Arsip Kategori: Refleksi

Menjadi Adam yang Kesumat

Aku belajar menjadi Adam, suatu ketika. Mencari-cari sejarah yang limbung, kemudian aku susupi dengan tawa yang menggelagak. Maka, aku hampiri Iblis dan bertanya, “Bagaimana dulu Adam bisa kau rayu dengan mulus?” Iblis diam sambil terus menggulir-gulirkan tasbihnya yang panjang. Panjang hingga beribu-ribu butir yang sibuk digilir sambil berdzikir. Sambil aku bertanya lagi, “Sejak kapan kau mulai berdzikir, Iblis?” Dia tetap saja diam. Melolong dalam diamnya yang khusyu’.

Lanjutkan membaca Menjadi Adam yang Kesumat

Iklan

Sense of Insecurity

Ada satu pasien yang bolak-balik datang ke meja praktik saya. Berkali-kali dijelaskan tentang penyakitnya, tetap saja tak ada yang berubah dari perilakunya. Penyakitnya kronik, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Setiap kali datang ke meja praktik saya, keluhannya selalu bertumpuk. Entah benar, entah mengada-ada. Nyaris tak ada penyesalan karena dianggapnya semua pengeluaran untuk berobat ke dokter dan membeli obat-obatan sudah ditanggung perusahaannya. Dia cukup datang membawa diri dan keluhannya, diperiksa, mengambil obat, dan pulang. Edukasi sudah bertubi-tubi, tapi terasa seperti menghantam tembok.

Lanjutkan membaca Sense of Insecurity

Qur’an Based Life

Bolak-balik mahasiswa datang ke saya, kadang dengan menelepon berkali-kali terlebih dahulu, hanya untuk memastikan topik yang diambilnya untuk sebuah tugas. Memang, tugas itu barangkali menjadi momok bagi kebanyakan mahasiswa kedokteran. Barangkali pula banyak yang tak mengerti benar mengapa mereka harus berjibaku dengan jurnal, lengkap dengan metode dan analisis statistiknya. Tak ingin berpeluh hanya untuk menilai sebuah studi itu sahih atau tidak, kebanyakan beranggapan: Berikan saja kesimpulannya, beres!

Lanjutkan membaca Qur’an Based Life