Koneksi Tanpa Putus

Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera ia temukan jawabannya. Ia duduk berdampingan dengan Muhammad ﷺ, mengobrol selayaknya suami istri yang bercengkerama di ruang keluarga – bersama beberapa sahabat yang mendengar percakapan mereka hingga hadits ini dapat diteruskan ke banyak orang.

Dua anaknya telah meninggal di masa jahiliyah, sebelum zaman terasa terang oleh cahaya Islam. “Bagaimana nasib keduanya kelak?”[1] tanya Khadijah hati-hati. Muhammad ﷺ  menatapnya pula dengan hati-hati, menerka air wajah istrinya yang tampak gusar. Humaa fin naar, kata Muhammad ﷺ. Keduanya ada di neraka.

Wajah Khadijah semakin gusar. Ada rona ketidaksukaan yang tak mampu ia tahan. Muhammad ﷺ – dengan cinta kasihnya kepada istrinya – menangkap kegusaran itu lekat-lekat sehingga ia segera memberi penjelasan yang dapat meyakinkan Khadijah dan menghapus duka yang masih tersemat di dadanya. Law ra-ayti makaanhumaa la-abghadhtihimaa. Kalau saja kamu melihat kedudukan keduanya, engkau juga pasti akan marah kepada keduanya.

Khadijah mereda, menata kembali wajahnya. Kemudian Khadijah bertanya kembali. “Bagaimana dengan anak-anakku darimu?” Anak-anak yang dilahirkan dari benih Muhammad ﷺ yang menempel di rahimnya.

Khadijah menampilkan sifat keibuan yang sejati. Ada kekhawatiran seorang ibu yang tak bisa ia pendam sendirian. Kekhawatiran atas keselamatan anak-anaknya di dunia dan akhirat. Kekhawatiran yang semestinya juga menyelimuti kita yang telah beranak-cucu, berketurunan. Bukan sekadar khawatir mereka akan masuk sekolah mana ketika usianya menghantarkannya ke bangku sekolah. Bukan sekadar khawatir mereka akan lulus dan masuk kampus mana ketika harus bersiap menyongsong cita-cita. Bukan sekadar khawatir mereka akan mendapatkan pekerjaan atau tidak, bekerja apa, berpenghasilan berapa, memiliki simpanan berapa banyak, menjadi seterkenal apa, menjadi sesukses apa.

Kekhawatiran ibu semestinya kekhawatiran serupa Khadijah. Ia bertanya masa depan yang jauh melampaui batas usia. Nasib anak-anaknya ketika mereka harus mempertanggung jawabkan segala amalnya di hadapan Allah.

Fil Jannah, kata Muhammad ﷺ. Mereka – anak-anak Muhammad ﷺ yang tumbuh dalam cinta mereka kepada Allah – akan berada kelak di surga.

Bukan hanya anak-anak dan keturunan Muhammad ﷺ. Bukan pula terbatas pada anak-anak para sahabat. Tetapi, juga pada anak-anak kita jika kita mampu menumbuhkembangkan mereka dalam keimanan yang berlapis-lapis, pada ketakwaan yang berbukit-bukit.

Kita khawatir anak-anak kita tak mendapat koneksi yang baik di dunia, maka kita perkenalkan mereka dengan buku, dengan ilmu, dengan orang-orang hebat yang mereka jumpai di seminar, talkshow, workshop. Kita barangkali lupa bahwa mereka juga membutuhkan koneksi yang langgeng hingga akhirat. Koneksi yang alhaqnaa bihim dzurriyyatahum wamaa alatnaahum min ‘amalihim min syay-in.[2] Perhubungan dengan anak cucu, keturunan, dan saling mengucurkan kebaikan yang tak berujung tanpa sedikit pun mengurangi perbendahraan kebaikan yang mereka bawa masing-masing.

Itulah jaringan koneksi yang kuat ketika kullum ri-in bimaa kasaba rahiin,[3] setiap orang harus menanggung apa yang dikerjakannya dengan tangan, lisan, dan semua anggota badannya sendiri. Koneksi itu terhubung sejak anak-anak kita kecil. Kita tumbuh kembangkan mereka dalam keimanan sehingga mereka mampu membaca ayat-ayat Allah dengan baik – yang qauliyah maupun kauniyah. Kita ajak mereka merapal doa sehingga setiap kali doa-doa itu melesat ke langit dari lisan anak-anak shalih, berhambur pula kebaikan ke dalam rekening kebaikan kita dan tergeruslah segala dosa karena ampunan yang dijanjikan. Kita genggam tangan mereka untuk bersama berjalan di atas jalan kebenaran dan kebaikan sehingga setiap langkah mereka yang diikuti kelak oleh anak-anaknya, cucu-cucunya, orang-orang sekitarnya yang ia mampu pengaruhi, akan menjadi amal yang terus mengalir tanpa terputus, tanpa ada mati listrik, tanpa ada gangguan jaringan, tanpa harus terkendala habis pulsa dan data.

Kita berharap mereka masuk ke dalam golongan ashhabul yamin – anak-anak kanan. Yang ketika nanti tengah berkumpul di dalam surga, mereka berbincang-bincang serius dan mempertanyakan mengapa orang-orang lain dapat terjerembab ke dalam siksa neraka. Maa salakakum fii saqar?[4] Mereka bertanya heran – apa yang membuat orang tertahan di dalam api yang menggila?

Qaaluu lam naku minal mushalliin.[5] Mereka mengaku tak berada dalam rombongan orang-orang yang shalat.

Tak ada satu pelajaran pun yang lebih baik dan lebih penting daripada pelajaran shalat bagi anak-anak kita. Mereka boleh belajar matematika, ikut les piano, mendaftar segala kursus yang mengasah keterampilan kognitif dan motorik mereka. Tetapi, ruang utama keluarga tetap harus diisi dengan sajadah – tempat bersujud dan menghamba diri kepada Allah. Siapa yang mampu memulainya, menegakkannya, kecuali kita orang tuanya sendiri? Koneksi itu dimulai dari pancaran sinyal yang kuat dari orang-orang terdekat. Dari orangtua kepada anaknya.

Walam naku nuth’imul miskiin.[6] Mereka hilang daya empatinya kepada yang papa dan kesusahan. Tidak terbit dalam hatinya rasa iba kepada orang miskin dan membantunya keluar dari keterjeratan kemiskinannya.

Anak-anak kita perlu latihan emosi dan empati. Bukan hanya daya kognitifnya yang harus cemerlang, tetapi juga keterpikatannya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka harus tumbuh dalam keprihatinan. Menjadi orang kaya yang solider dan tidak membiarkan jurang kemiskinan semakin lebar. Menjadi orang cerdas yang tetap memastikan segalanya berjalan ekual, sejajar, fair. Menjadi siapa saja yang tidak egois pada kepentingan dirinya sendiri, serakah, dan tak berbagi kepada sesama.

Wakunnaa nakhuudhu ma’al khaa-idhiin.[7] Mereka terbiasa membincangkan hal-hal yang batil, tak benar, sesat, penuh olok-olakan, dan melenakan mereka dengan hanya berpangku diri pada urusan dunia. Mereka tidak melangsungkan itu sendirian, tetapi menumbuhkan bibitnya karena duduk bersama orang-orang yang suka mengobrolkannya.

Anak-anak kita perlu diarahkan dengan siapa mereka harus lebih banyak duduk dan berbincang, bersama siapa mereka harus lebih sering bergaul dan bersosialisasi, dengan tontonan dan bacaan apa mereka harus berinteraksi dan habis waktunya.

Wakunnaa nukadzdzibu biyaumid diin.[8] Mereka medustakan, tak memercayai, adanya hari pembalasan. Barangkali mereka hafal rukun Islam dan rukun iman di luar kepada. Mereka tahu ada surga dan neraka, ada hidup dan kematian, ada malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Pendustaan mereka bukan pada ketidaktahuan dan kebodohan mereka terhadap semua itu. Pendustaan mereka berujud pada perilaku yang abai bahwa Allah memiliki CCTV Mahasuper – yang mencatat setiap detail pergerakan indera dan kelakuan anggota tubuh mereka. Pendustaan mereka berujud pada ketelodoroan diri melakukan hal-hal yang dilarang Allah, meninggalkan segala yang diperintahkan, dan membuat kerusakan-kerusakan sosial di masyarakat.

Anak-anak kita perlu diajarkan nilai-nilai kebaikan yang selalu dipulas dengan nilai-nilai ketuhanan. Agar kebaikan yang mereka lakukan tidak terasa melompong. Agar keburukan yang mereka tinggalkan mengangkat mereka ke derajat yang mulia.

Semua itu harus disambungkan di dalam keluarga, harus dikoneksikan dengan saluran ketuhanan yang kuat. Sehingga ketika mereka – anak-anak kita, cucu-cucu kita, pasangan kita – saling bertanya satu sama lain, mereka mampu menjawab dengan tegas: innaa kunnaa fii ahlinaa musyfiqiin.[9] Dulu, ketika kami berada dalam riungan keluarga kami, bercanda tawa di ruang keluarga kami, menyantap makanan di meja makan keluarga kami, berkendara di atas kendaraan keluarga kami, bermain-main di luar bersama keluarga kami, kami merasa takut jika sekali-kali azab datang kepada kami, fitnah muncul di hadapan kami, dan kami tak mampu menanggungnya sedikitpun.

Inna kunnaa min qablu nad’uuhu[10]. Dulu, ketika kami masih sanggup saling memberi nasihat dalam keluarga kami, sanggup memberikan nafkah dan penghidupan untuk keluarga kami, sanggup memenuhi kebutuhan anak-anak kami, kami mengajak mereka untuk terus menyembah Allah.

Itulah koneksi yang tak pernah terputus. Karena setiap kebaikan yang menetas dari sendi-sendi mereka menjadi aliran derasa yang saling menolong dalam kebaikan tanpa batas.

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

[1] HR Ahmad. سألتْ خَدِيجَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنْ وَلَدَيْنِ مَاتَا لَهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هُمَا فِي النَّارِ”. فَلَمَّا رَأَى الْكَرَاهَةَ فِي وَجْهِهَا قَالَ: “لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَأَبْغَضْتِهِمَا”. قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَوَلَدِي مِنْكَ. قَالَ: ” فِي الْجَنَّةِ”. قَالَ: ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي النَّارِ”. ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ}

[2] Lihat QS Ath Thuur: 21

[3] Lihat QS Ath Thuur: 21, Al Muddatsir: 38

[4] Lihat QS Al Muddatsir: 42

[5] Lihat QS Al Muddatsir: 43

[6] Lihat QS Al Muddatsir: 44

[7] Lihat QS Al Muddatsir: 45

[8] Lihat QS Al Muddatsir: 46

[9] Lihat QS Ath Thuur: 26

[10] Lihat QS Ath Thuur: 28

 

Gambar fitur diambil dari: https://www.suara.com/tekno/2016/10/28/194700/5-cara-mempercepat-koneksi-internet-untuk-android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s