Arsip Kategori: Refleksi

Pengemudi Taksi dan Ruang Kosong Perubahan

 

Apa yang membuat orang berubah? Narasi dan khutbah, atau realita di depan mata?

Taxi Driver (Korea Selatan, 2017). Gambar diambil dari http://asianwiki.com/A_Taxi_Driver

Di tengah sorak sorai film pembantaian para jenderal di tanah air, saya memutuskan jalan lain: menonton sebuah film Korea, Taxi Driver. Film yang dipilih Korea Selatan untuk mewakili negaranya di Oscar 2018 ini adalah film sejarah berbasis kisah nyata, namun dipoles secara humanis. Memang, untuk mengingatkan masa lalu yang kelam tidak melulu harus dengan menampilkan gambar yang suram dan kejam. Taxi Driver adalah contoh kekejaman sejarah yang disajikan lewat karakter karikatural. Lucu dalam keluguan orang miskin, tapi tetap setia pada “pesan berat” yang disampaikannya.

Penyiksaan dan pembantaian para pemrotes di Gwangju, 1980. Gambar diambil dari: https://www.nytimes.com/2017/08/02/world/asia/south-korea-taxi-driver-film-gwangju.html

Tahun 1980, terjadi protes besar-besaran yang diusung mahasiswa pro-demokrasi di Gwangju, Korea Selatan. Diktator militer pada saat itu, Cun Doo-Hwan, meresponsnya dengan aksi represif yang diikuti pembantaian para pemrotes. Di tengah gejolak itu, terjerumuslah dalam jurang pelik aksi protes, seorang pengemudi taksi yang tak punya ruang di kepalanya untuk membahas politik dan tetek bengeknya. Hidup baginya adalah bagaimana membesarkan anak yang ditinggal mati ibunya, mencari uang, dan melunasi hutang yang menumpuk. Itu saja. Persis seperti kebanyakan isi kepala warga yang pragmatis –bagaimana ia hidup dari hari ke hari– karena kehidupan memang memaksa mereka memikirkan hal-hal sederhana. Tak ada tempat untuk bicara politik, kecuali sedikit saja. Apalagi ikut-ikutan membahas segalanya dan mempertontonkan kecerdasan sekaligus kedunguannya di media social, surat kabar dan televisi.

Merekalah kaum kebanyakan. Sedangkan yang hingar bingar adalah arus yang dihuyung-huyung robot tukang twit. Sibuk menyuruh ikut polling sana-sini, debat ke sana kemari, perang urat saraf di dunia antah berantah, dan meninggalkan kesempitan dan kesemrawutan tetap pada tempat asalinya: jurang kemiskinan yang belum sempat mereka duduki.

Maka, si pengemudi taksi –yang hingga akhir cerita tak pernah diketahui benar siapa namanya –tak tahu apa-apa tentang Gwangju. Baginya, uang 100.000 won lebih penting sehingga ia dengan gembira hati menyerobot rejeki orang untuk mengantar seorang reporter idealis dari Jerman ke Gwangju –daerah terlarang yang dipenuhi demonstrasi sekaligus pembantaian.

Perjalanan ke Gwangju ternyata tak mudah. Bagi si pengemudi taksi, melewati hadangan tentara tak sebanding dengan harga 100.000 won, maka ia memilih undur diri. Nyawa diri dan anaknya lebih penting dari politik dan pemberontakan. Khas masyarakat kecil nan pragmatis. Hidup tak perlu berbincang tentang negara, tetapi mencukupkan diri dengan apa yang mereka tabung di lemari, masak di kuali, dan tersaji di meja makan. Selebihnya adalah persetan.

Sebagian akan menghardik mereka yang apatis itu. Negara dengan segenap isu politiknya dianggap mereka sebagai bagian hidup yang harus diperjuangkan, dimenangkan dalam debat-debat virtual di grup whatsapp, line, dan timeline facebook. Wacana dikobarkan saling bersahutan seperti tak ada waktu untuk saling mendengar, kemudian berintrospeksi. Selebihnya adalah jarak ruang dan waktu yang lebar antara wacana dan realita. Narasi yang dilontarkan dalam debat menjadi kosong karena tak dikebumikan pada realita. Meninggalkan mereka yang benar-benar hidup dalam perjuangannya di lorong-lorong pasar sebagai tempelan di sana-sini dalam statistik dan kampanye. Gap-nya terlalu lebar.

Mereka sibuk bersorak sendiri. Yang apatis pun sibuk tak punya daya untuk mendengarkan. Apa yang membuat segalanya berubah?

Realita yang dihadapkan di depan mata. Si pengemudi taksi menemukan sisi altruism dalam dirinya ketika ia sendiri yang merasakan betapa getirnya diberondong tembakan dan pukulan para tentara. Dan bukan begitu saja terjadi. Ada timbal balik mutualisme yang humanis. Ia menolong para pemrotes atau pemberontak dan mengantarkan sang reporter mengambil gambar di area berbahaya. Sebaliknya, keluarga kecil –kakak beradik dan kawan-kawannya, memahami benar apa kebutuhan naluriah si pengemudi: bertemu dengan anaknya, menepati janjinya pulang dan mengajaknya berjalan-jalan, serta melunasi hutang-hutangnya.

Pengemudi taksi dan anak semata wayangnya di rumah kontrakan yang masih hutang sewa. Gambar diambil dari https://forums.soompi.com/en/topic/405851-movie-2017-a-taxi-driver-%ED%83%9D%EC%8B%9C-%EC%9A%B4%EC%A0%84%EC%82%AC-receives-12-million-admission-speeding-ticket/?page=3

Hubungan humanistik ini yang diperlukan ketika merawat negara dan tidak meninggalkan kesibukan masing-masing untuk berlari sekencang mungkin demi elektabilitasnya semata. Pahlawan tidak muncul dari ruang hampa. Ruang-ruang kosong yang menjadi kebutuhan riil warga negara perlu diisi dengan hubungan yang hangat, kebijakan yang –tidak hanya populis, tapi menentramkan dalam arti sesungguhnya. Citra para pengelola negara tak perlu dioles lipstik sedemikian rupa sehingga harus dibentur-benturkan secara tidak perlu dan menjadi gagasan ulang tentang betapa hebatnya jika bila saling mengajukan diri menjadi yang terhebat dan mengenggelamkan pamor yang lain. Polah buruk yang kini bukan saja dilakukan dalam ranah politik, tapi diadopsi secara culas untuk saling mendebat landasan cara beragama dan beribadah antara satu ustadz dengan ustadz lain.

Si pengemudi taksi punya kesempatan kembali ke kehidupannya yang tenang tanpa gejolak politik –namun terhimpit hutang, tapi ia menemukan altruismenya untuk balik kembali ke Gwangju. Reporter Jerman diselamatkannya dengan keberanian yang ditemukannya tiba-tiba dari pengalaman singkat yang didapatkannya. Ia kembali ke Seoul, dan tak ada yang tahu menjadi apa ia kemudian. Tetap menjadi pengemudi taksi, pelayan restoran, montir bengkel, tukang sapu jalanan, pegawai sukses, atau malah mati kesepian di belantara hutang-hutangnya.

Apapun itu, setelah 37 tahun berlalu, ia didapuk menjadi pahlawan tanpa nama. Ia disemayamkan secara teatrikal dalam film yang akan dikenang banyak orang di jaman setelahnya. Membuat orang berpikir ulang tentang kepahlawanan yang sunyi: berasal dari hati. Tak perlu menonjolkan diri dan sibuk mencaci, juga mendengki.

Adalah sang reporter Jerman, Jurgen Hinzpeter, yang mengingatkan kepahlawanan pengemudi taksi kembali sebelum ia meninggal di tahun 2016.  Keberhasilannya merekam gambar kekejaman rezim dictator Korea Selatan di Gwangju tak lepas dari keluguan yang bercampur keberanian penegmudi taksi -yang tak pernah ia tanyakan namanya.

Monumen kecil didirikan di Gwangju untuk mengenang reporter Jerman, Jurgen Hinzpeter. Gambar diambil dari https://www.nytimes.com/2017/08/02/world/asia/south-korea-taxi-driver-film-gwangju.html

Saya kembali duduk untuk bertanya: apa yang membuat orang berubah? Bukan narasi semacam tulisan ini, tentu. Tapi hati yang tersentuh –yang seringkali baru dapat diraba rasakan dengan realita yang ditemukannya sendiri. Bukan wacana kosong dalam debat-debat yang juga –seringkali– kosong. Berputar-putar untuk meninggikan ego, dan membiarkan masalah tak beranjak dari ruang ketersendiriannya.

Rotterdam, Muharram 1439

Iklan

Sepenuh Pasrah

Seruan Muhammad kepada kaumnya untuk masuk Islam berujung pada penyingkirannya dari Makkah, baik secara halus maupun terang-terangan. Tepat pada malam beliau berangkat pergi bersama Abu Bakar, segerombolan orang dari Quraisy sudah siap membunuhnya. Tapi, apalah daya, skenario Allah lebih mujarab. Muhammad dan Abu Bakar pergi melintas padang pasir, berzigzag agar tak terekam jejaknya, sedangkan para calon pembunuh Rasul itu kecele karena hanya mendapati Ali bin Abi Thalib di dalam rumah Muhammad. [1]

Lanjutkan membaca Sepenuh Pasrah

Selimut Apa Lagi?

“Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi, Khadijah,” jawab Muhammad ketika Khadijah memintanya istirahat kembali setelah kejadian Iqra di Gua Hira.[1] Kedatangan wahyu kedua itu menandakan tonggak baru dalam risalah kenabiannya. Muhammad diberi tanggung jawab tandzir –memperingatkan kaumnya. Tanggung jawab yang setelah habis risalah kenabian karena wafatnya, kini digenggam oleh kita sebagai umatnya.

Lanjutkan membaca Selimut Apa Lagi?

Pindai Tuhan

Di tengah masyarakat yang kehilangan nilai tentang moral dan absurd dalam keyakinan, Muhammad merasakan dorongan untuk menyendiri jauh dari kerumunan. Ia merasakan kesenangan yang ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya,[1] tetapi tentu bermula dari kegelisahan dan ketidaknyamanannya kepada realitas yang ada. Kita pun butuh menyendiri –keluar dari debat yang semakin penat dan hilangnya marka dan nilai. Semua bercampur aduk. Memaksakan diri turun gelanggang dengan persiapan ala kadarnya, menurutkan nafsu untuk sekadar melawan, kadangkala hanya membuat nilai kita ikut terdegradasi. Tak beda dengan yang dikritik, menjadi serupa dengan yang semula dianggap jahil. Kita perlu mengambil jarak sejenak untuk mengatur nafas, memurnikan lagi pikiran, dan mencari jalan ke mana cahaya itu dititipkan.

Lanjutkan membaca Pindai Tuhan

Duka Terasing

Apa yang sudah kita pelajari dari Muhammad? Pribadi yang disenangi semua orang sejak kecil, dipercayai tutur katanya, tetapi berubah menjadi musuh utama bagi para pemuka Quraisy. Ajaran monoteis bukan isu baru yang harus dilawan mereka yang menyembah berhala di sekeliling Ka’bah. Toh, mereka masih berdampingan dengan pemeluk Nasrani, Yahudi, dan orang-orang hanif. Mengakui Allah sebagai Tuhan pun bukan masalah baru karena mereka sesungguhnya percaya adanya tuhan yang memelihara alam semesta. Mereka memusuhi Muhammad karena merusak stabilitas kemewahan dunia mereka yang sudah ajeg sekian puluh tahun, merusak tatanan strata sosial yang mereka bangun di atas derita kaum papa dan lemah. Kita menjadi paham sekarang –bahwa mudah menjadi pribadi yang baik, tetapi berbahaya menjadi penyuara kebenaran. Bahwa mudah sekali bersikap afirmatif, tetapi babak belur ketika mulai menentang kezaliman.

Lanjutkan membaca Duka Terasing

Proxy Muhammad

Ajakan yang baik tak selamanya dapat diterima dengan mudah dan baik pula. Muhammad –manusia terbaik dan terpercaya itu, bahkan melalui penolakan yang tak habis-habis. Sebagian mereka menyusun skenario mendekati Abu Thalib, meminta agar kemenakannya berhenti menyebarkan tauhid yang dianggap mereka memecahbelah persatuan. Sesungguhnya bukan persatuan dan kedamaian yang terpecah-pecah dengan datangnya Muhammad, tapi kesenangan kapital dan kekuasaan yang hanya dinikmati kaum elite lah yang terancam sehingga mereka jadikan ketakutan masyarakat sebagai komoditas politik menjungkalkan da’wah Muhammad. Inikah bisikan para elite yang disampaikan secara rahasia, lobi di ruang tertutup yang mengendorkan jalan lawan. Tetapi, Muhammad tegas menjawabnya – sekiranya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, selangkahpun aku tidak akan meninggalkan jalan da’wah ini hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa dalam perjuangan itu.[1]

Lanjutkan membaca Proxy Muhammad

Memiliki Kehilangan*

Pandangan kita terhijab dari permulaan, asal-usul, kebenaran. Yang kita yakini kebaikan barangkali bukan berarti kebaikan yang sesungguhnya. Bahkan, Musa tak pernah sabar menanti keadilan Allah yang sebenarnya saat ia menuntut untuk ditunjukkan keadilan sejati pada kisah pengendara kuda, anak kecil dan seorang buta. Musa tak pula sabar ketika –dalam runutan Al Kahfi 60-82 – ia mengikuti perjalanan Khidr.[1] Apa yang kita mengerti tentang rahasia –yang Allah sendiri firmankan, boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik untukmu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu? [2]

Lanjutkan membaca Memiliki Kehilangan*

Satu Raqib Seribu Atid

Kita terjerumus pada kehidupan yang kasat. Pada titik itu, kita merasa amat perlu untuk membentuk citra yang baik di hadapan manusia. Gerak-gerik kita diatur, tutur kata kita dijaga, moda pakaian kita ditata hingga kita berharap tak punya celah lagi untuk dikomentari dan dihakimi secara negatif. Di hadapan manusia, kita merasa tengah dikelilingi seribu Atid –malaikat pencatat amal-amal buruk. Hati menjadi kisruh karena berharap ada puja-puji yang datang berkerumun, dan bertambah kisruh ketika justru kritik yang menyela dan pengabaian yang diterima.

Lanjutkan membaca Satu Raqib Seribu Atid

Puasa di Luar Puasa

Yang paling lezat dari puasa adalah waktu berbuka. Kita menantikannya detik demi detik setiap menjelang maghrib, menghitung mundur hari-hari Ramadhan menjelang lebaran. Kita tersenyum-senyum sendiri ketika kelezatan itu memang dibenarkan sabda Rasul dalam dua kegembiraan mereka yang berpuasa: saat berbuka dan saat menemui Tuhannya. Kita selalu mematri yang pertama, kerap melupakan yang kedua.

Puasa itu –dalam substansi hakikinya –semestinya berlanjut, tak berhenti-henti sepanjang tahun dan sepanjang hayat. Puasa yang disebut Rasul untuk diucap-katakan: Innii shaa-im, aku tengah berpuasa. Aku tengah menahan diri dari segala hal yang dapat merusak hubunganku dengan Tuhan, yang dapat mengganggu asyik-masyuk-ku bercinta denganNya.

Lanjutkan membaca Puasa di Luar Puasa