Arsip Kategori: Catatan Ramadhan

Open House Politik

Yang menarik dari lebaran adalah rumah-rumah yang terbuka dengan jejeran kue khusus yang mungkin tak ditemukan di hari selain lebaran. Di banyak daerah, rumah dapat terbuka sepanjang hari, sepekan penuh, bahkan sebulan tak henti-henti. Siapa saja boleh masuk. Siapa saja dipersilakan berkunjung.

Lanjutkan membaca Open House Politik

Iklan

Bukan Manusia Super (2)

Sebegitu besarnya keluh kesah manusia, Allah ﷻ memberikan petanda yang tegas: shalat dan shalat-lah untuk mengusirnya, untuk lepas dari jeratannya. Tak ada dorongan yang lebih kuat dari itu dengan keparipurnaannya. Tanpa itu, ia kosong, bahkan celaka. Ia hanya menjadi pelaku shalat yang dipenuhi kelalaian dan keinginan disanjung.[i] Ia menjadi sekadar simbol ritual –dipertontonkan namun kering substansi, dipertunjukkan namun hampa implikasi.

Lanjutkan membaca Bukan Manusia Super (2)

Duka Melintas Semesta

Hari itu Waraqah bin Naufal menjumpai Muhammad ﷺ di sekitaran Ka’bah. “Engkau adalah Nabi atas umat ini,” katanya memulai. Konfirmasi pertama yang telah diperkirakan Muhammad semenjak Khadijah, istrinya, menjadi penyokong spirit utamanya. Tetapi, kalimat itu tak berhenti begitu saja. Waraqah melanjutkannya, “Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir, dan akan diperangi.” Konfirmasi kedua yang Muhammad ﷺ terima hari itu sekaligus menumpukkan beban yang memberat di pundaknya.

Lanjutkan membaca Duka Melintas Semesta

Tak Ada Lebaran

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali. Di anak tangga pertama, beliau mengucap, “Amin.” Di anak tangga kedua, “Amin” lagi yang diucapkannya. Di anak tangga ketiga, beliau menutupnya pula dengan “Amin.”

Lanjutkan membaca Tak Ada Lebaran

Asalkan Allah Tidak Murka

Sudah hari kelimabelas di Tha’if, namun Rasulullah shallallahu álayhi wassalam (Saw.) dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ánhu (ra.) belum menemukan tanda-tanda menggembirakan dari usaha da’wahnya menyebarkan Islam dan meminta perlindungan. Mereka telah masuk ke lorong-lorong pasar Ukazh, telah menghampiri banyak orang di tepian jalan, dan telah menawarkan Islam ke pintu-pintu rumah dengan damai. Namun, mereka tetap tertolak. “Jika kalian menolak, biarkan aku pergi,” kata Rasulullah di ujung usahanya hari itu.

Lanjutkan membaca Asalkan Allah Tidak Murka