Arsip Kategori: Catatan Ramadhan

Bukan Manusia Super (3)

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ kedatangan lelaki buta di rumahnya ketika ia bercengkerama dengan Ummu Salamah, istrinya, dan Maimunah. Tak ada yang memakai hijab. Hingga lelaki buta itu, Ibnu Ummi Maktum, masuk ke dalam rumah pun, mereka tak beranjak pula memakai hijab. Ia yang buta tak akan bisa melihat mereka, apalah lagi muncul berahi di dadanya. Begitu pikir mereka.

Lanjutkan membaca Bukan Manusia Super (3)

Iklan

Bukan Manusia Super (2)

Sebegitu besarnya keluh kesah manusia, Allah ﷻ memberikan petanda yang tegas: shalat dan shalat-lah untuk mengusirnya, untuk lepas dari jeratannya. Tak ada dorongan yang lebih kuat dari itu dengan keparipurnaannya. Tanpa itu, ia kosong, bahkan celaka. Ia hanya menjadi pelaku shalat yang dipenuhi kelalaian dan keinginan disanjung.[i] Ia menjadi sekadar simbol ritual –dipertontonkan namun kering substansi, dipertunjukkan namun hampa implikasi.

Lanjutkan membaca Bukan Manusia Super (2)

Duka Melintas Semesta

Hari itu Waraqah bin Naufal menjumpai Muhammad ﷺ di sekitaran Ka’bah. “Engkau adalah Nabi atas umat ini,” katanya memulai. Konfirmasi pertama yang telah diperkirakan Muhammad semenjak Khadijah, istrinya, menjadi penyokong spirit utamanya. Tetapi, kalimat itu tak berhenti begitu saja. Waraqah melanjutkannya, “Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir, dan akan diperangi.” Konfirmasi kedua yang Muhammad ﷺ terima hari itu sekaligus menumpukkan beban yang memberat di pundaknya.

Lanjutkan membaca Duka Melintas Semesta

Tak Ada Lebaran

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali. Di anak tangga pertama, beliau mengucap, “Amin.” Di anak tangga kedua, “Amin” lagi yang diucapkannya. Di anak tangga ketiga, beliau menutupnya pula dengan “Amin.”

Lanjutkan membaca Tak Ada Lebaran

Asalkan Allah Tidak Murka

Sudah hari kelimabelas di Tha’if, namun Rasulullah shallallahu álayhi wassalam (Saw.) dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ánhu (ra.) belum menemukan tanda-tanda menggembirakan dari usaha da’wahnya menyebarkan Islam dan meminta perlindungan. Mereka telah masuk ke lorong-lorong pasar Ukazh, telah menghampiri banyak orang di tepian jalan, dan telah menawarkan Islam ke pintu-pintu rumah dengan damai. Namun, mereka tetap tertolak. “Jika kalian menolak, biarkan aku pergi,” kata Rasulullah di ujung usahanya hari itu.

Lanjutkan membaca Asalkan Allah Tidak Murka

Syahadat Kita, Syahadat Donat

Selepas kran da’wah terang-terangan terbuka, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) bergerak taktis. Beliau pergi ke lembah Batha, lalu naik ke bukitnya. Ia berteriak keras, “Awas, ada musuh di pagi ini!” Teriakan itu membuat geger orang-orang sekitar. Mereka bergegas berkumpul dan meminta penjelasan Muhammad Saw. “Bagaimana pendapat kalian semua jika aku katakan bahwa ada musuh yang akan datang menyerang kalian di pagi dan petang hari? Apakah kalian percaya kepadaku?” Pertanyaan itu retoris belaka. Muhammad Saw. sudah tahu setinggi apa kepercayaan orang-orang Quraisy kepadanya. Jikapun dicucuk hidungnya untuk ditarik ke manapun oleh Muhammad Saw., mereka pasti rela. Ia terpercaya, dia Al Amin. Dia tak mungkin berdusta.

Lanjutkan membaca Syahadat Kita, Syahadat Donat

Khilaf-nya Khalifah dan Khilafah

Urusan khalifah dan khilafah ini memang membuat kepala penat. Kita terjebak dengan melokalisir urusan khalifah dan khilafah pada terma radikal atau tidak radikal, merongrong atau tidak merongrong negara, dan berbahaya atau tidak berbahaya terhadap Pancasila. Kita juga terlanjur terbiasa membincangkan perkara khalifah dan khilafah ini dengan membatasinya pada sistem ketatanegaraan, membandingkannya dengan sistem demokrasi, dan –oleh karenanya –dijadikan target utama pencapaian kemanusiaan.

Lanjutkan membaca Khilaf-nya Khalifah dan Khilafah

Adil Tapi Zalim

Suatu hari, serombongan saudagar tiba di Madinah dengan membawa tumpukan dagangan mereka. Saking banyaknya dagangan itu, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (ra.) bersepakat dengan Abdurrahman bin Auf ra. untuk menjaga mereka dan dagangannya agar tetap aman di malam hari. Di tengah senyap malam itu, Umar mendengar tangisan bayi yang tak kunjung mereda. Ia mencari-cari di mana sumber tangisnya. Gelap malam membuat wajahnya tak terlihat jelas. Ia tak tampak seperti Umar di siang hari. Ia hanya serupa lelaki yang berkeliaran di malam hari.

Lanjutkan membaca Adil Tapi Zalim