Arsip Kategori: Keping Pikir

Re-thinking: Menertawai Setya Novanto

Saking bertubi-tubinya kita tertawa, kita lupa bercermin. Jangan-jangan, Setya Novanto itu kita. Luapan tertawa kita itu, jangan-jangan juga sekadar ventilasi dari rusuhnya hati kita untuk mengakui bahwa kita juga sebenarnya melakukan hal yang serupa dengannya…

setnov
Gambar diambil dari: http://kartun.inilah.com/read/detail/2392976/setya-novanto-sakti-apa-sakit

Kalau Tuhan punya hak dan alasan untuk mengugurkan sehelai daun saja dari pohonnya, pasti Tuhan juga punya hak dan alasan mengapa ada cerita Setya Novanto dengan segenap hiruk pikuk tiang listrik dan foto sakitnya yang fenomenal. Orang boleh saja tertawa dan menertawai, membuat deretan cerita komedi, sindiran, bahkan cibiran –yang semuanya berhak dengan hak paling dasar bagi seorang manusia dan warga negara melakukannya. Tapi, boleh jadi urusan tawa menertawai itu juga bukan sekadar lintas lewat. Tuhan berharap output yang lebih heboh dari urusan meme yang di-share jutaan orang.

Lanjutkan membaca Re-thinking: Menertawai Setya Novanto

Iklan

Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

 

Apa yang membuat orang berubah? Narasi dan khutbah, atau realita di depan mata?

Taxi Driver (Korea Selatan, 2017). Gambar diambil dari http://asianwiki.com/A_Taxi_Driver

Di tengah sorak sorai film pembantaian para jenderal di tanah air, saya memutuskan jalan lain: menonton sebuah film Korea, Taxi Driver. Film yang dipilih Korea Selatan untuk mewakili negaranya di Oscar 2018 ini adalah film sejarah berbasis kisah nyata, namun dipoles secara humanis. Memang, untuk mengingatkan masa lalu yang kelam tidak melulu harus dengan menampilkan gambar yang suram dan kejam. Taxi Driver adalah contoh kekejaman sejarah yang disajikan lewat karakter karikatural. Lucu dalam keluguan orang miskin, tapi tetap setia pada “pesan berat” yang disampaikannya.

Penyiksaan dan pembantaian para pemrotes di Gwangju, 1980. Gambar diambil dari: https://www.nytimes.com/2017/08/02/world/asia/south-korea-taxi-driver-film-gwangju.html

Tahun 1980, terjadi protes besar-besaran yang diusung mahasiswa pro-demokrasi di Gwangju, Korea Selatan. Diktator militer pada saat itu, Cun Doo-Hwan, meresponsnya dengan aksi represif yang diikuti pembantaian para pemrotes. Di tengah gejolak itu, terjerumuslah dalam jurang pelik aksi protes, seorang pengemudi taksi yang tak punya ruang di kepalanya untuk membahas politik dan tetek bengeknya. Hidup baginya adalah bagaimana membesarkan anak yang ditinggal mati ibunya, mencari uang, dan melunasi hutang yang menumpuk. Itu saja. Persis seperti kebanyakan isi kepala warga yang pragmatis –bagaimana ia hidup dari hari ke hari– karena kehidupan memang memaksa mereka memikirkan hal-hal sederhana. Tak ada tempat untuk bicara politik, kecuali sedikit saja. Apalagi ikut-ikutan membahas segalanya dan mempertontonkan kecerdasan sekaligus kedunguannya di media social, surat kabar dan televisi.

Merekalah kaum kebanyakan. Sedangkan yang hingar bingar adalah arus yang dihuyung-huyung robot tukang twit. Sibuk menyuruh ikut polling sana-sini, debat ke sana kemari, perang urat saraf di dunia antah berantah, dan meninggalkan kesempitan dan kesemrawutan tetap pada tempat asalinya: jurang kemiskinan yang belum sempat mereka duduki.

Maka, si pengemudi taksi –yang hingga akhir cerita tak pernah diketahui benar siapa namanya –tak tahu apa-apa tentang Gwangju. Baginya, uang 100.000 won lebih penting sehingga ia dengan gembira hati menyerobot rejeki orang untuk mengantar seorang reporter idealis dari Jerman ke Gwangju –daerah terlarang yang dipenuhi demonstrasi sekaligus pembantaian.

Perjalanan ke Gwangju ternyata tak mudah. Bagi si pengemudi taksi, melewati hadangan tentara tak sebanding dengan harga 100.000 won, maka ia memilih undur diri. Nyawa diri dan anaknya lebih penting dari politik dan pemberontakan. Khas masyarakat kecil nan pragmatis. Hidup tak perlu berbincang tentang negara, tetapi mencukupkan diri dengan apa yang mereka tabung di lemari, masak di kuali, dan tersaji di meja makan. Selebihnya adalah persetan.

Sebagian akan menghardik mereka yang apatis itu. Negara dengan segenap isu politiknya dianggap mereka sebagai bagian hidup yang harus diperjuangkan, dimenangkan dalam debat-debat virtual di grup whatsapp, line, dan timeline facebook. Wacana dikobarkan saling bersahutan seperti tak ada waktu untuk saling mendengar, kemudian berintrospeksi. Selebihnya adalah jarak ruang dan waktu yang lebar antara wacana dan realita. Narasi yang dilontarkan dalam debat menjadi kosong karena tak dikebumikan pada realita. Meninggalkan mereka yang benar-benar hidup dalam perjuangannya di lorong-lorong pasar sebagai tempelan di sana-sini dalam statistik dan kampanye. Gap-nya terlalu lebar.

Mereka sibuk bersorak sendiri. Yang apatis pun sibuk tak punya daya untuk mendengarkan. Apa yang membuat segalanya berubah?

Realita yang dihadapkan di depan mata. Si pengemudi taksi menemukan sisi altruism dalam dirinya ketika ia sendiri yang merasakan betapa getirnya diberondong tembakan dan pukulan para tentara. Dan bukan begitu saja terjadi. Ada timbal balik mutualisme yang humanis. Ia menolong para pemrotes atau pemberontak dan mengantarkan sang reporter mengambil gambar di area berbahaya. Sebaliknya, keluarga kecil –kakak beradik dan kawan-kawannya, memahami benar apa kebutuhan naluriah si pengemudi: bertemu dengan anaknya, menepati janjinya pulang dan mengajaknya berjalan-jalan, serta melunasi hutang-hutangnya.

Pengemudi taksi dan anak semata wayangnya di rumah kontrakan yang masih hutang sewa. Gambar diambil dari https://forums.soompi.com/en/topic/405851-movie-2017-a-taxi-driver-%ED%83%9D%EC%8B%9C-%EC%9A%B4%EC%A0%84%EC%82%AC-receives-12-million-admission-speeding-ticket/?page=3

Hubungan humanistik ini yang diperlukan ketika merawat negara dan tidak meninggalkan kesibukan masing-masing untuk berlari sekencang mungkin demi elektabilitasnya semata. Pahlawan tidak muncul dari ruang hampa. Ruang-ruang kosong yang menjadi kebutuhan riil warga negara perlu diisi dengan hubungan yang hangat, kebijakan yang –tidak hanya populis, tapi menentramkan dalam arti sesungguhnya. Citra para pengelola negara tak perlu dioles lipstik sedemikian rupa sehingga harus dibentur-benturkan secara tidak perlu dan menjadi gagasan ulang tentang betapa hebatnya jika bila saling mengajukan diri menjadi yang terhebat dan mengenggelamkan pamor yang lain. Polah buruk yang kini bukan saja dilakukan dalam ranah politik, tapi diadopsi secara culas untuk saling mendebat landasan cara beragama dan beribadah antara satu ustadz dengan ustadz lain.

Si pengemudi taksi punya kesempatan kembali ke kehidupannya yang tenang tanpa gejolak politik –namun terhimpit hutang, tapi ia menemukan altruismenya untuk balik kembali ke Gwangju. Reporter Jerman diselamatkannya dengan keberanian yang ditemukannya tiba-tiba dari pengalaman singkat yang didapatkannya. Ia kembali ke Seoul, dan tak ada yang tahu menjadi apa ia kemudian. Tetap menjadi pengemudi taksi, pelayan restoran, montir bengkel, tukang sapu jalanan, pegawai sukses, atau malah mati kesepian di belantara hutang-hutangnya.

Apapun itu, setelah 37 tahun berlalu, ia didapuk menjadi pahlawan tanpa nama. Ia disemayamkan secara teatrikal dalam film yang akan dikenang banyak orang di jaman setelahnya. Membuat orang berpikir ulang tentang kepahlawanan yang sunyi: berasal dari hati. Tak perlu menonjolkan diri dan sibuk mencaci, juga mendengki.

Adalah sang reporter Jerman, Jurgen Hinzpeter, yang mengingatkan kepahlawanan pengemudi taksi kembali sebelum ia meninggal di tahun 2016.  Keberhasilannya merekam gambar kekejaman rezim dictator Korea Selatan di Gwangju tak lepas dari keluguan yang bercampur keberanian penegmudi taksi -yang tak pernah ia tanyakan namanya.

Monumen kecil didirikan di Gwangju untuk mengenang reporter Jerman, Jurgen Hinzpeter. Gambar diambil dari https://www.nytimes.com/2017/08/02/world/asia/south-korea-taxi-driver-film-gwangju.html

Saya kembali duduk untuk bertanya: apa yang membuat orang berubah? Bukan narasi semacam tulisan ini, tentu. Tapi hati yang tersentuh –yang seringkali baru dapat diraba rasakan dengan realita yang ditemukannya sendiri. Bukan wacana kosong dalam debat-debat yang juga –seringkali– kosong. Berputar-putar untuk meninggikan ego, dan membiarkan masalah tak beranjak dari ruang ketersendiriannya.

Rotterdam, Muharram 1439

Wajib Belajar, Belajar Apa?

Meminta liburan dari sekolah bukan hal mudah di Belanda. Kami harus berkonsultasi dulu dengan guru kelas Birru, menuliskan form permohonan ijin dari sekolah, ditandatangani oleh kepala sekolah, lalu dikirimkan ke pemerintah lewat Gementee (semacam kantor Walikota) untuk mendapat persetujuan. “Umurnya belum lima tahun,” kata Kepala Sekolah, “Jadi dia masih bebas meminta liburan.” Beda urusannya jika usianya sudah menginjak lima tahun. Anak saya itu, juga akan jadi “Anak Negara”.

Lanjutkan membaca Wajib Belajar, Belajar Apa?

Penelitian Menuju Tuhan

Beberapa mahasiswa –untuk tidak menyebutnya terlalu banyak – seringkali risau jika dalam penelitian mereka tidak menemukan hubungan atau perbedaan yang bermakna antara variabel yang diteliti. Nilai signifikansinya (p) kurang dari 0,05, begitu sebut mereka dengan kisruh. Dosen pembimbingnya pun sama risaunya karena yang ada di kepala saat itu adalah semestinya hipotesis mereka terbukti, sesuai denganlandasan teori, menyokong kerangka dasar ilmiah yang sudah ada. Hanya sedikit yang saya temukan tetap bergembira meskipun hasil penelitiannya tidak sesuai dengan hasil studi lain yang mainstream.

Lanjutkan membaca Penelitian Menuju Tuhan

Politik Para Dokter

Sebuah film berbahasa Denmark, “En Kongelig Affaere (A Royal Affair)”, membuat saya menelusuri lagi liku politik para dokter. Johan Friedrich Struensee (1737-1772), seorang dokter Jerman, ditunjuk menjadi dokter kerajaan bagi Raja Christian VII Denmark yang memiliki masalah mental. Dengan trik politiknya, ia berhasil menjadi raja ‘de facto’ dengan menggiring opini raja menjadi kebijakan krusial yang mendukung ide Enlightenment-nya yang dipengaruhi pemikiran Jean-Jacques Rousseau. Manuver politiknya berhasil mematahkan dominasi para bangsawan di sekitar raja yang kebijakannya mencekik rakyat dan hanya menguntungkan kaum bangsawan.

Lanjutkan membaca Politik Para Dokter

Menuju ‘Smoke-Free’ Tahlilan

Di tahun 1990-an, saya menikmati fenomena rokok di rangkaian acara pernikahan. Saya masih kecil waktu itu, dan selalu bertanya-tanya mengapa ada rokok yang diselipkan di amplop undangan pernikahan. Jangan bayangkan undangan pernikahan yang mewah, tebal, wangi, dan dibubuhi tempat bonafid sebagai lokasi resepsi. Jangan! Undangannya sederhana, dibungkus amplop plastik transparan, dan menggembung jika tujuan penerimanya adalah para lelaki. Ya, menggembung karena di dalamnya ada satu-dua batang rokok yang diselipkan.

Dari undangan itu anda akan tahu seberapa royal dan seberapa tinggi derajat ekonomi si pengundang. Anda dapat dengan mudah membedakan antara pengundang yang menyelipkan rokok kretek dengan mereka yang menyelipkan rokok filter. Dengan begitu, anda juga bisa mulai mengira-ngira seberapa megah makanan yang disajikan nanti saat resepsi. Ya, meskipun tidak mutlak, korelasinya cukup kuat.

Lanjutkan membaca Menuju ‘Smoke-Free’ Tahlilan

Suntik Menyuntik Menjadi Satu

Tapi, kebanyakan orang kemudian merasa malu kalau terkena tuberkulosis. Minder. Bahkan, kalaupun Puskesmas-nya ada di seberang rumah, ada saja yang memilih jalan memutar, mengendap-endap, melewati aral melintang, ribuan onak dan duri, demi tidak ketahuan oleh tetangga. Ya, masyarakat kita masih menganggap tuberkulosis sebagai penyakit memalukan, layak dijauhi, tidak perlu diterima di tempat kerja, kalau perlu dikeluarkan, atau jangan pernah dikasih beasiswa. Pfiuh…

Lanjutkan membaca Suntik Menyuntik Menjadi Satu

Dokter Mencukur Dokter

top-collection-jadul

Salah satu kemewahan Indonesia yang tidak dapat dinikmati di Belanda adalah cukur rambut murah. Ketika rambut saya panjang, mulailah saya merindukan tukang pangkas rambut di ujung gang yang jadwalnya padat minta ampun. Saking padatnya, pelanggan tidak berhenti datang, kecuali dipaksa pulang karena si pencukur memasang plang “Tutup” setiap istirahat makan dan sholat. Kendaraan pelanggan juga sering memerkosa hak mobil yang mau melintas keluar atau masuk. Saya tak tahu mengapa sebegitu larisnya si pemangkas, padahal tak jauh dari situ ada pangkas rambut yang lebih adem dengan AC-nya yang menyala pol, cermin yang lebih bersih dan lebar, serta tivi yang berwarna-warni. Tapi, biarlah kita simpulkan sejenak bahwa pelanggan cukur kelas menengah-ke-bawah memang lebih suka tukang cukur dengan (a) sepoi kipas angin yang sekrupnya longgar sehingga bunyi kletek-kletek, (b) televisi hitam putih dengan gambar bergoyang-goyang dan lebih banyak semutnya, (c) tempelan poster model cukur rambut jaman dulu, serta –yang paling penting (d) pisau cukur silet yang hampir tidak pernah diganti, kecuali terlihat jelas karatnya.

Suatu hari istri saya memberi kabar dari sebuah grup facebook, dan langsung saya setujui usulnya: menjadi model cukur rambut. Yang mencukur kepala saya adalah mereka yang sedang belajar memangkas rambut. Semacam koas –jika di kedokteran. Saya pun menjadi kepala percobaan dengan alasan paling fundamental: GRATISAN. Ya, dengan begitu saya bisa menghemat 9-23 Euro hanya untuk pangkas rambut –bergantung style apa yang yang saya pilih. Tak apalah. Dari dulu saya sudah terbiasa jadi percobaan. Tambal gigi dan perawatan saluran akar pun saya lakukan di bawah koas dokter gigi dan residen spesialis gigi walaupun pada akhirnya saya kapok. Si dokter gigi yang sedang berjuang mendapatkan gelarnya itu mungkin lelah membuat tugas, atau habis dimarahi dosennya, atau habis berantem dengan pacarnya, atau mobilnya habis disenggol sepeda motor, atau… atau apalah, yang membuat dia terkantuk-kantuk saat merawat akar gigi saya. Dan, saat dia tersadar, dia buru-buru memanggil seniornya, lalu dosen pengawasnya. Bisik-bisik saya dengar, “Yah, iya.. berdarah. Darah ini.”Aih, mateek. Gigi saya gagal dirawat dan dengan berat hati saya harus melepasnya untuk selama-lamanya: dicabut dengan tang besar yang didahului drama kumbara, si mahkota gigi patah saat ditarik dan akhirnya diinsisi yang berakibat pipi saya bengkak dan nyeri, plus konsumsi bubur satu pekan lamanya.

prijzen_cosmo_hairstyling

Hari itu saya senang campur deg-degan. Takut hasil cukuran rambut saya gagal. Kalau gigi, tak ada orang yang lihat. Kalau rambutmu salah dipotong, kau bisa di-bully tujuh hari, 40 hari, atau seratus hari. Kecemasan itu berlipat-lipat setelah model di samping saya kena salah cukur. Saya diam-diam menengok ke kaca berkali-kali. Untunglah, dua setengah jam saya dicukur! Saya merasakan betapa tangan si pencukur masih gagap memegang sisir, masih gemetaran, takut memotong terlalu banyak, dan seringkali berhenti untuk meminta gurunya mengecek. Ya, barangkali dulu saya juga begitu waktu koas. Daripada suntuk, saya pun mengingat-ingat bagaimana saya membantu persalinan pertama kali di rumah sakit, mengkhitan anak orang pertama kali bagi saya dan sekali seumur hidupnya bagi si anak malang itu, dan menyuntik antibiotik intravena pertama kali. Mengingat itu semua berhasil membuat saya merasa rileks. Apa yang saya lakukan di sekolah cukur ini tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan pasien-pasien di rumah sakit yang rela menjadi bagian pembelajaran bagi para calon dokter.

Dua kali saya dihubungi. Kali kedua, si ketua kelas mengontak saya malam-malam ketika saya sudah lelap tertidur. “Hi, mate. One of my models cancelled. Will you come tomorrow at 10?” Saya meminta afirmasi anak-istri, lalu berangkat dengan syarat kepada si ketua kelas, “Ok. But I expect it will finish at 12.” Deal, dan saya berangkat. Semua disiapkan, termasuk gurunya pun tahu bahwa saya tak mau di-treat lebih dari dua jam. Sok sibuk. Tapi, si pencukur rutin saya itu datang terlambat. Dia akan datang sekitar 15 menit lagi, katanya. Oke, saya menunggu sambil meminum kopi yang ditawarkan dan mengamati sekolah cukur ini lebih rinci.

Tidak ada pisau silet karatan. Mereka menyiapkan sterilisator yang membuat saya serasa mau dioperasi kecil setiap kali mau dicukur. Tiga wastafel bersih terpasang di pojok yang membuat mereka wajib mencuci tangan sebelum makan, eh sebelum mencukur. Lebih bagus dari klinik saya, apalagi Puskesmas di seberang rumah. Kalau di barbershop biasa saya menghadap cermin, di sini saya membelakangi cermin. Barangkali supaya saya tidak jadi cemas atau depresi, lalu mencari-cari psikiater sehabis melihat si mahasiswa cukur itu bekerja. Saya duduk bersama delapan model lainnya. Jangan bayangkan mahasiswa cukurnya adalah anak baru gede, apalagi dengan bahasa Sunda logat Garut. Sekolah itu seperti mensyaratkan mahasiswanya memiliki janggut lebat sesuai nama sekolahnya: Old School. Ada dua perempuan yang sudah tidak lagi muda, bahkan boleh dibilang sudah ibu-ibu. Salah satu perempuan itulah yang bertugas mencukur saya.

Dia datang menyapa saya, mengucapkan maaf karena terlambat. Pesawatnya di Amsterdam tidak disodori garbarata –pintu belalai yang menghubungkan pesawat dan gedung tunggu penumpang, sehingga waktunya molor hingga 15 menit. Dia tinggal di Swiss, dan setiap pekan datang ke Rotterdam untuk belajar cukur rambut. Luarr biasa! Itu semacam mengikuti dogma, “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Rotterdam.”

I am doing research for my doctor,” katanya. Saya melongo. Ente dokter?  “Something assessing the influence of milk on stomach,” lanjutnya sambil berusaha mengawamkan istilah kedokteran ke saya.

Yes, I am a medical doctor. Gastroenterologist.” Weew. Kali ini saya ternganga. Kok sudah dokter spesialis justru belajar jadi tukang cukur? Di negara saya, tukang cukur itu tugasnya bertafakkur, kenapa dia kok punya nasib tak seindah jadi dokter. Di sini kok terbalik dokter kepingin jadi tukang cukur?

I feel enough with my patients. I want to open my own barbershop. So, 50% I still practice for my patients, and the rest for my barber business.” Banyak yang berkelebat di kepala saya. Apa ini yang disebut dengan qona’ah; merasa cukup, feel enough? Atau memang jadi dokter di negara semacam Swiss itu gajinya ya biasa-biasa saja dengan beban kerja luar biasa? Atau, mungkin Swiss itu sedang menerapkan sistem semacam JKN dan BPJS Kesehatan yang banyak dikutuk seantero jagad itu –bahkan, lebih buruk?

income

Saya pun mencari data supaya terlihat seperti dosen beneran yang tidak suka hoax dan tukang tuduh. Biasalah ya, sebaran data tidak normal. Ada yang kayaaa, ada yang biasa-biasa saja. Kalau jadi dokter, miskin sih tidak. Kalau jadi residen tingkat awal, baru deh miskinnya dobel. Miskin harta dan fakir tenaga. Mediannya ternyata di CHF 120,952. Dengan sedikit utak-atik Google, gaji sebesar itu kira-kira Rp 1,6 M. Jika dibagi 12, maka sebulannya sekitar Rp 130 juta. Dipotong pajak yang minta ampun besarnya di negara supermakmur ini, maka yang dibawa pulang untuk anak-istri dan handai taulan sekitar Rp 90 juta. Jangan bayangkan nilai itu di Indonesia. Di Swiss yang semua harga terasa mahal, penghasilan segitu ya biasa saja. Di negara saya bahkan si tukang cukur saya bisa mendapat penghasilan lebih besar, apalagi kalau praktek pakai Bahasa Inggris. Dijamin pasiennya membludak, ber-mersi-mersi. Dan, ikutan pakai bahasa Inggris dong.

Tapi ya, enough is enough. Saya tidak berani bertanya lebih lanjut masalah duit-duitan ini. Tapi, dengan kalkulasi sederhana menghitung biaya bolak-balik Basel-Rotterdam yang memakan 200 Euro bolak balik, dua pekan sekali selama setahun, ditambah biasa sekolah 5500 Euro, tentu sudah diperhitungkan investasinya dengan pendapatan sekitar 40-50 CHF (sekitar Rp 650 ribu) per sekali cukur. Mungkin kesimpulannya: Membuka Usaha Cukur Rambut di Swiss lebih menguntungkan dan menyegarkan dibandingkan menjadi Dokter.

Ya, jadi dokter itu melelahkan memang. Bayangkan jika ketika datang ke klinik atau rumah sakit, pasien sudah mengantre hingga puluhan, bahkan ratusan. Jika pasien dapat bernasib harus mengantre sampai jam 11 malam, si dokter bukan hanya menunggu, tetapi juga mengobrol, berpikir, memeriksa, dan (jangan lupa) meninggalkan anak-istri-suami mereka di rumah tanpa mereka. Lelah. Dan, jauh lebih melelahkan ketika mereka harus berhadapan dengan antrean peserta BPJS Kesehatan. Teori ekonomi kesehatan di kepala saya bisa saja bilang, “Kita harus mulai upaya rationing.” Tapi, rationing di negara semacam Indonesia adalah berarti mengundang wartawan dan politisi untuk foto-foto keesokan harinya untuk bilang, “Kesehatan itu milik rakyat, bukan diindustrialisasi.” Rakyat digenggam tangannya supaya politisi bisa naik podium politik lebih tinggi. Begitupun saat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diluncurkan di masa-masa akhir sebuah kepresidenan.  Janji politik mau tak mau ditunaikan tanpa peduli lagi seberapa besar fiscal space yang bersisa. Akhirnya, biaya kesehatan yang sesungguhnya meningkat harus dikerangkeng dengan cara yang paling mudah: menekan biaya sumber daya manusia dalam arti paling harfiah, bukan lagi human resources efficiency.

Begini flow-nya.

Kesehatan itu adalah hak warga negara –> harus disediakan –> duit negara sedang cekak, fiscal space mefeet –> tapi, tidak mungkin memotong benefit package¸itu melanggar hak asasi dan undang-undang yang terhormat dan tak boleh digugat –> yang harus ditekan adalah: biaya –> tarif InaCBGs di-‘revisi’ –> RS bingung karena masih bayar tenaga dengan fee-for-service, belum move on –> jasa per layanan ditekan –> gaji dokter tertekan –> protes ke BPJS dan Kemkes –> kafilah tetap berlalu….

Saya membuka-buka telepon seluler, mengecek betapa hangatnya pembicaraan tentang isu wajib kerja dokter spesialis. Negara sekali lagi gagap ketika mendapati sebaran dokter masih juga tidak merata. Sesuatu yang sesungguhnya sudah dibuat kajiannya bertahun-tahun lalu dan sudah semestinya menelurkan blue print yang lebih ajeg dan tidak sporadis. Saya hanya mengingat kutipan Einstein tentang doing the same thing over and over again, but expecting different result. Entah insanity ini akan bergerak ke kutub positif atau negatif.

Tapi, untunglah. Belum ada satupun kawan saya yang dokter memutuskan untuk jadi tukang cukur.

Rotterdam, Februari 2017

La La Lan… Jalan Menuju Tuhan

2011_2013

Kami berboncengan motor ketika istri saya –yang duduk menyamping di belakang dengan rok panjangnya memutuskan untuk ikut ke Hotel Borobudur. Itu kali kesekian saya melamar beasiswa untuk mengambil program master setelah berkali-kali aplikasi saya ke beberapa penyandang beasiswa ditolak. Dua kali Stuned, dua kali NFP, satu kali World Bank, dua aplikasi ke Open Society Foundation, dan satu kali Dikti. Begitulah memang nasib lelaki yang sebenarnya tak punya prestasi ini, tapi berkepala batu untuk sekolah ke luar negeri. Ah, bukan keluar negeri, tetapi ke Belanda. Hanya Belanda –yang entah mengapa sudah terpenjara di alam bawah sadar sejak saya SMA. Berkali-kali orang bertanya, “Kenapa bukan ke Amerika?” Tak tahu, sebenarnya, tetapi saya mencoba mencari-cari alasan sebanyak-banyaknya. Yang saya ingat, saya pernah menulis satu puisi semasa SMA, “Kekasih dari Belanda.”

Dan kekasih itu –yang saya temukan sebagai jawaban dari doa-doa saya semasa di Belanda, duduk di samping saya. Menasihati kecil untuk tenang sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit. Saya berkali-kali melihat perutnya. Jika beasiswa saya diterima, saya meninggalkan istri saya melahirkan sendiri di Jakarta.

Momen itu kembali saya ingat ketika saya dan istri menonton Sebastian dan Mia di ‘La La Land’ –film yang membuat saya teringat banyak hal yang sejatinya tidak mungkin saya lupakan. Kebanyakan tentang mimpi yang ditunggu-tunggu kapan datangnya, sebagian lagi adalah pergolakan –yang justru datang ketika mimpi itu sudah di depan mata. Kegagalan Mia tentu lebih banyak, tapi dukungan istri saya juga lebih banyak daripada Sebastian kepada Mia.

Nama saya dipanggil untuk bersiap-siap masuk wawancara. Pintu berukir di ruangan hotel dari kayu itu nampak begitu besar. Jauh lebih besar dari pintu ruangan tempat wawancara sebelumnya di hotel berbintang dua atau tiga di Raden Saleh. Saya gemetar. Saya tahu ada campuran khawatir tak diterima lagi, juga was-was jika kemudian diterima. Sampai kemudian nama saya dipanggil, istri saya melepas tangannya dari genggaman saya. “Adek shalat dhuha dulu,” katanya sambil melepas dan mengelus pundak saya.

“Ahmad Fuady. Meja 4.” Suaranya menyalak. Mungkin belum sempat ambil break karena sibuk mengatur ratusan pelamar yang berjejalan di luar.

Saya tidak sibuk mencari karena meja 4 tepat sejurus lurus dari pintu masuk. Meja kotak dengan taplak warna hijau dan putih. Dua lelaki duduk di sana, sibuk mencari-cari dokumen sambil berbincang kecil. Perawakan yang satu lebih besar dari yang lainnya. Rambut yang satu pun lebih lebat dari lelaki sebelahnya yang mulai membotak. Saya maju, berharap bisa duduk di kursi dengan tenang. Dan, sebelum benar-benar duduk sempurna di kursi, mata kami beradu.

“Ah, Ahmad Fuady? Sudah diurus dokumennya yang saya suruh kemarin?” Tanya lelaki yang perawakannya lebih besar itu sambil tertawa.

“Alhamdulillah, sudah.”

“Nah, begitu. Sudah siap sekolah? Ada yang mau ditanya?”

Tidak ada wawancara sama sekali. Dua orang yang duduk di depan saya adalah dua orang yang sama persis ketika mewawancarai saya sekitar dua bulan sebelumnya. Mereka sudah tahu saya, sudah berbincang lebar di kesempatan lalu. Studi saya, alasan saya, rencana masa depan, termasuk keluarga saya, semua sudah habis ditanya. Hanya satu yang membatalkan keputusan beasiswa saat itu: status kepegawaian. Maka, bisik mereka baik-baik, “Ada bukaan beasiswa unggulan, kira-kira dua minggu lagi. Kamu masukkan saja lagi ke situ. Mudah-mudahan bisa lewat situ.”

Sip, kata mereka. Saya dipersilakan keluar. Tak lama kemudian, istri saya terkaget-kaget karena mendapati saya sudah duduk di luar ruangan lagi. Saya memegang tangannya erat-erat. Menyadari banyak hal yang berkeliaran di luar kalkulasi manusia.

Ketika banyak yang bertanya , “Apa resep lolos beasiswa?” saya tidak punya jawaban yang lebih baik, kecuali restu dari orang-orang yang dicintai. Orangtua yang bersedia rela hati melepas, juga pasangan –yang semuanya tak berhenti berdoa untuk kebaikan kita. Selebihnya, urusan teknis administrasi. Kecerdasan, keluasan pengetahuan, dan terangnya rencana masa depan memang penting, tetapi bisa jadi bukan faktor yang paling menentukan. Apalagi kesombongan. Jangan sekali-kali kesombongan itu tampak dalam tulisan aplikasi dan wawancara.

baru-lahir

Saya tahu –seperti Sebastian memberi tahu Ema: ketika kamu sudah berhasil menggapainya, kamu akan bersiap mengorbankan semuanya. Birru lahir, dan saya hanya bisa melihatnya dari layar komputer, menitipkan adzan ke telinganya dari jauh. Berat, memang. Tapi, saya mengerti bahwa beban istri saya jauh lebih berat. Tidak ada janji yang lebih kuat saat itu, kecuali mendampinginya di kala persalinan berikutnya -jika Allah kehendaki.

Menunggu Birru berusia 40 hari juga bukan hal yang mudah, meski setelahnya saya akhirnya pulang ke Jakarta dan menggendongnya untuk kali pertama. Kami membawanya tiga bulan ke Belanda, meredakan rindu yang tertahan sekian lama. Melepasnya kembali ke Jakarta setelah tiga bulan –masa maksimal kunjungan yang diperkenankan, adalah mula kerinduan berikutnya. Saya tak ingin kehilangan banyak waktu tumbuh kembangnya. Anggaplah itu dorongan yang kemudian membuat saya lulus dua bulan lebih cepat dari jadwal semestinya.

Sebelum kembali ke Jakarta, saya meletakkan mimpi lagi. Mencari professor yang bersedia mengawasi studi doktoral saya. Sekali berjumpa, saya tawarkan proposal kecil dan beliau menerimanya.

birru-buya-ibu

Birru tumbuh membesar. Dan mimpi itu harus berbagi ruang lebih lebar dengan keluarga yang juga tak lagi hanya saya dan istri. Ada Birru yang sekarang harus juga dimasukkan dalam beragam pertimbangan. Saya mungkin lupa tentang jawaban dari segala impian yang lalu. Kembali mengajukan aplikasi beasiswa –kali ini untuk S3, dan kembali melalui banyak penolakan. Mulai dari status kepegawaian, keharusan berbakti pada institusi, hilangnya skema pendanaan beasiswa unggulan, dan error-nya koneksi internet. Saya mengubah haluan ke LPDP yang tengah naik daun. Dua kali seleksi administrasi saya gagal sampai akhirnya masa berlaku sertifikasi IELTS saya hangus dan harus mengambil ujian dengan persiapan pas-pasan karena deadline yang mepet. Dalam hal ini, “Yang penting lolos” adalah azimat sakti penawar kecewa.

Istri saya di ambang kelulusan spesialisnya. Maka, saya meminta professor untuk membuat ulang letter of acceptance (LoA) agar pas waktunya. Pas ketika istri saya sudah selesai dengan badai tesis dan ujian board-nya, dan pas dengan tenggat masa antara seleksi dan mulai sekolah yang disyaratkan LPDP.  Alhamdulillah, professor saya baik hati meskipun saya dua kali meminta pengunduran jadwal mulai program.

Kali itu, istri saya tidak mendampingi lagi. Hari kerja –dan rumah sakit yang sibuk dengan bermacam-macam akreditasi itu masih menunggu jerihnya. Pantang pulang sebelum rekam medis lengkap, kata Sang Rumah Sakit. Birru saya antar ke sekolah sebelum saya mencari-cari gedung wawancara di kampus UNJ yang jaraknya selemparan batu dari rumah. Berkah –karena tempat wawancara yang diubah dari semula di kampus STAN yang membayangkan jaraknya dan kemacetannya saja saya tidak sanggup.

Ada ribuan orang, barangkali. Saya hanya mengenal beberapa –dan yang saya kenal itu kebanyakan adik-adik kelas sendiri. Saya tahu saya tak berbekal apapun. Sebenarnya bertebaran banyak pengalaman penerima beasiswa yang lalu di dunia maya tentang proses seleksi, tapi saya tidak mengulik sedikit pun. Apa itu leaderless group discussion (LGD) pun baru saya dengar beberapa menit sebelum masuk ruangan. Saya tidak tahu apa yang dinilai. Orang lain mungkin bisa berhipotesis, menerangkan banyak hal bahwa harusnya begini dan begitu. Saya hanya berusaha mengingat istri saya dan Birru, juga Mami dan Ayah.

Dan, nama saya pun tertera di monitor yang berarti saya harus bersiap diwawancara. Kali ini mejanya sulit saya temukan karena ada banyak meja yang tersebar. Satu orang menunjukkan meja saya dengan tiga orang pewawancara. Mereka memperkenalkan diri. Dua guru besar, satu psikolog. Hanya ada dua pertanyaan.

Pertama, “Kamu dulu sekolah di Belanda, dan sekarang ke Belanda lagi?” Saya mengiyakan.

Kedua, “Sudah PNS?” Saya menggeleng. Masih CPNS. Lalu mulailah wejangan. “Urus prajab secepatnya.”

Selesai. Dua guru besar itu selesai. Saya tak tahu itu pertanda baik atau buruk. Bola dialihkan ke psikolog yang tertawa-tawa, kemudian bertanya ke sana ke mari dengan bahasa Inggris. Selesai. Saya dipersilakan pulang. Belum seberapa jauh, saya mendengar mereka berbincang, “Cepat nih, cuma 22 menit.” Dan saya masih tidak tahu, itu pertanda baik atau buruk.

horray

Sampai akhirnya tiga minggu setelah itu, sebuah surel masuk. Saya tersenyum.

Kalau Anda berharap akhir ceritanya ini mirip Sebastian dan Mia yang berpisah, kami tidak berpisah. Dan jangan berharap demikian. Kami berkumpul lagi di sini, menyusun puzzle-puzzle mimpi yang entah kapan terasa lengkap. Karena bagi kami, belajar bukanlah pencapaian. Ini adalah jalan. Jalan menuju Tuhan.

Rotterdam, Januari 2017

Jebakan Dunia, Skala Akhirat

terjebak-di-masa-lalu

Suatu saat di awal tahun, saya satu mobil dengan seorang kepala sekolah sebuah madrasah. Beliau yang tumbuh besar di lingkungan Muhammadiyah –dan menyebut dirinya sendiri sebagai orang Muhammadiyah, itu terjebak menjadi kepala sekolah di madrasah Nahdhatul Ulama (NU). Merasa yakin bahwa saya orang NU, atau setidak-tidaknya memiliki pemahaman tentang NU lebih banyak daripada dirinya, tumpahlah kebingungannya di dalam mobil saya sepanjang jalan. “Aku disuruh ngajari Ta’lim Muta’allim,” katanya. Bukan tidak bisa, tapi ia heran baru kali itu ia menemukan kitab yang memberikan penghormatan kepada guru sebegitu tingginya, bahkan berlebihan. Banyak keanehan, menurutnya. Tapi, ya akhirnya tetap harus diajarkan dengan modifikasi dan pemahaman kontekstual masa kini.

Sudah menjadi wahyu yang diyakini bahwa ilmu itu berkembang. Tidak jumud. Apa yang dipelajari dari referensi klasik mungkin perlu penyesuaian –dan tidak ada yang haram dengan penyesuaian. Jangankan melewati zaman, melintasi teritorial yang berbeda sudah manusia sudah menemukan konteks budaya dan keadabannya yang berbeda. Maka, pemahaman terhadap nilai sosial dan budaya menjadi penting. Apa yang terjadi di zaman ini, ketika ruang interaksi tidak lagi berbatas, juga harus menemukan penyesuaian-penyesuaian yang tepat. Itu yang membuat keluar dari jebakan-jebakan yang secara rahasia memang disediakan Tuhan untuk kita pilih sendiri.

Keterjebakan itu bisa saja terjadi di organisasi, kantor, atau pengajian. Idealisme tertentu harus mendapati aturan yang bukan saja berbeda, tetapi juga bertentangan. Bahkan, boleh jadi ada yang keluar dari satu masjid atau pengajian karena merasa terjebak pada situasi ajaran tata runutan ibadah yang berbeda. Sehingga satu saat ada seseorang yang bertanya, “Pengajian ini menjamur sedemikian banyak, lalu bagaimana memilihnya agar tidak terjebak pada pengajian yang salah?”

Memangnya ada pengajian yang salah, yang keliru? Barangkali ada –dan itu yang dulu membuat orang tua saya khawatir karena seringnya mereka mendapati saya keluar masuk riungan anak-anak tarbiyah, hizbut tahrir, salafi, jamaah tabligh, atau sekadar duduk-duduk bersama mahasiswa NU, Muhammadiyah atau HMI itu. Dan itu juga yang menerbitkan perasaan was-was orangtua mahasiswa ketika mendapati surat kabar sibuk memberitakan Jamaah Islamiyah dan NII sehingga aktivitas keislaman sempat dicurigai. Tidak ada yang salah dengan keragaman corak itu. Toh, semua orang memiliki latar belakang yang membentuk afinitas dan kesukaannya masing-masing. Tapi, ketika ada keakuan yang ditonjolkan sehingga mengkerdilkan kelompok lain –yang bentuknya himpunan, pengajian, jamaah, atau organisasi, maka perlu mengambil jarak yang tepat. Supaya keterjabakan itu tidak menjadi-jadi.

Dan, jebakan itu banyak sekali jumlahnya. Ribuan, jutaan, bahkan milyaran. Kita bergerak dari satu takdir, terjebak kepada takdir yang lain. Bukan Tuhan yang sebegitu repotnya memencet tombol takdir A, B, C atau Z buat kita setiap detik, tapi kita sendiri yang secara sadar memilih algoritmanya. Ada sunnatullah –aturan Tuhan yang sering kita abaikan dengan terminologi sebab-akibat, yang memang akan berjalan dengan sendirinya. Tidak makan, maka lapar. Tidak belajar, maka gagal. Kerja sebagai pegawai, maka digaji. Banyak belanja, maka keluar uang banyak. Mengemudi sembarangan, maka celaka. Hidup sembarangan, maka sakit. Salah memilih pemimpin, maka sengsara. Semua itu sunnatullah yang bisa dirunut detailnya baik secara hipotetikal maupun sudah tersedia bukti ilmiahnya.

Bahkan, ketika kita bergerak dari mumayyiz ke baligh, kita terjebak pada taklif –keterbebanan tanggung jawab sehingga kita merasa perlu untuk memilih jalan: yang sukar lagi mendaki, atau menurun lagi lempang dan membuai. Tapi, toh, Tuhan memberikan bekal yang cukup: dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. ‘Ainain, wa lisaana, wa syafatain. DiberikanNya mata untuk melihat sekian milyar fakta untuk disusun dan dianalisis, lalu disimpulkan. Ada proses ilmiah di dalamnya –yang tidak melulu harus diartikan sebagai penelitian yang menawarkan kebaruan, novelty.

Keterjebakan itu adalah input yang secara sensorik ditangkap oleh penglihatan –yang berarti juga pendengaran dan pemikiran. Diformulasikan dalam hipotesis : kalau begini, apakah akan jadi begitu? Maka, proses ketakwaan adalah proses yang ilmiah seperti yang Ubay bin Kaab katakan kepada Umar bin Khattab, “Apa yang engkau lakukan  ketika menempuh jalan yang berduri?” Berhati-hati, berusaha keras dan bersungguh-sungguh agar tak menginjak duri, kata Umar. Ada respons terhadap pengetahuan, apa yang ditangkap oleh indera, dianalisis dan diformulasikan menjadi sikap dan perilaku. Itu takwa –yang tidak kemudian dikungkung pada definisi klasikal, ‘mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi laranganNya’.

Dalam keterjebakan di dunia ini, Tuhan juga membekali  lidah dan mulut. Lidah itu kemampuan manusia untuk mengartikulasikan kebenaran, menyampaikan yang ma’ruf dan menahan yang munkar. Mulut itu kemampuan menerka konteks, kapan ia terbuka dan kapan ia harus tertutup. Ada banyak hal yang benar, tetapi tidak baik. Dan ada banyak hal baik, tetapi tidak benar. Maka kemampuan buka-tutup itu juga dibekali Tuhan untuk meraba-rasakan lingkungan.

Misalkan saja, kita merasa terjebak pula pada kepemimpinan negara yang kolutif dan tidak berkeadilan, akan selalu ada wilayah-wilayah kompromistis, reformatif, atau revolusiner. Itu semua bergantung kepada bagaimana mata, lisan dan bibir itu kita gunakan. Bagaimana mata melihat secara jernih: tidak terokupasi kepada dendam, emosi, atau sekadar muatan primordial, tetapi mendudukkannya pada nilai keadilan –yang sesungguhnya jauh lebih dulu diperintahkan Tuhan ketimbang Pramoedya Ananta Toer. Setelah itu ada pilihan dan pilah-pilah dengan tujuan yang tinggi: keadilan, kesamarasaan, ke-nilai-nol-an diskrepansi derajat antar manusia.

Karena dengan begitulah, kita sudah berani mendudukkan segala keterjebakan duniawi kita pada skala akhirat. Pada baris yang Tuhan sebut-sebut ashabul maymanah –golongan kanan dalam arti sebenar-benarnya.

Rotterdam, Januari 2017

Gambar diambil dari: https://dennyleo.wordpress.com/2013/03/30/terjebak-di-masa-lalu/terjebak-di-masa-lalu/