sadar menjadi pengikutnya yang setia. Sulit menerima kebenaran, dan mencari jalan untuk menolaknya dengan berbagai alasan. Ketika ada kabar yang sesuai dengan keinginan dan prasangka kita, kita menerimanya bulat-bulat, bahkan berupaya sekuat tenaga menyebarkannya ke santero jagad raya. Telepon kita penuh dengan pesan terusan, di-forward berulang-ulang. Tembok media sosial kita penuh dengan tulisan cetakan, di-copy paste dari sumber yang tak jelas validitasnya.

Utsman pun datang untuk memohonkan maaf Muhammad ﷺ atas saudara sesusuannya itu. Lama sekali Muhammad ﷺ terdiam. Hingga akhirnya ada kata “Ya” sebagai jawaban pamungkas. Muhammad ﷺ telah melihat kesungguhan yang baru terbit di wajah Abdullah, maka ia meletakkan pula pondasi kokoh dalam sebuah rekonsiliasi: maaf yang sesungguhnya. Sebagaimana Muhammad ﷺ memaafkan Shafwan bin Umayya – lelaki yang sempat berniat membunuhnya, ia juga menyampaikan maaf kepada Ikrima bin Abu Sufyan yang tengah lari ke Yaman. Keduanya dikejar oleh kerabatnya dalam pelarian mereak, diberi kabar tentang pemaafan yang diberikan Muhammad ﷺ, hingga akhirnya Shafwan dan Ikrima bersedia kembali pulang ke Mekkah (Baca kisahnya di “Intel Pensiun”). Bahkan, Hindun – perempuan yang direkam ketat dalam sejarah sebagai pemakan hati Hamzah – pun dimaafkan.

Sikap perdamaian seperti ini barangkali hampir muskil kita terapkan dalam hidup kita. Terlalu sempurna. Derajat pemaafan kita kedodoran, tertinggal jauh di belakang orang yang kita aku-aku sebagai teladan. Kita justru seringkali memendam dendam dan permusuhan karena pernah disakiti hatinya, menyimpan marah yang sulit dilupakan dari memori dan diletupkan setiap kali ada kesempatan untuk mengungkit-ungkitnya. Persoalan di rumah tangga pecah seringkali karena ketiadaan ruang untuk saling memaafkan. Problem di tempat kerja, persaingan dalam perkawanan, perseteruan dalam politik, persinggungan antar tetangga dan kelompok masyarakat, kerap kali sinambung dan seakan tanpa ujung karena kita kekurangan bahan pokok pemaafan.

Yang menggerusnya adalah ego diri dan kelompok yang ditempatkan jauh lebih tinggi daripada nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Di titik inilah, semestinya kita berguru kembali kepada Muhammad ﷺ yang dengan gemilang berhasil menyingkirkan ego diri dan kelompoknya demi perbaikan dan keselamatan yang lebih besar dansejati.

Setelah tuntas peribadatan yang dilakukan di sekitaran Ka’bah, Muhammad ﷺ berkehendak memasuki pintu Ka’bah. Dipanggilnya Utsman bin Thalhah, pemegang kunci Ka’bah. Berdiri lama mereka di depan pintu hingga terdengar dari lisan Muhammad ﷺ kalimat tahlil yang Panjang: laa ilaaha illalllahu wahdah, laa syariika lah, shadaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wahazamal ahzaaba wahdah. Di ujung kalimat tahlil itu, terselip pernyataan lain yang disimak kelak oleh sejarah: alaa kullu ma-tsuratin aw damin aw maalin yud’aa fahuwa tahta qadamayya haatayni.[1] Semua dendam, darah, atau harta yang didakwakan, dimintakan pembalasannya, berada di bawah kehendak dan keputusan Muhammad ﷺ. Siapa yang dimaafkan, siapa yang tidak dimaafkan adalah keputusannya sendiri. Kecuali dua jabatan yang tak dapat diganggu gugat: sidaanatal bayt wa siqaayatal hajj, jabatan pengurus ka’bah dan penyedia minum peziarah haji.

Semua orang Quraisy pada hari itu merasa berdebar-debar, khawatir bahwa Muhammad ﷺ akan mengubah konstelasi kekuasaan Ka’bah. Kehadirannya dicurigai akan menghabiskan orang-orang Quraisy yang selama ini diberi mandat untuk mengurus Ka’bah dan peziarahan haji, menggantinya dengan orang-orang yang dibawanya dari Madinah.

Kekhawatiran itu pula yang seringkali menggelayut di pikiran kita setiap kali ada pergantian kekuasaan. Angin berubah. Pemimpin yang baru datang akan membawa orang-orang baru, kebijakan baru, strategi baru – dan seringkali mematikan kehidupan, tradisi, dan strategi yang telah berlangsung lama. Direksi baru berganti. Manajer berpindah tangan, arus kebijakan berubah. Yang lama, apalagi lawan, harus disingkirkan – seberapaun baiknya visi dan strategi yang sudah dibangun selama ini. Kita membatasi kebaikan hanya pada telapak kaki kita, pada pijakan sepatu kita, pada pondasi pemikiran kita tanpa membuka ruang-ruang kebaikan yang mungkin akan bertahan jauh lebih lama jika dibiarkan pada status quo-nya.

Muhammad ﷺ benar-benar telah membuang jauh sikap chauvinism ketika Ali bin Abi Thalib menghadap kepadanya sambil membawa kunci pintu Ka’bah. “Ya Rasulallah, serahkan sajalah tugas ini kepada kami bersama jabatan siqayah, pengurus air minum bagi peziarah haji.” Kata Ali. Muhammad ﷺ tak menanggapi permintaan itu, namun justru mencari dia mana Utsman bin Thalhah berada. Ketika Utsman datang, Muhammad ﷺ berkata: haaka miftaahaka yaa utsman, al yaymu yawmu wafaa-in wa birrin. Kunci itu tetap digenggam oleh Utsman sebagai juru kunci Ka’bah. Tak berubah. Status quo. Sebagaimana tugas siqayatal hajj, penyyedia air minum peziarah haji, juga tetap berada dalam genggaman Abbas bin Abi Thalib. Tak berubah. Status quo. Tetap pada lingkar kuasa orang-orang Quraisy.

Status quo terbaik yang pernah tercatat dalam sejarah. Quraisy tak merasa ditinggalkan. Tradisi terjaga. Keberlangsungan dan keamanan peziarah umrah dan haji tak perlu diganggu dengan fanatisme suku. Dua tugas itu berlangsung hingga kini – diteruskan oleh keturunan kedua orang mulia yang telah masuk Islam tersebut.

Hari ini, kata Muhammad ﷺ, adalah hari penyampaian amanat dan kebajikan. Pesan itu tertanam jelas dan kuat. Dua komponen utamadalam tugas yang tak boleh disingkirkan oleh apapun. Amanat harus ditunaikan dengan tepat, kebajikan harus dijunjung dengan kemuliaan sikap. Dan bersama itu pula, pesan kuat lain turun dalam wahyu: innallaha ya-murukum an tu-addul amaanati ilaa ahlihaa.[2] Allah menyuruh penyempurnaan sikap dalam menunaikan amanah. Tidak setengah-setengah. Tidak separuh hati. Paripurna ditunaikan kepada siapa saja yang berhak menerimanya. Dalam tugas personal,keluarga, perusahaan, institusi,partai dan negara.

Waidzaa hakamtum baynannaasi an tahkumuu bil ‘adli. Ketika dihadapkan pada persoalan hukum antar manusia, maka tunaikanlah hukumnya, kebijakannya, dengan adil. Tidak berat sebelah. Tidak mencenderungkan diri pada kelompoknya sendiri. Tidak memberikan keuntungan pada firasat dan kehendak hatinYa sendiri. Bahkan, ketika harus dihadapkan pada orang-orang yang sempat berkhianat kepada kita, wa laa takhun man khaanaka. Jangan membalas orang yang pernah berkhianat dengan pengkhianatan yang dilakukan lisan, tangan, kaki, dan kuasa kita sendiri. Addil amaanata ilaa man i-tamanaka.[3] Tunaikan amanat dengan sempurna kepada siapapun yang telah memberimu kepercayaan. Jangan merusaknya. Karena sebaik-baik iman adalah yang memberikan amin – keamanan, ketenangan, sekuritas – terhadap segala kepercayaan Yang dititipkan kepadanya.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap QS An Nisa: 58, yang dinukil dari Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq.

[2] Lihat QS An Nisa: 58

[3] HR Imam Ahmad. أَدِّ الْأَمَانَةِ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ، وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ” Sampaikanlah amanat itu kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu berkhianat terhadap orang yang berkhianat kepadamu.

Gambar fitur diambil dari: https://www.britishhajtravel.com/4-beautiful-hajj-images-of-1953-decade/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s