Demokrasi Kentut

Tidak ada yang membahas epistemologi keburukan kentut ini secara detail meskipun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas itu bisa dibahas dari beragam sudut pandang: biologis, sosiologis, antropologis, syariah, siyasah, bahkan tasawuf.

Lanjutkan membaca Demokrasi Kentut

Iklan

Anak Hujan

anak-hujan

hujan memaksa kayuh kita menepi

memungut kenangan yang tak jua sepi

kita yang berboncengan di bawah hujan

tak punya kita atap, kecuali pelukan

ketika gembos ban di jalanan

dan mesin mati saat kebanjiran

perutmu sudah membuncit, Sayang

kita merapat di emper warung yang padat

selepas kau tak mengerti: harus duka atau bahagia

yang tumbuh dalam perutmu menerbitkan asa

lagi setelah harapan yang tertunda

ia pula yang memaksa gurumu berkata

: tak perlulah ke rumah sakit dulu. istirahatlah

yang kecil tumbuh dalam perutmu, Sayang

kini menepuk-nepuk pundakku dan tertawa

: jalan saja, Buya. hujan pun tak apa. aku tak gentar

lupa kita, ia telah besar

dan tak takut hujan, sejak dalam kandungan

Rotterdam, Januari 2017

Kakak Kelas

Di satu sore, ia bertanya lagi, “Memang natal itu apa?” Melihat matanya, kami yakin ia akan belajar lebih banyak lagi. Bukan sekadar untuk ia ketahui, tetapi menjadi kearifan yang ia hayati.

birru

Ada kekhawatiran yang cukup besar ketika melepas Birru sekolah di Belanda, terutama dengan bahasa yang tidak dikenal sebelumnya dan lingkungan yang sama sekali baru baginya. Sebelum memulai sekolah, kami sempat menduga-duga akan berapa lama masa adaptasi dengan sekolah barunya berlangsung, lengkap dengan tangisan yang sudah siap kami antisipasi jika memang harus terjadi. Satu minggu, dua minggu, atau satu bulan? Dulu, pertama kali masuk Day Care di Jakarta, Birru menangis setiap kali dititipkan dalam dua pekan pertamanya. Usianya saat itu memang masih satu tahun tiga bulan. Tetapi, sudah lewat usia tiga tahun pun, Birru terkadang merengek tak mau ditinggal, apalagi setelah melewati libur yang agak panjang. Bunda-Bunda pengasuhnya yang biasa menenangkan –lalu melaporkan di sore hari: sampai jam berapa Birru tadi pagi menangis. (Credits to Bintang Waktu dan Bunda-Bundanya yang sabar)

Juf –sebutan bagi guru di sini, juga memberi waktu adaptasi satu pekan. “Kalau kami tidak bisa tangani, akan kami telepon,” begitu katanya. Ya, hari pertama Birru menangis, dan dibiarkan saja. Kami sudah terbiasa dengan perkara lepas-melepas dan uraian air mata. Kami percaya ia akan baik-baik saja. Birru kemudian dibebaskan memilih mainan apa yang dia suka. Sepanjang hari itu kami tidak ditelepon dan kami berharap itu menjadi pertanda baik. Dan benar, hari kedua dan hari-hari selanjutnya berjalan jauh lebih mudah dan mulus. Tanpa tangisan lagi, meskipun tidak ada obrolan dengan teman yang lain hingga beberapa pekan. Kami takjub dan merasa bersyukur karena yang terjadi dengan Birru benar-benar di luar dugaan kami.

Kami meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Barangkali faktor mainan dan kebebasan yang diberikan Juf untuk memilih apa saja tanpa paksaan dan tanpa aturan baku membuat Birru merasa nyaman. Kami berusaha mengenali karakternya yang memang tidak suka dengan keriuhan dan sambutan berlebihan. Birru lebih nyaman dicuekin. Dia akan mengamati dari jauh, menggerakkan matanya bolak-balik, kadang tersenyum sendiri. “I love his eye,” kata salah satu Juf kepada kami tentang matanya yang diam-diam mengamati kawannya beraktivitas.

Faktor adanya dua ‘kakak’-nya, Natasha dan Rowel, juga membantu Birru beradaptasi. Natasha dan Rowel adalah anak dari pasangan Belanda-Indonesia yang apartemennya kami sewa. Jika Birru tampak tidak nyaman, Juf menawarkannya untuk didampingi Abang Rowel atau Kakak Natasha (yang ini, Birru selalu salah menyebutnya sebagai Tanasha). Mereka juga seminggu sekali bertemu di pengajian dan sesekali saling kunjung. Belakangan ini akan lebih sering lagi dengan jadwal mengaji bersama setiap pekan.

Di luar itu, ada satu yang menarik dari yang kami perhatikan. “Birru is so popular,” kata salah satu orangtua teman sekelasnya.

Ya, Birru dikenal baik semenjak ia masuk kelas tersebut. Mungkin karena ia masuk sendirian di tengah tahun, mungkin juga karena dia satu-satunya anak yang tidak berbahasa Belanda. Di sekolahnya, Group 1 dan Group 2 digabung dalam kelas yang sama. Tujuannya adalah membantu anak di Group 1 untuk mengenal apa yang mereka akan pelajari dan membuat anak di Group 2 lebih cepat belajar dengan mengajari adik-adik kelasnya –dan tentunya, ikut ‘mengasuh’-nya. Sebenarnya, itu bukan hal baru baginya. Sejak usia 1,5 tahun, ia terbiasa berada di kelas dengan rentang usia yang cukup lebar. Tetapi, kelas yang kecil dan kebebasan memilih aktivitas memberikan efek yang berbeda dalam dirinya. Setiap kali Birru masuk, ia dipeluk kakak-kakak kelasnya, dielus-elus kepalanya, dipegang tangannya untuk berlari bersama. Kakak-kakak kelas yang manis dan baik sekali.

Suatu kali saya mengantarnya, kakak kelasnya berlari ke arah kami. Memeluk Birru erat sekali sambil menempelkan keningnya ke kening Birru. “Birrruuu!” serunya. Dengan logat ‘R’ khas bule yang kadar tebalnya melebihi ro’ tafkhim. Lucu sekali. Di tempat bermain, temannya yang lain –kali ini perempuan, menarik tangannya dan mengajaknya berlari-lari berputar lapangan. Saya bahkan sampai hafal siapa yang membantunya menurunkan bangku dari atas meja setiap pagi sebelum mulai aktivitas di kelas. Ya, setiap pagi mereka masuk kelas setelah melepas jaket dan sepatu, menggantinya dengan sandal khusus dalam ruangan yang kami sediakan sendiri, lalu menurunkan bangku yang masih tersusun terbalik di atas meja untuk kemudian membuat setengah lingkaran di dalam kelas.

Mulanya, Birru tidak bisa melakukannya sama sekali. Saya yang mengintip dari luar bermaksud membantunya menurunkan bangku, tetapi dicegah oleh Juf. “Biarkan saja. Biarkan temannya nanti akan membantu,” katanya. Kali terakhir saya mengintip,  Birru sudah bisa menurunkannya sendiri.

Birru nampak antusias karena sambutan kakak kelasnya yang juga hangat kepadanya. Barangkali Juf sukses memberi pesan kepada mereka untuk membantu Birru beradaptasi. Dan, kelas yang kecil membuat prosesnya lebih mudah. Dua belas anak Group 1 dan 12 anak Group 2 yang berinteraksi akhirnya membuat Birru berani tampil di atas panggung bersama teman-temannya untuk pertama kali.

Kami tidak berharap banyak ketika Maandsluiting (tutup bulan) tiba dan giliran kelasnya tampil di panggung, di depan orangtua murid yang memenuhi aula sekolah. Birru sudah berkeras tak mau ikut tampil. Kami memandangnya sebelah mata untuk yang kedua kali. Saya pun memutuskan tetap masuk ke kantor dan istri saya menyibukkan diri di rumah. Tidak ada persiapan apapun. Tapi, apa yang kemudian terjadi membuat kami kaget bercampur bahagia. Birru naik ke panggung. Dia ikut bernyanyi dan tertawa-tawa bersama kakak-kakak kelasnya. Sesuatu yang sama sekali di luar dugaan kami karena sudah dua kali kesempatan pentas di Daycare-nya yang lalu, dia merajuk.

Kali ini mungkin ketegangannya luntur. Ia merasa di atas panggung tanpa harus dengan kostum-kostum unik adalah hal yang wajar dan tidak perlu ditakutkan. Tampil apa adanya saja –sama seperti Bunda-Bunda pengasuhnya di Daycare yang selalu bilang, “Birru hebat kok waktu latihan.” Barangkali ada ketegangan yang berbeda antara latihan dan di atas panggung sungguhan yang belum mampu ia atasi. Maandsluiting ini melegakan kami. Kakak-kakak kelasnya pun ikut membuat kami lega. Birru ada di tengah mereka yang menyayanginya.

Pekan awal Desember, Trevor –kakak kelasnya yang namanya sering disebut, memberikannya kartu. Kami bingung untuk apa, lantas kami kembalikan karena yang tertulis adalah kartu asuransi miliknya. Ternyata, Trevor ingin memberikan sesuatu untuk Birru. Setelah “keliru” memberikan kartu asuransi, pekan berikutnya ia memberikan kartu ucapan selamat. Memang, itu kartu ucapan selamat natal –dan Trevor, juga orangtuanya, pasti mengerti bahwa kami tidak merayakannya. Kartunya sendiri tidak hanya ditujukan untuk Birru seorang, tetapi juga untuk yang lain. Meski begitu, ia memberi sesuatu yang spesial: gambar dua anak saling berpegangan. Persis seperti apa yang mereka lakukan hampir setiap hari. Kartu yang ditulisnya sendiri itu sudah cukup bagi kami untuk merayakan persahabatan kecil yang terjalin meski tanpa komunikasi yang bisa saling dimengerti oleh mereka sendiri.

Birru menunjukkan gambar di kartu yang diterimanya. “Itu kerstboom, Buya,” sambil menunjuk gambar serupa cemara. Sepertinya ia sekadar tahu namanya, belum paham apa maksud gambarnya. Di satu sore, ia bertanya lagi, “Memang natal itu apa?” Melihat matanya, kami yakin ia akan belajar lebih banyak lagi. Bukan sekadar untuk ia ketahui, tetapi menjadi kearifan yang ia hayati.

Rotterdam, Desember 2016

Tangan Kanan Ayah

Ayah dan Mami adalah antitesa satu sama lain dalam hal belanja. Ayah hampir tidak pernah menawar harga, sedangkan Mami adalah wanita paling lihai yang pernah saya lihat dalam hal tawar-menawar. Tapi, dari situ saya belajar banyak tentang dua hal. Dari Mami saya belajar efisiensi, dan saya belajar tentang kedermawanan dari Ayah.

img_20160619_054427

Sepulang studi saya dari Belanda, saya menemukan Ayah di rumah dengan kebiasaan barunya. Selesai shalat dhuha dan mengaji, Ayah duduk di ruang tamu sambil sesekali berjalan ke teras. Sekitar jam 10 pagi akan ada penjaja rujak dengan gerobaknya yang melintas di depan rumah. Tanpa dipanggil, ia akan berhenti tepat di tiang listrik. Sudah jadi kebiasaan Ayah, membeli buah untuk dirinya, dan terkadang untuk Birru. Saya hafal betul kebiasaan itu karena selama dua bulan cuti sebelum kembali bekerja, saya menemani Ayah dan Birru.

Bukan sekali itu saja Ayah punya kebiasaan dengan para penjaja dagangan. Beberapa bulan sekali akan datang penjaja buah yang lain –kali ini dengan dua keranjang yang dipanggul. Usianya renta. Kami  bilang, ‘Engkong-engkong’. Jualannya seringkali pisang, kadang dengan umbi-umbian, papaya dan semangka. Ayah selalu membelinya meskipun saya meyakini bahwa Ayah seringkali pula tidak membutuhkannya. Sama seperti setiap kali penjaja kerupuk udang yang penglihatannya buta lewat depan ruamh kami. Ayah akan memanggilnya dan membeli. Bukan satu-dua kantong, tapi berkantong-kantong.

Suatu hari, penjaja mangga lewat depan rumah kami. Saya tidak tahu benar apa yang terjadi, tetapi Ayah langsung menawarkan, “Mau mangga, Ded?” Banyak. Saya melirik Mami dan tahu persis apa yang yang akan ditanyakannya ke Ayah: harga. “Yah, Ayah mah nggak pernah pake nawar sih kalau beli-beli,” kata Mami sambil membuka bungkus plastik. Selalu saja begitu. Ayah, juga selalu begitu. Diam saja sambil akhirnya menenangkan. “Udah ah. Namanya juga nolong orang jualan…”

Ayah dan Mami adalah antitesa satu sama lain dalam hal belanja. Ayah hampir tidak pernah menawar harga, sedangkan Mami adalah wanita paling lihai yang pernah saya lihat dalam hal tawar-menawar. Tapi, dari situ saya belajar banyak tentang dua hal. Dari Mami saya belajar efisiensi, dan saya belajar tentang kedermawanan dari Ayah. Keduanya tanpa ceramah.

Ayah dan Mami hanya sempat berkisah menjelang pernikahan saya. Sambil bertanya seberapa seriuskah saya, Ayah menceritakan pernikahan mereka di usia yang sangat muda. Ayah tak punya apa-apa kala itu. Bahkan, sekali waktu ia harus berjalan kaki dari rumah ke Pasar Kebayoran Lama hanya untuk menjual baju bekasnya. Berapa yang bisa didapat dari menjual baju bekas yang seringkali pula tidak laku?

Apa yang saya lihat kemudian adalah pucuk dari pengalaman hidup Ayah sendiri. Ayah telah melintasi kesempitan-kesempitan yang membuatnya tak pernah segan untuk membantu. Ayah bisa menjamu, menyediakan teh, dan memberikan sangu untuk orang yang tak dikenalnya sekalipun –yang menguntit saya sepulang dari masjid dan saya curigai sebagai penipu. Dan, selalu saja begitu. “Udah ah. Namanya juga nolong orang…”

Belakangan saya sempat merasa kesal. Saya melihat Ayah lebih sering meminta orang lain untuk mengantarkannya atau membeli sesuatu. Saya sempat saja menggerutu. Ke Mami, ke istri saya. “Padahal ada Dedy, kenapa masih meminta tolong orang?” Saya tak tahu benar apakah saya cemburu atau ego saya terluka. Tetapi, Mami dan istri saya menenangkan. “Ayah memang begitu caranya…” Kalau Ayah ingin memberi uang kepada seseorang, Ayah akan memanggilnya untuk meminta tolong. Lalu, Ayah sisipkan uang lebih banyak dari ‘tarif’-nya. Kalau Ayah ingin memberi makanan ke seseorang, Ayah akan menanggilnya dan memintanya membelikan makanan. Satu porsi buat Ayah, satu porsi untuk dia. Seringkali juga dengan uang sisa pembelian.

Dan jangan tanyakan seberapa banyak yang Ayah berikan untuk anak-anaknya. Ayam goreng jatahnya yang dimasak Mami pun tak disentuhnya ketika makan malam. Ayah seringkali hanya mengambil tempe goreng, dengan kecap dan irisan tomat. Saya menyesal sekali. Ayah seringkali tidak memakannya karena mendengar saya berseru ke Mami selepas pulang ke rumah, “Wah ada ayam nih…” Yang Ayah lakukan di meja makan adalah selalu menggeser piring kecil berisi satu daging ayam itu ke arah saya. “Makan deh, Ded. Ayah sudah…” Padahal, saya tahu Ayah belum memakannya.

Tampak tangan kanannya yang mengeriput menjulur ke arah saya. Tangan kanan yang tak akan pernah saya lupa. Tangan kanan yang ingin saya cium lagi.

Rabiul Awal, 1438 H

[Ditulis setelah Ayah hadir dalam mimpi, datang ke wisuda doktor saya dengan tubuhnya yang masih gagah. Yang saya ingat, Ayah berucap, “Kalau jadi orang baik, apapun yang dikerjain bakalan jadi kebaikan.”]

Sumbat Komunikasi Dokter Layanan Primer

Dua hal besar dalam pergolakan ini yang harus ditekan: ketergesa-gesaan dan kekhawatiran terhadap perubahan. Perubahan tidak dapat disangkal sebagai sebuah keniscayaan pada zaman yang melaju begitu cepat. Namun, keterburu-buruan untuk berubah hanya akan mengosongkan hasil. Ketakutan dan kekhawatiran kita pada perubahan, di sisi yang lain, juga tidak akan membuat kita beranjak dari manapun. Jumud.

find-the-best-primary-care-service-for-your-better-health

Lanjutkan membaca Sumbat Komunikasi Dokter Layanan Primer