Arsip Kategori: Uncategorized

Rokok di Bibir Pak Kiai

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket jadi kampiun satu benua, bola voli kita bersaing dengan negara maju? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas karena rokok-rokok itu yang membiayai sekolahnya? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Lapangan bolanya sudah sedekat lapangan bola kita, Kiai. Menempel di televisi. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka…”

FB_IMG_1470654686939

Sudah hampir seminggu Kiai Badrun sakit. Selama sakit itu, murid-muridnya seperti terlantar tak ada yang mengajari. Sebenarnya Kiai Badrun sudah menitipkan nama penggantinya ke para murid, tapi nyaris semua menolak. Alasannya pun seragam, “Ndakada yang bisa menggantikan Kiai.” Entah apa sebutannya, Kiai Badrun sudah melebihi maqampresiden dalam benak murid-muridnya. Dicintai luar dalam, bahkan tanpa perlu sedikit pun Kiai berkampanye dan mengambil hati. Tapi, tak ada satupun muridnya yang berani menyebutnya Wali, apalagi Nabi. Betapapun ia dicintai dan dikagumi, Kiai Badrun hanya ingin disebut kiai. Panggilan itu pun sudah terlampau tinggi, katanya.

Dalam kesakitannya, Kiai Badrun melihat sendiri muridnya mengatur jadwal bergiliran menjaganya. Mereka bergantian setiap delapan jam, mirip jadwal perawat jaga di rumah sakit. Satu hari dibagi menjadi tiga shift; dua shift dipegang murid-murid sedangkanshift ketiga sengaja dikosongkan. Biarlah itu menjadi waktu Bu Hindun merawat suaminya di kamar sejak menjelang tengah malam hingga selepas subuh.

Jarun, murid Kiai Badrun yang terkenal sontoloyo di antara murid-murid lainnya, duduk sambil membacakan jadwal jaga yang harus dipatuhi semua murid. Ia membagi tujuh hari menjadi empat belas waktu jaga sehingga masing-masing murid mendapat giliran satu kali jaga dalam sepekan. Itu urusan mudah baginya. Semuanya manut pada apa yang diaturnya. Tapi, mendadak keningnya berkerut. Kedua alisnya saling mendekat dan nyaris bersatu. Satu tangannya menopang dagu, dan itu cukup untuk membuat keheningan baru. Ia lantas meminta semua temannya tetap di tempat dan tak satu pun boleh bergerak dari ruangan depan tempat mereka mengaji.

Mengendap ia berjalan ke dapur, mengetuk pintunya sambil berdehem. “Ke mana kau, Jarun?” Manun bertanya, hendak berdiri pula. Tapi, Jarun segera mengangkat telunjuk kanannya ke bibir. Isyarat bahwa keheningan harus tetap dirawat sampai ia memberi kode lain. Jarun memanggil setengah berbisik, “Bu Hindun….” Kemudian semua murid tahu bahwa yang dicari Jarun adalah Bu Hindun, perempuan cantik yang dipersunting Kiai Badrun hampir 25 tahun lalu. Hanya saja, mereka tetap tak paham apa yang hendak diperbuat Jarun.

Dalam keheningan yang terpaksa itu, Manun sebenarnya menyimpan geram. “Apa yang dia mengerti tentang demokrasi?” Hanya geraman, sesungguhnya. Matanya masih menunduk sambil mengorek-ngorek karpet hijau panjang dengan telunjuk kecilnya. Tapi, nyatanya gayung bersambut. Demokrasi mana yang sudah dilanggar?” Rajiun menengoknya. Berpura-pura serius.

“Telunjuk di bibirnya itu. Dia hanya mempersilakan hatinya dan Tuhan untuk mengerti apa yang ada dalam pikirannya.”

“Apanya yang keliru? Sah-sah saja.”

“Itu kalau dia hanya berlaku seorang diri. Tapi, kita sementara adalah jamaahnya, mengikut padanya.”

“Selama dia ndak melanggar Tuhan, apanya yang harus kita ributkan? Jamaah ndak perlu tahu semua gerakan.”

“Tapi, kau kan selalu ingat. Imam selalu men-jahar-kan takbir setiap kali berganti posisi, Un.”

Percakapan terhenti. Lirikan mereka berpaling ke arah dapur. Bu Hindun sudah keluar menghampiri Jarun. Tak salah memang jika banyak orang memuji kecantikannya. Bu Hindun, selain cantik rupa, juga adalah perempuan yang menawan jiwanya. Entah dari mana Kiai Badrun membawanya kemari. Ia tampak seperti bidadari yang tak ditemukan di dunia manapun. Suaranya lembut, tak pernah keras. Matanya bulat, dan setiap kali orang menatap bola matanya tampaklah kesejukan yang mengalir diam-diam. Sedangkan periode yang paling ditunggu-tunggu orang adalah masa ketika ia melempar senyum. Berdesas-desuslah semua orang dan mengunjungi Kiai Badrun berduyun-duyun untuk bertanya doa mujarab apa yang patut dilantunkan saat mencari jodoh.

Tampak Bu Hindun mengangguk-angguk tanpa suara di pintu dapur. Jarun seperti tengah membisikkan perkara paling rahasia sehingga tak ada satu desis pun yang terdengar ke ruang depan. Manun menatapnya curiga. Jarun begitu berapi-api, tangannya bergerak naik-turun, dan wajahnya menjadi terlampau asing karena begitu serius. Pada anggukan Bu Hindun yang terakhir, Jarun mengangkat kepalanya. Merasa lega, sepertinya. Bu Hindun yang hampir tak bisa ke mana-mana semenjak Kiai Badrun sakit dan lebihs ering hanya mondar-mandir dari dapur ke kamar, kamar ke ruang tamu, dan balik lagi ke kamar, menyimpan harap dalam tatapannya ke Jarun. Jarun berinjit, masuk ke kamar sang Kiai. Nyaris tanpa suara. Manun yang masih terduduk semakin curiga.

“Kau masih berpikir demokrasi, Nun?” Sami’un menanggapi tatapan curiga Manun sambil tertawa.

“Sekarang ini?”

“Ya, sekarang. Kapan lagi?”

“Apalah arti rakyat, umat, jamaat? Jarun pasti sudah tersandera akalnya yang dipikirnya hebat itu. Mirip penguasa. Kebanyakan penguasa.” Serius sekali Manun berucap. Bisik-bisiknya kepada Sami’un itu sudah mirip dialog tokoh politik di televisi. Dan Sami’un –yang merasa cukup berindak seperti presenter dialog, hanya tertawa kecil.

“Berdoalah saja, Nun,” kata Sami’un. “Berdoalah supaya Kiai Badrun mengajarinya demokrasi di dalam kamarnya. Tiga bab langsung, tanpa jeda.” Sami’un tertawa lagi. Manun diam, mengorek-ngorek karpet lagi dengan telunjuk kecilnya.

Pelan-pelan Jarun masuk ke kamar Kiai Badrun, mengucap salam, lalu mengambil tempat duduk di sebelah sang guru. Pertemuan itu dibuka dengan senyum setelah salam, saling melirik, lalu sama-sama terdiam. Beberapa detik yang serupa dengan lipatan jam penuh rindu. Terasa hampa. Lama.

“Kiai, apa Kiai pernah merokok?” Jarun akhirnya membuka tanya dengan muka serius. Baru kali itu mukanya terlihat serius bukan kepalang. Alis-alisnya menyatu seperti tengah berpikir keras dan berupaya meramal meski ia tahu ramalannya akan tak menghasilkan apa-apa. Ia bukan Yusuf yang mampu membaca mimpi, bukan pula Rahib yang meramal kenabian Muhammad lewat tanda-tandanya. Ia hanya Jarun –yang ibu-bapaknya saling kenal karena bertetangga.

“Maksud kamu, Run?”

“Maksud saya ya, apa Kiai pernah merokok sampai jatuh sakit seperti ini? Kiai kan tahu, rokok itu dapat menyebabkan kanker, gangguan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin… Mungkin saja Kiai terserang penyakit yang rentet saya sebut itu.”

“Maksud kamu, Run?” Kiai Badrun bertanya lagi. Tidak percaya.

“Kalau bukan karena rokok, lalu karena apa? Rokok itu kan kawan malaikat maut yang paling mengerikan, Kiai.”

“Saya ndak pernah merokok, Run.”

“Kalau begitu, sekarang Kiai mungkin harus merokok.”

“Maksud kamu, Run?”

“Mungkin saja kalau sudah punya label Kiai, rokok itu jadi obat, jadi vitamin, Kiai. Rasanya jadi lebih manis dari anggur. Kiai Makmun, sudah berapa tahun umurnya? Nyaris satu abad, Kiai. Merokoknya sudah lebih dari setengah abad, tapi masih lancar mengajar dan memimpin pengajian.”

Kiai Badrun diam saja. Menatap langit-langit sampai muridnya yang paling sontoloyo itu membisiknya lagi, “Ini mungkin jadi obat, Kiai. Percayalah…”

Baru setelah itu, Kiai Badrun tertawa. Hahaha… Khas. Haha-nya yang tiga kali. Tidak ada raut kesakitan lagi di wajahnya. Jarun melirik ke pintu, khawatir suara Kiai badrun menyelinap keluar dan membuat sekawanan muridnya kaget dan ikut melongok ke kamar.

“Kok Kiai malah tertawa? Apanya yang lucu? Apa Kiai ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, ada banyak petani tembakau yang rizkinya terpenuhi? Bayangkan saja kalau semua kemudian berdoa untuk Kiai supaya lekas sehat lagi. Apa Kiai juga ndak paham kalau Kiai menghisap satu rokok ini saja, pendapatan negara ikut naik dan fakir miskin jadi punya lebih banyak jatah pembangunannya? Bayangkan kalau fakir-fakir miskin itu berdoa untuk Kiai supaya lekas sembuh…”

“Jadi rokok ini bisa jadi lebih sehat dari madu? Lebih mujarab dari paracetamol?”

“Dengan izin Allah, Kiai…” Jarun mantap.

“Kalau begitu, ke mana nanti larinya malaikat maut? Yang ikut membunuh orang-orang dari nyala api di ujung bibirnya itu…”

“Ah, Kiai ini. Mana ada malaikat maut dekat dengan para pemain sepakbola yang olahraga setiap hari? Apa Kiai lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu bisa membuat para atlet bisa terus berolahraga dan berprestasi, kompetisi sepakbola terus bergulir, bulutangkis bisa juara olimpiade, bola basket jadi kampiun satu benua, bola voli kita bersaing dengan negara maju? Apa Kiai juga lupa kalau sebatang rokok yang Kiai hisap itu sudah berhasil menyekolahkan ribuan mahasiswa cerdas karena rokok-rokok itu yang membiayai sekolahnya? Italia, Inggris, Spanyol, sudah dekat sekali dengan kita, Kiai. Lapangan bolanya sudah sedekat lapangan bola kita, Kiai. Menempel di televisi. Tontonannya sudah masuk ke negeri kita menjadi sangat dekat karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Bayangkan betapa girangnya anak-anak muda yang jingkrak-jingkrak di konser musik, dari artis dusun sampai luar negeri, teater dan ruang seni begitu terbuka… Semua, bisa jadi karena batang rokok yang Kiai hisap itu. Dan Kiai bisa bayangkan sendiri, bandingkan saja apa yang sudah dipersembahkan sebatang rokok yang Kiai hisap itu dibandingkan zakat, infaq dan shadaqah yang setiap hari Kiai suar-suarkan lewat pengajian untuk dikeluarkan…”

Kiai Badrun diam saja. Tatapannya lurus ke muridnya yang paling sontoloyo. Baru kali ini Kiai terkesima karena Jarun bisa terus bicara tanpa berhenti dalam kalimat yang tak habis-habis. Mukanya memerah karena kehabisan napas, dan setelah itulah sang Kiai kembali tertawa. Hahaha…

Jarun membalasnya dengan tawa yang lebih keras. Lalu menyodorkan sebatang rokok dari sakunya ke depan bibir sang Kiai.

“Hisap saja, Kiai… Bahkan, anggur di tangan Kiai menjadi lebih lezat dari susu dan madu.”

Kiai mengambilnya, memasukkannya di sela-sela bibir. Menggamitnya dengan seksama, lalu berbisik saja, “Ndak usah dinyalakan apinya…”

 

Diambil dari serial “Negeri Sukun: Kiai di Sarang Kompeni”. 

Iklan

[TELAH TERBIT] BUKU: YANG CANTIK YANG (TIDAK) BAHAGIA

Alhamdulillah,

Buku “Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia” sudah terbit. Silakan lakukan pemesanan dengan melengkapi nama, alamat dan jumlah pemesanan ke email farranasir@gmail.com. Semoga menginspirasi….

“Kau bertanya balik, “Mengapa mata yang tak pernah bersua bisa saling jatuh cinta?” Ah, Dik. Ada Zat yang tak pernah kita temui, tapi namaNya kita rapalkan setiap saat. Ada Zat yang tak pernah kita tatap, tapi teramat berharga untuk kita tinggalkan, meski sejenak. Ada pula manusia yang antara kita dan dirinya dipisahkan jarak berabad jauhnya. Kita tak pernah melihatnya, tak pernah menggenggam tangannya, tak pernah berguru langsung kepadanya. Mengapa pula hubungan kita ini lantas dipertanyakan –menjadi suluh yang tak pernah padam meski kau tiup dengan semerbak angin delapan penjuru?”

djokokororet – Yang Cantik Yang (Tidak) Bahagia

Ayo, segera pesan!

promo yang cantik yang tidak bahagia_2

Muncul di Tabloid NAKITA

Sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tapi, bolehlah saya berbagi bahwa beberapa pekan lalu sebelum menulis blog ini, profil saya masuk di Tabloid mingguan NAKITA.  Saya tidak punya salinan aslinya, tapi setidaknya saya memiliki foto hasil jepretan sendiri dari tabloid yang (juga) saya beli sendiri. Silakan saja dilihat (kalau kelihatan dan terbaca).

Salam,

profil Nakita

Tetap Taat Saat Melancong

Gambar

Selagi belajar di Eropa, jalan-jalan ke negeri tetangga adalah pilihan yang mengasyikkan. Mumpung dekat dan murah. Tiket murah pun diburu, peta kota disiapkan, jalur dan moda transportasi ditelusuri, bahkan tempat makan pun dicari jauh-jauh hari. Tapi, mungkin banyak yang kerap lupa bagaimana menyiapkan diri agar tetap nyaman beribadah selama melancong. Persiapannya seringkali seadanya, dengan ilmu yang ala kadarnya juga. Padahal, ibadah kepada Allah tetap harus dijalankan di manapun berada, kapanpun dan bagaimanapun kondisinya. Tinggal bagaimana menyesuaikan diri sesuai syariat yang diajarkan.

Pergilah melancong ke manapun. Tidak ada larangan. Persiapkanlah pula segala perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan. Tapi, cobalah ingat juga untuk mempersiapkan beberapa benda dan hal praktis berikut ini sebelum perjalanan.

  • Kompas

Shalat lima waktu tetap harus dijalankan meskipun boleh di-jama’ dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Dalam menunaikan shalat fardhu, menghadap kiblat adalah keharusan yang tidak bisa ditawar. Maka, kompas yang reliable tidak boleh luput dari dalam tas atau koper. Jangan sampai, sudah jauh-jauh pergi ke Italia dan Spanyol, arah kiblat pun lupa dan hanya diterka-terka. Arahnya ke mana? Yang jelas ke arah Masjidil Haram. Contek peta sebentar dan perhatikan di mana arah kiblat dari posisi kita. Jauh sebelum pergi pun seharusnya kita sudah tahu di mana arah kiblat dari tempat kita jalan-jalan. Di Eropa, umumnya kiblat menunjuk ke arah tenggara (South-East).

  • Sajadah dan pakaian shalat

Kita tak pernah tahu di mana kita berada pada saat waktu shalat tiba. Barangkali sedang di pantai, di taman, di museum, atau tempat bermain semacam Disneyland. Shalat fardhu tetap harus berdiri dan tidak diperkenankan duduk, kecuali benar-benar darurat atau kondisi tidak memungkinkan. Jika sedang di dalam museum, keluarlah sebentar dan cari taman untuk menggelar sajadah. Tidak usah takut akan diperhatikan banyak orang. Jadi pusat perhatian saat shalat itu sudah biasa, tinggal kita sendiri –pede atau tidak. Jalan aja terus. Jika khawatir akan diganggu, shalatlah bergiliran. Jika teman seperjalanan tidak ada yang shalat selain kita sendiri, misalnya teman yang lain adalah non-muslim, minta mereka menjaga atau mengawasi kita agar tidak ada yang mengganggu. Percayalah, it works. Bahkan, kawan-kawan sekampus di Eropa pun bisa dengan mudah mengerti kalau kewajiban kita shalat lima waktu harus tetap dijalankan meskipun tengah di perjalanan. Nah, kalau sendirian? Pilihlah tempat yang agak sepi yang sekiranya tidak diganggu. Taman adalah pilihan yang baik. Meski ramai, taman relatif aman digunakan sebagai tempat shalat dibandingkan shalat di pojokan gedung.

  • Peralatan masak dan makan sederhana

Perkara makan itu ada dua: mencari yang murah dan mencari yang halal. Seringkali kita melulu berupaya mencari di mana makanan yang murah, tapi lupa mencari di mana makanan yang halal. Sudah bukan hal baru lagi bahwa di Eropa, sulit mencari makanan halal, kecuali Kebab Turki. Membawa peralatan masak dan makan sederhana sejatinya memenuhi dua tujuan tersebut. Bawalah sekadar rice cooker kecil di dalam koper sehingga bisa dengan tenteram memakan masakan sendiri –atau bahkan bisa menyiapkan bekal sejak di hotel. Beras, telor, pasta, indomie, atau makanan mudah saji lainnya bisa menjadi pilihan makanan yang dibawa. Koper berat? Ah, masa’ mau masuk surga ngeluh koper berat? Bersikap wara’ (menjaga diri dari hal-hal haram) akan meringankan langkah kita menuju surga –walaupun koper berat dibawa jalan-jalan. J

  • Al Qur’an kecil

Kalau kamera dan tablet saja dibawa ke mana-mana buat foto-foto, masa’ sih Al Qur’an kecil saja sampai lupa dibawa. Foto itu dimensinya dunia. Kiamat, fotonya nggak bisa dilihat lagi. Yang terlihat nanti justru amal ibadah kita –diputar rekamannya selama kita hidup, bahkan tangan dan kaki ikut bicara. Selagi dibawa, bacalah Al Qur’an di sela-sela perjalanan atau di hotel. Barangkali, amalan sederhana membaca Al Qur’an sebelum keluar hotel mampu pula menjaga diri kita dari perbuatan yang tidak semestinya.

  • Reminder jadwal shalat

Di zaman canggih seperti ini, sudah banyak aplikasi jadwal waktu shalat yang bisa berubah otomatis atau manual sesuai lokasi. Tidak perlu lagi membuka-buka kalender segede gaban. Tinggal klik –atau poke, waktu shalat sudah diatur sedemikian rupa. Jangan lupa pasang alarm-nya sehingga waktu shalat tidak terlewatkan. Jika ada pengunjung lain yang tengak-tengok mendengar adzan gaya Mekkah atau Madinah dari handphone kita, cuek aja –sambil cengar-cengir. Bilang saja, “The God calls me, Madamme…

Tentu ada beberapa modifikasi cara beribadah selama perjalanan. Beberapa pendapat ulama fiqih pun berbeda-beda pada setiap tata cara ibadah. Mulai dari ibadah di kendaraan (pesawat, kereta, atau bus), tata cara menggabungkan shalat (jama’) dan meringkas (qashr), sampai tata cara membersihkan najis setelah buang air kecil atau besar (istinja) dan bersuci, baik berwudhu atau tayammum. Ini menarik karena pasti berbeda dengan plesiran di Indonesia atau negeri dengan mayoritas muslim. Masjid jarang, toilet pun tidak ramah untuk ber-istinja dan bersuci.

Simak kelanjutan tulisan ini di blog ini: aafuady.wordpress.com.

Veel plezier dan nyamankanlah diri dalam beribadah di perjalanan!

Rotterdam, Juli 2013

Ahmad Fuady

Kajian Kitab Hadits Taysirul ‘Allaam

Gambar

Menjelang dan selama 10 hari pertama bulan Ramadhan, akan ada kajian sederhana yang membahas kitab hadits “Taysirul ’Allaam –Syarah ‘Umdatul Ahkam”. Disusun oleh asy Syaikh al ‘Allaamah ‘Abdullah bin Abdur Rahman bin Shalih Ali Bassaam, kitab ini berupaya mengumpulkan hadits-hadits dari dua kitab hadits utama, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yang disusun ulang untuk tujuan pembahasan kaifiyat ibadah. Mirip dengan berbagai kitab fiqih lainnya, pembahasan dimulai dari bab thaharah (bersuci), shalat, jenazah, hingga jihad.

Berbeda dengan kitab fiqih lain, seperti telah diungkapkan di awal, pembahasan permasalahan kaifiyat ibadah dalam kitab ini disandarkan hanya kepada hadits-hadits dari periwayatan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits-hadits pendukung dari periwayatan lainnya dijelaskan secukupnya di dalam pembahasan. Menariknya, meski membahas dari dua sumber kitab hadits utama, kitab ini tetap mengeksplorasi “hal-hal yang disepakati” dari isi dan makna hadits dan “hal-hal yang berbeda pendapat” di dalamnya dari berbagai pandangan ulama dan mazhab. Di akhir pembahasan satu hadits, penulis menutup dengan beberapa poin kesimpulan.

Pemilihan pembahasan kitab ini, salah satunya didasari oleh kemudahan dalam pengkajian, jelasnya dalil utama, dan himpunan pendapat para ulama mazhab. Meski membahas kaidah-kaidah ibadah, kitab ini tidak mengkhususkan diri untuk membahas fiqh dari pandangan satu mazhab saja. Ini yang membuat pembaca dan pengkaji mampu memahami perbedaan yang ada dengan mengetahui pula dasar-dasar perbedaannya.

Waktu

Kajian kitab hadits “Taysirul ‘Allaam” insya Allah akan dilaksanakan pada setiap hari pada 7-18 Juli 2013, pukul 18.30 CET (22.30 WIB), sesudah pelaksanaan shalat ashar waktu Belanda. Bagi yang berminat untuk mengikutinya, dapat memilih salah satu cara di bawah ini.

  1. Datang ke hunian sementara pengkaji, ISR – Schiekade 10B 3032 AJ Rotterdam. Lebih baik bila datang dan shalat ashar berjamaah.
  2. Mengikuti via YouTube Live di channel “Ahmad Fuady”. Karena akan banyak keluar item lain bila Anda memasukkan keywords ‘Ahmad Fuady’ di mesin pencarian YouTube, Anda dapat mencarinya dengan memasukkan kata kuci “Taysirul ‘Allaam”. Setelah menemukannya, baru klik channel “Ahmad Fuady” untuk melihat tayangan kajian Live.
  3. Bila Anda ingin berpartisipasi langsung secara aktif, silakan gabung di Google+ dengan mengirimkan alamat Gmail Anda di kolom komentar. Anda akan diundang masuk ke dalam forum kajian. Ingat, hanya akun Gmail yang dapat ikut serta dengan terlebih dahulu meng-install Pulg-in yang dibutuhkan.

Download kitab

Bagi yang ingin mendownload kitab tersebut, silakan mengikuti link dari perpustakaan digital Al Waqfiya ini: http://www.waqfeya.com/book.php?bid=5945 Gratis. Cukup meng-klik link “Al Kitab” berwarna biru pada poin paling bawah. Saat ini sebenarnya telah tersedia terjemahan kitab ini dalam bahasa Indonesia, namun berbentuk hardcopy dan tidak tersedia dalam bentuk softcopy.

Semoga niat untuk menuntut ilmu dan saling berbagi menambahkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, selain pula memperbaiki tata cara ibadah yang mungkin masih kurang selama ini. Lebih dari itu, dengan mengkaji hadits-hadits Rasulullah dan meneladani perilaku beliau, kita sama-sama berharap semoga kita mendapatkan syafaat dari beliau pada hari akhirat kelak.

Bungkusan Plastik Mami

Gambar

Dari dulu Mami, begitu saya menyebut ibu saya, punya satu kebiasaan yang mungkin berakar dari tradisi di keluarga, yaitu membagi-bagikan makanan. Setiap ada kelebihan makanan, entah karena habis ada syukuran di rumah, sedang masak banyak, atau apapun, ibu saya membungkusnya dalam plastik dan meniatkannya untuk dibagikan ke tetangga dan kerabat. Lalu, dipanggillah anak-anaknya untuk membawakan kantong-kantong itu ke Cing[1] Anu, Cang[2] Ini, Bang Ono[3], atau Mpok Ene (semua bukan nama asli demi menjaga harkat dan martabat, hehe). Kadang saya kesal dan bermalas-malasan mengerjakannya. Sedang enak-enak bermain, bersantai-santai, atau menonton televisi kok ya disuruh antar-antar bungkusan plastik? Terlebih, saya anak yang paling kecil di rumah, paling mudah disuruh, dan memang serumah dengan ibu saya, bahkan sampai saya menikah.

Bahkan, saya sempat menggeleng-gelengkan kepala karena ibu saya tiba-tiba memberikan saya bungkusan plastik berisi biskuit kaleng besar. “Nih, bawa kalau datang ke rumah Cing Anu,” katanya. Tanpa ada nasihat tambahan apapun. Pokoknya, harus dibawa. Ibu saya tidak bilang, “Kalau ke rumah orang lain kamu harusnya begini dan begitu, begono dan begunu[4]” Tidak. Ibu saya hanya menyuruh saya membawa bungkusan plastik itu. Titik.

Tradisi ini tidak hanya berlaku pada keluarga ibu saya. Encing dan Encang[5] saya pun begitu, apalagi nenek saya. Seringkali, saya bersama sepupu-sepupu yang lain diminta mengantarkan makanan semasa kecil dulu. Bergerombollah kami, dua orang ke gang ini, tiga orang ke gang anu, yang lain ke jalan ono. Saya yang paling kecil biasanya hanya menguntit dan jejingkrakan[6] di belakang. Kalau ramai-ramai pasti senang. Kalau sendiri, barangkali lebih sering ngedumel.[7]

Perlu waktu lama untuk menyadari pola pendidikan ibu saya itu. Setelah saya menikah, punya anak, terlebih tinggal jauh di Belanda, saya mulai menyadari sedikit demi sedikit. Pertama, ibu saya mengajarkan saya untuk kenal dengan tetangga, dengan saudara, terlebih kerabat dekat. Bahasa betawinya, jangan ampe ame encing sendiri lu kagak kenal. Bagaimana saya tidak kenal? Sebelum berangkat membawa kantong-kantong itu, saya selalu di-briefing.

Rumahnye Cing Ono, dari sini masuk gang belok kiri, mentok belok kanan. Nah, sebelom pojokan, rumahnye yang cat putih, pagarnye ijo, ade pohon pinangnye due biji. Ntar tanya, Cing Ono-nya ade? Salamin. Ada titipan dari Mami.”

Nah, saya jadi kenal kan sama Cing Ono, bahkan mungkin sama anak-anaknya.

Entar kalo ditanya, Mami siapa? Jawabnya apa?”

“Bilang aje dari Cing Iik.”

Dengan begitu, si Cing Ono dan keluarganya pun mulai recognize: oh, saya ini anaknya Cing Iik yang paling bontot[8]. Sudah bontot, pakai ‘paling’ pula. Saya pun harus laporan kalau ditanya, “Ade Cing Ono-nye?” sampai “Siape yang bukain pintu?” Dengan begitu saya tahu kalau yang tadi membukakan pintu itu anaknya Cing Ono yang kedua. Anaknya yang pertama sudah menikah dan pindah rumah, sedangkan anaknya yang ketiga masih sekolah. Begonoo

Sudah begitupun, saya masih banyak tidak kenal dengan kerabat. Ibu saya memaklumi, “Dulu dia (maksudnya: saya) di pesantren sih, terus kuliah pagi sampai malam. Wajar kalau masih banyak nggak kenal.” Ah, baiknya ibu saya itu… Dan ketika sudah berkeluarga dan jauh dari orangtua, saya mulai memahami pelajaran-pelajaran ini. Membawakan keluarga lain bingkisan apapun, mulai belajar masak, mengundang orang-orang, dan menyuguhi makanan. Saya mulai menyukai tradisi ini, yang sebenarnya secara teori sudah saya hafal dari hadits-hadits nabi, tapi belum juga saya praktekkan. Malah, saya mulai ketagihan menyiapkan makanan di masjid kalau ada pengajian atau shalat Jum’at untuk menjaga silaturrahim, menambah kenalan, dan berharap bisa tambah saling mencintai. Nah, ini ternyata pelajaran kedua, ketiga, dan seterusnya.

Di tengah melajunya zaman, saya sadar bahwa ancaman untuk tidak mengenal tetangga dan kerabat itu makin besar. Saya, atau istri dan anak keturunan saya, bisa jadi tidak mengenal kerabat-kerabat saya lagi. Begitu pun sebaliknya. Saya sadari bahwa Allah mengirim saya ke Belanda bukan sekadar untuk kuliah master, tapi belajar hal-hal praktis silaturrahim yang dulu tidak saya pahami dengan benar di rumah. Allah memberi saya kesempatan untuk mengubah keluhan-keluhan saya di masa lalu ketika diminta untuk mengantar makanan atau mengantar orangtua kondangan[9], menjadi pelajaran yang harus disyukuri. Dan saya belajar pula, seperti yang Rasulullah ajarkan, carilah dan pergilah ke masjid saat pertama kali memasuki satu lingkungan baru. Temui sebanyak-banyaknya orang dan berkenalanlah di sana. Insya Allah, di situlah letak keberkahan.

 

Rotterdam, Juni 2013


[1] Cing (Betawi): sebutan untuk paman atau bibi yang lebih muda dari orangtua. Mirip Pak/Bu Lik (bahasa Jawa).

[2] Cang (Betawi): sebutan untuk paman atau bibi yang lebih tua dari orangtua. Mirip Pak/Bu De (bahasa Jawa).

[3] Anu, Ini, Ono, dan Ene untuk menggantikan sebutan si fulan/fulanah saja. Bukan nama asli.

[4] Begono dan begunu hanya untuk menunjukkan variasi.

[5] Tambahan bunyi “En” pada kata “Encing”, bukan Cing, karena kebutuhan aksen saja.

[6] Jejingkrakan (Betawi): berlompat-lompatan dengan gembira.

[7] Ngedumel (Betawi): mengeluh di belakang

[8] Bontot (Betawi) : bungsu

[9] Kondangan (Betawi): pergi menghadiri undangan pernikahan

Gambar diambil dari: http://www.greenradio.fm/images/stories/demo/artist/r215609_837743plastic.gif

Pesan

Gambar

Anakku,

Dunia riuh kuasa dan tahta

Buat kau tak menyangka

Mana nyata dan mana buta

 

Duduklah di sini

Matahari belum terlampau tinggi

Kita sama membenahi hati

Tentang muara masa kini

Dan masa depan yang kita beli

 

Anakku,

Kelak jika kau sendiri

Pada hari-hari yang kau susuri

Tuhan tak pernah pergi

Ia ada, membuatmu dua

Kala dua, Ia yang ketiga

Tepat tiga, keempatnyalah Ia

Jangan kau tukar Ia

dengan sebentuk apa

Karena hanya bersama Ia

Kau mampu rengkuh segala

 

Rotterdam, Mei 2013

untuk ananda, Birru Syaikhul Ulum

Jangan Percuma

Gambar

Saat pertama kali saya ke luar negeri karena mendapat fellowship studi riset, Ayah saya cemas luar biasa. Bukan karena saya tak punya uang, tapi lebih karena Ayah tak pernah melihat saya bicara dengan bahasa Inggris di rumah. Kecemasan itu lantas membuat kesehatannya turun drastis dan saya menemukan satu hal yang baru saya sadari: saya gagal belajar bahasa Inggris.

Nilai bahasa Inggris saya tak pernah kurang dari angka delapan, bahkan nilai ujian akhir SMA saya hampir menyentuh angka sembilan. Tapi, belajar bukan sekadar persoalan angka. Belajar adalah perkara amal –praktik. Peristiwa kecemasan Ayah itu cermin kegagalan pembelajaran saya. Percuma saja belajar dan ujian dengan angka tinggi, tapi tak pernah sedikitpun mempelihatkan jejas pembelajarannya dalam keseharian.

Ayah telah menggedor keresahan saya. Tiba-tiba saya seperti mendapat nasihat yang lebih banyak. Percuma nilaimu bagus, tapi amalmu miskin. Percuma kau mengaji dan paham keutamaan shalat sunnah dan jamaah, tapi langkah kakimu jarang ke masjid. Percuma suaramu bagus melantunkan Al Qur’an, tapi ia tak hadir dalam kesendirianmu. Percuma kau hafal seribu kisah tentang nabi, tapi tak juga bisa singkirkan kebohongan dalam hari-harimu. Percuma kau tahu fadhilah infaq, tapi kantongmu kau kunci dengan kekikiran. Percuma kau hafal ribuan hadits, tapi tontonanmu tak sedikitpun menyisakan ruang bagi Rasul menjadi teladanmu. Percuma kau berdebat tentang apakah bersentuhan dengan lawan jenis membatalkan wudhu-mu, tapi kau tak pernah risih saling bersentuhan ketika tanpa wudhu. Percuma kau menulis jejeran artikel dan kritik ilmiah, tapi kau sendiri tak mampu mengkritik dirimu. Percuma kau melagukan shalawat, rawi dan barzanji, tapi kau tak juga kau bersikap asyidda-u ‘alal kuffar dan ruhamaa-u baynahum. Percuma nilai matematikamu sempurna, tapi kau tak paham bagaimana menggunakan logika. Percuma kau dalami biologi dan kedokteran, tapi tak menambah rasa syukurmu kepada Tuhan. Percuma kau menyebut 10 malaikat di luar kepala, tapi tak pernah merasa hidupmu terawasi. Percuma kau mengangguk-angguk ketika disampaikan kepadamu bahwa pernikahan akan menjagamu dan melancarkan rizkimu, tapi kau lebih suka berlama-lama pacaran. Percuma kau mengerti bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang meluaskan dan menyempitkan rizki, tapi doamu hanya rutinitas dan hafalan, bukan sungguhan. Tapi, shalatmu hanya kelaziman, bukan persembahan. Tapi, dzikirmu hanya berakhir di lisan, bukan penghayatan.

Peristiwa itu begitu membekas, seolah bernasihat dengan jelas: Ayah tak butuh nilai sekolah saya. Ayah hanya butuh saya mengamalkan apa yang saya pahami. Apalagi, Allah.

Rotterdam, Mei 2013

 

Gambar diambil dari: http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR5vp6UGi_h7INl4SbaRkz6RmiHHNefHqp1VGccV7YY4Mghya7R

Kado Terindah

Gambar

Pekan lalu tepat usia saya 27 tahun berdasarkan akte lahir. Panjang kisahnya bila saya ceritakan pada tanggal berapa sebenarnya saya lahir. Mami –begitu saya memanggil ibu saya, tidak mengingat dengan jelas kapan saya tepat dilahirkan. Riwayat yang saya dengar dari lisannya, tanggal lahir saya dimundurkan karena menghindari pilihan untuk membayar denda atas keterlambatan registrasi yang mahal bagi orangtua saya saat itu. Tidak terbayangkan di kepala saya tentang kesulitan yang mendera orangtua kala itu, lantas membesarkan saya sebagai anak mereka yang kesepuluh. Pelan saya beranjak dewasa dan memiliki keinginan sederhana: menjadi guru seperti Ayah. Tidak lebih dari itu. Usia keduapuluhtujuh; dan saya tak sanggup mengucapkan terima kasih langsung kepada mereka yang mendewasakan, yang membuat saya dapat terbang jauh dari halaman rumah sendiri. Saya bukan sesiapapun tanpa doa dan kerelaan mereka. Ayah dan Mami tak pernah memberikan kado ulang tahun –dan mereka memang tak perlu lagi memberikan kado apapun. Kado mereka bagi saya adalah kehidupan mereka, kesehatan mereka, dan kerelaan mereka –yang itu pun tak akan pernah saya sanggup membalasnya.

Hanya ada perbincangan sederhana dengan istri saya pekan lalu. Apa yang semestinya disyukuri, juga apa yang seharusnya dibenahi. Anak yang sehat dan sempurna meski didahului oleh kehamilan yang tak sepenuhnya mulus. Ia menjadi permata bagi kami, juga bagi kakeknya yang sering kesepian di rumah. Studi kami berdua yang, Alhamdulillah, terus berjalan meski ada rintangan yang menghalang di sana sini. Orang-orang yang datang belakangan dan ikut sibuk membantu kami, juga keluarga terdekat. Tak terhitung nikmat itu meski kami tak pernah benar-benar menyatakan permintaannya kepada Allah.

“Apa benar Allah perlu tahu apa yang kita inginkan?” Begitu kata istri saya di sela-sela perbincangan kecil itu. Ya, cukup keberkahan saja yang dipinta. Tidak lebih. Bertambahnya kebaikan dari waktu ke waktu. Yang kami miliki hari ini tentu tidak seberapa dibandingkan apa yang dimiliki kawan-kawan kami yang lain. Menengok besaran honor mengajar tentu bukan pilihan karir cemerlang. Tapi, saya lantas teringat cita-cita masa kecil untuk bisa seperti Ayah –menjadi guru dan merengguk keberkahan ilmu.

Ayah tidak masuk dalam logika manusia ketika ia bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan gaji yang sedemikian kecil. Tunai sudah air mata mereka ketika bercerita tentang baju yang dijual Ayah ke pasar. Tak ada uang saat itu. Ayah berjalan kaki ke pasar dan membawa baju yang sekiranya bisa dijual. Hingga kami, anak-anaknya, bisa bersekolah lebih tinggi dari yang pernah ia kecap. Sungguh, satu-satunya yang Ayah khawatirkan adalah sekolah anak-anaknya.

Ayah adalah guru kami di keluarga sebelum menjadi guru bagi anak-anak yang lain. Kami tak tahu seberapa banyak muridnya sekarang –yang saya rindukan kedatangan mereka setiap kali lebaran. Ya, murid-muridnya perlu hadir untuk sekadar menerbitkan kembali semangat Ayah, juga semangat kami untuk mencintainya lebih besar lagi. Kami yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang belum juga mampu merawatnya di masa tua seperti ia mengasihi kami semasa kecil. Ayah yang merawat luka kami ketika jatuh dan berdarah, menggerus obat yang belum mampu kami telan, juga membawa ke dokter setiap kali demam yang tak turun-turun. Kami bahkan lupa di mana kami ketika kaki Ayah terluka, berdarah, atau bernanah; seberapa peduli kami pada Ayah yang tak bisa menyuntik obatnya sendiri; juga seberapa sigap kami membawa Ayah ke dokter ketika keluhannya tak juga membaik. Tidak, tidak setetes pun kami layak dibandingkan dengan Ayah. Ayah menjaga kami untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan kami menjaganya dalam keadaannya yang terus melemah.

Dari kejauhan, saya titipkan orang-orang yang saya cintai kepada istri saya: Birru, Ayah dan Mami. “Bagaimana mungkin Ibu tidak menjaga Ayah yang sudah menjaga Buya sejak kecil,” jawab istri saya. Melelehlah air mata saya. Itu kado terindah. Terindah.

Rotterdam, April 2013.

Memberangus Lupa

Gambar

Semasa kuliah, saya punya seorang mentor yang saya cintai –semoga Allah merahmati kehidupannya. Pernah saya bercerita tentang banyaknya hafalan Qur’an saya yang hilang dan sulitnya bangun malam. Beliau hanya bertanya balik, “Antum lebih tahu ilmunya kenapa ibadah jadi susah, bangun malam jadi berat, hafalan jadi banyak yang lupa.” Saya diminta menjawabnya sendiri dan itu sungguh membuat saya bersedih hati. Dua kesedihan saya waktu itu. Sedih karena saya tahu penyebabnya dan sedih karena saya justru tidak mengamalkan apa yang saya sudah tahu dan semestinya saya amalkan.

Dalam sebuah obrolan kecil sesame rakyat, kawan saya kerap menggerutu. Katanya, “Republik kita ini punya penyakit lupa.” Presidennya lupa bahwa ia pernah memerintahkan para menterinya untuk lebih sibuk mengurusi negara daripada partainya. Rakyat juga lupa bagaimana cara memilih pemimpin yang baik dan layak untuk dicintai. Baru lewat satu kasus, kasus terdahulu  sudah ditinggal dan dibuang dari memori. Barangkali persis seperti kontes-kontes menyanyi. Habis satu kontes, pemenang kontes yang lalu terlupakan. Terlebih, alur informasi sudah sedemikian deras sehingga tak mampu lagi memilah mana yang sepatutnya disimpan dalam memori dan mana yang semestinya diabaikan saja.

Di sela-sela obrolan itu kerap ada pertanyaan, “Bagaimana ini supaya negeri kita ini tidak jadi negeri para pelupa?” Bagi saya, lupa itu hanya tiga penyebabnya. Pertama, kapasitas memori memang tidak cukup untuk menampung sehingga harus diperbaiki, di-upgrade. Kedua, informasi yang datang terlampau banyak sehingga harus pintar mem-filtrasi. Kalau ternyata dua-duanya tak ada masalah, bahkan justru makin sering lupa, barangkali penyebabnya adalah yang ketiga; terlalu banyak maksiat.

Kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi dari manapun, bahkan dari sumber yang kita tak suka sekalipun. Tapi, kita sering luput untuk menyadari bahwa informasi tidak akan bertransformasi menjadi ilmu ketika ia tidak menambah kebaikan dan manfaat sedikitpun. Saya teringat pesan guru saya semasa di sekolah, “Yang kalian hafal itu sifatnya baru pengetahuan. Ketika kalian amalkan, baru ia berubah dan layak disebut sebagai ilmu.” Barangkali kita mendapatkan informasi dan pengetahuan yang sama, tapi proses yang kita bangun menjadikan hasilnya berbeda. Ada yang stagnan dalam status “hafalan” dan “pengetahuan”, ada pula yang berkembang menjadi “ilmu”. Hafalan dan pengetahuan dapat dengan mudah hilang, tetapi ilmu akan terpelihara dengan sendirinya –karena ia diamalkan.

Ilmu itu cahaya, kata Rasul. Dan cahaya tak akan masuk ke dalam qalb orang yang suka bermaksiat. Terserah apa tafsir kita tentang qalb; menyebutnya sebagai hati atau otak. Qalb itu berbintik dan menghitam ketika satu kemaksiatan diperbuat, dan bertambah banyak dengan kemaksiatan yang terus menerus di-dawam-kan. Kecerdasan intelektual dapat dibangun dari banyaknya buku yang dihafal dan tingginya sekolah yang ditempuh, tetapi kecerdasan qalb hanya dapat dimiliki orang yang mampu menjaga entitas kesucian qalb-nya.

Kepada kawan saya yang menggerutu itu saya berelakar, “Barangkali bukan karena bangsa kita kurang pintar dan lemah memorinya sehingga sering lupa. Bangsa kita hanya perlu taat dan tidak terus menceburkan diri dalam kemaksiatan.”  Saya tak tahu pasti apakah kawan saya itu skeptis pada perkara agama yang mencampuri urusan negara. Yang saya yakini dengan pasti: bangunan negara diawali dari pondasi hati. Kesadaran kolektif untuk membenahi diri sendiri lebih agung daripada repot mencemooh pekerjaan orang lain –lantas menyibukkan dengan maksiat caci maki.

Rotterdam, April 2013

Gambar diambil dari: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f4/Lupa.na.encyklopedii.jpg

Terbukti Manusia

Evidence Based PracticeBeberapa kali pasien saya datang ke meja praktik dengan janji pertobatan, termasuk seorang bapak lewat paruh baya dengan barrel chest (dada menyerupai bentuk tong). Napasnya sering terengah-engah. Sesak, katanya. Rutinitas merokok sudah dijalaninya sejak remaja sampai menemukan titik baliknya setelah puluhan tahun. “Saya sudah tidak merokok,” akunya. Kapok. Setelah saya wawancara, saya mendengar bising parunya. Ramai, memang. Wheezing dan rhonki[1] bersahut-sahutan. Adegan setelahnya sudah dapat diduga, gabungan antara penyesalan dan harapan yang dititipkan kepada dokternya.

Saya lantas teringat masa kanak-kanak. Tidak berhenti bermain api sampai ada yang terbakar, meski sudah diingatkan. Terus bermain pedang-pedangan sampai ada yang terluka dan menangis, meski sudah sedari awal dilarang. Pengalaman itu ternyata berlanjut; tidak berhenti di masa kanak-kanak. Sudah terlalu banyak bukti ilmiah tentang risiko merokok, tapi tetap saja banyak yang merokok. Tidak peduli sebesar apapun peringatannya di bungkus rokok atau seberapa tinggi cukai yang dikenakan. Sudah tak terhitung jumlah kecelakaan kerja, tapi masih banyak pekerja yang tidak taat aturan keselamatan kerja. Saat sakit dan celaka sudah datang, barulah penyesalan menyeruak belakangan.

Manusia seringkali membutuhkan bukti sebelum benar-benar yakin. Butuh sakit sebelum yakin untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Butuh nilai buruk untuk yakin belajar lebih giat. Butuh kehilangan sebelum yakin untuk menjaga apapun yang (ternyata) dicintainya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, untuk keimanan sekalipun. Mereka yang tak juga yakin dengan kehidupan setelah kematian barangkali butuh kematian itu sendiri sampai akhirnya mereka melirih, “Yaa waylanaa,” Duhai celakalah kami.[2] Padahal, Allah sudah mengingatkannya dengan pedoman tertulis yang jelas: Al Qur’an.

Tidak ada yang keliru dengan bukti. Toh, para ilmuwan butuh bukti efikasi dan efek samping obat sebelum memproduksinya besar-besaran. Mereka yang tak mencari bukti justru memilih potensi hilang arah dalam langkahnya. Tapi, bukti tidak melulu perlu ditemukan dengan tangan atau mata kepala sendiri. Ada pengalaman orang lain yang bisa diambil, bahkan para pemasak pemula mencontek tata cara penyajian makanan di kumpulan resep. Jika khawatir pada subyektivitas, ada guidelines yang dibuat dengan seobyektif mungkin. Ada tata cara penggunaan dalam setiap kemasan sebelum menggunakan produk yang baru dibeli.

Ketika ada pasien yang dengan penuh kegairahan menceritakan bagaimana ia mencoba resep pengobatan yang didapatkan dari testimoni kenalannya meski belum terbukti, saya terkagum-kagum. Pasien ternyata bisa dengan mudah meyakini testimoni orang, seperti mereka juga bisa dengan mudah menuruti perkataan dokternya. Tapi, tidak sedikit pasien yang nakal dan melanggar segenap bukti yang sebenarnya dengan mudah didapat. Saya lantas mencurigai bahwa manusia tidak sekadar butuh keyakinan untuk berubah, tapi ia juga butuh ketenteraman dalam perubahan itu sendiri.

Ada kisah Ibrahim as. yang serta merta saya ingat setiap kali menghadapi pasien seperti ini. Namrudz tidak kekurangan keyakinan ketika Ibrahim menantangnya, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!”[3] Namrudz dan pengikutnya menyadari sepenuhnya bahwa sang raja bukanlah Tuhan, tapi ia menolak bukti itu. Mereka tidak tenteram dalam menerima bukti, seperti sekumpulan kafir Quraisy yang menolak Islam walaupun mereka tahu bahwa Allah-lah yang ngatur segala urusannya.[4] Bahkan, Ibrahim sekalipun butuh ketenteraman itu ketika ia meminta Allah untuk membuktikan bagaimana caraNya menghidupkan dan mematikan. Ibrahim bukan tak beriman, tapi ia berharap ketenteraman. “Sekali-kali tidak, akan tetapi agar hatiku tenteram,” jawabnya. Liyathmainna qalby.[5]

Pasien-pasien saya yang sudah bertobat itu barangkali juga telah menemukan ketenteramannya sendiri dalam penyakitnya. Ketenteraman yang membulatkan penuh keyakinannya untuk berubah. Kepada mereka saya berujar, “Lain kali tidak perlu merusak diri sendiri untuk tahu nikmatnya sehat.” Saya tahu mereka perih menerima kenyataan. Saya mengerti betapa gundahnya bergumul dalam kesakitan. Dan saya tak bisa membayangkan betapa sakitnya penyesalan akhirat ketika semua bukti dan pedoman yang diberikan Allah masih juga dilanggar. Jika pasien yang sakit itu merutuk perilaku buruknya di masa lalu, saya tak tahu bukti apa lagi yang cukup untuk segera berubah agar tak ada teriakan “Ya waylanaa” dari mulut sendiri di akhirat nanti.

Rotterdam, April 2013


[1] Wheezing (mengi) dan rhonki (suara kasar berderak) adalah istilah kedokteran untuk bunyi abnormal pada pemeriksaan paru.

[2] Lihat QS Al Anbiyaa: 97.

[3] Lihat QS Al Baqarah: 258.

[4] Lihat QS Yunus: 31.