Semua tulisan dari aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Tak Ada Lebaran

Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali.

Lanjutkan membaca Tak Ada Lebaran

Beriman kepada Corona (2)

Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat kita secara egois meneriakkan ‘pokoknya lockdown’, atau ‘PSBB harga mati’. Pada beberapa kelompok, PSBB adalah ‘kematian’ itu sendiri.

Lanjutkan membaca Beriman kepada Corona (2)

Beriman Kepada Corona (1)

Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya. Kita merasa telah berhasil sebagai manusia – makhluk paling super di muka bumi – ketika satu per satu epidemi kita tuntaskan dengan cepat. Kaum cerdik cendikia dan politisi dapat berbangga dengan itu semua; sedangkan kaum jelata cukup membanggakan mereka yang dengan kepandaian dan kecepatan gerak kebijakannya berhasil membuat napas proletar dapat bertahan lebih lama.

Lanjutkan membaca Beriman Kepada Corona (1)

Kening Taat, Lidah Fitnah

Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang Muadz. Rakaat pertama Muadz terasa panjang. Lelaki Arab itu tampak kepayahan dan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan berdiri. Gelisah, barangkali. Namun, di rakaat kedua, ia tak lagi tahan. Ia mufaraqah. Berpisah dari rombongan. Keluar dari jamaah. Ia memutuskan shalat sendirian, tak lagi bermakmum kepada Muadz yang masih menjadi imam shalat di depan.

Lanjutkan membaca Kening Taat, Lidah Fitnah

Syariat Tegak, Syaithan Gembira

Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah berubah wajah setelah tiga ayat tentang khamr turun. Ada perubahan social yang drastis ketika akhirnya khamr dilarang (Baca kisahnya di “Fikih Sosial Madinah”). Hampir tak ada lagi orang-orang meminum khamr secara sadar. Mereka mulai meninggalkannya satu per satu, membuangnya dari etalase dagang mereka di pasar-pasar, melenyapkannya dari gudang penyimpanan di rumah-rumah mereka.

Lanjutkan membaca Syariat Tegak, Syaithan Gembira

Bucin Allah

Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur pesan yang menyiratkan firasat kuat profetik bahwa sebentar lagi ia akan menjumpai Allah dalam rupa yang sesungguhNya. Barangkali itu akan menjadi perjalanan ziarah hajinya yang terakhir. Dalam geliat dadanya yang gemuruh, Muhammad ﷺ berpesan: khudzuu anniy manaasikakum. Perhatikan baik-baik bagaimana aku melaksanakan haji, menunaikannya dengan sempurna, dan jadikan semua itu patokan yang membuat umatku kelak mendapat panduan yang sahih atas praktik haji.

Lanjutkan membaca Bucin Allah

Sunnah Buruk

Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan orang datang dan meriung di sekitar Muhammad ﷺ. Mereka tak berpakaian dengan layak, bahkan para sahabat mengatakan bahwa serombongan orang itu bertelanjang. Tak bergamis seperti laiknya orang Arab yang tingal di Madinah. Pakaian mereka dari seperti bulu harimau – larik-larik panjang seperti tengah memakai baju kurung. Mereka berjalan tanpa alas kaki, bercelana di atas lutut sehingga sebagian aurat mereka terlihat.

Lanjutkan membaca Sunnah Buruk

Jejak Mahadigital

Para sahabat saat itu tengah berkumpul Bersama Muhammad ﷺ. Tiba-tiba saja, di tengah obrolan yang hangat itu, Muhammad ﷺ tersenyum sendirian sampai gigi serinya nampak jelas. Bukan kali itu saja Muhammad ﷺ tersenyum sendirian. Kadang ia juga menangis sendirian, kadang ia berbicara sendirian. Bukan karena gila atau waham, tetapi karena Jibril hadir dan memberi penerangan yang tak mampu disimak oleh orang lain meski jarak mereka tak sampai sedepa dari Muhammad ﷺ.

Lanjutkan membaca Jejak Mahadigital