Arsip Kategori: Catatan Ramadhan

Satu Raqib Seribu Atid

Kita terjerumus pada kehidupan yang kasat. Pada titik itu, kita merasa amat perlu untuk membentuk citra yang baik di hadapan manusia. Gerak-gerik kita diatur, tutur kata kita dijaga, moda pakaian kita ditata hingga kita berharap tak punya celah lagi untuk dikomentari dan dihakimi secara negatif. Di hadapan manusia, kita merasa tengah dikelilingi seribu Atid –malaikat pencatat amal-amal buruk. Hati menjadi kisruh karena berharap ada puja-puji yang datang berkerumun, dan bertambah kisruh ketika justru kritik yang menyela dan pengabaian yang diterima.

Lanjutkan membaca Satu Raqib Seribu Atid

Iklan

Puasa di Luar Puasa

Yang paling lezat dari puasa adalah waktu berbuka. Kita menantikannya detik demi detik setiap menjelang maghrib, menghitung mundur hari-hari Ramadhan menjelang lebaran. Kita tersenyum-senyum sendiri ketika kelezatan itu memang dibenarkan sabda Rasul dalam dua kegembiraan mereka yang berpuasa: saat berbuka dan saat menemui Tuhannya. Kita selalu mematri yang pertama, kerap melupakan yang kedua.

Puasa itu –dalam substansi hakikinya –semestinya berlanjut, tak berhenti-henti sepanjang tahun dan sepanjang hayat. Puasa yang disebut Rasul untuk diucap-katakan: Innii shaa-im, aku tengah berpuasa. Aku tengah menahan diri dari segala hal yang dapat merusak hubunganku dengan Tuhan, yang dapat mengganggu asyik-masyuk-ku bercinta denganNya.

Lanjutkan membaca Puasa di Luar Puasa

Imsak Kebenaran

Apa yang kita harapkan dari Ramadhan: dunia ditata sedemikian rupa untuk kita, atau kita menata diri untuk dunia yang kita hadapi? Tak banyak, sesungguhnya, yang kita pahami dari petuah Rasul dalam riwayat yang sahih – puasa itu perisai. Kita hanya menghendaki puasa yang tenang, damai,  dan tenteram sambil menukil-nukil perkataan Rasul pada riwayat yang lain – ketika datang Ramadhan: pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Kita seringkali lupa bahwa yang membentuk perisai, tameng, hingga sebegitu tebal dan kuat adalah diri kita yang menahan hawa. Yang membelenggu setan dan melempangkan jalan kita ke depan pintu surga sepenuhnya berada dalam kuasa keinginan kita.

Lanjutkan membaca Imsak Kebenaran

Jarak Lapar dan Kenyang

Seberapa jauh jarak antara lapar dan kenyang? Jauh, amat jauh, bila yang diukur adalah jarak antara kemewahan dunia kita dengan kemiskinan, kemelaratan dan malnutrisi anak-anak di negeri miskin. Kita hanya menatapnya sekali-dua kali dari iklan layanan masyarakat di televisi. Selebihnya, kita tak pernah sungguh-sungguh mengukur panjang jaraknya. Mungkin juga tak sempat menengok ke kanan-kiri dan depan belakang untuk sekadar menyadari bahwa sesungguhnya jarak antara lapar dan kenyang tidak sebegitu jauhnya.

Lanjutkan membaca Jarak Lapar dan Kenyang