Arsip Kategori: Refleksi

Terbukti Manusia

Beberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Lanjutkan membaca Terbukti Manusia

Iklan

Kado

Dik, tak ada yang mengerti sepenuhnya seberapa sanggup kita melangkah ke depan, seperti tak ada pula yang mengerti sepenuhnya mengapa kita bersua di belakang. Tuhan sudah mengaturnya –perjumpaan yang singkat, pencarian yang panjang, juga perjanjian yang kuat. Tak ada yang lebih dari itu. Jika ada manusia yang membencinya, bencilah Tuhan sekehendak mereka. Kita tak berjalan mundur, tapi berpijak untuk pergi sejauh kaki kita mampu.

Lanjutkan membaca Kado

Uwais di San Diego Hill

Saya masih ingat seorang pasien yang datang dengan nada cemas yang berlapis-lapis. “Saya sulit tidur seminggu ini,” katanya. Wawancara saya mulai dengan menyingkirkan faktor organik yang tak menjumpai sasaran. Hampir lima menit berkutat dengan beragam pertanyaan, akhirnya saya kembali mengakkan tubuh saya dan menjulurkan telinga saya. “Silakan cerita, saya mendengarkan, Pak.”

Lanjutkan membaca Uwais di San Diego Hill

Menjadi Adam yang Kesumat

Aku belajar menjadi Adam, suatu ketika. Mencari-cari sejarah yang limbung, kemudian aku susupi dengan tawa yang menggelagak. Maka, aku hampiri Iblis dan bertanya, “Bagaimana dulu Adam bisa kau rayu dengan mulus?” Iblis diam sambil terus menggulir-gulirkan tasbihnya yang panjang. Panjang hingga beribu-ribu butir yang sibuk digilir sambil berdzikir. Sambil aku bertanya lagi, “Sejak kapan kau mulai berdzikir, Iblis?” Dia tetap saja diam. Melolong dalam diamnya yang khusyu’.

Lanjutkan membaca Menjadi Adam yang Kesumat

Sense of Insecurity

Ada satu pasien yang bolak-balik datang ke meja praktik saya. Berkali-kali dijelaskan tentang penyakitnya, tetap saja tak ada yang berubah dari perilakunya. Penyakitnya kronik, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Setiap kali datang ke meja praktik saya, keluhannya selalu bertumpuk. Entah benar, entah mengada-ada. Nyaris tak ada penyesalan karena dianggapnya semua pengeluaran untuk berobat ke dokter dan membeli obat-obatan sudah ditanggung perusahaannya. Dia cukup datang membawa diri dan keluhannya, diperiksa, mengambil obat, dan pulang. Edukasi sudah bertubi-tubi, tapi terasa seperti menghantam tembok.

Lanjutkan membaca Sense of Insecurity

Qur’an Based Life

Bolak-balik mahasiswa datang ke saya, kadang dengan menelepon berkali-kali terlebih dahulu, hanya untuk memastikan topik yang diambilnya untuk sebuah tugas. Memang, tugas itu barangkali menjadi momok bagi kebanyakan mahasiswa kedokteran. Barangkali pula banyak yang tak mengerti benar mengapa mereka harus berjibaku dengan jurnal, lengkap dengan metode dan analisis statistiknya. Tak ingin berpeluh hanya untuk menilai sebuah studi itu sahih atau tidak, kebanyakan beranggapan: Berikan saja kesimpulannya, beres!

Lanjutkan membaca Qur’an Based Life