Arsip Kategori: Refleksi

Kursi Goyang Sang Kiai

Sudah sedari dulu, Kiai memang tak pernah berniat menjadi presiden. Apalagi setelah muncul pilpres, pilkada, pilkawe, dan pilkate. “Saya ndak punya tenaga,” katanya suatu waktu.

Lanjutkan membaca Kursi Goyang Sang Kiai

Iklan

Open House Politik

Yang menarik dari lebaran adalah rumah-rumah yang terbuka dengan jejeran kue khusus yang mungkin tak ditemukan di hari selain lebaran. Di banyak daerah, rumah dapat terbuka sepanjang hari, sepekan penuh, bahkan sebulan tak henti-henti. Siapa saja boleh masuk. Siapa saja dipersilakan berkunjung.

Lanjutkan membaca Open House Politik

Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

 

Apa yang membuat orang berubah? Narasi dan khutbah, atau realita di depan mata?

Taxi Driver (Korea Selatan, 2017). Gambar diambil dari http://asianwiki.com/A_Taxi_Driver

Di tengah sorak sorai film pembantaian para jenderal di tanah air, saya memutuskan jalan lain: menonton sebuah film Korea, Taxi Driver. Film yang dipilih Korea Selatan untuk mewakili negaranya di Oscar 2018 ini adalah film sejarah berbasis kisah nyata, namun dipoles secara humanis. Memang, untuk mengingatkan masa lalu yang kelam tidak melulu harus dengan menampilkan gambar yang suram dan kejam. Taxi Driver adalah contoh kekejaman sejarah yang disajikan lewat karakter karikatural. Lucu dalam keluguan orang miskin, tapi tetap setia pada “pesan berat” yang disampaikannya.

Lanjutkan membaca Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

Sepenuh Pasrah

Seruan Muhammad kepada kaumnya untuk masuk Islam berujung pada penyingkirannya dari Makkah, baik secara halus maupun terang-terangan. Tepat pada malam beliau berangkat pergi bersama Abu Bakar, segerombolan orang dari Quraisy sudah siap membunuhnya. Tapi, apalah daya, skenario Allah lebih mujarab. Muhammad dan Abu Bakar pergi melintas padang pasir, berzigzag agar tak terekam jejaknya, sedangkan para calon pembunuh Rasul itu kecele karena hanya mendapati Ali bin Abi Thalib di dalam rumah Muhammad. [1]

Lanjutkan membaca Sepenuh Pasrah