Arsip Kategori: Catatan Kamis

Bendera Setengah Yakin

Seorang lelaki menunggang untanya masuk Mekkah dengan tergesa. Setibanya di Mekkah, pada sebuah lembah yang sunyi dan tak ada satu mata pun yang melihat, ia turun dari untanya. Telinga dan hidung si unta dipotongnya. Pelananya dibalik hingga tampak berantakan. Ia merobek-robek pula bajunya hingga koyak. Drama itu siap dimainkan.

Lanjutkan membaca Bendera Setengah Yakin

Haram yang Tak Haram

Hijrah – dalam bentuk fisik maupun ruhani – selalu melimpahkan konsekuensi yang harus ditanggung. Kadang sendiri, kadang berjamaah. Kadang berupa penyingkiran sosial, kadang berbentuk alienasi politik, kadang pula serupa embargo ekonomi. Dalam kadarnya yang beragam dan intensitas yang bervariasi.

Lanjutkan membaca Haram yang Tak Haram

Lebih, Lebih dan Lebih

Pada tahun 9 H, Islam bukan kelompok kecil yang mudah di-bully, ditakut-takuti, dan disiksa. Islam telah berubah menjadi kekuatan yang superior di jazirah Arab. Bukan lagi sekadar Madinah, kekuasaannya telah meluas jauh, tentaranya telah memenangi pertempuran jauh dari rumah-rumah mereka. Harta rampasan perang mulai melimpah. Muhammad ﷺ tak lagi jadi pusat cibiran sebagai tukang sihir dan orang gila, tetapi musuh politik paling berbahaya bagi mereka yang terancam kuasanya.

Lanjutkan membaca Lebih, Lebih dan Lebih

Khatam Mushaf, Tak Khatam Ayat

Di sekitaran Mekkah, tempat Muhammad ﷺ tumbuh besar, Quraisy tak banyak ambil pusing dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi, tidak dengan Muhammad ﷺ. Tak peduli bahwa Muhammad sebelumnya adalah orang yang paling mereka percayai untuk dimintakan pendapatnya, Muhammad yang memulai menyebarkan ajaran tauhid adalah Muhammad yang sudah berbeda sama sekali di mata pandang mereka. Muhammad kali itu telah menjadi Muhammad sang penyair, tukang sihir, dan orang gila.

Lanjutkan membaca Khatam Mushaf, Tak Khatam Ayat

Negeri Lapar dan Takut

Jika dirangkum semua keinginan, ambisi, target, dan kesenangan yang berupaya dihimpun manusia, ada dua saripatinya: makan dan rasa aman. Abraham Maslow boleh berbangga karena telah menempatkan keduanya pada teori piramida kebutuhan fundamental manusia. Memang, ia benar dan sesuai apa yang Allah ﷻ firmankan –lepas dari apakah Maslow sempat membaca surat Quraisy atau tidak.

Lanjutkan membaca Negeri Lapar dan Takut

Membakar Pintu Istana

Siang itu seorang lelaki datang ke istana Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, tepat di jantung kota Kufah. Ia membawa pesan yang sangat jelas: bakar pintu istananya, lalu segera pulang. Lelaki itu, Muhammad bin Maslamah, dengan cergas melaksanakan perintah yang diberikan. Ia membakar pintu istana yang membuat Sa’ad terkaget-kaget.

Lanjutkan membaca Membakar Pintu Istana