Semua tulisan dari aafuady

hanya ahmad fuady yang ingin berkisah tentang apa yang berkecamuk dalam dirinya. suka menolong orang sehingga ia disebut dokter, suka menulis sehingga ada yang menyebutnya penulis, suka mengajar dan ada yang memanggilnya dosen, suka meneliti maka dianggaplah ia peneliti, juga suka pada istri dan anaknya maka ia dipanggil Buya.

Menagih ‘Syariah’-nya BPJS

Dua setengah tahun yang lalu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial untuk Kesehatan (BPJS-K) dirundung polemik publik mengenai status jaminan kesehatan yang dianggap haram. Saya segera mendatangi Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat itu dan berdiskusi sebelum akhirnya opini saya dimuat ke publik oleh Republika.

Baca: BPJS Pascafatwa MUI

Isu yang muncul ke permukaan pada saat itu fokus pada riba, maysir, dan gharar, dan saya berusaha menekankan agar perbaikan yang dilakukan harus melebih spektrum tiga isu tersebut, termasuk memastikan bahwa penyelenggaraannya berasaskan keadilan dan menghindari segala macam kezaliman.

Lanjutkan membaca Menagih ‘Syariah’-nya BPJS

Iklan

BPJS, “Waiting for Loss” Agency?

The implementation of universal health coverage scheme in Indonesia called Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), raises people’s hope for better access to health service. However, after its four years implementation, the Social Security Agency for Health (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial-Kesehatan) has had to deal with the constant budget problem.

Lanjutkan membaca BPJS, “Waiting for Loss” Agency?

Hilang Arah JKN

Tulisan ini dimuat di Opini Harian KOMPAS, 4 Desember 2017

WhatsApp Image 2017-12-04 at 5.17.19 AM

 

Menjelang akhir tahun keempatnya, Jaminan Kesehatan Nasional masih bergelut dengan defisit anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang meningkat hingga Rp 9 Triliun di tahun 2017. Usulan mutakhir BPJS-K untuk membagi beban biaya (cost sharing) bersama peserta untuk delapan penyakit katastrofik yang dianggap memakan biaya tinggi tergolong mengejutkan.

Lanjutkan membaca Hilang Arah JKN

Prasmanan, Makan a la Orang Perancis

Cing Aji lagi sibuk bukan kepalang. Anaknya yang ketiga mau disunat untuk yang, insya Allah, pertama kali dan sekali-kalinya ini saja. Marsose yang harus menjadi tetangga yang baik, sholeh dan suka menolong ikut terlibat dalam persiapan yang lebih mirip kawinan. Tenda dipasang, pelaminan disiapkan. Lebih-lebih, ondel-ondel dan delman sudah siap mengarak anak yang besok akan menempuh bentuk barunya itu. Hanya saja, tidak ada penghulu. Repot urusannya kalau sunat pakai ijab qabul, “Saya terima …..” Yang ada malah si anak jejeritan sambil tangan-kakinya dipegang dari tujuh penjuru mata angin.

Lanjutkan membaca Prasmanan, Makan a la Orang Perancis

Re-thinking: Menertawai Setya Novanto

Saking bertubi-tubinya kita tertawa, kita lupa bercermin. Jangan-jangan, Setya Novanto itu kita. Luapan tertawa kita itu, jangan-jangan juga sekadar ventilasi dari rusuhnya hati kita untuk mengakui bahwa kita juga sebenarnya melakukan hal yang serupa dengannya…

setnov
Gambar diambil dari: http://kartun.inilah.com/read/detail/2392976/setya-novanto-sakti-apa-sakit

Kalau Tuhan punya hak dan alasan untuk mengugurkan sehelai daun saja dari pohonnya, pasti Tuhan juga punya hak dan alasan mengapa ada cerita Setya Novanto dengan segenap hiruk pikuk tiang listrik dan foto sakitnya yang fenomenal. Orang boleh saja tertawa dan menertawai, membuat deretan cerita komedi, sindiran, bahkan cibiran –yang semuanya berhak dengan hak paling dasar bagi seorang manusia dan warga negara melakukannya. Tapi, boleh jadi urusan tawa menertawai itu juga bukan sekadar lintas lewat. Tuhan berharap output yang lebih heboh dari urusan meme yang di-share jutaan orang.

Lanjutkan membaca Re-thinking: Menertawai Setya Novanto

Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

 

Apa yang membuat orang berubah? Narasi dan khutbah, atau realita di depan mata?

Taxi Driver (Korea Selatan, 2017). Gambar diambil dari http://asianwiki.com/A_Taxi_Driver

Di tengah sorak sorai film pembantaian para jenderal di tanah air, saya memutuskan jalan lain: menonton sebuah film Korea, Taxi Driver. Film yang dipilih Korea Selatan untuk mewakili negaranya di Oscar 2018 ini adalah film sejarah berbasis kisah nyata, namun dipoles secara humanis. Memang, untuk mengingatkan masa lalu yang kelam tidak melulu harus dengan menampilkan gambar yang suram dan kejam. Taxi Driver adalah contoh kekejaman sejarah yang disajikan lewat karakter karikatural. Lucu dalam keluguan orang miskin, tapi tetap setia pada “pesan berat” yang disampaikannya.

Penyiksaan dan pembantaian para pemrotes di Gwangju, 1980. Gambar diambil dari: https://www.nytimes.com/2017/08/02/world/asia/south-korea-taxi-driver-film-gwangju.html

Tahun 1980, terjadi protes besar-besaran yang diusung mahasiswa pro-demokrasi di Gwangju, Korea Selatan. Diktator militer pada saat itu, Cun Doo-Hwan, meresponsnya dengan aksi represif yang diikuti pembantaian para pemrotes. Di tengah gejolak itu, terjerumuslah dalam jurang pelik aksi protes, seorang pengemudi taksi yang tak punya ruang di kepalanya untuk membahas politik dan tetek bengeknya. Hidup baginya adalah bagaimana membesarkan anak yang ditinggal mati ibunya, mencari uang, dan melunasi hutang yang menumpuk. Itu saja. Persis seperti kebanyakan isi kepala warga yang pragmatis –bagaimana ia hidup dari hari ke hari– karena kehidupan memang memaksa mereka memikirkan hal-hal sederhana. Tak ada tempat untuk bicara politik, kecuali sedikit saja. Apalagi ikut-ikutan membahas segalanya dan mempertontonkan kecerdasan sekaligus kedunguannya di media social, surat kabar dan televisi.

Merekalah kaum kebanyakan. Sedangkan yang hingar bingar adalah arus yang dihuyung-huyung robot tukang twit. Sibuk menyuruh ikut polling sana-sini, debat ke sana kemari, perang urat saraf di dunia antah berantah, dan meninggalkan kesempitan dan kesemrawutan tetap pada tempat asalinya: jurang kemiskinan yang belum sempat mereka duduki.

Maka, si pengemudi taksi –yang hingga akhir cerita tak pernah diketahui benar siapa namanya –tak tahu apa-apa tentang Gwangju. Baginya, uang 100.000 won lebih penting sehingga ia dengan gembira hati menyerobot rejeki orang untuk mengantar seorang reporter idealis dari Jerman ke Gwangju –daerah terlarang yang dipenuhi demonstrasi sekaligus pembantaian.

Perjalanan ke Gwangju ternyata tak mudah. Bagi si pengemudi taksi, melewati hadangan tentara tak sebanding dengan harga 100.000 won, maka ia memilih undur diri. Nyawa diri dan anaknya lebih penting dari politik dan pemberontakan. Khas masyarakat kecil nan pragmatis. Hidup tak perlu berbincang tentang negara, tetapi mencukupkan diri dengan apa yang mereka tabung di lemari, masak di kuali, dan tersaji di meja makan. Selebihnya adalah persetan.

Sebagian akan menghardik mereka yang apatis itu. Negara dengan segenap isu politiknya dianggap mereka sebagai bagian hidup yang harus diperjuangkan, dimenangkan dalam debat-debat virtual di grup whatsapp, line, dan timeline facebook. Wacana dikobarkan saling bersahutan seperti tak ada waktu untuk saling mendengar, kemudian berintrospeksi. Selebihnya adalah jarak ruang dan waktu yang lebar antara wacana dan realita. Narasi yang dilontarkan dalam debat menjadi kosong karena tak dikebumikan pada realita. Meninggalkan mereka yang benar-benar hidup dalam perjuangannya di lorong-lorong pasar sebagai tempelan di sana-sini dalam statistik dan kampanye. Gap-nya terlalu lebar.

Mereka sibuk bersorak sendiri. Yang apatis pun sibuk tak punya daya untuk mendengarkan. Apa yang membuat segalanya berubah?

Realita yang dihadapkan di depan mata. Si pengemudi taksi menemukan sisi altruism dalam dirinya ketika ia sendiri yang merasakan betapa getirnya diberondong tembakan dan pukulan para tentara. Dan bukan begitu saja terjadi. Ada timbal balik mutualisme yang humanis. Ia menolong para pemrotes atau pemberontak dan mengantarkan sang reporter mengambil gambar di area berbahaya. Sebaliknya, keluarga kecil –kakak beradik dan kawan-kawannya, memahami benar apa kebutuhan naluriah si pengemudi: bertemu dengan anaknya, menepati janjinya pulang dan mengajaknya berjalan-jalan, serta melunasi hutang-hutangnya.

Pengemudi taksi dan anak semata wayangnya di rumah kontrakan yang masih hutang sewa. Gambar diambil dari https://forums.soompi.com/en/topic/405851-movie-2017-a-taxi-driver-%ED%83%9D%EC%8B%9C-%EC%9A%B4%EC%A0%84%EC%82%AC-receives-12-million-admission-speeding-ticket/?page=3

Hubungan humanistik ini yang diperlukan ketika merawat negara dan tidak meninggalkan kesibukan masing-masing untuk berlari sekencang mungkin demi elektabilitasnya semata. Pahlawan tidak muncul dari ruang hampa. Ruang-ruang kosong yang menjadi kebutuhan riil warga negara perlu diisi dengan hubungan yang hangat, kebijakan yang –tidak hanya populis, tapi menentramkan dalam arti sesungguhnya. Citra para pengelola negara tak perlu dioles lipstik sedemikian rupa sehingga harus dibentur-benturkan secara tidak perlu dan menjadi gagasan ulang tentang betapa hebatnya jika bila saling mengajukan diri menjadi yang terhebat dan mengenggelamkan pamor yang lain. Polah buruk yang kini bukan saja dilakukan dalam ranah politik, tapi diadopsi secara culas untuk saling mendebat landasan cara beragama dan beribadah antara satu ustadz dengan ustadz lain.

Si pengemudi taksi punya kesempatan kembali ke kehidupannya yang tenang tanpa gejolak politik –namun terhimpit hutang, tapi ia menemukan altruismenya untuk balik kembali ke Gwangju. Reporter Jerman diselamatkannya dengan keberanian yang ditemukannya tiba-tiba dari pengalaman singkat yang didapatkannya. Ia kembali ke Seoul, dan tak ada yang tahu menjadi apa ia kemudian. Tetap menjadi pengemudi taksi, pelayan restoran, montir bengkel, tukang sapu jalanan, pegawai sukses, atau malah mati kesepian di belantara hutang-hutangnya.

Apapun itu, setelah 37 tahun berlalu, ia didapuk menjadi pahlawan tanpa nama. Ia disemayamkan secara teatrikal dalam film yang akan dikenang banyak orang di jaman setelahnya. Membuat orang berpikir ulang tentang kepahlawanan yang sunyi: berasal dari hati. Tak perlu menonjolkan diri dan sibuk mencaci, juga mendengki.

Adalah sang reporter Jerman, Jurgen Hinzpeter, yang mengingatkan kepahlawanan pengemudi taksi kembali sebelum ia meninggal di tahun 2016.  Keberhasilannya merekam gambar kekejaman rezim dictator Korea Selatan di Gwangju tak lepas dari keluguan yang bercampur keberanian penegmudi taksi -yang tak pernah ia tanyakan namanya.

Monumen kecil didirikan di Gwangju untuk mengenang reporter Jerman, Jurgen Hinzpeter. Gambar diambil dari https://www.nytimes.com/2017/08/02/world/asia/south-korea-taxi-driver-film-gwangju.html

Saya kembali duduk untuk bertanya: apa yang membuat orang berubah? Bukan narasi semacam tulisan ini, tentu. Tapi hati yang tersentuh –yang seringkali baru dapat diraba rasakan dengan realita yang ditemukannya sendiri. Bukan wacana kosong dalam debat-debat yang juga –seringkali– kosong. Berputar-putar untuk meninggikan ego, dan membiarkan masalah tak beranjak dari ruang ketersendiriannya.

Rotterdam, Muharram 1439

Wajib Belajar, Belajar Apa?

Meminta liburan dari sekolah bukan hal mudah di Belanda. Kami harus berkonsultasi dulu dengan guru kelas Birru, menuliskan form permohonan ijin dari sekolah, ditandatangani oleh kepala sekolah, lalu dikirimkan ke pemerintah lewat Gementee (semacam kantor Walikota) untuk mendapat persetujuan. “Umurnya belum lima tahun,” kata Kepala Sekolah, “Jadi dia masih bebas meminta liburan.” Beda urusannya jika usianya sudah menginjak lima tahun. Anak saya itu, juga akan jadi “Anak Negara”.

Lanjutkan membaca Wajib Belajar, Belajar Apa?

Maghrib yang Hilang

Selepas lebaran, maghrib hilang dari ingatan. Padahal, sebulan lalu kita hafal kapan tibanya: jamnya, menitnya. Sebulan lalu, kita mengatur di mana kita akan habiskan maghrib bersama, kalau perlu berikut isya dan tarawihnya. Kita merayakannya di pinggir jalan dengan kolak, es buah, dan gorengan, juga martabak dan aneka jajanan. Kita bergembira dengan maghrib. Kepada maghrib pula kita menggantungkan harapan agar tunai puasa yang menyebabkan lapar dan dahaga.

Lanjutkan membaca Maghrib yang Hilang

Sepenuh Pasrah

Seruan Muhammad kepada kaumnya untuk masuk Islam berujung pada penyingkirannya dari Makkah, baik secara halus maupun terang-terangan. Tepat pada malam beliau berangkat pergi bersama Abu Bakar, segerombolan orang dari Quraisy sudah siap membunuhnya. Tapi, apalah daya, skenario Allah lebih mujarab. Muhammad dan Abu Bakar pergi melintas padang pasir, berzigzag agar tak terekam jejaknya, sedangkan para calon pembunuh Rasul itu kecele karena hanya mendapati Ali bin Abi Thalib di dalam rumah Muhammad. [1]

Lanjutkan membaca Sepenuh Pasrah