COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?

Menjawab soal kapan sekolah dibuka kembali dan kapan harus ditutup adalah persoalan yang sangat sensitif. Ini bukan hanya persoalan makroekonomi, kesenjangan antar kelompok masyarakat – yang keduanya terasa amat jauh dari kehidupan sehari-hari banyak orangtua. Persoalan ini justru seringkali menyangkut kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan anak-anaknya. Tak ada orangtua yang dapat dengan tenang melepas anak-anaknya masuk dalam kolam risiko infeksi COVID-19.

(Baca tulisan sebelumnya tentang “COVID-19, Penutupan Sekolah, dan Krisis Sosial”)

Sebagian pakar pun menganggap anak-anak adalah kelompok rentan terinfeksi. Ini menimbun kekhawatiran yang lebih banyak lagi di benak para orangtua. Namun, bukti ilmiah di banyak studi justru menunjukkan hal sebaliknya: anak-anak merupakan kelompok yang minim terdampak jika dilihat dari proporsi dan asumsi pola transmisi COVID-19.

Maka, kita sebenarnya perlu menjawab seberapa besar potensi penyebaran COVID-19 pada anak-anak – dan penularan ke kawan seusianya jika sekolah dibuka kembali?

Secara global, kasus COVID-19 yang terkonfirmasi pada anak terbatas antara 1-5% dari total kasus.[i],[ii] Di Indonesia, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, kasus COVID-19 pada anak usia 6-17 tahun sekitar 5,7%.[iii] Angka ini terbilang kecil. Beberapa pakar mengkritik dan mencoba mengajukan argumen bahwa kecilnya kasus tersebut karena tidak adanya skrining pada anak-anak seperti yang dilakukan pada orang dewasa. Namun, apakah argumen itu teruji?

Setidaknya, ada dua negara yang melakukan pemeriksaan massal di komunitas, yaitu Korea Selatan dan Islandia. Di Islandia, sekitar 22 ribu orang (6% dari total populasi) mengikuti pemeriksaan massal.[iv] Pemeriksaan dilakukan dalam tiga jalur kelompok: (a) pemeriksaan yang ditargetkan – yaitu pada orang bergejala dan/atau tinggal di area risiko tinggi infeksi, (b) undangan terbuka, dan (c) undangan untuk pemeriksaan acak. Mereka yang telah dikarantina tidak dimasukkan dalam kriteria pemeriksaan tersebut.

Hasilnya serupa dengan data non-skrining massal. Proporsi anak yang terinfeksi COVID-19 pada kelompok (a) terbatas: 6,9% pada anak usia di bawah 10 tahun dan 13,7% pada anak usia >10 tahun. Pada kelompok (b), angka infeksi nyaris 0%, padahal dengan jumlah sampel yang lebih besar. (Gambar 1)

Picture 1
Gambar 1. Sebaran kasus positif COVID-19 berdasarkan kelompok usia di Islandia pada tiga kelompok: (a) kelompok yang ditargetkan, (b) kelompok undangan terbuka, dan (c) kelompok undangan yang diacak. Sumber: Gudbjartsson DF, et al (2020).

Di Korea Selatan – negara yang menjalankan pemeriksaan massal dan penelusuran kontak masif, kasus pada anak di bawah usia 10 tahun hanya 1,42%.[v] Pada anak usia >10 tahun, proporsinya 5,6%. Di Vo, salah satu kota bagian di Italia utara yang terdampak COVID-19, 86% penduduknya ikut pemeriksaan massal.[vi]Hasilnya pun serupa. Bahkan, semua anak berusia kurang dari 10 tahun dinyatakan negatif.

Gambaran ini mematahkan argumentasi bahwa ketiadaan skrining pada anak yang menyebabkan kecilnya proporsi kasus COVID-19.

Namun, argumentasi berikutnya dapat saja tetap berdatangan dan kembali perlu diuji. Misalnya, meski sedikit proporsi kasusnya, anak-anak tetap menjadi kelompok rentan karena mereka akan menderita kesakitan yang luar biasa.

Data yang tersedia dari beragam publikasi ilmiah menunjukkan bahwa anak yang terinfeksi COVID-19 umumnya tidak bergejala atau bergejala ringan. Sekitar 94% kasus COVID-19 pada anak di Cina adalah kasus tanpa gejala dan bergejala ringan hingga sedang. Hanya 0,6% kasus anak yang membutuhkan perawatan kritis, dan kasus ini didominasi oleh bayi.[vii] Anak-anak usia sekolah (6-15 tahun) yang terinfeksi umumnya menunjukkan gejala ringan dan sedang, seperti batuk dan demam (>50% pasien anak yang bergejala), serta rhinorrhoea dan nyeri tenggorokan (30-40%).

Di Amerika, dari 2752 kasus COVID-19 pada anak, hanya 5.8% yang butuh hospitalisasi, dan kurang dari 1% yang memerlukan layanan ICU.[viii]Yang memerlukan perawatan medis tersebut adalah anak-anak dengan kondisi penyerta, seperti penyakit paru kronik (termasuk asma), penyakit jantung dan pembuluh darah, dan dalam trerapi imunosupresi.

kasus covid anak US
Gambar 2. Sebaran keparahan kasus COVID berdasarkan kelompok usia di Amerika Serikat. Sumber: CDC United States (2020)

Di Indonesia, data detail mengenai hal ini masih sangat terbatas sehingga sulit untuk dianalisis. Data superfisial yang tersedia di Gugus Tugas hanya proporsi anak dengan kelompok usia tertentu yang dirawat atau isolasi mandiri. Ikatan Dokter Anak Indonesia sempat merilis data internal yang menyebutkan bahwa, dari 584 anak positif COVID-19, 14 anak berusia <17 tahun meninggal dunia. Angka ini bertambah hingga 129 anak jika dihitung dari 3.324 anak yang berstatus pasien dalam perawatan (PDP), baik karena belum dilakukan pemeriksaan PCR atau hasil pemeriksaan yang belum diterbitkan. Namun demikian, paparan lengkap derajat keparahan COVID-19 pada anak belum dapat diakses publik.

Gambaran ini tidak berupaya menafikan beratnya kasus COVID-19 pada anak-anak, namun justru bermanfaat untuk memberikan penjelasan dan menajamkan strategi pencegahan kasus pada anak-anak yang memiliki risiko tinggi. Pemahaman terhadap data seperti ini diperlukan sehingga bentukan kebijakan dan implementasinya dapat dijalankan dengan tepat.

Pertanyaan berikutnya terkait dengan risiko infeksi antar sesama kawan atau anak seusianya. Anak-anak yang bersekolah akan bertemu dengan kawan-kawannya yang lain dan berisiko terinfeksi antar sesamanya. Bagaimana bukti ilmiah dapat meyakinkan bahwa mereka tidak saling menularkan?

Peran anak-anak dalam persebaran COVID-19 memang masih belum dapat diterangkan dengan jelas. Asumsi yang berkembang saat ini adalah minimnya peran anak-anak dalam proses penularan karena kebanyakan anak-anak tidak menampakkan gejala meskipun terinfeksi. Penularan memang dapat terjadi lewat berbagi rute. Namun, risiko penularan yang paling mungkin terjadi adalah melalui bersin, batuk, dan kontak erat. Karena gejala yang sering tidak nampak pada anak-anak inilah, potensi penularan dianggap minim.

Data dari Shenzen, China, menunjukkan bahwa rerata serangan infeksi (attack rate) pada anak dan dewasa sama besarnya (15%), namun kebanyakan terjadi pada keluarga selama masa lock down.[ix] Data dari Guangzhou, Shanghai, Wuhan,[x] Jepang,[xi] dan Belanda[xii] menunjukkan bukti yang berbeda. (Gambar 3) Rerata serangan infeksi pada anak-anak lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Penularan antar anak pun rendah.

transmissionpairs
Gambar 3. Pola transmisi COVID-19 antar kelompok usia di Belanda. Sumbu X menunjukkan kelompok usia ‘penginfeksi’. Sumbu Y menunjukkan kelompok usia ‘terinfeksi’. Besar lingkaran menunjukkan besarnya jumlah infeksi yang terjadi. Sumber: RIVM Belanda (2020).

Bagaimana dengan penularan di sekolah?

Laporan kasus dari South New Wales dapat dijadikan gambaran singkat. Terdapat 18 kasus positif primer COVID-19 yang ditemukan pada siswa dan guru sekolah dasar dan menengah. Namun, hanya ada dua kasus sekunder terinfeksi di antara 863 orang yang berkontak erat. Kedua kasus sekunder itupun diduga terinfeksi dari guru, bukan sesama siswa.[xiii] Laporan kasus lain dari klaster French Alp menemukan satu anak terinfeksi COVID-19. Namun,  meskipun ia berinteraksi dengan sekitar 100 anak yang lain di sekolah, tidak ada satu pun anak yang terinfeksi darinya.[xiv] Ini mengindikasikan bahwa pola transmisi infeksi pada anak berbeda dengan pada orang dewasa, dan transmisi pada anak diduga lebih terkait dengan interaksi erat mereka dengan orang dewasa, baik di rumah maupun kegiatan sosial, dibandingkan dengan interaksi di dalam kelas.[xv]

Negara-negara daratan Eropa menjadi pionir bagaimana mereka membuka kembali aktivitas sekolah. Swedia, bahkan, tidak melakukan penutupan sekolah selama pandemi. Hingga 12 Mei, tidak ada lapran penyebaran infeksi COVID-19 yang terjadi di sekolah Swedia. Di Denmark – negara pertama yang membuka kembali sekolah, angka reproduksi virus memang mengalami sedikit kenaikan; dari 0,6 menjadi 1,0 sesaat setelah sekolah kembali dibuka.[xvi] Namun, angka reproduksi ini kembali menurun setelah satu pekan.

Meski demikian, risiko penularan COVID-19 pada anak-anak tetap perlu diwaspadai, terutama pada anak dengan gangguan nutrisi, karena meningkatkan risiko kematian dan mengganggu pertumbuhan, perkembangan, dan capaian proses pembelajaran.[xvii] COVID-19 juga mengganggu rantai layanan nutrisi dari berbagai aspek. Kemunduran ekonomi meningkatkan hilangnya pendapatan keluarga sehingga kebutuhan nutrisi keluarga tidak dapat tercukupi dengan baik. Rantai suplai makanan juga terganggu akibat wabah. Di sisi lain, layanan kesehatan terbebani oleh kasus COVID-19 dan mengurangi layanan nutrisi, termasuk dalam upaya deteksi dini dan penatalaksanaan malnutrisi dan wasting – kondisi anak yang menunjukkan kurangnya berat badan anak pada usianya.[xviii]

Jadi, apakah sebaiknya sekolah dibuka kembali saja? Bagaimana caranya membuka kembali sekolah?

Tunggu tulisan selanjutnya!

Ahmad Fuady

Rotterdam 1441

Disclaimer: Data yang ditampilkan dalam artikel ini kebanyakan diambil dari laporan ilmiah di luar negeri karena terbatasnya data dari Indonesia. Artikel mungkin mengalami perubahan jika data dari Indonesia sudah tersedia.

 

[i] Boast A, Munro A, Goldstein H. An evidence summary of Paediatric COVID-19 literature, Don’t Forget the Bubbles. Updated May 29, 2020. Tersedia di: http://doi.org/10.31440/DFTB.24063. Diakses 30 Mei 2020.

[ii] World Health Organization. Considerations for school-related public health measures in the context of COVID-19 . Geneva: World Health Organization. May 10, 2020. Tersedia di: https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/332052/WHO-2019-nCoV-Adjusting_PH_measures-Schools-2020.1-eng.pdf?sequence=1&isAllowed=y

[iii] Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Peta Sebaran. https://covid19.go.id/peta-sebaran.

[iv] Gudbjartsson DF, et al. Spread of SARS-CoV-2 in the Icelandic Population. N Engl J Med 2020; 382:2302-2315. DOI: 10.1056/NEJMoa2006100.

[v] Statista. Age distribution of coronavirus (COVID-19) cases in South Korea as of June 19, 2020. https://www.statista.com/statistics/1102730/south-korea-coronavirus-cases-by-age/

[vi] Lavezzo E, et al. Suppression of COVID-19 outbreak in the municipality of Vo, Italy. medRxiv 2020. 04.17.20053157. doi:https://doi.org/10.1101/2020.04.17.20053157.

[vii] Dong Y, Hu Y, Qi X, Jiang F, Jiang Z, Tong S 2020. Epidemiology of COVID-19 among children in China. Pediatrics. 2020; 145: 5. Tersedia di: https://pediatrics.aappublications.org/content/early/2020/03/16/peds.2020-0702.1. Diakses 30 Mei 2020.

[viii] Coronavirus Disease 2019 in Children — United States, February 12–April 2, 2020. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 2020;69:422–426. DOI: http://dx.doi.org/10.15585/mmwr.mm6914e4external icon.

[ix] Qifang Bi, Yongsheng Wu, Shujiang Mei, et al. Epidemiology and transmission of COVID-19 in Shenzhen China: analysis of 391 cases and 1,286 of their close contacts. medRxiv preprint. 2020. doi: https://doi.org/10.1101/2020.03.03.20028423. This version posted March 27, 2020.

[x] Zhang J, Litvinova M, Liang Y, Wang Y, Wang W, Zhao S, et al. Changes in contact patterns shape the dynamics of the COVID-19 outbreak in China. Science. 2020;eabb8001.

[xi] Mizumoto K, Omori R, Nishiura H. Age specificity of cases and attack rate of novel coronavirus disease (COVID-19). medRxiv. 2020;2020.03.09.20033142.

[xii] RIVM. Children and COVID-19. Updated May 28, 2020. Tersedia di: https://www.rivm.nl/en/novel-coronavirus-covid-19/children-and-covid-19. Diakses 30 Mei 2020.

[xiii] National Centre for Immunisation Research and Surveillance (NCIRS). COVID-19 in schools – the experience in New South Wales. Tersedia di http://ncirs.org.au/sites/default/files/2020-04/NCIRS%20NSW%20Schools%20COVID_Summary_FINAL%20public_26%20April%202020.pdf. Diakses 30 Mei 2020.

[xiv] Danis K, Epaulard O, Bénet T, et al. Cluster of coronavirus disease 2019 (Covid-19) in the French Alps, 2020. Clin Infect Dis. 2020;ciaa424. doi:10.1093/cid/ciaa424.

[xv]Zhang J, Litvinova M, Liang Y, Wang Y, Wang W, Zhao S, Wu Q, Merler S, Viboud C, Vespignani A, Ajelli M, Yu H. Science. Changes in contact patterns shape the dynamics of the COVID-19 outbreak in China. Science. 2020. Tersedia di: https://science.sciencemag.org/content/early/2020/05/04/science.abb8001/tab-pdf.

[xvi] Staten Serum Institut. Smittetrykket falder trods genåbning. https://www.ssi.dk/aktuelt/nyheder/2020/05_smittetrykket-falder-trods-genaabning_11052020

[xvii] UNICEF. Supporting children’s nutrition during the COVID-19 pandemic. UNICEF dan WWF. 2020. https://www.unicef.org/media/68521/file/Supporting-children’s-nutrition-during-COVID-19-2020.pdf.

[xviii] World Bank. How nutrition can protect people’s health during COVID-19. 13 Mei 2020. Tersedia di: https://blogs.worldbank.org/voices/how-nutrition-can-protect-peoples-health-during-covid-19.

 

Gambar fitur diambil dari: https://www.indiatoday.in/education-today/news/story/battling-coronavirus-11-guidelines-by-unicef-for-teachers-and-school-staff-1654890-2020-03-12 (Gambar mungkin memiliki hak cipta).

One thought on “COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s