Allah Tersenyum

Pipi para sahabat hari itu basah penuh linangan air mata. Sedih membuncah, kekhawatiran mendekap. Baru kali itu mereka merasa hidup penuh beban yang mereka yakini tak akan mampu mereka tanggung sampai kapan pun. Ada ruang yang tak mampu mereka kendalikan di dalam diri mereka sendiri – yang jika itu harus dipertanggungjawabkan, maka binasalah mereka semua.

Perkaranya sederhana. Satu ayat turun: wa-in tubduu maa fii anfusikum aw tukhfuuhu yuhaasibkum bihillaah.[1] Apa yang kalian nampakkan dalam laku perbuatan kalian, atau bahkan kalian sembunyikan di pelosok lubuk hati kalian, semuanya aka diperhitungkan, dikalkukasi, dipertanyakan, dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah. Lalu, para sahabat mendatangi Muhammad ﷺ, bersimpuh lutut di hadapannya. Kuliifnaa minal a’maali maa nuthiiq. Kami ini sudah dibebani amal-amal yang telah memberatkan kami, kata mereka.

Mereka rela jika mereka harus dihukum, dipersalahkan, atas apa yang tangan dan kaki mereka perbuat, atas ucapan yang terlontar dari lisan mereka. Tapi, jika apa yang tersembunyi di dalam hati juga harus mereka pertanggungjawabkan, betapa nelangsanya diri mereka. Quluubanaa falaysat biaydiinaa.[2] Hati kami di luar kendali kami, kata mereka.

Kita kadang sebal, kesal, marah, benci, atau bahkan berkehendak melakukan hal yang Allah tidak sukai. Semuanya menyeruak begitu saja di dalam hati kita. Tak dapat kita kendalikan. Seketika melihat orang melakukan sesuatu yang aneh menurut pandangan kita, ingin rasanya mengomentarinya dengan segala hal yang buruk rupa. Sekali tersenggol di dalam kereta yang penuh sesak, hati mendesak-desak untuk segera marah. Diserobot kendaraan di tengah kemacetan, dada terasa mendidih ingin menyumpah serapah. Gagal mendapatkan yang diinginkan, badan mendadak merasa letih untuk menghamba Allah dan merasa tak lagi berguna melalukan shalat dan ibadah kepadaNya.

Begitu banyak yang berkelindan di dalam hati, berkecamuk di dalam kepala. Tetapi, kesabaran kita membuat segala hal yang mendidih di dalam hati itu tidak berubah bentuk menjadi perilaku. Muhammad ﷺ lantas meminta para sahabat menetapkan diri dalam kesabarannya masing-masing, merawat istiqamah dalam jiwa mereka dengan qaaluu sami’naa wa atha’naa.[3] Karena kesabaran semacam itu, dan upaya keras menyesuaikan diri kepada perintah Allah meski dengan beragam keterbatasan itu, yang akan membuahkan ampunan. Karena pengabaian atas perintah semacam itu, dan penolakan mentah-mentah atas instruksi sambil terus melanggengkan keburukan, yang akan mengundang hukuman. Fayaghfiru liman yasyaa-u wayu’adzdzibu man yasyaa-u. Hak prerogatif ada pada sisi Allah.

Beruntunglah kita karena para sahabat Muhammad ﷺ kala itu bersedih hati. Dalam kegalauan yang luar biasa itu, mereka tetap berupaya keras tak menolak firman Allah, tidak membantah perintahNya, tidak pupus harapan dari rahmatNya, tidak kesal dan berbalik badan menentangNya. Muhammad ﷺ dituntun untuk memberikan jalan keluar terhadap duka tersebut. Bacalah doa, mintalah ampunan: ghufraanaka rabbanaa wailaykal mashiir.

Dengan begitulah, Allah tersenyum, melimpahkan rahmat yang begitu besar hingga sinambung pada hari ini, tercatat pada ayatnya yang lain: laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa.[4] Allah tidak membebani hambanya dengan sesuatu yang berada di luar area kekuasaan dan kemampuan dirinya.

Lahaa mak tasabat wa’alayhaa mak tasabat. Allah memformulasi dalam pernyataan yang berbeda. Yang dihitung, dikalkulasi, ditimbang dalam mizan dan pengadilan akhirat nanti tidak lagi mencakup apa yang di dalam hati yang kita tak mampu mengendalikannya, tetapi dibatasi pada apa yang telah diupayakan jelas lewat tangan, mulut, mata, dan kaki. Allah memaafkan segala segala apa yang baru berujud dalam bisikan hati dan belum menjelma perbuatan dan perilaku. Innallaha tajaawaza liy ‚an ummatiy maa haddatsat bihii anfusahaa maa lam takallam aw ta’mal,[5] kata Muhammad ﷺ.

Bahkan, rahmat Allah itu melebar, meluas seolah tak bertepi. Allah tidak main hitung-hitungan dengan hambaNya secara saklek. Bahkan, Allah lebih baik daripada orangtua yang tengah mendidik anak-anaknya dengan segala perangkat pemanisnya. Orangtua sering meminta anaknya melakukan sesuatu dengan iming-iming imbalan yang banyak – meski seringkali pula disertai dengan aturan dan hukuman yang berderet-deret. Jika anaknya berbuat baik, diberikan hadiah. Jika anaknya berhasil mencapai target yang ditentukan, diberikan imbalan. Tetapi, ketika anaknya berbuat salah, apalagi secara tidak sengaja, orangtua dengan berbesar hati memaafkannya karena rasa cinta yang begitu besar pada anak-anak mereka.

Allah? Allah jauh lebih besar rahmat dan kasih sayangNya kepada kita. Allah melampaui segala sangkaan kita terhadapNya, melebihi batas yang kita mampu reka meski kita berupaya menggambarkan kebaikanNya dengan contoh dan teladan manusia. Allah, bahkan, menyatakan kepada para malaikat: jika hambaKu baru berniat dalam hatinya untuk melakukan keburukan dan belum sampai melakukannya, falaa taktubuuhaa ‘alayhi.[6] Jangan dicatat dulu keburukannya. Pena-pena malaikat tertahan, berhenti. Sampai seseorang itu benar-benar melakukan keburukan yang diniatkannya, faktubuuhaa sayyiatin, barulah catat.

Allah Mahasayang kepada kita. Allah bukan tipe penghukum yang saklek, yang setiap kali kesalahan – bahkan pada hal-hal yang detail, kecil, furu’iyah – langsung menajamkan palu hukumnya ke bawah untuk memberikan balasan keburukan. Allah membuka ruang yang lebar bagi setiap pintu dan gerbang kembali kepadaNya. Gerbang taubatNya tak pernah tertutup. Jalur mudik kepadaNya tidak pernah diblokir. Karena pada setiap niat buruk, niat jahat, yang terbersit di dalam hati, selalu ada kesempatan untuk menolaknya dan berjuang untuk keluar dari jerat bisikan jahatnya. Maka, balasan dari upaya bersabar itu dicatat oleh Allah sebagai kebaikan yang menghapus keburukan yang sempat tercetus. Balasan dari istiqamah itu adalah senyuman Allah yang dengan gembira melihat hambaNya tak jadi melakukan sesuatu yang tidak dicintaiNya, dan berbalik kepadaNya.

Suatu ketika, beberapa sahabat datang ke hadapan Muhammad ﷺ dan mengadukan persoalan mereka kepadanya. Innaa najidu fiy anfusinaa maa yata’aazhamu ahaduna an yatakallama bihi. Dada mereka sesak, terasa berat. Sampai-sampai mereka tak mampu mengucapkan apa yang membebat dada mereka selama itu. Ada rasa waswas, ada kegelisahan, ada ketakutan jika apa yang tersembunyi di dalam hati mereka akan ditanggung sebagai dosa yang tidak terampunkan.

“Itu terasa benar di dadamu?“ tanya Muhammad ﷺ. Mereka mengangguk, mengiyakan. Dzaaka shariihul iimaan,[7]kata Muhammad ﷺ. Perasaan waswas, khawatir, tak tenang ketika terbersit niat melakukan keburukan adalah tanda, jejas yang jelas dari keimanan. Berbahagialah kita yang masih diliputi rasa waswas ketika muncul kehendak melakukan keburukan, masih galau ketika ingin berbuat curang, masih khawatir dan deg-degan ketika melakukan hal yang tidak perkenankan Allah. Itulah tanda iman memberikan sinyal agar kita segera beralih dari yang menggusarkan kepada yang menenangkan.

Bahkan, ketika kita telah melakukan keburukan-keburukan itu, Allah masih membuka pintunya lebar-lebar untuk kembali. Ketika kita mendekat kepada Allah, kita seolah tengah berbincang dengan Allah. Muhammad ﷺ menggambarkannya dalam narasi yang indah. Kita akan berhadap-hadapan dengan Allah hingga Allah bertanya kepada kita: hal ta’rifu kadzaa?[8] Tahukah kamu dosa ini, dosa itu – yang kamu pernah lakukan? Ketika kita mengakuinya, lalu Allah beranjak kepada pertanyaan yang sama berulang-ulang, hingga kita merasa teramat sedih dan nista dengan dosa tersebut. Sampai akhirnya Allah akan menyatakan: fainniy qad satartuhaa ‘alayka fid dunyaa wa anaa aghfiruhaa lakal yawm. Tertutup sudah dosa-dosa di dunia itu, dan terampuni kesalahan-kesalahan yang telah diakui.

Dengan begitu pula, Allah meminta malaikat untuk segera memberi balasan bagi orang yang berniat melakukan kebaikan. Faktubuuhaa hasanah. Tercatat baginya kebaikan meski baru ada desir niat di dalam hati. Fa-in ‘amilahaa faktubuuhaa ‘asyran. Kalau orang itu benar-benar melakukannya, mengaplikasikan apa yang diniatkannya, akan ada tambahan sepuluh kebaikan di dalam catatannya.

Betapa baiknya Allah. Dia tersenyum – pada kebaikan-kebaikan yang terus diupayakan manusia kecil semacam kita yang kerap salah dan keliru melangkah.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

[1] Lihat QS Al Baqarah: 284

[2] HR Imam Ahmad.

[3] Lihat QS Al Baqarah: 285

[4] Lihat QS Al Baqarah: 286

[5] HR Jama’ah إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَكَلَّمْ أَوْ تَعْمَلْSesungguhnya Allah telah memaafkan aku buat umatku semua hal yang dibisikkan oleh hati mereka selagi hal itu tidak dikatakan atau dikerjakan.”

[6] HR Muslim قَالَ اللَّهُ: إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا سَيِّئَةً، وَإِذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا عَشْرًAllah berfirman, “Apabila hamba-Ku berniat untuk melakukan suatu perbuatan yang buruk, maka janganlah kalian (para malaikat) mencatatkan hal itu terhadapnya; dan jika dia mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu sebagai satu keburukan. Apabila dia berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu sebagai satu kebaikan; dan jika dia mengerjakannya, maka catatkanlah hal itu pahala sepuluh kebaikan” Substansi hadits ini diriwayatkan dalam beragam teks melalui jalur periwayatannya masing-masing.

[7] HR Muslim جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ فقالوا: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، قَالَ «وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ «ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ “Sejumlah orang dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah Saw. datang, lalu mereka bertanya kepadanya, untuk itu mereka berkata, “Sesungguhnya kami merasakan di dalam hati kami sesuatu yang sangat berat dikatakan oleh seseorang dari kami.” Nabi Saw. bersabda, “Apakah kalian benar-benar telah merasakannya?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi Saw. bersabda, “Itulah tandanya iman yang jelas.”

[8] HR Muttafaq alaihi. يَدْنُو الْمُؤْمِنُ مِنْ رَبِّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، حَتَّى يَضَعَ عَلَيْهِ كَنَفَه، فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُ كَذَا؟ فَيَقُولُ: رَبِّ أعْرف -مَرَّتَيْنِ -حَتَّى إِذَا بَلَغَ بِهِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَبْلُغَ قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَOrang mukmin mendekat kepada Tuhannya, lalu Allah Swt. meletakkan hijab-Nya pada dia, kemudian membuatnya mengakui semua dosa-dosanya. Untuk itu Allah Swt. berfirman kepadanya, “Tahukah kamu dosa anu?” Ia menjawab, “Wahai Tuhanku, aku mengakuinya” (sebanyak dua kali), hingga sampailah pertanyaan Allah kepadanya ke tahap apa yang dikehendaki-Nya. Setelah itu Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Aku sekarang telah menutupi (mengampuni)nya darimu ketika di dunia, dan sesungguhnya pada hari ini pun Aku mengampuninya bagimu.”

 

Gambar fitur diambil dari: https://catatan-maul.blogspot.com/2014/01/allah-maha-baik.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s