Arsip Kategori: Keping Pikir

Rokok di Bibir Pak Kiai

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket jadi kampiun satu benua, bola voli kita bersaing dengan negara maju? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas karena rokok-rokok itu yang membiayai sekolahnya? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Lapangan bolanya sudah sedekat lapangan bola kita, Kiai. Menempel di televisi. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka…”

 

Sudah hampir seminggu Kiai Badrun sakit. Selama sakit itu, murid-muridnya seperti terlantar tak ada yang mengajari. Sebenarnya Kiai Badrun sudah menitipkan nama penggantinya ke para murid, tapi nyaris semua menolak. Alasannya pun seragam, “Ndakada yang bisa menggantikan Kiai.” Entah apa sebutannya, Kiai Badrun sudah melebihi maqampresiden dalam benak murid-muridnya. Dicintai luar dalam, bahkan tanpa perlu sedikit pun Kiai berkampanye dan mengambil hati. Tapi, tak ada satupun muridnya yang berani menyebutnya Wali, apalagi Nabi. Betapapun ia dicintai dan dikagumi, Kiai Badrun hanya ingin disebut kiai. Panggilan itu pun sudah terlampau tinggi, katanya.

Dalam kesakitannya, Kiai Badrun melihat sendiri muridnya mengatur jadwal bergiliran menjaganya. Mereka bergantian setiap delapan jam, mirip jadwal perawat jaga di rumah sakit. Satu hari dibagi menjadi tiga shift; dua shift dipegang murid-murid sedangkanshift ketiga sengaja dikosongkan. Biarlah itu menjadi waktu Bu Hindun merawat suaminya di kamar sejak menjelang tengah malam hingga selepas subuh.

Jarun, murid Kiai Badrun yang terkenal sontoloyo di antara murid-murid lainnya, duduk sambil membacakan jadwal jaga yang harus dipatuhi semua murid. Ia membagi tujuh hari menjadi empat belas waktu jaga sehingga masing-masing murid mendapat giliran satu kali jaga dalam sepekan. Itu urusan mudah baginya. Semuanya manut pada apa yang diaturnya. Tapi, mendadak keningnya berkerut. Kedua alisnya saling mendekat dan nyaris bersatu. Satu tangannya menopang dagu, dan itu cukup untuk membuat keheningan baru. Ia lantas meminta semua temannya tetap di tempat dan tak satu pun boleh bergerak dari ruangan depan tempat mereka mengaji.

Mengendap ia berjalan ke dapur, mengetuk pintunya sambil berdehem. “Ke mana kau, Jarun?” Manun bertanya, hendak berdiri pula. Tapi, Jarun segera mengangkat telunjuk kanannya ke bibir. Isyarat bahwa keheningan harus tetap dirawat sampai ia memberi kode lain. Jarun memanggil setengah berbisik, “Bu Hindun….” Kemudian semua murid tahu bahwa yang dicari Jarun adalah Bu Hindun, perempuan cantik yang dipersunting Kiai Badrun hampir 25 tahun lalu. Hanya saja, mereka tetap tak paham apa yang hendak diperbuat Jarun.

Dalam keheningan yang terpaksa itu, Manun sebenarnya menyimpan geram. “Apa yang dia mengerti tentang demokrasi?” Hanya geraman, sesungguhnya. Matanya masih menunduk sambil mengorek-ngorek karpet hijau panjang dengan telunjuk kecilnya. Tapi, nyatanya gayung bersambut. Demokrasi mana yang sudah dilanggar?” Rajiun menengoknya. Berpura-pura serius.

“Telunjuk di bibirnya itu. Dia hanya mempersilakan hatinya dan Tuhan untuk mengerti apa yang ada dalam pikirannya.”

“Apanya yang keliru? Sah-sah saja.”

“Itu kalau dia hanya berlaku seorang diri. Tapi, kita sementara adalah jamaahnya, mengikut padanya.”

“Selama dia ndak melanggar Tuhan, apanya yang harus kita ributkan? Jamaah ndak perlu tahu semua gerakan.”

“Tapi, kau kan selalu ingat. Imam selalu men-jahar-kan takbir setiap kali berganti posisi, Un.”

Percakapan terhenti. Lirikan mereka berpaling ke arah dapur. Bu Hindun sudah keluar menghampiri Jarun. Tak salah memang jika banyak orang memuji kecantikannya. Bu Hindun, selain cantik rupa, juga adalah perempuan yang menawan jiwanya. Entah dari mana Kiai Badrun membawanya kemari. Ia tampak seperti bidadari yang tak ditemukan di dunia manapun. Suaranya lembut, tak pernah keras. Matanya bulat, dan setiap kali orang menatap bola matanya tampaklah kesejukan yang mengalir diam-diam. Sedangkan periode yang paling ditunggu-tunggu orang adalah masa ketika ia melempar senyum. Berdesas-desuslah semua orang dan mengunjungi Kiai Badrun berduyun-duyun untuk bertanya doa mujarab apa yang patut dilantunkan saat mencari jodoh.

Tampak Bu Hindun mengangguk-angguk tanpa suara di pintu dapur. Jarun seperti tengah membisikkan perkara paling rahasia sehingga tak ada satu desis pun yang terdengar ke ruang depan. Manun menatapnya curiga. Jarun begitu berapi-api, tangannya bergerak naik-turun, dan wajahnya menjadi terlampau asing karena begitu serius. Pada anggukan Bu Hindun yang terakhir, Jarun mengangkat kepalanya. Merasa lega, sepertinya. Bu Hindun yang hampir tak bisa ke mana-mana semenjak Kiai Badrun sakit dan lebihs ering hanya mondar-mandir dari dapur ke kamar, kamar ke ruang tamu, dan balik lagi ke kamar, menyimpan harap dalam tatapannya ke Jarun. Jarun berinjit, masuk ke kamar sang Kiai. Nyaris tanpa suara. Manun yang masih terduduk semakin curiga.

“Kau masih berpikir demokrasi, Nun?” Sami’un menanggapi tatapan curiga Manun sambil tertawa.

“Sekarang ini?”

“Ya, sekarang. Kapan lagi?”

“Apalah arti rakyat, umat, jamaat? Jarun pasti sudah tersandera akalnya yang dipikirnya hebat itu. Mirip penguasa. Kebanyakan penguasa.” Serius sekali Manun berucap. Bisik-bisiknya kepada Sami’un itu sudah mirip dialog tokoh politik di televisi. Dan Sami’un –yang merasa cukup berindak seperti presenter dialog, hanya tertawa kecil.

“Berdoalah saja, Nun,” kata Sami’un. “Berdoalah supaya Kiai Badrun mengajarinya demokrasi di dalam kamarnya. Tiga bab langsung, tanpa jeda.” Sami’un tertawa lagi. Manun diam, mengorek-ngorek karpet lagi dengan telunjuk kecilnya.

Pelan-pelan Jarun masuk ke kamar Kiai Badrun, mengucap salam, lalu mengambil tempat duduk di sebelah sang guru. Pertemuan itu dibuka dengan senyum setelah salam, saling melirik, lalu sama-sama terdiam. Beberapa detik yang serupa dengan lipatan jam penuh rindu. Terasa hampa. Lama.

“Kiai, apa Kiai pernah merokok?” Jarun akhirnya membuka tanya dengan muka serius. Baru kali itu mukanya terlihat serius bukan kepalang. Alis-alisnya menyatu seperti tengah berpikir keras dan berupaya meramal meski ia tahu ramalannya akan tak menghasilkan apa-apa. Ia bukan Yusuf yang mampu membaca mimpi, bukan pula Rahib yang meramal kenabian Muhammad lewat tanda-tandanya. Ia hanya Jarun –yang ibu-bapaknya saling kenal karena bertetangga.

“Maksud kamu, Run?”

“Maksud saya ya, apa Kiai pernah merokok sampai jatuh sakit seperti ini? Kiai kan tahu, rokok itu dapat menyebabkan kanker, gangguan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin… Mungkin saja Kiai terserang penyakit yang rentet saya sebut itu.”

“Maksud kamu, Run?” Kiai Badrun bertanya lagi. Tidak percaya.

“Kalau bukan karena rokok, lalu karena apa? Rokok itu kan kawan malaikat maut yang paling mengerikan, Kiai.”

“Saya ndak pernah merokok, Run.”

“Kalau begitu, sekarang Kiai mungkin harus merokok.”

“Maksud kamu, Run?”

“Mungkin saja kalau sudah punya label Kiai, rokok itu jadi obat, jadi vitamin, Kiai. Rasanya jadi lebih manis dari anggur. Kiai Makmun, sudah berapa tahun umurnya? Nyaris satu abad, Kiai. Merokoknya sudah lebih dari setengah abad, tapi masih lancar mengajar dan memimpin pengajian.”

Kiai Badrun diam saja. Menatap langit-langit sampai muridnya yang paling sontoloyo itu membisiknya lagi, “Ini mungkin jadi obat, Kiai. Percayalah…”

Baru setelah itu, Kiai Badrun tertawa. Hahaha… Khas. Haha-nya yang tiga kali. Tidak ada raut kesakitan lagi di wajahnya. Jarun melirik ke pintu, khawatir suara Kiai badrun menyelinap keluar dan membuat sekawanan muridnya kaget dan ikut melongok ke kamar.

“Kok Kiai malah tertawa? Apanya yang lucu? Apa Kiai ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, ada banyak petani tembakau yang rizkinya terpenuhi? Bayangkan saja kalau semua kemudian berdoa untuk Kiai supaya lekas sehat lagi. Apa Kiai juga ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, pendapatan negara ikut naik dan fakir miskin jadi punya lebih banyak jatah pembangunannya? Bayangkan kalau fakir-fakir miskin itu berdoa untuk Kiai supaya lekas sembuh…”

“Jadi rokok ini bisa jadi lebih sehat dari madu? Lebih mujarab dari paracetamol?”

“Dengan izin Allah, Kiai…” Jarun mantap.

“Kalau begitu, ke mana nanti larinya malaikat maut? Yang ikut membunuh orang-orang dari nyala api di ujung bibirnya itu…”

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket jadi kampiun satu benua, bola voli kita bersaing dengan negara maju? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas karena rokok-rokok itu yang membiayai sekolahnya? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Lapangan bolanya sudah sedekat lapangan bola kita, Kiai. Menempel di televisi. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka… Semua, bisa jadi karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Dan Kiai bisa bayangkan sendiri, bandingkan saja apa yang sudah dipersembahkan sebatang rokok yang Kiai hisap itu dibandingkan zakat, infaq dan shadaqah yang setiap hari Kiai suar-suarkan lewat pengajian untuk dikeluarkan…”

Kiai Badrun diam saja. Tatapannya lurus ke muridnya yang paling sontoloyo. Baru kali ini Kiai terkesima karena Jarun bisa terus bicara tanpa berhenti dalam kalimat yang tak habis-habis. Mukanya memerah karena kehabisan napas, dan setelah itulah sang Kiai kembali tertawa. Hahaha…

Jarun membalasnya dengan tawa yang lebih keras. Lalu menyodorkan sebatang rokok dari sakunya ke depan bibir sang Kiai.

“Hisap saja, Kiai… Bahkan, anggur di tangan Kiai menjadi lebih lezat dari susu dan madu.”

Kiai mengambilnya, memasukkannya di sela-sela bibir. Menggamitnya dengan seksama, lalu berbisik saja, “Ndak usah dinyalakan apinya…”

 

Diambil dari serial “Negeri Sukun: Kiai di Sarang Kompeni”. 

Kamu Anu, Tapi Anu

demokrasi_by_mhsahin

Suatu saat ada pertanyaan tentang demokrasi negeri ini –di mana posisinya? Saya bingung bukan kepalang. Saya bukan pengamat, apalagi pengkaji. Setidaknya, saya masih menjaga marwah –yang definisinya kerap salah kaprah– profesi  dan keilmuan. Karena hari ini orang bisa bicara apapun tentang kedokteran meski baru membaca buku populer kesehatan dan tulisan terasimilasi hoax di saluran maya. Cukup sampirkan jenggot dan sorban, didengarnya hafal dua-tiga hadits pun Anda akan dicium tangan bolak balik. Dipanggil Kiai. Yang tak suka pada istilah Kiai mungkin akan memanggil Anda ustadz –dan hebohlah Anda memenuhi jadwal wira-wiri. Lebih-lebih, corongkan kamera ke muka Anda dan bicaralah tentang korupsi dan laknat semua orang yang Anda anggap penuh muslihat, Anda akan dibilang penegak demokrasi dan pemegang tampuk suci kepemimpinan sampai mati. Begitu sialnya negeri ini, memang.

Tapi, anggaplah saja saya diberi autoritas untuk menjawab –terlepas dari kesukaan dan kebencian terhadap autoritas yang dapat diklaim secara sepihak; anggaplah demokrasi negeri ini semacam bianglala olimpiade dalam kurun dan tingkatnya masing-masing. Olimpiade tidak mengenal kepemimpinan. Kemenangan adalah juara. Titik. Bukan pemaknaan autoritas terhadap kompetensi. Yang lebih sumir lagi, kompetensi demokrasi hari ini tak bisa diukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perangkat ukurnya yang paling dominan justru subyektivitas yang dikelola secara manis di media. Anda tak perlu berlatih keras seperti Pele atau Ronaldo. Anda hanya perlu dipoles. Tidak perlu menjadi Serena Williams, Anda hanya perlu jadi Maria Sharapova. Selesai. Dan, jangan khawatir, karena jika hari ini Anda adalah ketua RT, beberapa bulan lagi Anda bisa melompat jadi bupati, asalkan positioning Anda tepat. Bupati, lebih-lebih. Selalu ada lowongan kursi presiden –atau setidaknya penghuni Facebook dengan jutaan follower dan ribuan share setiap hari. Anda bisa bergenit-genit ria. Dan semua suka!

Komentar kita tentang pemimpin hari ini juga adalah komentar tentang juara, bukan negara. Mirip seperti acara tahunan All England. Kalau menang, bersuka-suka dan bilang, “Tahun depan semoga bisa dipertahankan.” Kalau kalah, berpura-puralah tak tampak sedih dan berapologi, “Tahun depan pasti lebih baik.” Begitu seterusnya. Jangan tanyakan penontonnya –di mana mereka. Selalu saja ada ruang penggembira yang penuh sesak dan sorak sorai. Bahkan, demokrasi mengijinkan sorak sorai bersahut-sahutan dilanjutkan di luar kompetisi. Saling ejek di dunia yang tak kasat mata. Semacam fans fanatik sepakbola yang masih saja saling lempar batu meski mereka tahu para pemain klubnya sejatinya tak pernah bertengkar dan adu mulut. Daya magis fanastisme membuat orang tak peduli permainan klub kesayangannya itu baik atau buruk. Yang paling penting adalah mencintainya sepanjang hayat. Kesalahan adalah milik wasit, mistar gawang, garis pinggir lapangan, anak gawang, atau bahkan petugas cleaning service ruang ganti. Pemain dan klub adalah Sang Maha. Dibela dan dipuja sampai surga. Sialnya, fanatisme semacam itu dikembangbiakkan sehingga obyektivitas kehilangan tempat di muka bumi. Menjadi mendiang. Khatam.

Kesedihan itu akan bertambah-tambah ketika mereka tahu kocek mereka habis untuk beli tiket dan kostum. Siapa yang menang, dengan mudah Anda bisa menebaknya. Uang. Cukuplah hari ini mereka menjadi representasi dari obyek demokrasi.

Alam bawah sadar negeri ini kemudian dipenuhi “Tapi” dan penafian yang tak kunjung habis. Selalu ada “tapi” seolah validitas fakta yang ada selalu tidak tuntas. Semacam professor feodal yang tak ingin anak didiknya lulus dengan nilai sempurna. “Dia bagus, tapi kurang ini dan itu.” Penafian yang sesungguhnya hanya upaya menutupi kegelisahan untuk mengakui.

Toh, tidak ada yang sempurna di dunia ini –pada pilihan atau nasib, termasuk pasangan yang kita pilih sendiri dan kita cintai sepenuh hati. Pasti ada perbandingan-perbandingan saat memilih, ada “tapi-tapi”-nya. Dia begini, tapi begitu. Itulah pilihan, sama seperti nasib: selalu ada “tapi” –yang kebanyakan dibentuk dari ketidakrelaan. Jangankan pasangan, Allah pun ditingkahi “tapi-tapi” itu ketika menunjuk Thalut sebagai raja Bani Israil. Tapi, Thalut tidak kaya. Tapi, kami lebih berhak menjadi raja. Dan terus begitu hingga perbendaharaan “tapi” Bani Israil berujung. Hingga melewati sungai dan tak diperbolehkannya meminum, kecuali seteguk pun, “tapi-tapi” itu masih bertebaran. Hingga Thalut tahu siapa yang mampu menyingkirkan “tapi” dari hidupnya. Siapa yang sepenuhnya patuh dan rela kepada perintahNya.

Dan, kita sebenarnya tahu di mana ujung dari “tapi” –kepasrahan. Kita pasrah, rela, ridha. Maka ketika kita merasa rela untuk mempersunting atau dipersunting, di situlah ada kerelaan, kepasrahan untuk menerima segala “tapi” yang ada. Di titik akad itulah ia menjadi muslim bagi pasangannya dalam arti yang paling filosofis –yang merasa pasrah, rela, ditenteramkan sekaligus menentramkan. Kalau ada “tapi-tapi” yang belum hilang sampai sekarang, barangkali kepasrahan itu belum ada. Atau setidaknya, kepasrahannya sendiri belum diimani sepenuhnya –baru di lisan, belum merasuk ke kalbu, apalagi ditingkahi dengan perbuatan.

Belakangan, “tapi-tapi” yang tidak menemui kepasrahan itu kian menyeruak, bahkan dibumbui dengan kebencian. Sikap obyektif makin hilang, seperti Abu Jahal dan pengikutnya yang disindir Allah beberapa kali –tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pastilah Allah jawabnya, tetapi toh tetap mereka tidak beriman. Tidak ada kepasrahan. Tidak ada kerelaan untuk melepaskan segala beban di hati.

Kalau negeri ini punya simpanan kepasrahan yang menguatkan, tentulah sudah lenyap “tapi” itu ke dasar bumi. Tidak ada lagi istilah muslim, tapi zalim. Tidak juga lagi dipelihara istilah adil, tapi kafir. Perdebatan yang muncul seringkali berubah menjadi perselingkuhan akidah: merasa benar dengan dalil samawi, tetapi ditingkahi dengan caci, bahkan memakan bangkai saudara sendiri.

Jika ditanya lagi tentang demokrasi, barangkali saya akan jawab: nikahi saja demokrasi seperti Anda menikahi pasangan sendiri. Meski Anda tahu dia memiliki banyak “tapi”, Anda menerimanya dan tetap mencintainya. Anda luruskan, bukan Anda caci maki. Anda benahi, bukan debatkan sepanjang hari. Karena hanya dengan begitu, Anda tahu siapa yang paling ikhlas kepada demokrasi.

Rotterdam, Mei 2016.

Gambar diambil dari: http://terpaksabikinwebsite.files.wordpress.com/2013/02/demokrasi_by_mhsahin.jpg

Sayap yang Berguguran

 

Dulu, saya berpikir bahwa candaan sarkastik dan gunjingan hanya bersisa di lorong-lorong pemukiman padat. Setidaknya demikian yang melintas di kepala saya ketika harus melewati gang sempit antara Salemba dan Cikini nyaris setiap hari. Nyatanya tidak. Ruangnya semakin menggelembung, bahkan terkoneksi dari satu telepon ke telepon lain. Telepon pintar, smart phone, kata dunia industri. Hiruk pikuk belakangan menegaskan itu hingga terang benderang. Perdebatan, saling unjuk dada dan tuding jari di media sosial menjadi teramat dangkal, tidak melebihi esensi dari lapisan bedak yang melumpuhkan rasa malu.

Beruntung saya menonton “Birdman” untuk menemani kebosanan saya di pesawat selama 13 jam. Innaritu dan Keaton memenuhi segala kapasitas “Birdman “untuk mengkritik, mengoreksi, bahkan untuk sekadar menggunjing dan bersikap nyinyir –di luar keistimewaan artistiknya. Persis dengan apa yang disebut Riggan (diperankan Keaton –tokoh Batman masa lalu) tentang histeria manusia kepada film yang penuh ledakan. Apa yang sedap dipandang tanpa perlu mengerutkan dahi, itulah yang menggairahkan pemirsa. Ruang kontemplatif menyusut seiring makin surutnya kebersediaan untuk diskusi secara filosofis tentang apa yang diperdebatkan secara beramai-ramai di ruang publik. ‘Ledakan’ yang disukai adalah running title menghebohkan di media online yang tetiba menjadi media pewarta tanpa mengerti dengan baik bagaimana menyusun berita. Ledakannya semakin besar jika dibagikan dari satu jejaring ke jejaring lainnya.

Tak ada yang peduli pada atsar, riwayat, referensi dan sitasi. Biarkan saja itu ditinggal di ruang akademik, perpustakaan dan majelis ilmu. Media war, katanya, menjadi alasan paling logis untuk bertindak tidak ilmiah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, menjadi gegabah karena mengandung fitnah. Mike Shinner (diperankan Norton) menjadi representasi bagaimana popularitas dan upaya menaikkan rating adalah “slutty little cousin of prestige”. Silly, tetapi sukses. Dan sayangnya, kita menyukai pendekatan itu.

Kini separuh dunia adalah hiburan –dan hampir sepenuhnya adalah bisnis, termasuk politik citra yang kian mengesampingkan batasan bagi negarawan yang sesungguhnya. Gemuruhnya adalah riuh pesta citra. Minim presisi tentang makna pengabdian dan kepemimpinan. Batasan itu semakin buyar dan kita menikmatinya tanpa gugatan, tanpa peduli lagi tentang dulu yang kita gagas sebagai visi dan misi. Kegagalan itu menegaskan komentar Tabitha tentang hilangnya marka filosofis sebuah peran. Dunia sosial hari ini berhasil menumbuhsuburkan selebritis, bukan tarung kepakaran pemimpin.

Apalah daya. Politik memang demikian, dan kita sudah begitu nyaman mengambil posisi komentator tanpa modal ilmu dan ketiadaan keasadaran untuk membangun logika. Kita merasa berhak membangun opini apapun, berebutan menempati ruang yang dulu hanya disinggahi oleh reporter berkelas dan mumpuni. Pun ia seorang ‘pakar’, semacam Tabitha, apakah ada kepantasan untuk mengatakan ini jelek dan itu bagus sesuai seleranya?

Muhammad tidak datang dengan cacian, meski ia disemburi seribu olokan. Pun tidak dengan kemarahan, meski ia ditimpuki bebatuan. Ia datang dengan ketegasan tauhid sambil mempertontonkan kesungguhan akhlak yang ia pelihara hingga tak lepas gelar “Al Amin” dari pundaknya. Siapakah tak mengenal Abdullah bin Ubay bin Salul –yang akibat kedatangan Muhammad, gelar raja yang semula akan direngkuhnya menjadi hilang? Ia pentolan kaum munafik, tapi Muhammad tidak melawannya dengan kemunafikan yang lain. Abu Suyfan adalah penentang utamanya yang bersorak saat Hudaibiyah, tapi tak satu kata cemoohan pun keluar dari mulut Muhammad saat Fathu Makkah. Khalid bin Walid adalah komandan Quraisy saat melumpuhkan Muhammad di Uhud, tapi Muhammad menaruh hormat padanya hingga terbitlah kesan mendalam yang membuat Khalid mendekat kepada Islam.

Hari ini kita kehilangan makna –semacam menegakkan fiqih tanpa akidah. Ruku’ sujud-nya tak mengekalkan ihsan –mengaburkan hakikat ‘kannaka taraahu’, bahkan ‘fainnahu yaraaka’. Kalaupun kemenangan yang pantas dicari, kurang layak apakah upaya Amr bin Ash merebut Alexandria? Padahal, tuntun Khalifah Umar, cukuplah mencari sunnah yang terabaikan selama ini. Dan Alexandria bebas tanpa perlawanan. Pasukan Romawi walk out.

Yang hilang dari tekunnya Imam Bukhari menelusuri sejauh asal riwayat hadits yang tak terekam secara fisik, barangkali itu yang perlu diperbaiki. Agar potensi merebaknya rantai berita palsu bisa semakin kita kikis. Karena itulah pembeda ilmu. Yang hilang dari jernihnya gagasan Imam Syafi’i yang menyelisihi gurunya sendiri, Imam Malik, barangkali itu yang perlu ditanamkan kembali. Agar ranting yang bercabangan tak meruntuhkan kokohnya dahan penghormatan dan persaudaraan.

Kalaulah kebenaran yang memang dipertaruhkan, pilihlah jalan Ja’far bin Abu Thalib. Ayahnya menolak tauhid, tapi Ja’far-lah yang menjadi pemimpin dalam ungsian hijrah pertama ke Habasyah. Kecintaannya kepada kebenaran telah ditutup dengan kesetiaannya merawat amanah memegang panji meski kedua tangannya tertebas pedang lawan. Syahid-nya adalah menjemput gelar Ath Thayyar –penerbang. Ia terbang, jauh melampaui jangkauan “Birdman” yang baru selesai dengan kritiknya. Ja’far membuktikan makna konsistensi kepada kebenaran, maka dua lengannya yang putus telah diganti dengan gelar Dzul Janahain –yang memiliki dua sayap. Ya, sayap yang kian hari kian berguguran.

Rotterdam, April 2016

Gambar diambil dari : http://4.bp.blogspot.com/-lwnDMqMyVg8/VNm0cec_U_I/AAAAAAAAAjU/oRjU1zINMs8/s1600/peri.bmp

Bhinnekatopia

ZootopiaAnak saya duduk manis di bangku sebelah saat saya mengajaknya menonton ‘Zootopia’ –film yang diidam-diamkannya beberapa hari. Baginya yang baru berusia tiga tahun, seekor kelinci bisa menjadi polisi adalah keanehan yang sesungguhnya, mirip seperti Chief Bogo –seekor banteng yang menjadi komandan polisi, tak memedulikan keberadaan Judy Hopps si Kelinci Polisi di pasukannya. Lebih-lebih, konsep hubungan binatangnya terdistraksi; rubah yang bersahabat dengan kelinci ketika ia mengingat seharusnya mereka saling berkejaran di film lain. Singa, baginya selalu tampak jahat karena memakan zebra. Tetapi, melihatnya berdampingan dengan domba sebagai sepasang walikota dan wakil walikota juga tampak tidak memuaskan.

Ya, perdamaian antara pemangsa dan hewan mangsaannya memang terlalu sempurna. Pertanyaan tentang ‘kesempurnaan’ itu yang membuat kebingungan anak saya, bagi saya, adalah sebuah keberhasilan pergulatan pemikirannya sendiri. Saat ia bertanya bertubi-tubi ke saya, saya justru memikirkan hal lain yang sama utopisnya dengan Zootopia: Bhinnekatopia.

Menggelitik sekali ketika Bhinneka nampak sebagai sebuah gagasan utopis –yang semasa kecil selalu kita terima secara dogmatis bahwa itu adalah sebuah kenyataan yang sudah dicapai. Achieved ideal state. Gagasan itu, bahkan, sesungguhnya semakin utopis ketika demokrasi masuk ke ruang privat lewat majunya teknologi yang menari-nari dengan perantara jemari di layar telepon pintar. Apapun bisa sesuka hati diungkapkan; mulai dari yang dianggap ‘lurus’, salah, kafir, sanjungan karbit, sampai makian yang bersahut-sahutan. Demokrasi –yang ruangnya dibuka oleh reformasi dan kematiannya juga dijumpai akibat pintunya yang terlalu lebar dibuka.

Saya lantas mengingat Karl Marx –yang pemikirannya dikacaukan oleh pengusung Marxisme modern, Lenin, demi kekuasaan otoriternya. Ia mengubah pemikiran filosofisnya mengenai kesenjangan akibat pemilikan hak pribadi menjadi sebuah gerakan sosialis. Pada mulanya, ia melihat ketidakadilan, lalu berupaya menghapus hak milik pribadi yang menjadi musabab kekacauan di zamannya menjadi milik bersama demi dunia yang lebih baik.

Marx mengerti –dan dengannya ia berbeda dari filsuf lainnya, bahwa yang dipikirkannya mengenai kesamarataan di dunia adalah utopia. Kesempurnaan yang tak mungkin dicapai. Pemikiran awal yang juga sempat dikembangkan para sarjana Islam ketika terjebak dengan pemikiran negara Islam; praktis yang secara praktik justru tidak terekam dengan jelas dalam sejarah dan memicu potensi utopia baru. Juga dengan Bhinneka Tunggal Ika yang sempurna –dan mungkin hanya bisa ‘tampak sempurna’ di bawah rezim otoriter.

Dunia yang damai ini, seperti yang sering disuar-suarkan para pemimpin dunia, juga sebuah gagasan utopis –seberapapun sering konferensi para pemimpin dunia diselenggarakan dalam beragam bingkai regional dan global. Seperti mereka yang menginginkan Israel berdamai dengan Palestina; merindukan singa berelus-elusan memangku domba-domba sambil menyisir bulunya yang lebat selepas mandi.

Toh, hari ini kita mulai menampakkan kemuskilan gagasan itu, meski tanpa sadar. Mengaku Bhinneka, tetapi memantik perselisihan antar etnis, agama, atau suku demi sekadar bergulat politik menduduki jabatan tertentu. Berkelahi mulut dan media demi jagoan politiknya masing-masing. Menentang etnis minoritas dan menggugat kaum mayoritas, sambil terus menegaskan bahwa Bhinneka adalah gagasan utopis.

Jikapun bergenggaman, berpelukan, kita masih tetap menyiapkan kuda-kuda –mirip Judy Hopps dengan kuda-kudanya saat Nick Wilde si Rubah mempertanyakan persahabatan mereka. Kita masih menyiapkan obat anti rubah, merasa tak aman, bahkan menyuarakan dengan lantang ketidaksekuritasan kita. Kita diam-diam mengubah jubah menjadi Bellwether si Domba yang dengan liciknya memanfaatkan rasa tidak amannya dari para pemangsa dengan menjebak para pemangsa kehilangan jabatan struktural dan fungsional mereka dari kehidupannya. Caranya, adalah cara yang makin hari makin sering kita lakukan: menimbulkan rasa tidak aman di tengah publik dari kelompok lain yang kita anggap sebagai ancaman. Kampanye kita –yang kita yakini adalah kebaikan, bahkan firman, justru adalah kebencian dan permusuhan.

Marx tidak berhenti pada filosofinya, tapi menggerakkannya dalam koridor gerakan sosialisme. Begitupun Muhammad Sang Rasul, tidak berhenti pada gagasan rahmatan lil ‘alamin, tetapi memicu pergerakan sosial penegakan keadilan. Mobilitasnya melintas keluar dari sekadar sajian ayat, tapi praktik yang kaffah. Kita pantas, dan sudah sepatutnya, menirunya bukan sekadar pada gagasan literer, tapi pergerakannya yang ia tekuni tanpa pernah keluar jalur dari kampanye teologisnya sendiri; “li-utammima makaarimal akhlaq”, penyempurnaan kemuliaan akhlak.

Kita berbicara lugas tentang akhlak sambil melanggarnya sendiri –diam-diam atau terang-terangan. Kita banyak mendebatkan pentingnya integritas sembari mengoyaknya pelan-pelan dari dalam diri sendiri.

Selagi perilaku kontradiktif itu masih mengungkung kita, Bhinneka akan selalu menjadi gagasan utopis. Yang mengubahnya bukan sekadar angan-angan hanyalah kemauan kita untuk menggeser ego praksis menjadi i’tikad baik yang dikoleksi dalam gerakan kultural.

Dunia, bagaimanapun, secara natural adalah kumpulan fragmen yang saling memangsa dengan afinitas dan kecenderungannya masing-masing. Gagasan utopis mesti diyakini sebagai ide yang hanya bisa disemai di surga. Selebihnya, adalah usaha merapatkan gagasan menjadi gerakan. Bukan bualan. Itulah yang menjadikan kita menempuh jalan kehidupan sesungguhnya; bertungkuslumus membuktikan “ayyukum ahsanu ‘amala”; siapa yang amalnya paling baik.

Puncak, 11 Maret 2016IMG_20160305_141429[1]

[TELAH TERBIT] BUKU: YANG CANTIK YANG (TIDAK) BAHAGIA

Alhamdulillah,

Buku “Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia” sudah terbit. Silakan lakukan pemesanan dengan melengkapi nama, alamat dan jumlah pemesanan ke email farranasir@gmail.com. Semoga menginspirasi….

“Kau bertanya balik, “Mengapa mata yang tak pernah bersua bisa saling jatuh cinta?” Ah, Dik. Ada Zat yang tak pernah kita temui, tapi namaNya kita rapalkan setiap saat. Ada Zat yang tak pernah kita tatap, tapi teramat berharga untuk kita tinggalkan, meski sejenak. Ada pula manusia yang antara kita dan dirinya dipisahkan jarak berabad jauhnya. Kita tak pernah melihatnya, tak pernah menggenggam tangannya, tak pernah berguru langsung kepadanya. Mengapa pula hubungan kita ini lantas dipertanyakan –menjadi suluh yang tak pernah padam meski kau tiup dengan semerbak angin delapan penjuru?”

djokokororet – Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia

Ayo, segera pesan!

3 Jurus jitu
3 Jurus jitu

 

JokoBowo

Aku melihat Joko ketika ia bersalaman dengan Bowo. Hangat, bahkan nyaris berpelukan. Itu pertama kali aku melihat mereka. Yang satu dengan perawakan kecil, satu lagi cukup besar meski usianya membujur ke cakrawala barat. Tidak ada yang istimewa, kecuali riuh-riuh kecil yang perlahan seperti bola salju yang menggelinding. Bertambah besar, bergemuruh.

 

Joko ikut duduk bersamaku di tepi kali sambil melempar pancing. Katanya, “Banjir ini menghanyutkan ikan ke lautan.” Aku tertawa, lalu membantah. “Jangan terlalu yakin, Joko.” Dia diam menatapku. Menunggu, barangkali. “Sampah di ujung sana, sebelum lewat jembatan kedua, sudah menghalangi ikan-ikan pergi ke lautan,” jawabku tanpa perlu ia bertanya. Lalu ia gantian tertawa.

 

Duduk kami berlama-lama, menikmati sore yang padam hingga gulita. “Kau tahu berapa traktor yang harus aku kerahkan untuk membuat sungai ini tak meluap?” Ia bertanya. Serius. Padahal, aku sudah siap beranjak menuju mushalla, karena adzan telah redup sejak setengah jam yang lalu.

 

“Kau tanya berapa?”

 

“Iya, berapa? Berapa pekerja yang aku butuhkan? Berapa banyak uang yang harus aku gelontorkan?”

 

Aku tertawa. Kutepuk pundaknya untuk membuka mata. “Kita sudah terlalu lama menunda panggilan Tuhan. Bahkan, Umar tak perlu ratusan, apalagi ribuan traktor untuk mencegah Nil meluap. Ia hanya butuh secarik surat. Dan Tuhan… diikatnya dalam aksara.” Aku menarik tangannya, berlari-lari kecil sambil berharap Tuhan belum menutup pintu maghrib.

 

Sehabis maghrib, Joko tak tampak lagi. Ia pergi tak berpamitan. Barangkali ada urusan penting, aku tak tahu. Yang aku tahu adalah Bowo yang duduk berlama-lama di tiang mushalla sambil memegang kalam -semacam lidi yang dipakai untuk menunjuk huruf saat mengeja Qur’an. Mukanya lelah, entah mengapa. Tapi, saat menyambutku datang, ia bergegas berdiri dan berucap, “Salam hormat, Saudaraku.”

 

Tidak aku tanyakan perihal apapun tentang duduknya sehabis maghrib, namun ia yang sukarela berucap. “Kau tahu kalam ini, kan?” Aku mengangguk. “Untuk apa?” Mengeja, kataku. Betul kan, tapi ia tertawa. “Kau mengeja dengan mulut, lidahmu sendiri. Tapi kau butuh tanganmu bergerak juga?”

 

“Kontrol,” jawabku lagi.

 

“Sejak kapan satu bagian tubuh mampu mengontrol bagian tubuh yang lain?”

 

“Sejak kau belajar mengeja, Bowo. Kau tahu lidahmu tak boleh lebih lekas dari jejarimu. Jejarimu tak boleh lebih lekas dari lidahmu.”

 

Dan sejak itu, aku tahu apa arti kebenaran dan kemunafikan.

 

***

 

Riuh di belakang semakin menjadi. Hari ini aku dengar lagi: sesatu gerombol berteriak nama Joko, sesatu gerombol lagi mengurai huruf B-O-W-O. Aku tak tahu lagi sejak pertemuan mereka yang pertama aku lihat, seberapa sering sekarang mereka berjabat.

 

Aku tak merindukan riuh. Aku memilih duduk di tepi sungai, lalu memegang kalam sehabis maghrib di mushalla. Meski hujan, meski badai. Karena aku tahu, Tuhan masih ada. Aku meminta upah dariNya, bukan dari sesiapa.

 

Jakarta, akhir Mei 2014

 

Foto fitur diambil dari: https://ediong.blogspot.com/2017/09/gambar-lucu-jokowi-prabowo.html?m=1

Terbukti Manusia

Beberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Lanjutkan membaca Terbukti Manusia

Jakarta Sehat vs Dokter

Gambar

Ahmad Fuady*

(Dimuat di Harian Republika, 21/03/2013)

Kebijakan Gubernur DKI mengeluarkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) menuai pro dan kontra. Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pun beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang mencederai perasaan dokter. Kalimat “Saya sikat Bapak-bapak” di depan para dokter mengisyaratkan ketidakpahamannya mengenai sistem layanan kesehatan yang tengah dibangunnya di Jakarta. Alih-alih menganalisis lebih dalam mengenai kurangnya fasilitas kesehatan, masyarakat justru digiring ke dalam opini bahwa dokter yang paling bertanggungjawab atas banyaknya kasus kematian dan penelantaran pasien belakangan ini.

Lanjutkan membaca Jakarta Sehat vs Dokter

Mencari Namrudz

Demokrasi barangkali telah menjadi lahan bercocok tanam paling menguntungkan hari ini, bukan ladang gandum, pabrik tempe, atau kandang sapi. Silakan hitung berapa banyak kapital yang digelontorkan dalam gerbong demokrasi, dari sekadar bergembiranya media sosial, munculnya banyak pengamat demokrasi, keuntungan lembaga survey, hingga dana kampanye yang jumlahnya barangkali cukup untuk memberi makan jutaan rakyat yang fakir. Sayangnya, lahan yang subur itu tak juga dapat diprediksi kapan dapat dipanen. Buahnya rupa-rupa. Yang sinis akan beranggapan bahwa buahnya lebih banyak yang menjelang busuk –jika tidak mau dikatakan memang busuk benar. Yang permisif berusaha meyakinkan untuk terus bersabar meski kabinet sudah berganti berkali-kali.  Jangan tanyakan mereka yang anti. Demokrasi sudah diketuk palu sebagai produk thaghut yang mesti dimusnahkan, berkebalikan dengan para pelaku demokrasi yang terus bergeming meski dikritik. Mereka itu yalhats aw tatrukhu yalhats; preokupasinya terhadap demokrasi sudah tak bisa digoyang.

Lanjutkan membaca Mencari Namrudz

Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

maling sepatuKetika semua orang ribut bicara ulah Malaysia yang mencuri budaya negeri, kawan saya justru kerepotan sendiri dengan sepatunya yang hilang. Kawan saya itu merengut, bersungut-sungut, sambil bercerita bahwa belum sepekan yang lalu telepon selulernya juga hilang. Bukan di mana-mana. Bukan di toilet, bukan di pasar, bukan di terminal. Malah di tempat yang dia pikir paling aman sedunia karena labelnya yang luar biasa gagah: Rumah Tuhan. Telepon selulernya hilang saat berdesakan setelah selesai wudhu, sedangkan sepatunya raib setelah khutbah dan shalat Jum’at selesai.

Lanjutkan membaca Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya