Semua tulisan dari aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Kursi Goyang Sang Kiai

Sudah sedari dulu, Kiai memang tak pernah berniat menjadi presiden. Apalagi setelah muncul pilpres, pilkada, pilkawe, dan pilkate. “Saya ndak punya tenaga,” katanya suatu waktu.

Lanjutkan membaca Kursi Goyang Sang Kiai

Iklan

Open House Politik

Yang menarik dari lebaran adalah rumah-rumah yang terbuka dengan jejeran kue khusus yang mungkin tak ditemukan di hari selain lebaran. Di banyak daerah, rumah dapat terbuka sepanjang hari, sepekan penuh, bahkan sebulan tak henti-henti. Siapa saja boleh masuk. Siapa saja dipersilakan berkunjung.

Lanjutkan membaca Open House Politik

Bukan Manusia Super (2)

Sebegitu besarnya keluh kesah manusia, Allah ﷻ memberikan petanda yang tegas: shalat dan shalat-lah untuk mengusirnya, untuk lepas dari jeratannya. Tak ada dorongan yang lebih kuat dari itu dengan keparipurnaannya. Tanpa itu, ia kosong, bahkan celaka. Ia hanya menjadi pelaku shalat yang dipenuhi kelalaian dan keinginan disanjung.[i] Ia menjadi sekadar simbol ritual –dipertontonkan namun kering substansi, dipertunjukkan namun hampa implikasi.

Lanjutkan membaca Bukan Manusia Super (2)

Duka Melintas Semesta

Hari itu Waraqah bin Naufal menjumpai Muhammad ﷺ di sekitaran Ka’bah. “Engkau adalah Nabi atas umat ini,” katanya memulai. Konfirmasi pertama yang telah diperkirakan Muhammad semenjak Khadijah, istrinya, menjadi penyokong spirit utamanya. Tetapi, kalimat itu tak berhenti begitu saja. Waraqah melanjutkannya, “Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir, dan akan diperangi.” Konfirmasi kedua yang Muhammad ﷺ terima hari itu sekaligus menumpukkan beban yang memberat di pundaknya.

Lanjutkan membaca Duka Melintas Semesta

“Tragedi” Kematian Petugas Pemilu

Dimuat di KOMPAS, 7 Mei 2019

Hingga akhir April 2019, tercatat ada 318 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal. Jumlah yang sakit mencapai 2.232 orang.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengonfirmasi jumlah tersebut. Kementerian Keuangan pun mengalokasikan santunan dalam empat jenis santunan: meninggal, cacat permanen, luka berat, dan luka sedang.

Benarkah ini ”tragedi” pemilu Indonesia?

Lanjutkan membaca “Tragedi” Kematian Petugas Pemilu