Arsip Kategori: #MenggagasKembaliIndonesia

Kakak Kelas

Di satu sore, ia bertanya lagi, “Memang natal itu apa?” Melihat matanya, kami yakin ia akan belajar lebih banyak lagi. Bukan sekadar untuk ia ketahui, tetapi menjadi kearifan yang ia hayati.

birru

Ada kekhawatiran yang cukup besar ketika melepas Birru sekolah di Belanda, terutama dengan bahasa yang tidak dikenal sebelumnya dan lingkungan yang sama sekali baru baginya. Sebelum memulai sekolah, kami sempat menduga-duga akan berapa lama masa adaptasi dengan sekolah barunya berlangsung, lengkap dengan tangisan yang sudah siap kami antisipasi jika memang harus terjadi. Satu minggu, dua minggu, atau satu bulan? Dulu, pertama kali masuk Day Care di Jakarta, Birru menangis setiap kali dititipkan dalam dua pekan pertamanya. Usianya saat itu memang masih satu tahun tiga bulan. Tetapi, sudah lewat usia tiga tahun pun, Birru terkadang merengek tak mau ditinggal, apalagi setelah melewati libur yang agak panjang. Bunda-Bunda pengasuhnya yang biasa menenangkan –lalu melaporkan di sore hari: sampai jam berapa Birru tadi pagi menangis. (Credits to Bintang Waktu dan Bunda-Bundanya yang sabar)

Juf –sebutan bagi guru di sini, juga memberi waktu adaptasi satu pekan. “Kalau kami tidak bisa tangani, akan kami telepon,” begitu katanya. Ya, hari pertama Birru menangis, dan dibiarkan saja. Kami sudah terbiasa dengan perkara lepas-melepas dan uraian air mata. Kami percaya ia akan baik-baik saja. Birru kemudian dibebaskan memilih mainan apa yang dia suka. Sepanjang hari itu kami tidak ditelepon dan kami berharap itu menjadi pertanda baik. Dan benar, hari kedua dan hari-hari selanjutnya berjalan jauh lebih mudah dan mulus. Tanpa tangisan lagi, meskipun tidak ada obrolan dengan teman yang lain hingga beberapa pekan. Kami takjub dan merasa bersyukur karena yang terjadi dengan Birru benar-benar di luar dugaan kami.

Kami meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Barangkali faktor mainan dan kebebasan yang diberikan Juf untuk memilih apa saja tanpa paksaan dan tanpa aturan baku membuat Birru merasa nyaman. Kami berusaha mengenali karakternya yang memang tidak suka dengan keriuhan dan sambutan berlebihan. Birru lebih nyaman dicuekin. Dia akan mengamati dari jauh, menggerakkan matanya bolak-balik, kadang tersenyum sendiri. “I love his eye,” kata salah satu Juf kepada kami tentang matanya yang diam-diam mengamati kawannya beraktivitas.

Faktor adanya dua ‘kakak’-nya, Natasha dan Rowel, juga membantu Birru beradaptasi. Natasha dan Rowel adalah anak dari pasangan Belanda-Indonesia yang apartemennya kami sewa. Jika Birru tampak tidak nyaman, Juf menawarkannya untuk didampingi Abang Rowel atau Kakak Natasha (yang ini, Birru selalu salah menyebutnya sebagai Tanasha). Mereka juga seminggu sekali bertemu di pengajian dan sesekali saling kunjung. Belakangan ini akan lebih sering lagi dengan jadwal mengaji bersama setiap pekan.

Di luar itu, ada satu yang menarik dari yang kami perhatikan. “Birru is so popular,” kata salah satu orangtua teman sekelasnya.

Ya, Birru dikenal baik semenjak ia masuk kelas tersebut. Mungkin karena ia masuk sendirian di tengah tahun, mungkin juga karena dia satu-satunya anak yang tidak berbahasa Belanda. Di sekolahnya, Group 1 dan Group 2 digabung dalam kelas yang sama. Tujuannya adalah membantu anak di Group 1 untuk mengenal apa yang mereka akan pelajari dan membuat anak di Group 2 lebih cepat belajar dengan mengajari adik-adik kelasnya –dan tentunya, ikut ‘mengasuh’-nya. Sebenarnya, itu bukan hal baru baginya. Sejak usia 1,5 tahun, ia terbiasa berada di kelas dengan rentang usia yang cukup lebar. Tetapi, kelas yang kecil dan kebebasan memilih aktivitas memberikan efek yang berbeda dalam dirinya. Setiap kali Birru masuk, ia dipeluk kakak-kakak kelasnya, dielus-elus kepalanya, dipegang tangannya untuk berlari bersama. Kakak-kakak kelas yang manis dan baik sekali.

Suatu kali saya mengantarnya, kakak kelasnya berlari ke arah kami. Memeluk Birru erat sekali sambil menempelkan keningnya ke kening Birru. “Birrruuu!” serunya. Dengan logat ‘R’ khas bule yang kadar tebalnya melebihi ro’ tafkhim. Lucu sekali. Di tempat bermain, temannya yang lain –kali ini perempuan, menarik tangannya dan mengajaknya berlari-lari berputar lapangan. Saya bahkan sampai hafal siapa yang membantunya menurunkan bangku dari atas meja setiap pagi sebelum mulai aktivitas di kelas. Ya, setiap pagi mereka masuk kelas setelah melepas jaket dan sepatu, menggantinya dengan sandal khusus dalam ruangan yang kami sediakan sendiri, lalu menurunkan bangku yang masih tersusun terbalik di atas meja untuk kemudian membuat setengah lingkaran di dalam kelas.

Mulanya, Birru tidak bisa melakukannya sama sekali. Saya yang mengintip dari luar bermaksud membantunya menurunkan bangku, tetapi dicegah oleh Juf. “Biarkan saja. Biarkan temannya nanti akan membantu,” katanya. Kali terakhir saya mengintip,  Birru sudah bisa menurunkannya sendiri.

Birru nampak antusias karena sambutan kakak kelasnya yang juga hangat kepadanya. Barangkali Juf sukses memberi pesan kepada mereka untuk membantu Birru beradaptasi. Dan, kelas yang kecil membuat prosesnya lebih mudah. Dua belas anak Group 1 dan 12 anak Group 2 yang berinteraksi akhirnya membuat Birru berani tampil di atas panggung bersama teman-temannya untuk pertama kali.

Kami tidak berharap banyak ketika Maandsluiting (tutup bulan) tiba dan giliran kelasnya tampil di panggung, di depan orangtua murid yang memenuhi aula sekolah. Birru sudah berkeras tak mau ikut tampil. Kami memandangnya sebelah mata untuk yang kedua kali. Saya pun memutuskan tetap masuk ke kantor dan istri saya menyibukkan diri di rumah. Tidak ada persiapan apapun. Tapi, apa yang kemudian terjadi membuat kami kaget bercampur bahagia. Birru naik ke panggung. Dia ikut bernyanyi dan tertawa-tawa bersama kakak-kakak kelasnya. Sesuatu yang sama sekali di luar dugaan kami karena sudah dua kali kesempatan pentas di Daycare-nya yang lalu, dia merajuk.

Kali ini mungkin ketegangannya luntur. Ia merasa di atas panggung tanpa harus dengan kostum-kostum unik adalah hal yang wajar dan tidak perlu ditakutkan. Tampil apa adanya saja –sama seperti Bunda-Bunda pengasuhnya di Daycare yang selalu bilang, “Birru hebat kok waktu latihan.” Barangkali ada ketegangan yang berbeda antara latihan dan di atas panggung sungguhan yang belum mampu ia atasi. Maandsluiting ini melegakan kami. Kakak-kakak kelasnya pun ikut membuat kami lega. Birru ada di tengah mereka yang menyayanginya.

Pekan awal Desember, Trevor –kakak kelasnya yang namanya sering disebut, memberikannya kartu. Kami bingung untuk apa, lantas kami kembalikan karena yang tertulis adalah kartu asuransi miliknya. Ternyata, Trevor ingin memberikan sesuatu untuk Birru. Setelah “keliru” memberikan kartu asuransi, pekan berikutnya ia memberikan kartu ucapan selamat. Memang, itu kartu ucapan selamat natal –dan Trevor, juga orangtuanya, pasti mengerti bahwa kami tidak merayakannya. Kartunya sendiri tidak hanya ditujukan untuk Birru seorang, tetapi juga untuk yang lain. Meski begitu, ia memberi sesuatu yang spesial: gambar dua anak saling berpegangan. Persis seperti apa yang mereka lakukan hampir setiap hari. Kartu yang ditulisnya sendiri itu sudah cukup bagi kami untuk merayakan persahabatan kecil yang terjalin meski tanpa komunikasi yang bisa saling dimengerti oleh mereka sendiri.

Birru menunjukkan gambar di kartu yang diterimanya. “Itu kerstboom, Buya,” sambil menunjuk gambar serupa cemara. Sepertinya ia sekadar tahu namanya, belum paham apa maksud gambarnya. Di satu sore, ia bertanya lagi, “Memang natal itu apa?” Melihat matanya, kami yakin ia akan belajar lebih banyak lagi. Bukan sekadar untuk ia ketahui, tetapi menjadi kearifan yang ia hayati.

Rotterdam, Desember 2016

Iklan

Sumbat Komunikasi Dokter Layanan Primer

Dua hal besar dalam pergolakan ini yang harus ditekan: ketergesa-gesaan dan kekhawatiran terhadap perubahan. Perubahan tidak dapat disangkal sebagai sebuah keniscayaan pada zaman yang melaju begitu cepat. Namun, keterburu-buruan untuk berubah hanya akan mengosongkan hasil. Ketakutan dan kekhawatiran kita pada perubahan, di sisi yang lain, juga tidak akan membuat kita beranjak dari manapun. Jumud.

find-the-best-primary-care-service-for-your-better-health

Lanjutkan membaca Sumbat Komunikasi Dokter Layanan Primer

Dokter Layanan Primer dan Jebakan Spesialis

JKN sesungguhnya tengah menyadarkan apa yang sebenarnya perlu dilakukan untuk kembali kepada filosofi layanan kesehatan yang ideal, terlepas dari berbagai kekurangan teknis yang masih belum konsisten antara konsep dan praktik. Penguatan layanan primer penting dan sangat dibutuhkan. Pertanyaan mutakhirnya kemudian, “Apakah dibutuhkan ‘spesialis’ baru di layanan primer yang dapat menunjang perbaikan sistem secara menyeluruh?”

primarycare

Lanjutkan membaca Dokter Layanan Primer dan Jebakan Spesialis

Tahdiri

Begini semestinya Tahdiri. Ia punya makna yang jelas dalam filosofi madrasah: “attending”, menghadiri. Ia punya makna lebih tepat dibandingkan istilah lain yang kerap dipakai, misalnya ‘Bustanul Athfaal’ atau Taman Kanak-Kanak sekalipun.

img_20161013_0952351

Tepat sepekan setelah ulang tahunnya yang keempat, Birru masuk sekolah di lingkungan yang sama sekali baru. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga kami, orangtuanya. Ia masuk Grup 1 –setingkat Taman Kanak-kanak (TK) di Indonesia. Pada usia yang sama, saya dulu masuk kelas tahdiri di sebuah madrasah.

Mengapa tidak masuk ke TK? Pertanyaan itu memang sempat mampir di kepala saya. Tetapi, keputusan masuk kelas Tahdiri saat itu, seingat saya, adalah keputusan bersama saya dan orangtua. Tidak keputusan yang bulat dalam sebuah mufakat. Mereka menganjurkan, saya mengangguk, lalu kami mencoba. Jawaban yang saya ingat kala itu adalah bahwa kelas Tahdiri lebih baik, pelajarannya lebih bagus dan akan lebih siap masuk Sekolah Dasar (SD).

Kami menemani Birru di dua hari pertamanya; masa percobaan sebelum liburan musim gugur. Dan memang, seperti yang disebutkan kepala sekolah dan guru kelasnya, masa Grup 1 adalah masa bermain. “Ia cukup hadir di kelas, melihat-melihat apa yang akan dilakukannya nanti di Grup 2 dan seterusnya,” begitu kata guru kelasnya. Kelasnya penuh dengan mainan, tanpa pelajaran formal dengan guru berdiri di depan kelas dan murid menyimak di mejanya. Tidak ada pelajaran baca tulis, juga berhitung.

Hari-hari pertamanya adalah hari-hari dengan mainan binatang serupa kebun binatang mini: boerderij. Gurunya membiarkan sesuai apa yang membuat Birru nyaman sampai akhirnya ia dapat bermain dengan kawan-kawannya meski dalam bahasa yang saling tidak dapat dipahami. Tapi, gurunya sekali lagi menegaskan, “Playing is a language.” Jadi, jangan khawatir.

Begini semestinya Tahdiri. Ia punya makna yang jelas dalam filosofi madrasah: “attending”, menghadiri. Ia punya makna lebih tepat dibandingkan istilah lain yang kerap dipakai, misalnya ‘Bustanul Athfaal’ atau Taman Kanak-Kanak sekalipun. Di situlah masa anak-anak melihat apa yang akan mereka lakukan dalam beberapa tahun ke depan tanpa ada ‘tekanan’ untuk mampu membaca dan berhitung. Tapi, filosofi yang baik itu hilang seiring dengan perkembangan pendidikan yang kerap menuntut anak sudah mampu membaca dan berhitung –bahkan, diseleksi untuk masuk SD.

Tuntutan itu membuat filosofi belajar di masa kanak-kanak menjadi amat sempit dengan duduk dalam kegiatan pembelajaran yang formal –meski juga selalu ada sesi bermain. Tahdiri bukan berarti hanya bermain, ia juga belajar. Learning by taking experiences. Karena anak-anak dapat belajar dengan cepat, maka mereka dapat pula membaca, menyusun huruf-huruf namanya, dan berhitung tanpa harus dituntun untuk menghafal. Lebih dari itu, karakter mereka ikut dibentuk untuk dapat bekerjasama, saling membantu, bergiliran dalam antrean, dan sikap-sikap baik lain yang membuat anak-anak juga ikut mengingatkan orangtuanya di rumah ketika mereka melakukan hal yang keliru.

Tahdiri bukan berarti pula hanya bermain, ia juga belajar. Ada penugasan dalam permainan, tetapi tidak ada target capaian kognitif apapun. Tidak perlu ada pekerjaan rumah yang harus dibawa pulang, tidak perlu pula membebani orangtua dengan prakarya apapun. Tahdiri berarti ia cukup hadir di dalam kelas, menikmati belajar yang menyenangkan di dalamnya, dan menyenangi hal-hal baik yang perlahan akan membentuk dirinya.

Rotterdam, November 2016

Revisiting the 'Jakarta Sehat' scheme

Tulisan saya di The Jakarta Post tentang Jakarta Sehat. Semoga bermanfaat.

Revisiting the ‘Jakarta Sehat’ scheme

Creating a healthier Jakarta through the Kartu Jakarta Sehat (Jakarta Health Card) program has run beyond the card, which focused more on coverage at the beginning. Jakarta Governor Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama and the provincial health agency have upgraded 20 community health centers (Puskesmas) to subdistrict public hospitals and launched a grassroots-based program called “knock on the door with heart”.

 

The efforts look impressive, but beg the question as to whether they will lead to a fundamental, systematic change in the provision of health services for Jakarta citizens.Indeed, Jakarta is a unique prototype — and its health system in an urban setting may differ from other areas. Jakarta has no shortage of health workers — with 11,178 doctors, 10,164 nurses and 1,683 midwives. Jakarta requires more than bringing specialist-based services to the subdistrict level as a shortcut that could lead to an unstructured referral system.

The major step is strengthening primary care services. It should shift health-care toward long-term person-focused care (not disease-focused), comprehensive care and coordinated care. Primary care services should manage the population carefully, i.e. recognizing not only patients’ bodies, but their mental health; treating them as people; giving care in the long-term; and helping them with seeking care elsewhere if needed.

The governor offered an exciting initial concept of “private physicians”. However, follow-up measures have to be taken. The government should adjust the primary care system by transforming clinics at the primary level into “primary, family clinics” where families stand as the focus of services.

There is no precise definition of a “primary clinic”. However, it would solve the current, drawn-out stagnation in health practices. There are at least two major points of change. First, the emphasis on family units should balance the proportion of total coverage with a reasonable ratio.

The current ratio of doctors to people in Jakarta — at 1:1,000 — is much better than the WHO recommendation of 1:2,500. This idea would be a breakthrough to address the shortage of Puskesmas that should cover up to 40,000 people. Currently, even with an estimated two visits per person, it would be 80,000 visits per year.

For example, if there are four doctors at a Puskesmas, they have to treat 20,000 people in a year, or 384 people per week. It also means they have to meet 11 patients per hour and patients have less than six minutes for their consultation. What quality of care do we expect?

With the overload coverage, Puskesmas cannot undertake promotion and prevention programs either. The “knock on the door with heart” program may run to a very limited extent — no precise assessments, follow-up projects, or changes in grassroots programs.

It is obvious that we should reset capitation coverage to the ideal ratio, 1:2,500 to 1:5,000. By this estimation, Jakarta requires 14-351 doctors per subdistrict — and it is very likely to conform. Assuming three doctors practice at each clinic, there would be five-100 primary family clinics per subdistrict. Some subdistricts may be covered only by Puskesmas, but more subdistricts require additional clinics from private providers.

Restrictions on coverage per clinic will inevitably reduce capitation funds obtained — and a much less than decent gain for medical staff. The government must align the policy by providing incentives beyond the capitation funds for those working in the primary family clinics, including those practicing with private health-care providers. Additional funding to bolster the current Rp 8,000 (60 US cents) to Rp 10,000 per capita may not be feasible.

However, instead of giving a salary of Rp 10-13 million to a general practitioner at a Puskesmas, this re-organization of the primary care system with appropriate additional incentives would encourage private providers to support the Jakarta Sehat scheme. For example, the government could give a basic incentive of Rp 10-15 million to every provider that wants to join, then provide performance-based incentives for those that perform well. The provincial health agency, then, should arrange a credible performance appraisal system.

Another important approach is delivering team-based services consisting of doctors, nurses and midwives, which would improve the quality of health services. It would address the absence of an integrated and continuous service that currently exists in primary care. So, the teams would provide services with clear responsibilities, including ensuring people can access services any time, as needed.

The current practices in Puskesmas, which serve people only during work hours, are unfavorable for those who work. Changing the practices of health behavior is another concern to address.

This change would restore the function of primary care as “public” health-care providers. Puskesmas, given their original function, should diminish curative measures and shift to more health promotion and prevention measures for the public interest.

This reorganization, even reengineering, of the health system requires changes in mindset and behavior in delivering services, as well as strong capacity building for health workers.

Accordingly, support from academic institutions, e.g. medical schools and health faculties or academies, is critical.

Networking within the academic health system would be the best alternative. However, it is a sensitive measure. A highly designed structure and notable roles, responsibilities and authority are prerequisites for running the system properly.

Revisiting the Jakarta Sehat program may sound revolutionary or cliché. The obstacles are formidable. Learning from what the Jakarta governor has done, reconstructing the health system in Jakarta is nothing complicated, but necessary.

________________

The writer is a lecturer at the University of Indonesia’s School of Medicine, with focuses on health economics and policy issues.  He is also a member of Hemisphere, a health research and policy analysis group.

– See more at: http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/05/revisiting-jakarta-sehat-scheme.html#sthash.2ht89Cr5.dpuf

Lanjutkan membaca Revisiting the 'Jakarta Sehat' scheme