Arsip Kategori: Refleksi

Membakar Pintu Istana

Siang itu seorang lelaki datang ke istana Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, tepat di jantung kota Kufah. Ia membawa pesan yang sangat jelas: bakar pintu istananya, lalu segera pulang. Lelaki itu, Muhammad bin Maslamah, dengan cergas melaksanakan perintah yang diberikan. Ia membakar pintu istana yang membuat Sa’ad terkaget-kaget.

Lanjutkan membaca Membakar Pintu Istana

Iklan

Ummiy YouTube, Ummiy Medsos

Tapi, sebegitu luasnya mata pandang kita, seringkali kita menemui jalan buntu terhadap kebaikan. Kita kehilangan respons kebaikan, bahkan terhadap kebaikan. Kita kesulitan menemukan ruang untuk menjadi ummiy; menjadi kosong terhadap timbunan referensi dan membiarkan diri kita mencerna keutuhan kebaikan dengan nurani.

Lanjutkan membaca Ummiy YouTube, Ummiy Medsos

Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

 

Apa yang membuat orang berubah? Narasi dan khutbah, atau realita di depan mata?

Taxi Driver (Korea Selatan, 2017). Gambar diambil dari http://asianwiki.com/A_Taxi_Driver

Di tengah sorak sorai film pembantaian para jenderal di tanah air, saya memutuskan jalan lain: menonton sebuah film Korea, Taxi Driver. Film yang dipilih Korea Selatan untuk mewakili negaranya di Oscar 2018 ini adalah film sejarah berbasis kisah nyata, namun dipoles secara humanis. Memang, untuk mengingatkan masa lalu yang kelam tidak melulu harus dengan menampilkan gambar yang suram dan kejam. Taxi Driver adalah contoh kekejaman sejarah yang disajikan lewat karakter karikatural. Lucu dalam keluguan orang miskin, tapi tetap setia pada “pesan berat” yang disampaikannya.

Lanjutkan membaca Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

Sepenuh Pasrah

Seruan Muhammad kepada kaumnya untuk masuk Islam berujung pada penyingkirannya dari Makkah, baik secara halus maupun terang-terangan. Tepat pada malam beliau berangkat pergi bersama Abu Bakar, segerombolan orang dari Quraisy sudah siap membunuhnya. Tapi, apalah daya, skenario Allah lebih mujarab. Muhammad dan Abu Bakar pergi melintas padang pasir, berzigzag agar tak terekam jejaknya, sedangkan para calon pembunuh Rasul itu kecele karena hanya mendapati Ali bin Abi Thalib di dalam rumah Muhammad. [1]

Lanjutkan membaca Sepenuh Pasrah

Selimut Apa Lagi?

“Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi, Khadijah,” jawab Muhammad ketika Khadijah memintanya istirahat kembali setelah kejadian Iqra di Gua Hira.[1] Kedatangan wahyu kedua itu menandakan tonggak baru dalam risalah kenabiannya. Muhammad diberi tanggung jawab tandzir –memperingatkan kaumnya. Tanggung jawab yang setelah habis risalah kenabian karena wafatnya, kini digenggam oleh kita sebagai umatnya.

Lanjutkan membaca Selimut Apa Lagi?

Pindai Tuhan

Di tengah masyarakat yang kehilangan nilai tentang moral dan absurd dalam keyakinan, Muhammad merasakan dorongan untuk menyendiri jauh dari kerumunan. Ia merasakan kesenangan yang ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya,[1] tetapi tentu bermula dari kegelisahan dan ketidaknyamanannya kepada realitas yang ada. Kita pun butuh menyendiri –keluar dari debat yang semakin penat dan hilangnya marka dan nilai. Semua bercampur aduk. Memaksakan diri turun gelanggang dengan persiapan ala kadarnya, menurutkan nafsu untuk sekadar melawan, kadangkala hanya membuat nilai kita ikut terdegradasi. Tak beda dengan yang dikritik, menjadi serupa dengan yang semula dianggap jahil. Kita perlu mengambil jarak sejenak untuk mengatur nafas, memurnikan lagi pikiran, dan mencari jalan ke mana cahaya itu dititipkan.

Lanjutkan membaca Pindai Tuhan

Duka Terasing

Apa yang sudah kita pelajari dari Muhammad? Pribadi yang disenangi semua orang sejak kecil, dipercayai tutur katanya, tetapi berubah menjadi musuh utama bagi para pemuka Quraisy. Ajaran monoteis bukan isu baru yang harus dilawan mereka yang menyembah berhala di sekeliling Ka’bah. Toh, mereka masih berdampingan dengan pemeluk Nasrani, Yahudi, dan orang-orang hanif. Mengakui Allah sebagai Tuhan pun bukan masalah baru karena mereka sesungguhnya percaya adanya tuhan yang memelihara alam semesta. Mereka memusuhi Muhammad karena merusak stabilitas kemewahan dunia mereka yang sudah ajeg sekian puluh tahun, merusak tatanan strata sosial yang mereka bangun di atas derita kaum papa dan lemah. Kita menjadi paham sekarang –bahwa mudah menjadi pribadi yang baik, tetapi berbahaya menjadi penyuara kebenaran. Bahwa mudah sekali bersikap afirmatif, tetapi babak belur ketika mulai menentang kezaliman.

Lanjutkan membaca Duka Terasing

Proxy Muhammad

Ajakan yang baik tak selamanya dapat diterima dengan mudah dan baik pula. Muhammad –manusia terbaik dan terpercaya itu, bahkan melalui penolakan yang tak habis-habis. Sebagian mereka menyusun skenario mendekati Abu Thalib, meminta agar kemenakannya berhenti menyebarkan tauhid yang dianggap mereka memecahbelah persatuan. Sesungguhnya bukan persatuan dan kedamaian yang terpecah-pecah dengan datangnya Muhammad, tapi kesenangan kapital dan kekuasaan yang hanya dinikmati kaum elite lah yang terancam sehingga mereka jadikan ketakutan masyarakat sebagai komoditas politik menjungkalkan da’wah Muhammad. Inikah bisikan para elite yang disampaikan secara rahasia, lobi di ruang tertutup yang mengendorkan jalan lawan. Tetapi, Muhammad tegas menjawabnya – sekiranya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, selangkahpun aku tidak akan meninggalkan jalan da’wah ini hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa dalam perjuangan itu.[1]

Lanjutkan membaca Proxy Muhammad