Arsip Kategori: Refleksi

Memiliki Kehilangan*

Pandangan kita terhijab dari permulaan, asal-usul, kebenaran. Yang kita yakini kebaikan barangkali bukan berarti kebaikan yang sesungguhnya. Bahkan, Musa tak pernah sabar menanti keadilan Allah yang sebenarnya saat ia menuntut untuk ditunjukkan keadilan sejati pada kisah pengendara kuda, anak kecil dan seorang buta. Musa tak pula sabar ketika –dalam runutan Al Kahfi 60-82 – ia mengikuti perjalanan Khidr.[1] Apa yang kita mengerti tentang rahasia –yang Allah sendiri firmankan, boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik untukmu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu? [2]

Lanjutkan membaca Memiliki Kehilangan*

Iklan

Satu Raqib Seribu Atid

Kita terjerumus pada kehidupan yang kasat. Pada titik itu, kita merasa amat perlu untuk membentuk citra yang baik di hadapan manusia. Gerak-gerik kita diatur, tutur kata kita dijaga, moda pakaian kita ditata hingga kita berharap tak punya celah lagi untuk dikomentari dan dihakimi secara negatif. Di hadapan manusia, kita merasa tengah dikelilingi seribu Atid –malaikat pencatat amal-amal buruk. Hati menjadi kisruh karena berharap ada puja-puji yang datang berkerumun, dan bertambah kisruh ketika justru kritik yang menyela dan pengabaian yang diterima.

Lanjutkan membaca Satu Raqib Seribu Atid

Puasa di Luar Puasa

Yang paling lezat dari puasa adalah waktu berbuka. Kita menantikannya detik demi detik setiap menjelang maghrib, menghitung mundur hari-hari Ramadhan menjelang lebaran. Kita tersenyum-senyum sendiri ketika kelezatan itu memang dibenarkan sabda Rasul dalam dua kegembiraan mereka yang berpuasa: saat berbuka dan saat menemui Tuhannya. Kita selalu mematri yang pertama, kerap melupakan yang kedua.

Puasa itu –dalam substansi hakikinya –semestinya berlanjut, tak berhenti-henti sepanjang tahun dan sepanjang hayat. Puasa yang disebut Rasul untuk diucap-katakan: Innii shaa-im, aku tengah berpuasa. Aku tengah menahan diri dari segala hal yang dapat merusak hubunganku dengan Tuhan, yang dapat mengganggu asyik-masyuk-ku bercinta denganNya.

Lanjutkan membaca Puasa di Luar Puasa

Imsak Kebenaran

Apa yang kita harapkan dari Ramadhan: dunia ditata sedemikian rupa untuk kita, atau kita menata diri untuk dunia yang kita hadapi? Tak banyak, sesungguhnya, yang kita pahami dari petuah Rasul dalam riwayat yang sahih – puasa itu perisai. Kita hanya menghendaki puasa yang tenang, damai,  dan tenteram sambil menukil-nukil perkataan Rasul pada riwayat yang lain – ketika datang Ramadhan: pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Kita seringkali lupa bahwa yang membentuk perisai, tameng, hingga sebegitu tebal dan kuat adalah diri kita yang menahan hawa. Yang membelenggu setan dan melempangkan jalan kita ke depan pintu surga sepenuhnya berada dalam kuasa keinginan kita.

Lanjutkan membaca Imsak Kebenaran

Jarak Lapar dan Kenyang

Seberapa jauh jarak antara lapar dan kenyang? Jauh, amat jauh, bila yang diukur adalah jarak antara kemewahan dunia kita dengan kemiskinan, kemelaratan dan malnutrisi anak-anak di negeri miskin. Kita hanya menatapnya sekali-dua kali dari iklan layanan masyarakat di televisi. Selebihnya, kita tak pernah sungguh-sungguh mengukur panjang jaraknya. Mungkin juga tak sempat menengok ke kanan-kiri dan depan belakang untuk sekadar menyadari bahwa sesungguhnya jarak antara lapar dan kenyang tidak sebegitu jauhnya.

Lanjutkan membaca Jarak Lapar dan Kenyang

Menerka Masa Depan

Dalam sebuah perjalanan panjang di pesawat, saya mendapat teman refleksi dalam sebuah film Jerman, “24 Wochen“. Film realis yang berkisah tentang komedian ‘stand up’ yang hamil dan mendapati informasi di usia kehamilannya yang ke-24 pekan bahwa janinnya akan dilahirkan dengan Sindroma Down. Awalnya, ia dan suaminya tegar dan memutuskan tetap menjaga kehamilannya hingga persalinan meski aborsi di Jerman dilegalkan dengan alasan tersebut. Bahkan, mereka menyiapkan anak pertamanya agar siap memiliki adik dengan kelainan fisik dan mental.

Lanjutkan membaca Menerka Masa Depan

Sentuhan yang Baik

Dalam perjalanan udara yang lain, sebuah film berbahasa Spanyol, “El Mal Ajeno” membuat saya berefleksi kembali. Diego, dokter ruang emergensi, rawat intensif, dan nyeri, belakangan kehilangan rasa empati ketika merawat pasiennya karena beban kerja yang tinggi dan soalan keluarga. Semua ditangani sesuai teori dan bukti ilmiah. Jika tak ada harapan hidup, maka ia katakan begitu adanya. Jika kaki pasien akan membusuk, maka ia sebutkan bahwa sekian hari lagi kakinya membusuk. Pada satu sore, ia ditembak –namun, tidak sampai meninggal, dan kembali sambil membawa pesan: menjaga kehidupan seorang pasiennya yang berkali-kali ia yakini tak punya harapan hidup lagi.

Lanjutkan membaca Sentuhan yang Baik

UJUD DISKRIMINASI

Saya menjenguk sejarah Apartheid di museum ini: Apartheid Museum di Johannesburg, Afrika Selatan. Sejak gerbang masuk, aura diskriminasi sudah kental. Dalam bentuknya yang paling klasik, diskriminasi berujud pada warna kulit. Anda hitam, dan saya putih. Putih superior, dan hitam inferior. Ada bentuk modern, ia tak lagi berujung di penjara, tapi pada rasa rendah diri yang disemai dari produk-produk kosmetik. “Ayo, jadilah putih dan tinggalkan kekusaman,” kata produk kapitalistik itu. Bahkan, ketiakmu pun disuruhnya untuk menjadi putih. Anak-anakmu yang (sedikit) hitam, akan didoakan agar segera beranjak menjadi putih. Atau setidaknya, sedikit lebih terang.

Lanjutkan membaca UJUD DISKRIMINASI

BERKAWAN DENGAN KEMISKINAN (?)

Margareth Chan, Direktur Jenderal WHO, mengutip gambar kartun ini dalam sebuah pidatonya yang dipublikasi ulang di The Milbank Quarterly (http://onlinelibrary.wiley.com/…/10.11…/1468-0009.12238/epdf). Tentu, kartun ini adalah sarkasme simpulan beragam bukti ilmiah yang menunjukkan adanya tren peningkatan insidens diabetes mellitus (DM) atau penyakit gula yang berkorelasi dengan meningkatnya kemampuan finansial masyarakat. Tiongkok salah satunya, kemudian Amerika dan Indonesia, yang menghadapi ancaman DM masa depan dengan semakin banyaknya anak-anak yang mengalami obesitas sejak dini.

Lanjutkan membaca BERKAWAN DENGAN KEMISKINAN (?)

INSENTIF LALAT

Pergilah ke bandara Schipol, dan akan Anda jumpai lalat di urinoir para lelaki. Ya, lalat. Yang semestinya ada di bak sampah dan tempat jorok. Sempat saya bertanya mengapa mereka memasang gambar lalat di urinoir para lelaki?

Berterimakasihlah kepada para ekonom. Lalat-lalat itu hinggap lewat kelihaian matematika dan amatan yang seksama. Para lelaki seringkali abai ketika buang air kecil, terutama ketika berdiri. Jika tak percaya, cobalah tengok toilet umum khusus mereka. Acak-acakan, muncrat ke mana-mana. Untuk airport sebesar Schipol dengan ribuan pengunjung setiap hari tentu soalan ini merepotkan. Tim ekonom kemudian membuat intervensi unik. Mereka menempel gambar lalat di sisi kiri lubang urinoir.

Lanjutkan membaca INSENTIF LALAT

Bungkusan Plastik Mami

Gambar

Dari dulu Mami, begitu saya menyebut ibu saya, punya satu kebiasaan yang mungkin berakar dari tradisi di keluarga, yaitu membagi-bagikan makanan. Setiap ada kelebihan makanan, entah karena habis ada syukuran di rumah, sedang masak banyak, atau apapun, ibu saya membungkusnya dalam plastik dan meniatkannya untuk dibagikan ke tetangga dan kerabat. Lalu, dipanggillah anak-anaknya untuk membawakan kantong-kantong itu ke Cing[1] Anu, Cang[2] Ini, Bang Ono[3], atau Mpok Ene (semua bukan nama asli demi menjaga harkat dan martabat, hehe).

Lanjutkan membaca Bungkusan Plastik Mami