Arsip Kategori: Catatan Ramadhan

Khatam Mushaf, Tak Khatam Ayat

Di sekitaran Mekkah, tempat Muhammad ﷺ tumbuh besar, Quraisy tak banyak ambil pusing dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi, tidak dengan Muhammad ﷺ. Tak peduli bahwa Muhammad sebelumnya adalah orang yang paling mereka percayai untuk dimintakan pendapatnya, Muhammad yang memulai menyebarkan ajaran tauhid adalah Muhammad yang sudah berbeda sama sekali di mata pandang mereka. Muhammad kali itu telah menjadi Muhammad sang penyair, tukang sihir, dan orang gila.

Lanjutkan membaca Khatam Mushaf, Tak Khatam Ayat

Iklan

Negeri Lapar dan Takut

Jika dirangkum semua keinginan, ambisi, target, dan kesenangan yang berupaya dihimpun manusia, ada dua saripatinya: makan dan rasa aman. Abraham Maslow boleh berbangga karena telah menempatkan keduanya pada teori piramida kebutuhan fundamental manusia. Memang, ia benar dan sesuai apa yang Allah ﷻ firmankan –lepas dari apakah Maslow sempat membaca surat Quraisy atau tidak.

Lanjutkan membaca Negeri Lapar dan Takut

Bukan Manusia Super (2)

Sebegitu besarnya keluh kesah manusia, Allah ﷻ memberikan petanda yang tegas: shalat dan shalat-lah untuk mengusirnya, untuk lepas dari jeratannya. Tak ada dorongan yang lebih kuat dari itu dengan keparipurnaannya. Tanpa itu, ia kosong, bahkan celaka. Ia hanya menjadi pelaku shalat yang dipenuhi kelalaian dan keinginan disanjung.[i] Ia menjadi sekadar simbol ritual –dipertontonkan namun kering substansi, dipertunjukkan namun hampa implikasi.

Lanjutkan membaca Bukan Manusia Super (2)

Duka Melintas Semesta

Hari itu Waraqah bin Naufal menjumpai Muhammad ﷺ di sekitaran Ka’bah. “Engkau adalah Nabi atas umat ini,” katanya memulai. Konfirmasi pertama yang telah diperkirakan Muhammad semenjak Khadijah, istrinya, menjadi penyokong spirit utamanya. Tetapi, kalimat itu tak berhenti begitu saja. Waraqah melanjutkannya, “Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir, dan akan diperangi.” Konfirmasi kedua yang Muhammad ﷺ terima hari itu sekaligus menumpukkan beban yang memberat di pundaknya.

Lanjutkan membaca Duka Melintas Semesta