Arsip Kategori: Keping Pikir

Vaksin dan Hal-hal yang Belum Selesai (BAGIAN-1)

Pandemi COVID-19 hampir berulangtahun yang pertama, tetapi tanda-tanda surutnya belum juga nampak ke permukaan. Ketika banyak manusia mulai merasa lelah dengan segala kerangkeng sosial dan fisik yang dianggap memenjarakan naluri kemanusiaannya, pacuan menemukan vaksin yang dianggap cukup mujarab mulai menarik perhatian. Barangkali, vaksin itulah yang menolong hasrat manusia untuk kembali bersosialisasi tanpa ketakutan lagi. Maka, harapan besar ditumpukkan di bahu para penemu vaksin—perusahaan-perusahaan besar multinasional dengan segunung modal teknologi dan finansial.

Lanjutkan membaca Vaksin dan Hal-hal yang Belum Selesai (BAGIAN-1)

Benarkah Covid Menular Lewat Udara?

Banyak yang bertanya apakah benar virus corona Sars-Cov2 ini sekarang sudah bermutasi menjadi lebih ganas dan dapat menular lewat udara bebas? Bagaimana bukti ilmiahnya dalam laporan-laporan yang dipublikasikan? Setujukah dengan rekomendasi WHO terakhir terkait hal ini?

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sudah mengeluarkan surat himbauan terkait hal tersebut. Silakan unduh di sini: Surat Himbauan PDPI Update Transmisi COVID-19.

Mari kita bahas santai bagaimana sih sebenarnya kondisi terakhir penularan Covid ini? Apa benar melalui udara? Simak penjelasannya di video ini.

Membuka Kembali Sekolah: Strategi Alternatif

Membuka kembali aktivitas sekolah bukanlah keputusan yang mudah. Polarisasi kepentingan dan pendapat sangat mungkin terjadi. Di satu sisi, menutup sekolah dapat memperlambat dan menurunkan risiko transmisi penyakit pada anak-anak. Tetapi, dengan telah dilonggarkannya mobilisasi penduduk secara umum, risiko itu sebenarnya tetap tinggi meskipun sekolah ditutup. Berdasarkan asumsi ilmiah, transmisi COVID-19 pada anak justru lebih banyak terjadi dari interaksi mereka dengan orang dewasa di rumah dan kerumunan. Padahal, risiko lain juga mengintai: risiko perlambatan edukasi dan pembelajaran, serta kondisi mental, sosial, dan perkembangan dalam jangka panjang.

Lanjutkan membaca Membuka Kembali Sekolah: Strategi Alternatif

COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?

Menjawab soal kapan sekolah dibuka kembali dan kapan harus ditutup adalah persoalan yang sangat sensitif. Ini bukan hanya persoalan makroekonomi, kesenjangan antar kelompok masyarakat – yang keduanya terasa amat jauh dari kehidupan sehari-hari banyak orangtua. Persoalan ini justru seringkali menyangkut kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan anak-anaknya. Tak ada orangtua yang dapat dengan tenang melepas anak-anaknya masuk dalam kolam risiko infeksi COVID-19.

Lanjutkan membaca COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?

COVID-19, Penutupan Sekolah, dan Krisis Sosial

Semenjak COVID-19 menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia, banyak negara mengambil langkah cepat untuk menghambat transmisi penyakit dengan membatasi mobilitas manusia. Salah satu yang kerap dilakukan adalah menutup sekolah – dan anak-anak menjadi populasi terdampak karena strategi ini. Tujuan awalnya sebenarnya jelas: transmisi diperlambat dan beban layanan kesehatan ditahan agar tidak katastrofik.[1]

Lanjutkan membaca COVID-19, Penutupan Sekolah, dan Krisis Sosial

Tsunami Ilmu COVID-19 dan Problemnya

Pekan lalu, Lancet dan New English Journal Medicine (NEJM) – dua jurnal medis terkemuka – menarik kembali artikel yang telah dipublikasikan di platform jurnal mereka. Persoalannya sama, dua artikel yang diterbitkan dan ditulis oleh beberapa penulis yang sama ternyata dianggap memiliki kecacatan data karena tidak dapat dipertanggungjawabkan. Banyak saintis mempertanyakan kebenaran dan kejujuran data yang dianalisis oleh Surgisphere Corporation – perusahaan yang mengklaim sebagai perusahaan data dan memiliki database multinasional terkait COVID-19.

Lanjutkan membaca Tsunami Ilmu COVID-19 dan Problemnya

Beriman Kepada Corona (1)

Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya. Kita merasa telah berhasil sebagai manusia – makhluk paling super di muka bumi – ketika satu per satu epidemi kita tuntaskan dengan cepat. Kaum cerdik cendikia dan politisi dapat berbangga dengan itu semua; sedangkan kaum jelata cukup membanggakan mereka yang dengan kepandaian dan kecepatan gerak kebijakannya berhasil membuat napas proletar dapat bertahan lebih lama.

Lanjutkan membaca Beriman Kepada Corona (1)

Covid-19 Menjelang Ramadhan: Lockdown?

Pemerintah Indonesia terus berjibaku menekan penyebaran wabah Covid-19. Waktu terus melaju dan Ramadhan sudah menjelang di hadapan. Banyak pertanyaan besar yang berkelindan di tengah wabah yang mendera. Akankah ritual semasa Ramadhan memperburuk kondisi wabah? Mampukah pemerintah menyelesaikan persoalan wabah ini sebelum Ramadhan? Dan apakah Ramadhan dan lebaran tahun ini akan berbeda sama sekali dibandingkan yang biasa dilalui?

Lanjutkan membaca Covid-19 Menjelang Ramadhan: Lockdown?

Pelajaran Komunikasi dari Covid-19

Penyebaran virus korona (Covid-19) menjadi salah satu ujian ketahanan sistem kesehatan Indonesia. Bukan hanya bagaimana menahan agar penyebaran Covid-19 dapat direduksi, tetapi juga bagaimana mengomunikasikan risiko dan dampak secara tepat tanpa menimbulkan kekhawatiran masyarakat yang berlebihan. Di era digital, tantangan ini semakin berat.

Apa yang dilakukan pemerintah sejak awal Maret 2020 ketika kasus infeksi Covid-19 pertama diumumkan layak menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Pemerintah, dalam hal ini Menkes Terawan dan jajarannya, tampak kedodoran dan tidak siap mengatur laju informasi yang terlanjur berserakan. Ada masalah dalam transparansi dan privasi yang semestinya dapat dihindari.

Ketidakpastian dan privasi

Ada atau tidaknya kasus infeksi virus baru mustahil dapat dipastikan seratus persen, apalagi dalam periode awal penyebarannya. Kepercayaan diri yang ditonjolkam di ddepan public secara berlebihan justru menimbulkan tanda tanya besar. Peneliti Harvard, dengan segala keterbatasan metodologinya, menyebutkan adanya potensi kasus positif Covid-19. Namun, Menkes Terawan menolak asumsi ilmiah tersebut dengan menekankan keyakinannya bahwa hal tersebut menghina kapabilitas Indonesia dalam menghadapi serangan Covid-19.

Padahal, tidak ada yang tahu pasti bagaimana krisis penyakit infeksi dapat diurai. Pola komunikasi yang terlampau yakin justru mengaburkan transparansi. Ketika selang beberapa waktu klaim tersebut terbukti keliru, kredibilitas pemangku kebijakan berada dalam titik kritis  dan kepercayaan public akan tergerus. Kemungkinan pesan-pesan berikutnya untuk diterima masyarakat, dipercayai, dan ditindaklanjuti semakin kecil.

Transparansi adalah pelajaran penting pertama dalam mengomunikasikan ancaman penyebaran infeksi baru. Pemerintah bukan hanya harus secara transparan menyampaikan informasi apa yang telah telah diketahui dan dapat dipastikan, tetapi juga segala hal yang belum pasti dan belum dapat dipastikan secara akurat. Semakin transparan informasi yang diberikan ke publik, kepercayaan publik akan menguat.

Selain transparansi, komunikasi risiko penyebaran infeksi juga harus memastikan penjagaan privasi. Ini pelajaran penting kedua yang tak boleh diabaikan. Pernyataan ‘dansa’ yang dimulakan dari lisan Menkes Terawan telah membuka jalan lebar pelanggaran privasi, baik oleh pemerintah maupun masyarakat umum. Ditambah dengan kebocoran data pasien yang tersebar secara sporadis lewat media sosial, aksi teatrikal pemasangan garis polisi, dan penyemprotan disinfektan yang disiarkan ke ruang publik, pelanggaran privasi ini dapat dianggap berat. Potensi stigma negatif mencuat dan merugikan pasien yang seharusnya paling layak mendapatkan perlindungan privasi.

Melalui wawancara media Kompas, pasien juga mengaku bahwa dirinya tidak diberitahu mengenai diagnosisnya, justru ketika Presiden telah melakukan konferensi pers tentang sesuatu yang menyangkut dirinya. Ini merupakan kesalahan mendasar yang harus menjadi pelajaran dan tidak boleh diulangi lagi. Pemerintah harus mulai secara jernih menempuh berbagai strategi untuk dapat memitigasi risiko pelanggaran privasi semacam ini.

Tidak sinkron

Pelajaran lain dari Covid-19 adalah sinkronisasi informasi. Pernyataan pejabat publik seringkali tidak matang, kontroversial, dan menimbulkan pertanyaan yang merisaukan. Wartawan memang akan selalu mencari bahan berita yang bisa digapai mereka lewat pertanyaan-pertanyaan singkat di ruang waktu yang sempit. Menghadapi hal itu memang bukanlah hal mudah.

Pemerintah sedianya perlu membuat semacam ‘war room’, tempat segala informasi dihimpun, dianalisis, kemudian diformulasikan secara tepat ke ruang publik. Di sinilah pemerintah perlu menggabungkan semua elemen penting, termasuk para ilmuwan, praktisi kesehatan, praktisi komunikasi, dan pejabat administrasi, untuk secara bersama mengatur alur informasi. Begitupun sinkronisasi komunikasi dan strategi antara pemerintah pusat dan daerah.

Tidak hanya informasi yang menuntun masyarakat untuk tetap tenang, strategi yang dijalankan pun harus sesuai antara pernyataan dan tindakan. Pemerintah dapat saja menyebutkan bahwa 132 rumah sakit telah siap menangani kasus Covid-19, tetapi kesiapan di lapangan perlu diamati sejauh mana kesiapan yang dimaksud. Jika harapan yang disampaikan tidak memenuhi realitas di lapangan, kepercayaan publik akan menurun.

Di luar 132 rumah sakit yang dianggap mampu menangani kasus Covid-19, pemerintah juga mendesak pembangunan rumah sakit karantina dengan merenovasi sebuah rumah sakit yang rusak. Kedua pernyataan ini kontradiktif sebenarnya kontradiktif. Jika infrastruktur dianggap telah mampu, mengapa perlu ada desakan membangun rumah sakit khusus karantina yang baru? Kontradiksi dan ketidaksinkronan pernyataan dan strategi ini berpeluang melemahkan kepercayaan publik dalam jangka menengah dan panjang.

Apalagi, dalam setiap peristiwa penyebaran infeksi yang genting selalu ada potensi serangan ‘agenda’ lain secara politik. Akan ada pertarungan antara informasi pakar dengan gelombang disinformasi, bahkan hoax, yang dimanfaatkan secara negatif di ruang media sosial. Akan ada pula pertarungan antara penyebaran informasi faktual-rasional dengan mitos yang menyentuh emosi publik dan menyebabkan meluasnya kerisauan.

Pada zaman digital, potensi tubrukan semacam ini semakin tinggi. Narasi yang dikembangkan di ruang publik memang sulit untuk dikendalikan, terlepas dari apakah itu bagian dari sistem demokrasi dan kontrol yang lebih seimbang terhadap kekuasaan. Maka, penting bagi pemerintah untuk mengambil pelajaran dari periode awal penyebaran Covid-19 ini untuk menguatkan pola komunikasi, memperbaiki transparansi, dan membangun sistem yang konsisten dan kokoh dalam jangka panjang.

 

Ahmad Fuady

Pembelajar Politik Kesehatan

 

Gambar fitur diambil dari: https://fletcher.tufts.edu/covid-19-updates