Arsip Kategori: Keping Pikir

BPJS Pascafatwa MUI

Ini adalah tulisan Opini Saya di Harian Republika, menanggapi maraknya diskusi mengenai status BPJS yang diinterpretasikan sebagian masyarakat sebagai ‘haram’. Semoga mencerahkan.

Lanjutkan membaca BPJS Pascafatwa MUI

Iklan

JokoBowo

Aku melihat Joko ketika ia bersalaman dengan Bowo. Hangat, bahkan nyaris berpelukan. Itu pertama kali aku melihat mereka. Yang satu dengan perawakan kecil, satu lagi cukup besar meski usianya membujur ke cakrawala barat. Tidak ada yang istimewa, kecuali riuh-riuh kecil yang perlahan seperti bola salju yang menggelinding. Bertambah besar, bergemuruh.

 

Joko ikut duduk bersamaku di tepi kali sambil melempar pancing. Katanya, “Banjir ini menghanyutkan ikan ke lautan.” Aku tertawa, lalu membantah. “Jangan terlalu yakin, Joko.” Dia diam menatapku. Menunggu, barangkali. “Sampah di ujung sana, sebelum lewat jembatan kedua, sudah menghalangi ikan-ikan pergi ke lautan,” jawabku tanpa perlu ia bertanya. Lalu ia gantian tertawa.

 

Duduk kami berlama-lama, menikmati sore yang padam hingga gulita. “Kau tahu berapa traktor yang harus aku kerahkan untuk membuat sungai ini tak meluap?” Ia bertanya. Serius. Padahal, aku sudah siap beranjak menuju mushalla, karena adzan telah redup sejak setengah jam yang lalu.

 

“Kau tanya berapa?”

 

“Iya, berapa? Berapa pekerja yang aku butuhkan? Berapa banyak uang yang harus aku gelontorkan?”

 

Aku tertawa. Kutepuk pundaknya untuk membuka mata. “Kita sudah terlalu lama menunda panggilan Tuhan. Bahkan, Umar tak perlu ratusan, apalagi ribuan traktor untuk mencegah Nil meluap. Ia hanya butuh secarik surat. Dan Tuhan… diikatnya dalam aksara.” Aku menarik tangannya, berlari-lari kecil sambil berharap Tuhan belum menutup pintu maghrib.

 

Sehabis maghrib, Joko tak tampak lagi. Ia pergi tak berpamitan. Barangkali ada urusan penting, aku tak tahu. Yang aku tahu adalah Bowo yang duduk berlama-lama di tiang mushalla sambil memegang kalam -semacam lidi yang dipakai untuk menunjuk huruf saat mengeja Qur’an. Mukanya lelah, entah mengapa. Tapi, saat menyambutku datang, ia bergegas berdiri dan berucap, “Salam hormat, Saudaraku.”

 

Tidak aku tanyakan perihal apapun tentang duduknya sehabis maghrib, namun ia yang sukarela berucap. “Kau tahu kalam ini, kan?” Aku mengangguk. “Untuk apa?” Mengeja, kataku. Betul kan, tapi ia tertawa. “Kau mengeja dengan mulut, lidahmu sendiri. Tapi kau butuh tanganmu bergerak juga?”

 

“Kontrol,” jawabku lagi.

 

“Sejak kapan satu bagian tubuh mampu mengontrol bagian tubuh yang lain?”

 

“Sejak kau belajar mengeja, Bowo. Kau tahu lidahmu tak boleh lebih lekas dari jejarimu. Jejarimu tak boleh lebih lekas dari lidahmu.”

 

Dan sejak itu, aku tahu apa arti kebenaran dan kemunafikan.

 

***

 

Riuh di belakang semakin menjadi. Hari ini aku dengar lagi: sesatu gerombol berteriak nama Joko, sesatu gerombol lagi mengurai huruf B-O-W-O. Aku tak tahu lagi sejak pertemuan mereka yang pertama aku lihat, seberapa sering sekarang mereka berjabat.

 

Aku tak merindukan riuh. Aku memilih duduk di tepi sungai, lalu memegang kalam sehabis maghrib di mushalla. Meski hujan, meski badai. Karena aku tahu, Tuhan masih ada. Aku meminta upah dariNya, bukan dari sesiapa.

 

Jakarta, akhir Mei 2014

Terbukti Manusia

Beberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Lanjutkan membaca Terbukti Manusia

Jakarta Sehat vs Dokter

Gambar

Ahmad Fuady*

(Dimuat di Harian Republika, 21/03/2013)

Kebijakan Gubernur DKI mengeluarkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) menuai pro dan kontra. Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pun beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang mencederai perasaan dokter. Kalimat “Saya sikat Bapak-bapak” di depan para dokter mengisyaratkan ketidakpahamannya mengenai sistem layanan kesehatan yang tengah dibangunnya di Jakarta. Alih-alih menganalisis lebih dalam mengenai kurangnya fasilitas kesehatan, masyarakat justru digiring ke dalam opini bahwa dokter yang paling bertanggungjawab atas banyaknya kasus kematian dan penelantaran pasien belakangan ini.

Lanjutkan membaca Jakarta Sehat vs Dokter

Mencari Namrudz

Demokrasi barangkali telah menjadi lahan bercocok tanam paling menguntungkan hari ini, bukan ladang gandum, pabrik tempe, atau kandang sapi. Silakan hitung berapa banyak kapital yang digelontorkan dalam gerbong demokrasi, dari sekadar bergembiranya media sosial, munculnya banyak pengamat demokrasi, keuntungan lembaga survey, hingga dana kampanye yang jumlahnya barangkali cukup untuk memberi makan jutaan rakyat yang fakir. Sayangnya, lahan yang subur itu tak juga dapat diprediksi kapan dapat dipanen. Buahnya rupa-rupa. Yang sinis akan beranggapan bahwa buahnya lebih banyak yang menjelang busuk –jika tidak mau dikatakan memang busuk benar. Yang permisif berusaha meyakinkan untuk terus bersabar meski kabinet sudah berganti berkali-kali.  Jangan tanyakan mereka yang anti. Demokrasi sudah diketuk palu sebagai produk thaghut yang mesti dimusnahkan, berkebalikan dengan para pelaku demokrasi yang terus bergeming meski dikritik. Mereka itu yalhats aw tatrukhu yalhats; preokupasinya terhadap demokrasi sudah tak bisa digoyang.

Lanjutkan membaca Mencari Namrudz

Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

maling sepatuKetika semua orang ribut bicara ulah Malaysia yang mencuri budaya negeri, kawan saya justru kerepotan sendiri dengan sepatunya yang hilang. Kawan saya itu merengut, bersungut-sungut, sambil bercerita bahwa belum sepekan yang lalu telepon selulernya juga hilang. Bukan di mana-mana. Bukan di toilet, bukan di pasar, bukan di terminal. Malah di tempat yang dia pikir paling aman sedunia karena labelnya yang luar biasa gagah: Rumah Tuhan. Telepon selulernya hilang saat berdesakan setelah selesai wudhu, sedangkan sepatunya raib setelah khutbah dan shalat Jum’at selesai.

Lanjutkan membaca Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

The new tobacco regulation: Who is satisfied?

Tulisan saya di The Jakarta Post

=======================

Ahmad Fuady, Rotterdam, the Netherlands | Opinion | Thu, January 31 2013, 10:03 AM

Paper Edition | Page: 6

Late in December 2012, President Susilo Bambang Yudhoyono signed a new government regulation on tobacco. It was a surprise, considering the desperately long struggle to try to control or curtail tobacco use.

 

Lanjutkan membaca The new tobacco regulation: Who is satisfied?