Pertaruhan Besar Indonesia: Strategi Vaksinasi COVID-19

Tulisan ini adalah versi bahasa Indonesia dari artikel utama yang dimuat di The Independent Observer dalam bahasa Inggris pada 6 Februari 2021. Tulisan asli dapat dilihat di sini.

Suntikan vaksin di lengan Presiden Jokowi pada 13 Januari 2021 menjadi petanda kick off strategi baru melawan virus SARS-Cov2 di Indonesia. Upaya ini dianggap sangat krusial untuk mengatasi pandemi yang telah berjalan hampir satu tahun. Vaksin diharapkan menjadi amunisi baru yang dapat membantu Indonesia, dan seluruh negara di dunia, keluar dari krisis multidimensi yang berkepanjangan. 

Di tengah harapan besar tersebut, pertanyaan besar menanti untuk dijawab. Apakah vaksin benar-benar dapat menjadi senjata ampuh dan menyelamatkan manusia Indonesia? Sampai detik ini, belum ada yang tahu pasti jawabannya. 

Vaksinasi, dalam tingkat lokal dan global, ditujukan mencapai herd immunity—perlindungan tidak langsung yang didapatkan ketika sebagian besar populasi mencapai kondisi imun, baik secara natural maupun didapat melalui vaksin. Secara teori, herd immunity diasumsikan dapat tercapai ketika 70% dari total populasi sudah mendapat imunitas. Untuk mencapai herd immunity global, perlu vaksinasi 5,5 miliar orang dari total 7,8 miliar populasi dunia. Itu berarti bahwa kebutuhan vaksin COVID-19 mencapai 11 miliar dosis. Dengan kemampuan yang masih terbatas, kapasitas produksi vaksin secara global baru mencapai 6,2 miliar dosis per tahun. 

Itu pun dengan catatan bahwa masih ada kebutuhan produksi vaksin di luar vaksin COVID-19, seperti vaksin rubella, polio, HPV, dan tuberkulosis, dan proses scaling up yang membutuhkan waktu. Bila diasumsikan bahwa kemampuan produksi vaksin COVID-19 global baru mencapai separuh dari kapasitas totalnya, vaksinasi 5,5 miliar populasi dunia baru dapat selesai dilakukan dalam 3,5 tahun. 

Di tengah keterbatasan ini, perburuan vaksin COVID-19 menjadi isu genting. Ada potensi inekualitas ketika pembelian dan distribusi vaksin COVID-19 didominasi oleh negara-negara berpenghasilan tinggi. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah kerap kesulitan untuk membeli vaksin COVID-19 dan sulit untuk memenuhi kebutuhan negara mereka jika tidak ada kesepakatan distribusi yang adil di tingkat global. Bahkan, ketegangan politik antar negara berpenghasilan tinggi pun dapat terjadi. Keterbatasan produksi vaksin Astra-Zeneca untuk suplai negara-negara di Uni Eropa sempat menyebabkan ketegangan politik antara Uni Eropa, Inggris Raya, dan produsen vaksin tersebut. Konflik seperti ini mungkin saja dapat berulang dalam 1-2 tahun ke depan jika tidak ada kesepahaman bersama di tingkat regional dan global, baik antar negara maupun antara negara dan para produsen vaksin COVID-19. 

Dunia meletakkan harapan yang begitu besar pada vaksin, namun juga harus menyadari segala keterbatasan yang ada saat ini. Sulit untuk bersikap realistis di tengah kebutuhan vaksin yang begitu tinggi, produksi yang terbatas, dan kerumitan distribusi.

Target dan Capaian

Begitupun di Indonesia. Persoalan vaksinasi tidak berhenti pada hasil efikasi dan keputusan mengeluarkan emergency use of authorization, bahkan sertifikasi kehalalannya. Vaksinasi melibatkan proses yang jauh lebih kompleks, mulai dari seberapa besar kapasitas produksi, kesiapan jalur distribusi, pelatihan para petugas di lapangan, pelaporan efek simpang yang tersistemasi, dan penerimaan vaksin di masyarakat. 

Dengan perhitungan itu kebutuhan vaksinasi terhadap 70% populasi, ditambah asumsi kecepatan penyebaran infeksi di komunitas dan efikasi vaksin yang digunakan, Indonesia menargetkan vaksin dapat diberikan kepada 181 juta penduduknya. Dengan target sebesar itu, dan asumsi wastage rate 15%, Indonesia membutuhkan 426 juta dosis vaksin. 

Menkes Budi Gunadi Sadikin berupaya meyakinkan bahwa kebutuhan jumlah vaksin akan dapat terpenuhi. “Sampai sekarang kondisinya kita sudah memiliki secured komitmen delivery itu sekitar 300 jutaan vaksin,” katanya pada 21 Januari 2021. Bahkan, Indonesia memiliki opsi delivery—sudah mendapat kepastian produksi, namun delivery-nya masih optional—sebesar 300 juta dosis. “Jadi kita sudah memiliki coverage 600 juta vaksin atau sekitar 150 persen dari target,” ujarnya meyakinkan. Jumlah tersebut dipasok dari empat produsen vaksin yang sudah bekerjasama dengan Indonesia, yaitu Sinovac, AstraZeneca, Pfizer-BioNTech, dan Novavac.

Dengan target sebesar itu, dan dalam skenario optimal, Indonesia membutuhkan waktu 15 bulan untuk menuntaskan cakupan vaksinasi COVID-19 terhadap 181 juta penduduk. Skenario optimal tersebut membutuhkan asumsi bahwa asupan komponen produksi vaksin dari produsen Sinovac berjalan lancar, kapasitas produksi vaksin di BioFarma mencapai titik optimal, tidak ada keterlambatan pasokan delivery dari produsen vaksin lainnya, dan distribusi hingga penyuntikan vaksin berjalan sesuai rencana ke seluruh titik berjalan dengan lancar. Itu juga berarti bahwa, untuk mencapai target tersebut, Indonesia perlu menyuntikkan vaksin kepada rata-rata 12 juta penduduknya setiap bulan. 

Di awal Januari, Presiden Jokowi meletakkan target yang lebih ambisius. “Berarti 364 juta (dosis) kita harus suntik. Kita berharap selesainya tidak lebih dari setahun,” katanya. Dengan target setinggi itu, program vaksinasi COVID-19 harus mampu mencakup sekitar 15 juta orang per bulan. Apakah angka ini realistis?

Dalam perjalanan awal vaksinasi pada kelompok tenaga kesehatan, Indonesia masih mengalami kendala serius. Dari 1,53 juta tenaga kesehatan yang menjadi target sasaran vaksinasi, 1,5 juta (98%) tenaga kesehatan telah terdaftar. Namun, hingga akhir Januari, baru 493 ribu (32,8%) tenaga kesehatan yang telah melakukan suntikan vaksin dosis pertamanya. (Gambar 1)

Perkembangan kasus dan vaksinasi tenaga kesehatan Indonesia. Sumber: Kementerian Kesehatan. 31 Januari 2021

Menkes Budi Gunadi mengharapkan sisa satu juta tenaga kesehatan yang lainnya dapat selesai di akhir Februari. “Diharapkan sampai akhir bulan ini kita sudah bisa melakukan vaksinasi ke 500.000 tenaga kesehatan sehingga target 1,5 juta tenaga kesehatan kita bisa selesaikan pada akhir Februari,” katanya pada 30 Januari 2021. Dengan target tersebut, dibutuhkan upaya ekstra keras untuk dapat mencakup rata-rata 35.714 suntikan setiap hari. Dengan perhitungan suntikan dosis kedua, maka mulai pertengahan Februari diperlukan penyuntikan kepada 71.428 tenaga kesehatan per hari.

Skenario optimal ini membutuhkan upaya yang luar biasa sekaligus realistis di tengah kemampuan teknis yang terbatas. Menyuntikkan vaksin kepada 35 ribu orang dalam satu hari bukan hal mustahil, tetapi perlu perencanaan yang strategis. Jakarta, sebagai daerah dengan infrastruktur paling kuat, merencanakan vaksinasi COVID-19 secara massal di lima titik dengan kapasitas vaksinasi 500-1000 orang per titik per hari. Itu berarti ada maksimal 5000 suntikan dalam sehari. Dan dengan demikian, perlu ada minimal tujuh daerah yang dapat melangsungkan vaksinasi massal dengan kapasitas yang serupa, untuk dapat mencapai target 1 juta vaksinasi terhadap tenaga kesehatan.

Setelah Februari, program vaksinasi diperluas kepada kelompok tenaga layanan publik dan TNI/Polri dengan target yang sama ambisiusnya untuk dapat diselesaikan dalam tenggat 1,5 bulan. Dan, pada akhir April 2021, pelaksanaan vaksinasi diperluas lagi untuk semua penduduk Indonesia berusia antara 19-59 tahun tanpa komorbiditas.

Next: Strategi Alternatif

Satu komentar pada “Pertaruhan Besar Indonesia: Strategi Vaksinasi COVID-19”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s