Makan dengan Tangan Kanan, Hidup dengan Tangan Kiri

Suatu ketika, Umar bin Abu Salamah duduk melingkar bersama Muhammad ﷺ. Di hadapan mereka ada setumpuk makanan terhidang yang siap disantap. Membangkitkan selera, apalagi bagi anak kecil serupa Umar. Ia anak angkat Muhammad ﷺdari pernikahannya dengan Ummu Salamah. Selepas Abu Salamah meninggal akibat luka yang tak kunjung sembuh dari perang Uhud, Muhammad ﷺ meminang istri yang ditinggalkannya, Ummu Salamah. (Baca kisahnya di “Anak Tangga Sabar”) Kehadiran Ummu Salamah di rumah tangga Muhammad ﷺ membawa serta keempat anaknya yang kemudian menjadi anak angkat dan tanggungan baru bagi Muhammad ﷺ. Umar adalah salah satunya.

 

Melihat makanan yang istimewa, air liurnya menetes. Tak ingat banyak hal, kecuali santapan yang menggoda mata. Ia mengingatnya hingga dewasa: wa kaana yadiy tatiisyu fi shofhah. Tangannya bergerak bergantian. Kadang tangan kanannya menyeruak gunungan nasi, kadang tangan kirinya masuk mengambil lauk. Berkeliling ke sana ke mari. Lalu, Muhammad ﷺ menegur anak angkatnya yang masih kecil itu dengan lembut.

 

Ya ghulaam, sammiyallaha ta’aalaa. Hai anak kecil, kata Muhammad. Jangan lupa sebut nama Allah ketika memulai santapan. Wa kul biyamiinika. Makan dengan tangan kananmu, bukan tangan kirimu. Wa kul mimmaa yaliika. Makan pula apa yang ada pada jangkauanmu, bukan yang jauh dan lebih dekat dengan orang lain.

 

Tiga pesan Muhammad ﷺ itu tertambat jelas di benak Umar hingga ia tak pernah makan seumur hidupnya, kecuali menyempurnakannya dengan tiga kebiasaan itu. Tiga pesan itu juga menjadi pelajaran bagi anak-anak kita hari ini: membuka santap makan dengan nama Allah, menyantap makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan cukup yang dekat dari jangkauannya. Anak-anak kita hafal manner itu di meja makan. Tapi sejauh mana manner itu bersinambung di luar meja makan mereka?

 

Pesan Muhammad ini sering diterjemahkan secara spesifik sebagai urusan makan belaka. Kita membatasinya pada urusan suapan nasi dan lauk-pauk. Perkara fikih di atas meja makan. Bahwa wajib membaca asma Allah dengan ragam varian lafalnya – bismillah, bismillahirrahmanirrahim, atau dengan doa allahumma baarik lanaa– ketika membuka suapan pertama. Bahwa tak disukai – bahkan sebagian ulama menyebutnya haram – memakai tangan kiri saat makan. Namun, tak jarang kita justru kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan usil anak-anak: bagaimana syaithan bisa ikut makan bersama kita jika lupa membaca bismillah, mengapa harus makan dengan tangan kanan, mengapa kanan itu ‘tangan baik’ dan kiri itu ‘tangan buruk’, apakah menjadi kidal itu adalah takdir buruk?

 

Kita jarang menariknya lebih jauh ke skala yang lebih besar, konteks yang lebih luas, aplikasi yang melintas batas terjemah.

 

Membuka santap makan dengan asma Allah sesungguhnya menjadi penanda tegas dalam hidup kita dan anak-anak kita. Mereka yang tidak menyebut asma Allah saat memulai makan akan dibersamai syaithandalam suapan-suapannya, syaaarikuhu syaithaanu fi aklihi. Siapa dan bagaimana syaithannya? Apakah dia memungut makanmu, berebutan makan denganmu, menghabiskan jatah dan sisamu? Syaithan itu muncul dalam kekufuran, hilangnya rasa syukur, musnahnya kesadaran dan kewaspadaan kepada Allah.

 

Maka, menyebut asma Allah itu bukan sekadar ucapan tanpa makna di ujung lidah, rutinitas belaka yang hilang daya gedor ke dalam jiwa kita sendiri. Kita kerap tak menyadari apa yang kita ucap. Bismillah menguap belaka sebagai standard operating procedure di meja makan. Syaithan membersamai kita dengan tidak menerbitkan rasa syukur dalam hati kita bahwa setiap suapan yang masuk ke tubuh kita adalah rejeki yang dianugerahkan Allah. Kita, anak-anak kita, tak lagi punya ruang untuk berefleksi sehingga mengira segala apa yang kita konsumsi hari ini, kita pakai hari ini, kita makan dan minum hari ini, kita manfaatkan hari ini, sekadar hasil dari jerih payah dan keringat kita sendiri. Tidak lebih. Ketika ada yang habis dalam kemubaziran, kita tak merasa bersalah karena meyakini bahwa kita rela pada apa yang kita dapatkan dengan tangan sendiri dan menghamburkannya pula dari genggaman kita. Padahal, semua yang menghampiri kita adalah titipan, amanah.

 

Dengan nama Allah – bi ismi – berarti menautkan aktivitas kita dengan Allah. Proses makan adalah aktivitas fisikal, tetapi melafalkan nama Allah adalah aktivitas metafisikal. Keberkahannya bukan terletak pada ucap katanya, pelafalannya, tetapi pada kesadaran untuk mengingat bahwa tidak ada sajian makan, tidak ada transferan gaji, tidak ada penghasilan, tidak ada usaha pekerjaan, tidak ada pembelajaran, yang berjalan begitu saja tanpa campur tangan Allah di dalamnya.

 

Kita mendogma anak-anak kita dengan sabda Muhammad ﷺ: inna syaithaana yaf’alu hadza (ya-kulu biyadin syimaalin). Yang menggunakan tangan kirinya ketika makan hanya akan mengikuti kebiasaan syaithan. Maka, kita menegakkan aturan yang ketat bahwa tak boleh ada yang makan dengan tangan kiri, mengampanyekan makan dengan tangan kanan, tetapi lupa pada substansi kebaikan dan penolakan atas kebiasaan syaithan.

 

Makan dengan tangan kanan itu simbol proses, strategi, langkah yang kita pilih dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Itu menegaskan bahwa melafalkan bismillah, membawa serta Allah di setiap permulaan aktivitas kita, juga harus diikuti dengan langkah dan upaya yang tepat, benar, dan tidak melanggar ketentuan Allah. Tidak mengikuti syaithan itu memiliki makna yang lebih sakral: pastikan bahwa setiap langkah yang kita ayunkan, bisnis yang kita usahakan, penegakan cita-cita yang kita tujukan, keputusan yang kita ambil dan tentukan itu selalu sejalan dengan segala yang dicintai Allah, bukan sebaliknya – yang disukai dan dibisik-bisikkan syaithan.

 

Bukan sekali-dua kali, kita memulai sesuatu dengan bismillah, tetapi melakukan perkara-perkara selanjutnya dengan ketiadaan Allah di sisi kita. Kita luput syariat, kita abai pada hukum, kita menjauh dari kecintaan dan keridhaan Allah. Kita barangkali menggantungkan visi besar organisasi, institusi, partai, dan negara dengan kata-kata indah tentang kebaikan dan ketuhanan, tetapi mengabaikan nilai dan petunjuk ketuhanan itu sendiri ketika menyelenggarakan strategi pencapaiannya. Kita makan dengan tangan kanan, tetapi berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat, berpartai, dan bernegara dengan tangan kiri.

 

Dan, pada pesan yang terakhir, Muhammad seolah tengah menyadarkan kita – juga anak-anak kita – untuk berpuas diri dan tidak memenuhi dada kita dengan hasrat yang meloncat-loncat. Kul mimma yaliika itu bukan sekadar cara mengambil makanan di dalam nampan besar yang kita kerumuni bersama-sama. Kul mimma yaliika adalah prinsip sosial bermasyarakat. Jangan serakah hingga tanganmu mengambil porsi dan bagian yang sebenarnya lebih dekat ke orang lain. Jangan tamak sehingga hilang kebaikanmu untuk dapat berbagi dengan yang lain. Jangan sombong meski tanganmu panjang, kekuasaanmu besar, sumber dayamu melimpah, sehingga tidak memberikan ruang orang lain untuk menikmati bagian yang semestinya mereka dapatkan.

 

Kul mimma yaliika juga adalah perkara syukur. Sudah ada bagian, porsi takdir kita yang semestinya kita syukuri tanpa harus mencemaskan yang lain – yang jauh dari jangkauan kita. Kul mimma yaliika itu memberi jalan kepuasan. Ambil yang mudah, nikmati yang disediakan, syukuri yang dianugerahkan, dan tak perlu risau pada apa yang dimiliki orang lain pada bagian nampan rejeki dunia mereka.

 

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

 

Gambar fitur diambil dari: https://www.syahida.com/2016/03/31/4570/24-adab-makan-dan-minum-sesuai-sunnah-rasul-agar-berkah-sehat-dan-tidak-makan-minum-bersama-setan/#axzz6MCMKRlvO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s