Arsip Kategori: Catatan Ramadhan

Proxy Muhammad

Ajakan yang baik tak selamanya dapat diterima dengan mudah dan baik pula. Muhammad –manusia terbaik dan terpercaya itu, bahkan melalui penolakan yang tak habis-habis. Sebagian mereka menyusun skenario mendekati Abu Thalib, meminta agar kemenakannya berhenti menyebarkan tauhid yang dianggap mereka memecahbelah persatuan. Sesungguhnya bukan persatuan dan kedamaian yang terpecah-pecah dengan datangnya Muhammad, tapi kesenangan kapital dan kekuasaan yang hanya dinikmati kaum elite lah yang terancam sehingga mereka jadikan ketakutan masyarakat sebagai komoditas politik menjungkalkan da’wah Muhammad. Inikah bisikan para elite yang disampaikan secara rahasia, lobi di ruang tertutup yang mengendorkan jalan lawan. Tetapi, Muhammad tegas menjawabnya – sekiranya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, selangkahpun aku tidak akan meninggalkan jalan da’wah ini hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa dalam perjuangan itu.[1]

Lanjutkan membaca Proxy Muhammad

Iklan

Menanam Bencana

Siapakah yang lebih sabar dari Muhammad Sang Rasul –yang ketika Jibril tak datang menyampaikan wahyu, ia diolok-olok;[1] yang ketika menyampaikan wahyuNya, ia disebut gila;[2] yang ketika menyerukan murninya tauhid, ia ditantang untuk menyegerakan azab[3]? Muhammad berhadapan dengan mereka yang bersikukuh tak sedikitpun berkeinginan menerima kebenaran.[4]

Lanjutkan membaca Menanam Bencana

Memiliki Kehilangan*

Pandangan kita terhijab dari permulaan, asal-usul, kebenaran. Yang kita yakini kebaikan barangkali bukan berarti kebaikan yang sesungguhnya. Bahkan, Musa tak pernah sabar menanti keadilan Allah yang sebenarnya saat ia menuntut untuk ditunjukkan keadilan sejati pada kisah pengendara kuda, anak kecil dan seorang buta. Musa tak pula sabar ketika –dalam runutan Al Kahfi 60-82 – ia mengikuti perjalanan Khidr.[1] Apa yang kita mengerti tentang rahasia –yang Allah sendiri firmankan, boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik untukmu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu? [2]

Lanjutkan membaca Memiliki Kehilangan*

Satu Raqib Seribu Atid

Kita terjerumus pada kehidupan yang kasat. Pada titik itu, kita merasa amat perlu untuk membentuk citra yang baik di hadapan manusia. Gerak-gerik kita diatur, tutur kata kita dijaga, moda pakaian kita ditata hingga kita berharap tak punya celah lagi untuk dikomentari dan dihakimi secara negatif. Di hadapan manusia, kita merasa tengah dikelilingi seribu Atid –malaikat pencatat amal-amal buruk. Hati menjadi kisruh karena berharap ada puja-puji yang datang berkerumun, dan bertambah kisruh ketika justru kritik yang menyela dan pengabaian yang diterima.

Lanjutkan membaca Satu Raqib Seribu Atid

Puasa di Luar Puasa

Yang paling lezat dari puasa adalah waktu berbuka. Kita menantikannya detik demi detik setiap menjelang maghrib, menghitung mundur hari-hari Ramadhan menjelang lebaran. Kita tersenyum-senyum sendiri ketika kelezatan itu memang dibenarkan sabda Rasul dalam dua kegembiraan mereka yang berpuasa: saat berbuka dan saat menemui Tuhannya. Kita selalu mematri yang pertama, kerap melupakan yang kedua.

Puasa itu –dalam substansi hakikinya –semestinya berlanjut, tak berhenti-henti sepanjang tahun dan sepanjang hayat. Puasa yang disebut Rasul untuk diucap-katakan: Innii shaa-im, aku tengah berpuasa. Aku tengah menahan diri dari segala hal yang dapat merusak hubunganku dengan Tuhan, yang dapat mengganggu asyik-masyuk-ku bercinta denganNya.

Lanjutkan membaca Puasa di Luar Puasa

Imsak Kebenaran

Apa yang kita harapkan dari Ramadhan: dunia ditata sedemikian rupa untuk kita, atau kita menata diri untuk dunia yang kita hadapi? Tak banyak, sesungguhnya, yang kita pahami dari petuah Rasul dalam riwayat yang sahih – puasa itu perisai. Kita hanya menghendaki puasa yang tenang, damai,  dan tenteram sambil menukil-nukil perkataan Rasul pada riwayat yang lain – ketika datang Ramadhan: pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Kita seringkali lupa bahwa yang membentuk perisai, tameng, hingga sebegitu tebal dan kuat adalah diri kita yang menahan hawa. Yang membelenggu setan dan melempangkan jalan kita ke depan pintu surga sepenuhnya berada dalam kuasa keinginan kita.

Lanjutkan membaca Imsak Kebenaran

Jarak Lapar dan Kenyang

Seberapa jauh jarak antara lapar dan kenyang? Jauh, amat jauh, bila yang diukur adalah jarak antara kemewahan dunia kita dengan kemiskinan, kemelaratan dan malnutrisi anak-anak di negeri miskin. Kita hanya menatapnya sekali-dua kali dari iklan layanan masyarakat di televisi. Selebihnya, kita tak pernah sungguh-sungguh mengukur panjang jaraknya. Mungkin juga tak sempat menengok ke kanan-kiri dan depan belakang untuk sekadar menyadari bahwa sesungguhnya jarak antara lapar dan kenyang tidak sebegitu jauhnya.

Lanjutkan membaca Jarak Lapar dan Kenyang