Arsip Kategori: Catatan Ramadhan

Syahadat Kita, Syahadat Donat

Selepas kran da’wah terang-terangan terbuka, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) bergerak taktis. Beliau pergi ke lembah Batha, lalu naik ke bukitnya. Ia berteriak keras, “Awas, ada musuh di pagi ini!” Teriakan itu membuat geger orang-orang sekitar. Mereka bergegas berkumpul dan meminta penjelasan Muhammad Saw. “Bagaimana pendapat kalian semua jika aku katakan bahwa ada musuh yang akan datang menyerang kalian di pagi dan petang hari? Apakah kalian percaya kepadaku?” Pertanyaan itu retoris belaka. Muhammad Saw. sudah tahu setinggi apa kepercayaan orang-orang Quraisy kepadanya. Jikapun dicucuk hidungnya untuk ditarik ke manapun oleh Muhammad Saw., mereka pasti rela. Ia terpercaya, dia Al Amin. Dia tak mungkin berdusta.

Lanjutkan membaca Syahadat Kita, Syahadat Donat

Iklan

Mustahiq Hidayah

Hari itu, orang-orang berkumpul di rumah Abu Thalib. Lelaki berusia delapan puluh tiga tahun itu tengah terbujur lemah tak berdaya. Ujung usianya telah nampak di hadapan. Pelindung Muhammad shallalahu ‘alayhi wasallam (Saw.) akan pergi, orang yang dihormati di tengah Mekkah akan berangkat menuju Tuhannya. Di ujung hayatnya itulah, dua kutub saling berebut pengaruh.

Lanjutkan membaca Mustahiq Hidayah

Khilaf-nya Khalifah dan Khilafah

Urusan khalifah dan khilafah ini memang membuat kepala penat. Kita terjebak dengan melokalisir urusan khalifah dan khilafah pada terma radikal atau tidak radikal, merongrong atau tidak merongrong negara, dan berbahaya atau tidak berbahaya terhadap Pancasila. Kita juga terlanjur terbiasa membincangkan perkara khalifah dan khilafah ini dengan membatasinya pada sistem ketatanegaraan, membandingkannya dengan sistem demokrasi, dan –oleh karenanya –dijadikan target utama pencapaian kemanusiaan.

Lanjutkan membaca Khilaf-nya Khalifah dan Khilafah

Adil Tapi Zalim

Suatu hari, serombongan saudagar tiba di Madinah dengan membawa tumpukan dagangan mereka. Saking banyaknya dagangan itu, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (ra.) bersepakat dengan Abdurrahman bin Auf ra. untuk menjaga mereka dan dagangannya agar tetap aman di malam hari. Di tengah senyap malam itu, Umar mendengar tangisan bayi yang tak kunjung mereda. Ia mencari-cari di mana sumber tangisnya. Gelap malam membuat wajahnya tak terlihat jelas. Ia tak tampak seperti Umar di siang hari. Ia hanya serupa lelaki yang berkeliaran di malam hari.

Lanjutkan membaca Adil Tapi Zalim

Jangan Cari Lailatul Qadar

Apa yang dapat dibayangkan mata kepala kita jika malaikat turun ke bumi? Bukan hanya turun, tetapi mereka tanazzul –berbondong-bondong, beramai-ramai memenuhi langit hingga sesak. Tidak, kita tidak sanggup melihatnya, bahkan untuk sekadar membayangkannya. Maka, Allah tidak pernah memperlihatkannya, tidak pula memberi tahu kapan jadwal tanazzul malaikat itu di setiap kali Ramadhan.

Lanjutkan membaca Jangan Cari Lailatul Qadar

Setan Terbelenggu, Mal Tak Terkunci

Menjelang akhir Ramadhan, kita pelan-pelan mulai lupa nasihat-nasihat yang membanjir di awal Ramadhan, bahkan sebelum hilalnya nampak. Idzaa dakhala ramadhaan, shuffidatisy syayaathiin. Jika tiba bulan Ramadhan, setan-setan terbelenggu. Kita bersorak sorai ketika mendengar hadits Rasulullah shallalahu’alayhi wassallam (Saw.) itu. Tidak peduli kita memaknainya secata letterlijk atau majazy. Tidak peduli pula apakah dalam bayangan kepala dan pikiran kita: setan-setan itu terpojok di sudut ruangan, terborgol, dan tak berdaya, atau tubuh dan jiwa kita membesar sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi ruangan yang bersisa untuk setan mondar-mandir dalam kehidupan puasa kita.

Lanjutkan membaca Setan Terbelenggu, Mal Tak Terkunci

Gubernur Wajar Dengan Pengecualian

Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (ra.) memutuskan berkunjung ke Homs –bagian kekuasaan Islam di sekitaran Syiria yang menjadi sarang pemberontakan kedua setelah Kufah. Ia teringat bagaimana ia memutuskan siapa lelaki yang akan dikirimkannya sebagai gubernur di daerah modern, pusat perdagangan, dan penuh godaan dan rangsangan duniawi. Lelaki yang dipilihnya itu bernama Sa’id bin Amr ra. Ia berkali-kali menolak permintaan Umar, tapi Umar bersikukuh. “Apakah kalian ingin membebankan amanah dan khilafah di pundakku, lalu kalian pergi semua meninggalkanku?” kata Umar kepada Sa’id. Dan, Sa’id tak punya pembelaan apapun lagi di hadapan Umar. Ia berangkat menuju Homs bersama istri yang baru dinikahinya.

Lanjutkan membaca Gubernur Wajar Dengan Pengecualian

Lindungi Kami dari THR

Kita tak perlu mengusik sukacita rakyat yang mendapat kucuran tunjangan hari raya (THR). Biarkan saja itu menjadi kegembiraan rakyat menjelang hari rayanya. Kalaupun saat ini kita belum dapat menambah kegembiraan di hati mereka, setidaknya kita tidak perlu membuat hati mereka kisruh dan mencemburui kebaikan yang diterima mereka. Itu mesti kita yakini sebagai perkara dasar dan urusan orang beriman. Jika tak mampu menambah kebaikan untuk orang lain, setidaknya jangan menambah kesedihannya dengan komentar lisan dan digital.

Lanjutkan membaca Lindungi Kami dari THR

Re-definisi: Selamat, Menang, Mulia

Tak ada yang menyangka jika hari itu Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) kembali ke kampung halamannya dengan kekuatan besar yang sulit ditandingi. Tidak ada ruang bagi peperangan, kecuali bila sangat terpaksa. Begitu petuah beliau saat melepas empat pasukan terpisah. Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu (ra.) memimpin pasukan masuk ke Mekkah dari utara, Khalid bin Walid ra. dari selatan, Sa’ad bin Ubadah ra. dari barat, dan Abu Ubaidah bin Jarrah ra. dari bagian atas, sejurus kaki gunung Hind. Muhammad Saw. yang dulu dihina, dicaci, dan diolok-olok bersama pendukungnya yang sedikit, kini datang dengan rombongan 10 ribu orang.

Lanjutkan membaca Re-definisi: Selamat, Menang, Mulia

Benar Berwajah Munkar

Malam Jumat, 17 Ramadhan, kala itu adalah malam yang kelam. Tiga lelaki bersepakat dalam gelap. Pedangnya terhunus, matanya menyalak-nyalak. Si pemimpin, Abdurrahman bin Amru –kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam– menyampaikan skenario jahat. Di kepalanya masih terngiang-ngiang bagaimana kerabat dan kawan-kawannya terbunuh di Nahrawan. Dendamnya menggumpal di dada. “Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib,” katanya berbulan-bulan sebelum malam itu. Kawannya yang lain juga berencana. Al Burak bin Abdillah berharap dapat membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu (ra.), sedangkan Amru bin Abu Bakar berencana membunuh Amr bin Ash ra.

Lanjutkan membaca Benar Berwajah Munkar

Mencari Tongkat Musa

Pada suatu pagi, Fir’aun mengumumkan berita besar. Ia mengundang rakyatnya untuk berkumpul menantikan kontes sihir. Jauh hari sebelumnya, ia telah mengkader tukang sihir dan mengirim 40 orang untuk belajar sihir ke Al Irfaan. Dan, pagi itu, lengkap sudahlah ia mengumpulkan para tukang sihir dari segala pelosok. Ka’b al Ahbar mengatakan jumlahnya mencapai 12 ribu, sedangkan Muhammad bin Ka’b menyebut angka yang jauh lebih fantastis, 80 ribu.

Lanjutkan membaca Mencari Tongkat Musa

Merayakan Desas Desus

Pagi itu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) dan pasukannya bergegas menuju Madinah setelah singgah sejenak di perkemahan. Aisyah radhiyallahu ‘anha (ra.) yang kecil mungil sejenak keluar dari pelangkinnya untuk menunaikan hajat. Tak disangka, kalungnya jatuh. Disapunya pandangan ke seluruh jalan. Saat ia menemukan kalungnya lagi dan kembali ke kemah, pasukan Rasulullah telah berangkat. Ia tertinggal. Pasukan telah membawa pelangkin kosong di atas unta tanpa Aisyah di dalamnya.

Lanjutkan membaca Merayakan Desas Desus