Arsip Kategori: Keping Pikir

Kegagalan Kapitasi

Dimuat dalam kolom Opini KOMPAS, 23 April 2018

Ahmad Fuady

 

Awal Februari 2018, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan terhadap Bupati Jombang dengan dugaan penerimaan suap dari dana kapitasi. Kasus ini bukan yang pertama terjadi. Bahkan, dengan besaran dana mencapai Rp 13 triliun, Indonesia Corruption Watch (ICW) mengindikasikan potensi pungutan liar dana kapitasi mencapai Rp 1,3 triliun per tahun.

Lanjutkan membaca Kegagalan Kapitasi

Iklan

Dosen Asing dan Jebakan Internasionalisasi

[Tulisan kedua dari Dua Tulisan: Student Loan, Dosen Impor dan Raibnya Negara]

 

Mereka yang beruntung secara finansial akan meraup untung banyak dari kepatuhan pemerintah terhadap mekanisme pasar. Awal Januari 2018, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), M Nasir, mengumumkan bahwa sekitar 5-10 universitas asing siap beroperasi di Indonesia di pertengahan tahun 2018.[i],[ii]

Lanjutkan membaca Dosen Asing dan Jebakan Internasionalisasi

Student Loan, Dosen Impor, dan Raibnya Negara

[Tulisan Pertama dari Dua Tulisan]

 
Dua bulan belakangan, Presiden Jokowi mengeluarkan dua titah penting di bidang pendidikan. Pertama, Presiden memberikan pekerjaan rumah kepada perbankan nasional untuk menyediakan student loan (pinjaman untuk pendidikan tinggi). Permintaannya itu disampaikan di hadapan para pimpinan bank di Istana Negara, pada 15 Maret 2018.[1,2] Kedua, Presiden menerbitkan Perpres No 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing yang membuka keran perekrutan dosen asing sebagai dosen tetap.[3,4] Kebijakan ini merupakan langkah lanjutan dari kebijakan bulan Februari 2018 yang mengijinkan universitas luar negeri untuk beroperasi di Indonesia. Dua kebijakan ini tidak dapat diungkiri telah menimbulkan tanda tanya besar.

Lanjutkan membaca Student Loan, Dosen Impor, dan Raibnya Negara

Re-thinking: Menertawai Setya Novanto

Saking bertubi-tubinya kita tertawa, kita lupa bercermin. Jangan-jangan, Setya Novanto itu kita. Luapan tertawa kita itu, jangan-jangan juga sekadar ventilasi dari rusuhnya hati kita untuk mengakui bahwa kita juga sebenarnya melakukan hal yang serupa dengannya…

setnov
Gambar diambil dari: http://kartun.inilah.com/read/detail/2392976/setya-novanto-sakti-apa-sakit

Kalau Tuhan punya hak dan alasan untuk mengugurkan sehelai daun saja dari pohonnya, pasti Tuhan juga punya hak dan alasan mengapa ada cerita Setya Novanto dengan segenap hiruk pikuk tiang listrik dan foto sakitnya yang fenomenal. Orang boleh saja tertawa dan menertawai, membuat deretan cerita komedi, sindiran, bahkan cibiran –yang semuanya berhak dengan hak paling dasar bagi seorang manusia dan warga negara melakukannya. Tapi, boleh jadi urusan tawa menertawai itu juga bukan sekadar lintas lewat. Tuhan berharap output yang lebih heboh dari urusan meme yang di-share jutaan orang.

Lanjutkan membaca Re-thinking: Menertawai Setya Novanto

Wajib Belajar, Belajar Apa?

Meminta liburan dari sekolah bukan hal mudah di Belanda. Kami harus berkonsultasi dulu dengan guru kelas Birru, menuliskan form permohonan ijin dari sekolah, ditandatangani oleh kepala sekolah, lalu dikirimkan ke pemerintah lewat Gementee (semacam kantor Walikota) untuk mendapat persetujuan. “Umurnya belum lima tahun,” kata Kepala Sekolah, “Jadi dia masih bebas meminta liburan.” Beda urusannya jika usianya sudah menginjak lima tahun. Anak saya itu, juga akan jadi “Anak Negara”.

Lanjutkan membaca Wajib Belajar, Belajar Apa?

Penelitian Menuju Tuhan

Beberapa mahasiswa –untuk tidak menyebutnya terlalu banyak – seringkali risau jika dalam penelitian mereka tidak menemukan hubungan atau perbedaan yang bermakna antara variabel yang diteliti. Nilai signifikansinya (p) kurang dari 0,05, begitu sebut mereka dengan kisruh. Dosen pembimbingnya pun sama risaunya karena yang ada di kepala saat itu adalah semestinya hipotesis mereka terbukti, sesuai denganlandasan teori, menyokong kerangka dasar ilmiah yang sudah ada. Hanya sedikit yang saya temukan tetap bergembira meskipun hasil penelitiannya tidak sesuai dengan hasil studi lain yang mainstream.

Lanjutkan membaca Penelitian Menuju Tuhan

Politik Para Dokter

Sebuah film berbahasa Denmark, “En Kongelig Affaere (A Royal Affair)”, membuat saya menelusuri lagi liku politik para dokter. Johan Friedrich Struensee (1737-1772), seorang dokter Jerman, ditunjuk menjadi dokter kerajaan bagi Raja Christian VII Denmark yang memiliki masalah mental. Dengan trik politiknya, ia berhasil menjadi raja ‘de facto’ dengan menggiring opini raja menjadi kebijakan krusial yang mendukung ide Enlightenment-nya yang dipengaruhi pemikiran Jean-Jacques Rousseau. Manuver politiknya berhasil mematahkan dominasi para bangsawan di sekitar raja yang kebijakannya mencekik rakyat dan hanya menguntungkan kaum bangsawan.

Lanjutkan membaca Politik Para Dokter

Menuju ‘Smoke-Free’ Tahlilan

Di tahun 1990-an, saya menikmati fenomena rokok di rangkaian acara pernikahan. Saya masih kecil waktu itu, dan selalu bertanya-tanya mengapa ada rokok yang diselipkan di amplop undangan pernikahan. Jangan bayangkan undangan pernikahan yang mewah, tebal, wangi, dan dibubuhi tempat bonafid sebagai lokasi resepsi. Jangan! Undangannya sederhana, dibungkus amplop plastik transparan, dan menggembung jika tujuan penerimanya adalah para lelaki. Ya, menggembung karena di dalamnya ada satu-dua batang rokok yang diselipkan.

Dari undangan itu anda akan tahu seberapa royal dan seberapa tinggi derajat ekonomi si pengundang. Anda dapat dengan mudah membedakan antara pengundang yang menyelipkan rokok kretek dengan mereka yang menyelipkan rokok filter. Dengan begitu, anda juga bisa mulai mengira-ngira seberapa megah makanan yang disajikan nanti saat resepsi. Ya, meskipun tidak mutlak, korelasinya cukup kuat.

Lanjutkan membaca Menuju ‘Smoke-Free’ Tahlilan

Anak Dokter Takut Dokter

Betapa malang anak lelaki saya ini. Bapaknya sibuk meneliti tentang tuberkulosis (TB), ia sendiri tak sempat divaksin BCG di negeri yang peringkat tuberkulosisnya tertinggi kedua di dunia. Pasalnya unik. Di usia ke-40 hari, ia kami culik ke Belanda yang gagap terhadap TB. Tiga bulan di Belanda, ia melewati masa puncak vaksinasi TB. Si kecil baru kembali ke Indonesia setelah usianya lebih dari empat bulan dan tepat ketika tes tuberkulin atau mantoux[1] hilang dari peredaran muka bumi pertiwi. Konsul kanan-kiri, depan-belakang, dan atas-bawah, jawaban yang didapatkan mendorong ke satu kesimpulan: sudahlah, tak perlu divaksin. Bahkan, jika divaksin pun di usia itu, efektivitasnya sudah turun di bawah 60%, menurut salah satu rujukan terkemuka yang akhirnya kami telan matang-matang.

Lanjutkan membaca Anak Dokter Takut Dokter

Dokter Mencukur Dokter

top-collection-jadul

Salah satu kemewahan Indonesia yang tidak dapat dinikmati di Belanda adalah cukur rambut murah. Ketika rambut saya panjang, mulailah saya merindukan tukang pangkas rambut di ujung gang yang jadwalnya padat minta ampun. Saking padatnya, pelanggan tidak berhenti datang, kecuali dipaksa pulang karena si pencukur memasang plang “Tutup” setiap istirahat makan dan sholat. Kendaraan pelanggan juga sering memerkosa hak mobil yang mau melintas keluar atau masuk. Saya tak tahu mengapa sebegitu larisnya si pemangkas, padahal tak jauh dari situ ada pangkas rambut yang lebih adem dengan AC-nya yang menyala pol, cermin yang lebih bersih dan lebar, serta tivi yang berwarna-warni. Tapi, biarlah kita simpulkan sejenak bahwa pelanggan cukur kelas menengah-ke-bawah memang lebih suka tukang cukur dengan (a) sepoi kipas angin yang sekrupnya longgar sehingga bunyi kletek-kletek, (b) televisi hitam putih dengan gambar bergoyang-goyang dan lebih banyak semutnya, (c) tempelan poster model cukur rambut jaman dulu, serta –yang paling penting (d) pisau cukur silet yang hampir tidak pernah diganti, kecuali terlihat jelas karatnya.

Lanjutkan membaca Dokter Mencukur Dokter