Arsip Kategori: Catatan Ramadhan

Puasa, Ketamakan yang Luruh

Dunia yang tidak kita kekang hanya akan menuntun kaki kita menuju ketamakan. Ia tidak hanya berbentuk korupsi yang jumlahnya milyaran atau trilyunan. Ketamakan menjelma apa saja dalam kadar, spektrum, dan tataran hidup yang kita lakoni. Ia menyusup dalam keinginan untuk bersaing naik posisi di kantor. Ia menggeliat di tengah-tengah pasar, pojok toko, lantai bursa, atau portofolio investasi untuk meraih keuntungan setinggi-tingginya. Ia menyelinap di tengah-tengah obrolan orangtua tentang siapa yang rumahnya paling besar, anaknya paling pintar, atau sekolahnya paling bagus. Ia duduk bersama konsep strategi politik demi meraih suara sebanyak-banyaknya. Bahkan, ia mendampingi di podium, mimbar tempat para pemuka agama berkhutbah, untuk membisikkan bahwa hanya perkataannyalah yang paling benar, sedangkan yang lain salah, sesat, penuh bid’ah, dan tak layak mendapat porsi jengkal tanah di surga.

Lanjutkan membaca Puasa, Ketamakan yang Luruh

Iklan

PUASA, BERHENTI

Keterampilan hidup sesungguhnya adalah memahami kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti. Tidak ada kebaikan pada pergerakan yang berlebihan, seperti tidak pula ada kebaikan dari diam yang dipelihara. Sayangnya, keterampilan itu tidak diajarkan dan tidak diasah pada sekian banyak institusi pendidikan formal kita. Dunia lantas dipahami dari kuantitas belaka: seberapa besar rumah yang kita punya, seberapa banyak uang yang kita simpan, seberapa tinggi jabatan yang kita duduki, dan seberapa luas jangkauan follower kita yang terus menguntit di belakang.

Lanjutkan membaca PUASA, BERHENTI

Maghrib yang Hilang

Selepas lebaran, maghrib hilang dari ingatan. Padahal, sebulan lalu kita hafal kapan tibanya: jamnya, menitnya. Sebulan lalu, kita mengatur di mana kita akan habiskan maghrib bersama, kalau perlu berikut isya dan tarawihnya. Kita merayakannya di pinggir jalan dengan kolak, es buah, dan gorengan, juga martabak dan aneka jajanan. Kita bergembira dengan maghrib. Kepada maghrib pula kita menggantungkan harapan agar tunai puasa yang menyebabkan lapar dan dahaga.

Lanjutkan membaca Maghrib yang Hilang

Sepenuh Pasrah

Seruan Muhammad kepada kaumnya untuk masuk Islam berujung pada penyingkirannya dari Makkah, baik secara halus maupun terang-terangan. Tepat pada malam beliau berangkat pergi bersama Abu Bakar, segerombolan orang dari Quraisy sudah siap membunuhnya. Tapi, apalah daya, skenario Allah lebih mujarab. Muhammad dan Abu Bakar pergi melintas padang pasir, berzigzag agar tak terekam jejaknya, sedangkan para calon pembunuh Rasul itu kecele karena hanya mendapati Ali bin Abi Thalib di dalam rumah Muhammad. [1]

Lanjutkan membaca Sepenuh Pasrah

Selimut Apa Lagi?

“Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi, Khadijah,” jawab Muhammad ketika Khadijah memintanya istirahat kembali setelah kejadian Iqra di Gua Hira.[1] Kedatangan wahyu kedua itu menandakan tonggak baru dalam risalah kenabiannya. Muhammad diberi tanggung jawab tandzir –memperingatkan kaumnya. Tanggung jawab yang setelah habis risalah kenabian karena wafatnya, kini digenggam oleh kita sebagai umatnya.

Lanjutkan membaca Selimut Apa Lagi?

Pindai Tuhan

Di tengah masyarakat yang kehilangan nilai tentang moral dan absurd dalam keyakinan, Muhammad merasakan dorongan untuk menyendiri jauh dari kerumunan. Ia merasakan kesenangan yang ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya,[1] tetapi tentu bermula dari kegelisahan dan ketidaknyamanannya kepada realitas yang ada. Kita pun butuh menyendiri –keluar dari debat yang semakin penat dan hilangnya marka dan nilai. Semua bercampur aduk. Memaksakan diri turun gelanggang dengan persiapan ala kadarnya, menurutkan nafsu untuk sekadar melawan, kadangkala hanya membuat nilai kita ikut terdegradasi. Tak beda dengan yang dikritik, menjadi serupa dengan yang semula dianggap jahil. Kita perlu mengambil jarak sejenak untuk mengatur nafas, memurnikan lagi pikiran, dan mencari jalan ke mana cahaya itu dititipkan.

Lanjutkan membaca Pindai Tuhan

Duka Terasing

Apa yang sudah kita pelajari dari Muhammad? Pribadi yang disenangi semua orang sejak kecil, dipercayai tutur katanya, tetapi berubah menjadi musuh utama bagi para pemuka Quraisy. Ajaran monoteis bukan isu baru yang harus dilawan mereka yang menyembah berhala di sekeliling Ka’bah. Toh, mereka masih berdampingan dengan pemeluk Nasrani, Yahudi, dan orang-orang hanif. Mengakui Allah sebagai Tuhan pun bukan masalah baru karena mereka sesungguhnya percaya adanya tuhan yang memelihara alam semesta. Mereka memusuhi Muhammad karena merusak stabilitas kemewahan dunia mereka yang sudah ajeg sekian puluh tahun, merusak tatanan strata sosial yang mereka bangun di atas derita kaum papa dan lemah. Kita menjadi paham sekarang –bahwa mudah menjadi pribadi yang baik, tetapi berbahaya menjadi penyuara kebenaran. Bahwa mudah sekali bersikap afirmatif, tetapi babak belur ketika mulai menentang kezaliman.

Lanjutkan membaca Duka Terasing

Proxy Muhammad

Ajakan yang baik tak selamanya dapat diterima dengan mudah dan baik pula. Muhammad –manusia terbaik dan terpercaya itu, bahkan melalui penolakan yang tak habis-habis. Sebagian mereka menyusun skenario mendekati Abu Thalib, meminta agar kemenakannya berhenti menyebarkan tauhid yang dianggap mereka memecahbelah persatuan. Sesungguhnya bukan persatuan dan kedamaian yang terpecah-pecah dengan datangnya Muhammad, tapi kesenangan kapital dan kekuasaan yang hanya dinikmati kaum elite lah yang terancam sehingga mereka jadikan ketakutan masyarakat sebagai komoditas politik menjungkalkan da’wah Muhammad. Inikah bisikan para elite yang disampaikan secara rahasia, lobi di ruang tertutup yang mengendorkan jalan lawan. Tetapi, Muhammad tegas menjawabnya – sekiranya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, selangkahpun aku tidak akan meninggalkan jalan da’wah ini hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa dalam perjuangan itu.[1]

Lanjutkan membaca Proxy Muhammad

Memiliki Kehilangan*

Pandangan kita terhijab dari permulaan, asal-usul, kebenaran. Yang kita yakini kebaikan barangkali bukan berarti kebaikan yang sesungguhnya. Bahkan, Musa tak pernah sabar menanti keadilan Allah yang sebenarnya saat ia menuntut untuk ditunjukkan keadilan sejati pada kisah pengendara kuda, anak kecil dan seorang buta. Musa tak pula sabar ketika –dalam runutan Al Kahfi 60-82 – ia mengikuti perjalanan Khidr.[1] Apa yang kita mengerti tentang rahasia –yang Allah sendiri firmankan, boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik untukmu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu? [2]

Lanjutkan membaca Memiliki Kehilangan*