Obat COVID-19, Overclaim, dan Politik Kabar Baik

Dosa para politikus adalah memproduksi kebijakan yang serampangan. Dosa para saintis adalah mengklaim hasil penelitiannya – bahkan persona dirinya – secara berlebihan.

Baru selang dua pekan dari kehebohan dua artikel terkenal yang ditarik dari jurnal terkemuka, The Lancet dan The New England Journal of Medicine, kita disuguhkan kehebohan lainnya. Indonesia menemukan obat COVID-19. Begitu setidaknya yang kita dapat tangkap dari berbagai berita media massa di akhir pekan lalu. Gugus Tugas COVID-19 memberikan keterangan pers yangmenelurkan harapan dan kegembiraan di satu sisi, tetapi juga menerbitkan kemirisan di sisi lain.

 

Overclaim

 

Apa yang diberitakan melalui konferensi pers tersebut memang terbatas. Tidak ada informasi mengenai metodologi penelitian yang gamblang, penjabaran hasil yang detail, dan diskusi interpretasi yang mencerahkan. Bahkan, untuk sebuah abstrak, paparan tersebut masih belum lengkap. Yang kita dapatkan dari keterangan itu hanya bagian superfisialnya, misalnya keterangan bahwa “Hal ini kita ikuti secara bertahap mulai 24 jam, 48 jam dan 78 jam maka virus tersebut dari yang jumlahnya ratusan ribu maka di sini jadi undetected.”

 

Pada keterangan pers tersebut, tidak jelas apa yang dimaksud dengan ‘undetected’ karena penyampai informasi tidak memberikan detail metodologinya. Orang awam, termasuk awak pers, mungkin berkesimpulan sederhana: obat berhasil. Mujarab. Tetapi, para saintis lain laik mempertanyakan dan menduga-duga dari kalimat tersebut bahwa penelitian masih dilakukan pada lingkungan sel di dalam laboratorium.

 

Keterangan “Kita mengecek efektivitas. Sampai seberapa lama efektivitas obat tersebut kemudian kita juga mengecek beberapa faktor inflamasi dan antiinflamasi” ini juga sumir bagi masyarakat awam yang tak memahami dengan baik apa yang dimaksud efektivitas toksisitas, serta faktor inflamasi dan antiinflamasi pada konteks ini. Imbasnya adalah masyarakat diajak melompat jauh menuju kesimpulan yang berpotensi salah arah.

 

Ketidakjelasan keterangan ini – dan imbas simpulan yang berlebihan – dapat saja ditutup dengan apologi bahwa yang dilakukan oleh para saintis di belakang temuan ini adalah keterangan pers untuk awam. Dengan begitu, bahasa yang digunakan harus sesederhana mungkin, tidak kompleks, dan tidak terlalu teknis. Tetapi, di situlah permasalahannya. Formulasi penyampaian teks yang sesederhana mungkin bagi masyarakat awam adalah kompleksitas itu sendiri. Tidak mudah. Berpotensi bias interpretasi.

 

Dan karenanya, klaim bahwa kombinasi obat ini bermanfaat menjadi klaim yang berlebihan.

 

Apakah ini sebuah ketidaksengajaan? Kita tidak tahu pasti. Dugaan kesengajaan pun sangat wajar karena penyampai informasi di podium telah menunjukkan dus obat kombinasi COVID-19 yang sudah dipersiapkan. Ada kepercayaan diri yang tampak di podium itu. Ada klaim yang semestinya siap untuk dipertanggungjawabkan.

 

Padahal, penelitian yang dilakukan masih jauh dari simpulan bahwa obat yang dikemukakannya itu benar-benar berkhasiat dan berdampak positif bagi pasien COVID-19. Obat-obatan itu – meski diklaim sudah melewati uji dan aman (catat!) sebagai obat tunggal dan penggunaan kasus tertentu – belum terbukti demikian pada penggunaannya dalam kombinasi dan hasil penggunaannya pada pasien COVID-19. Tahap uji seluler harus dikembangkan lagi melalui tahap uji berikutnya hingga dilakukan ujicoba klinis sungguhan pada pasien dengan metodologi yang tepat.

 

Hype sains

 

Situasi ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih serius: mengapa saintis dapat mengklaim penelitiannya secara berlebihan?

 

Klaim berlebihan semacam ini tidak terjadi kali ini saja meski pada mulanya tidak ditujukan sebagai klaim. Tetapi, informasi yang dibuat tersamar membuka ruang interpretasi yang berbeda karena bias penyampai informasi.

 

Avi Loeb, pakar astronomi dari Harvard, juga pernah nyaris melakukan hal yang serupa ketika mengemukakan obyek interstellar-nya yang disebut ‘Oumuamua.[i] Ia menemukan obyek luar angkasa yang melintasi orbit bumi, tetapi diyakininya bukan sebagai komet aktif sehingga ia menyebutnya sebagai obyek interstellar yang tengah berjalan-jalan. Temuannya ini menarik sorotan media yang kemudian menjalin ceritanya masing-masing dan mengaitkannya dengan ‘apakah alien datang menyapa kita dari dunianya yang nun jauh di sana?’[ii] Loeb tidak menampik itu dan membuat spekulasi berkeliaran, sebelum akhirnya dikomentari banyak saintis lainnya dan kemudian mengonfirmasinya secara runut terhadap apa yang ditemukannya.

 

Contoh mutakhir lainnya adalah artikel tentang virus corona SARS-Cov-2 yang menginfeksi sel limfosit T dan dimuat di jurnal bergengsi Nature – Cellular and Mollecular Immunology.[iii] Artikel ini mendapat perhatian publik karena diterima dan dipublikasi hanya dalam waktu tiga hari.[iv] Mulanya, wajar karena artikel ini dimasukkan dalam kategori Correspondence, tetapi polemik muncul karena hasil penelitiannya dianggap merupakan klaim yang tergesa-gesa. Penulisnya mengakui hal tersebut dan berusaha meminta jurnal untuk meretraksi, tetapi gagal dilakukan selama lebih dari dua bulan. Jurnal sudah kadung mendapat impresi positif dari artikel yang dikunjungi ribuan kali dan disitasi puluhan kali, bahkan mungkin ratusan kali, dan berpotensi mengerek popularitas jurnal tersebut.

 

Dua kasus belakangan ini memiliki konteks yang berbeda, namun mengakar pada masalah yang serupa. Hype saintis. Saintis ingin dikenal dengan karyanya dan sumbangsih pemikirannya sehingga beragam upaya dilakukan untuk mencari perhatian publik yang intens. Banyak saintis dikejar oleh target riset dan akademik: penemuan, publikasi, hak kekayaan intelektual, pendanaan riset, laporan riset, status akademik, bahkan popularitas – yang masing-masing memiliki tekanan tersendiri. Tarik menarik psikologis antara integritas dan publisitas sulit terelakkan, dan pada batas tertentu berpotensi menyebabkan klaim berlebihan atas karyanya, atau membiarkan karyanya diinterpretasikan secara berlebihan oleh publik.

 

Politik kabar baik

 

Persoalan pembiaran interpretasi inilah yang juga kerap terjadi. Seorang dapat saja mengeluarkan pernyataan netral, kemudian dikemas oleh media massa sebagai interpretasi positif yang berlebihan. Sutradara Holywood, nominasi penerima Nobel, penemu listrik pohon jagung, atau apapun namanya. Saintis pada dasarnya kukuh pada integritasnya dan niat baik untuk memberikan sumbangsih positif kepada publik. Namun, membiarkan interpretasi yang salah dan berlebihan di tengah publik justru meruntuhkan integritasnya sendiri.

 

Publik memang menyukai kabar baik, terobosan istimewa, dan hal-hal mengagumkan, apalagi jika disematkan pada kebanggaan primordial bangsa. Variabel ini juga tidak lepas dari intervensi politik dan dan bangunan opini publik.

 

Kombinasi obat COVID-19 adalah bagian dari politik itu. Politik kabar baik. Ini hanya lanjutan dari tanda semiotik politik kabar baik yang sudah diluncurkan sejak Februari 2020, sejak munculnya beragam pernyataan bahwa COVID-19 tidak mungkin masuk Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan cukup melawannya dengan doa. Ada kekhawatiran besar yang disembunyikan pemerintah jika wabah ini dipersepsikan sedemikian besar dan membuat publik was-was secara berlebihan. Kabar pandemi, ancaman di bidang kesehatan, angka kesakitan dan kematian, dianggap sebagai berita buruk yang harus ditekan dan dimarjinalkan.

 

Ketika kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akhirnya diluncurkan, kecemasan publik masih membelukar. Berita negatif menguasai lini opini media massa dan media sosial. Ada kesulitan besar untuk meyakinkan publik bahwa melonggarkan PSBB adalah keniscayaan yang tidak dapat ditukar.

 

Kesulitan meyakinkan publik itu pun kemudian dicari jalannya: menerbitkan kabar baik bahwa Indonesia sudah menemukan obat COVID-19. Konferensi pers itu bagian dari intervensi psikologis pemerintah untuk menurunkan derajat kecemasan publik. Bagian dari politik kabar baik untuk meyakinkan bahwa pelonggaran PSBB ini akan baik-baik saja karena kita telah menemukan obatnya.

 

Sayangnya, kabar baik itu tidak diproduksi dengan cara yang baik dan berintegritas. Kabar baik itu dipenuhi gimmick, pulasan yang berlebihan, bahkan penggiringan opini yang sesat. Kita tak sepenuhnya yakin bahwa ini adalah sebuah kekeliruan semata karena banyak saintis duduk melingkar di kerumunan tersebut, di podium gagah yang diliput puluhan kamera itu. Kita justu tengah dibawa kepada keyakinan yang lain bahwa upaya kita menghadapi pandemi ini belum benar-benar serius. Setengah-setengah.

 

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

 

[i] Bialy S, Loeb A. Could Solar radiation pressure explain ‘Oumuamua’s peculiar acceleration? Astrophysicial Journal Letters. https://arxiv.org/pdf/1810.11490.pdf

[ii] Chotiner I. Have Aliens Found Us? A Harvard Astronomer on the Mysterious Interstellar Object ‘Oumuamua.

https://www.newyorker.com/news/q-and-a/have-aliens-found-us-a-harvard-astronomer-on-the-mysterious-interstellar-object-oumuamua

[iii] Wang X, et al. SARS-CoV-2 infects T lymphocytes through its spike protein-mediated membrane fusion. Cell Mol Immunol (2020). https://doi.org/10.1038/s41423-020-0424-9. https://www.nature.com/articles/s41423-020-0424-9

[iv] https://retractionwatch.com/2020/06/15/a-journal-took-three-days-to-accept-a-covid-19-paper-its-taken-two-months-and-counting-to-retract-it/

 

Gambar fitur diambil dari: https://farmasetika.com/2020/06/15/bpom-temuan-kombinasi-obat-covid-19-dari-unair-perlu-uji-klinik-untuk-peroleh-izin-edar/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s