aafuady.com

Bertaruh Seperti Shuhaib

Jika kita tak pernah tahu apa yang akan menyambut kita di masa depan, bahkan satu detik ke depan sekalipun, kita sesungguhnya tengah melakukan pertaruhan-pertaruhan. Tidak ada jaminan hasil apapun, baik atau buruknya. Tapi, kita harus memilih, bahkan untuk sekadar diam tak bergerak. Semua adalah pilihan dan pertaruhan. Kita hanya tengah memilah-milah: apa yang kita agunkan, apa yang kita pertaruhkan, dan demi apa dan siapa kita menentukan pilihan-pilihan pertaruhan itu. Dan, keterampilan memilah itu sesungguhnya bekal hidup lain yang mesti kita kumpulkan.

Bayangkanlah lekat-lekat bagaimana Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ánhu (ra.) mengais-ngais bekal hidup demi terampil memilah taruhan dan tujuan hidupnya. Ia lahir di istana di pinggir sungai Eufrat yang cantik, jauh sebelum Muhammad Shallallahu álayhi wasallam (Saw.) mengumumkan kerasulannya. Saat Romawi menyerbu istana ayahnya, Shuhaib kecil ditawan. Ia tumbuh di kultur Romawi, lantas diperjualbelikan hingga sampai di tangan seorang saudagar Mekkah. Keuletannya menjadi pertaruhan pertama sehingga ia dimerdekakan majikannya sendiri. Ia menjadi manusia bebas, pedagang ulung, dan orang kaya baru di sekitaran Mekkah.

Di tengah kesuksesannya, ia menjalani pertaruhannya yang kedua –yang lebih besar, ketika tiba di depan pintu rumah Arqam bin Abi Arqam ra. Membuka pintu rumah Arqam saat itu bukanlah sekadar memasuki sebuah rumah baru, tapi menyelami hidup penuh ancaman, penindasan, penyiksaan, dan kezaliman –lebih dari sekadar bully dan caci maki. Ia tidak datang begitu saja. Kejernihan hatinya yang mendorong kakinya untuk melangkah menuju Rasulullah. Kecerdasan hati dan ilmu yang dikumpulkannya dari setiap detik perjalanan hidupnya membawanya kepada cahaya. Ia meletakkan hidupnya dalam pertaruhan demi cahaya yang ia yakin akan menenteramkannya di dunia dan akhirat. Ia memahami bahwa kekayaan dan kejumawaan dunia tidak akan menunjukkan jalan kebahagiaan ketika tak ada cahaya yang menuntunnya. Dan, Rasulullah kini ia gantungkan sebagai lentera baru hidupnya.

Ketika Rasulullah Saw. hijrah bersama Abu Bakar ra., ia kembali bertaruh. Untanya dipacu melaju hingga dikejar oleh pasukan Quraisy. Ia tertahan, diblokir di tengah jalan. Menyerah? Tidak. Ia melepas semua harta yang dikumpulkannya semasa muda. Ia merelakannya diambil orang-orang Quraisy demi menyusul Rasulullah ke Madinah.

Orang-orang Quraisy itu tertegun. “Engkau miskin saat datang kepada kami, tapi sekarang hartamu sudah melimpah ruah. Dan sekarang, engkau memilih untuk meninggalkan harta kekayaanmu?” Shuhaib yakin penuh. Inilah pertaruhan dunianya. Ia tahu apa yang dia agunkan dan apa yang ia tuju. Baginya, tak ada yang lebih besar dari Allah dan RasulNya.

Kita pantas malu kepada Shuhaib. Kita kerap menyerah dalam pertaruhan-pertaruhan hidup kita. Kita takut pada ketidakpastian takdir dan memilih kepastian dunia untuk terus digenggam dan dipeluk erat-erat. Kita tak meyakini janji Allah yang pasti, lantas mengagunkan hidup kita pada kemuliaan-kemuliaan duniawi yang sementara. Kita memilih pujian manusia ketimbang senyum Allah dari jejak-jejak derita yang diliputi kesabaran.

Kita tak lagi ingat bagaimana Rasulullah Saw. begitu gembira melihat Shuhaib datang dengan untanya ke Quba. Dia yang membuat Rasulullah mengatakan, “Sungguh menguntungkan jual beli Abu Yahya –Shuhaib bin Sinan. Betapa menguntungkan jual belinya.” Bahkan, dia menjadi sebab Allah menurunkan ayatNya untuk menyebutnya bagian dari manusia man yasytari nafsahu btighaa-a mardhaatillah – yang mendagangkan jiwanya demi kerelaan Allah, yang mempertaruhkan hidupnya demi maqam terindah di sisi Allah.

Kita barangkali kerap membacanya, tapi luput menghayatinya. Puasa ini, ritual menahan-nahan hasrat dunia ini, semestinya menjadi pintu untuk menyelami lagi makna pertaruhan hidup sesungguhnya.

Rotterdam, 4 Ramadhan 1439

Foto fitur: koleksi pribadi

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Tak Ada Lebaran
22 Mei 2020
Suatu ketika, Muhammad ﷺ menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kening Taat, Lidah Fitnah
19 Mei 2020
Pada suatu subuh, Muadz menjadi imam shalat fajr di masjid. Seorang lelaki Arab menjadi makmum di belakang...
Koneksi Tanpa Putus
18 Mei 2020
Wajah Khadijah nampak gusar. Ada pertanyaan yang membebat di kepalanya. Ada tanda tanya yang ingin segera...
Syariat Tegak, Syaithan Gembira
17 Mei 2020
Suatu siang, seorang lelaki dibawa ke hadapan Muhammad ﷺ dalam sebuah rombongan. Madinah kala itu sudah...
Mengajak Keluarga untuk Taat
16 Mei 2020
Rekaman pemantik diskusi Ramadhan Pengajian Pemuda Muslim Eropa Rotterdam via Facebook Live (10 Mei 2020)[facebook...
Bucin Allah
16 Mei 2020
Muhammad ﷺ pergi berhaji lagi. Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya hati-hati, bertabur...
Menjemput Lailatul Qadr dari Rumah
15 Mei 2020
Pemantik Diskusi tentang Lailatul Qadr[facebook url="https://www.facebook.com/aafuady/videos/604395886951511/"...
Sunnah Buruk
15 Mei 2020
Suatu siang, ketika Muhammad ﷺ tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya di sebuah majelis, serombongan...