Arsip Kategori: Refleksi

Selimut Apa Lagi?

“Waktu tidur dan istirahat sudah tidak ada lagi, Khadijah,” jawab Muhammad ketika Khadijah memintanya istirahat kembali setelah kejadian Iqra di Gua Hira.[1] Kedatangan wahyu kedua itu menandakan tonggak baru dalam risalah kenabiannya. Muhammad diberi tanggung jawab tandzir –memperingatkan kaumnya. Tanggung jawab yang setelah habis risalah kenabian karena wafatnya, kini digenggam oleh kita sebagai umatnya.

Lanjutkan membaca Selimut Apa Lagi?

Iklan

Pindai Tuhan

Di tengah masyarakat yang kehilangan nilai tentang moral dan absurd dalam keyakinan, Muhammad merasakan dorongan untuk menyendiri jauh dari kerumunan. Ia merasakan kesenangan yang ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya,[1] tetapi tentu bermula dari kegelisahan dan ketidaknyamanannya kepada realitas yang ada. Kita pun butuh menyendiri –keluar dari debat yang semakin penat dan hilangnya marka dan nilai. Semua bercampur aduk. Memaksakan diri turun gelanggang dengan persiapan ala kadarnya, menurutkan nafsu untuk sekadar melawan, kadangkala hanya membuat nilai kita ikut terdegradasi. Tak beda dengan yang dikritik, menjadi serupa dengan yang semula dianggap jahil. Kita perlu mengambil jarak sejenak untuk mengatur nafas, memurnikan lagi pikiran, dan mencari jalan ke mana cahaya itu dititipkan.

Lanjutkan membaca Pindai Tuhan

Duka Terasing

Apa yang sudah kita pelajari dari Muhammad? Pribadi yang disenangi semua orang sejak kecil, dipercayai tutur katanya, tetapi berubah menjadi musuh utama bagi para pemuka Quraisy. Ajaran monoteis bukan isu baru yang harus dilawan mereka yang menyembah berhala di sekeliling Ka’bah. Toh, mereka masih berdampingan dengan pemeluk Nasrani, Yahudi, dan orang-orang hanif. Mengakui Allah sebagai Tuhan pun bukan masalah baru karena mereka sesungguhnya percaya adanya tuhan yang memelihara alam semesta. Mereka memusuhi Muhammad karena merusak stabilitas kemewahan dunia mereka yang sudah ajeg sekian puluh tahun, merusak tatanan strata sosial yang mereka bangun di atas derita kaum papa dan lemah. Kita menjadi paham sekarang –bahwa mudah menjadi pribadi yang baik, tetapi berbahaya menjadi penyuara kebenaran. Bahwa mudah sekali bersikap afirmatif, tetapi babak belur ketika mulai menentang kezaliman.

Lanjutkan membaca Duka Terasing

Proxy Muhammad

Ajakan yang baik tak selamanya dapat diterima dengan mudah dan baik pula. Muhammad –manusia terbaik dan terpercaya itu, bahkan melalui penolakan yang tak habis-habis. Sebagian mereka menyusun skenario mendekati Abu Thalib, meminta agar kemenakannya berhenti menyebarkan tauhid yang dianggap mereka memecahbelah persatuan. Sesungguhnya bukan persatuan dan kedamaian yang terpecah-pecah dengan datangnya Muhammad, tapi kesenangan kapital dan kekuasaan yang hanya dinikmati kaum elite lah yang terancam sehingga mereka jadikan ketakutan masyarakat sebagai komoditas politik menjungkalkan da’wah Muhammad. Inikah bisikan para elite yang disampaikan secara rahasia, lobi di ruang tertutup yang mengendorkan jalan lawan. Tetapi, Muhammad tegas menjawabnya – sekiranya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, selangkahpun aku tidak akan meninggalkan jalan da’wah ini hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa dalam perjuangan itu.[1]

Lanjutkan membaca Proxy Muhammad

Memiliki Kehilangan*

Pandangan kita terhijab dari permulaan, asal-usul, kebenaran. Yang kita yakini kebaikan barangkali bukan berarti kebaikan yang sesungguhnya. Bahkan, Musa tak pernah sabar menanti keadilan Allah yang sebenarnya saat ia menuntut untuk ditunjukkan keadilan sejati pada kisah pengendara kuda, anak kecil dan seorang buta. Musa tak pula sabar ketika –dalam runutan Al Kahfi 60-82 – ia mengikuti perjalanan Khidr.[1] Apa yang kita mengerti tentang rahasia –yang Allah sendiri firmankan, boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik untukmu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu? [2]

Lanjutkan membaca Memiliki Kehilangan*

Satu Raqib Seribu Atid

Kita terjerumus pada kehidupan yang kasat. Pada titik itu, kita merasa amat perlu untuk membentuk citra yang baik di hadapan manusia. Gerak-gerik kita diatur, tutur kata kita dijaga, moda pakaian kita ditata hingga kita berharap tak punya celah lagi untuk dikomentari dan dihakimi secara negatif. Di hadapan manusia, kita merasa tengah dikelilingi seribu Atid –malaikat pencatat amal-amal buruk. Hati menjadi kisruh karena berharap ada puja-puji yang datang berkerumun, dan bertambah kisruh ketika justru kritik yang menyela dan pengabaian yang diterima.

Lanjutkan membaca Satu Raqib Seribu Atid

Puasa di Luar Puasa

Yang paling lezat dari puasa adalah waktu berbuka. Kita menantikannya detik demi detik setiap menjelang maghrib, menghitung mundur hari-hari Ramadhan menjelang lebaran. Kita tersenyum-senyum sendiri ketika kelezatan itu memang dibenarkan sabda Rasul dalam dua kegembiraan mereka yang berpuasa: saat berbuka dan saat menemui Tuhannya. Kita selalu mematri yang pertama, kerap melupakan yang kedua.

Puasa itu –dalam substansi hakikinya –semestinya berlanjut, tak berhenti-henti sepanjang tahun dan sepanjang hayat. Puasa yang disebut Rasul untuk diucap-katakan: Innii shaa-im, aku tengah berpuasa. Aku tengah menahan diri dari segala hal yang dapat merusak hubunganku dengan Tuhan, yang dapat mengganggu asyik-masyuk-ku bercinta denganNya.

Lanjutkan membaca Puasa di Luar Puasa

Imsak Kebenaran

Apa yang kita harapkan dari Ramadhan: dunia ditata sedemikian rupa untuk kita, atau kita menata diri untuk dunia yang kita hadapi? Tak banyak, sesungguhnya, yang kita pahami dari petuah Rasul dalam riwayat yang sahih – puasa itu perisai. Kita hanya menghendaki puasa yang tenang, damai,  dan tenteram sambil menukil-nukil perkataan Rasul pada riwayat yang lain – ketika datang Ramadhan: pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Kita seringkali lupa bahwa yang membentuk perisai, tameng, hingga sebegitu tebal dan kuat adalah diri kita yang menahan hawa. Yang membelenggu setan dan melempangkan jalan kita ke depan pintu surga sepenuhnya berada dalam kuasa keinginan kita.

Lanjutkan membaca Imsak Kebenaran

Jarak Lapar dan Kenyang

Seberapa jauh jarak antara lapar dan kenyang? Jauh, amat jauh, bila yang diukur adalah jarak antara kemewahan dunia kita dengan kemiskinan, kemelaratan dan malnutrisi anak-anak di negeri miskin. Kita hanya menatapnya sekali-dua kali dari iklan layanan masyarakat di televisi. Selebihnya, kita tak pernah sungguh-sungguh mengukur panjang jaraknya. Mungkin juga tak sempat menengok ke kanan-kiri dan depan belakang untuk sekadar menyadari bahwa sesungguhnya jarak antara lapar dan kenyang tidak sebegitu jauhnya.

Lanjutkan membaca Jarak Lapar dan Kenyang

Menerka Masa Depan

Dalam sebuah perjalanan panjang di pesawat, saya mendapat teman refleksi dalam sebuah film Jerman, “24 Wochen“. Film realis yang berkisah tentang komedian ‘stand up’ yang hamil dan mendapati informasi di usia kehamilannya yang ke-24 pekan bahwa janinnya akan dilahirkan dengan Sindroma Down. Awalnya, ia dan suaminya tegar dan memutuskan tetap menjaga kehamilannya hingga persalinan meski aborsi di Jerman dilegalkan dengan alasan tersebut. Bahkan, mereka menyiapkan anak pertamanya agar siap memiliki adik dengan kelainan fisik dan mental.

Lanjutkan membaca Menerka Masa Depan

Sentuhan yang Baik

Dalam perjalanan udara yang lain, sebuah film berbahasa Spanyol, “El Mal Ajeno” membuat saya berefleksi kembali. Diego, dokter ruang emergensi, rawat intensif, dan nyeri, belakangan kehilangan rasa empati ketika merawat pasiennya karena beban kerja yang tinggi dan soalan keluarga. Semua ditangani sesuai teori dan bukti ilmiah. Jika tak ada harapan hidup, maka ia katakan begitu adanya. Jika kaki pasien akan membusuk, maka ia sebutkan bahwa sekian hari lagi kakinya membusuk. Pada satu sore, ia ditembak –namun, tidak sampai meninggal, dan kembali sambil membawa pesan: menjaga kehidupan seorang pasiennya yang berkali-kali ia yakini tak punya harapan hidup lagi.

Lanjutkan membaca Sentuhan yang Baik