Uwais di San Diego Hill

Saya masih ingat seorang pasien yang datang dengan nada cemas yang berlapis-lapis. “Saya sulit tidur seminggu ini,” katanya. Wawancara saya mulai dengan menyingkirkan faktor organik yang tak menjumpai sasaran. Hampir lima menit berkutat dengan beragam pertanyaan, akhirnya saya kembali mengakkan tubuh saya dan menjulurkan telinga saya. “Silakan cerita, saya mendengarkan, Pak.”

Setelah diam beberapa saat, ia mulai berkisah. Cemasnya memang tampak tak berujung. Pasalnya, ia baru saja menengok San Diego Hill sepekan sebelum bertemu saya. Rupanya, tak ada yang lebih mengkhawatirkan bagi seorang pria nyaris 60 tahun, kecuali pemakaman yang rindang dan nyaman sebagai tempat menyemai lelah selepas kepenatan dunia. Ia terobsesi, jelas. Tapi, tak pernah ia sangka bahwa tabungannya tak mencukupi untuk hidup tenang di alam kubur nanti.

                Tak tahu harus tertawa atau bersedih, saya menatap mukanya yang pilu. Lelaki itu tengah mempersiapkan kematiannya yang entah kapan ia jemput. Menjadi juru da’wah di meja konsultasi rasanya harus saya ulur sebentar sambil menjulurkan muka saya lagi ke depan dan mendengarkan keluh kesahnya sampai usai. Hingga kemudian saya merasa yakin meski tak seagamanya dengannya, lelaki paruh baya itu religius.

                Ia tiba-tiba mengingatkan saya tentang kematian dan segala prosesi penjemputannya. Bahkan, kami berdua sesungguhnya tak ada yang mengerti dengan pasti siapa di antara kami yang dipanggil lebih dulu oleh Tuhan. Bisa jadi dia, bisa pula saya. Hanya saja, saya lantas patut bersedih jika akhirat harus dibeli dengan uang dalam saku dan tabungan. Barangkali, yang menghuni surga nanti hanya para priyayi dan saudagar sukses. Ditandu ke pemakaman dengan elegan, dikubur berderetan dengan kelas segolongan, lalu ditinggal dalam sunyi kemegahan.

                Amitriptilin sesungguhnya tak akan mempan mengusir kecemasannya dan membuatnya tidur terlelap seperti sedia kala. Justru saya ingin bercerita, sesungguhnya. Tentang Bilal bin Rabah, yang terompahnya sudah terdengar di surga semasa ia hidup. Tentu pula tentang Uwais al Qarni, yang kematian dan penguburannya diurus oleh para malaikat –tersembunyi dan di-‘pesta’-kan oleh penghuni langit.

                Saya tak pernah pergi ke San Diego Hill dan tak mengerti bagaimana komplek pekuburan itu laik dikagumi. Tapi, sebagaimanapun sebuah pekuburan dibangun, agama saya mengajari kesederhanaan. Tak perlu ada bangunan di atasnya, tak perlu pula berhias-hias membangun nisan. Shiratal mustaqim sesungguhnya tak akan pernah macet seperti Jakarta, tapi bukan berarti ia sama lempang bagi semua manusia. Pekuburan yang indah tak ada pengaruh; seperti tak ada pengaruhnya voorijder di tengah sekumpulan manusia di padang mahsyar. Setiap pribadi adalah penolong bagi dirinya sendiri, bahkan ia berlepas dari bapak, ibu dan saudaranya sendiri.

                Mendapati si pasien yang menyimpan cemas dalam raut mukanya, saya seperti ingin berkisah bersamanya tentang Uwais al Qarni, pemuda yang taat kepada segala titah ibunya hingga tak sempat bersua dengan Muhammad, kekasih yang hanya bisa didengarnya dari cerita orang yang pernah pergi ke Madinah. Uwais bukan seorang kaya, bukan pejabat, bukan pula ulama. Tidak ada yang begitu mengenalnya dan tak ada satupun perkara dunia yang membuatnya terkenal. Bahkan, kewafatannya tak bersisa kabar, kecuali segenap urusan pemakaman telah selesai tanpa campur tangan manusia. Ketaatannya dalam agama, juga baktinya kepada sang ibu, membuatnya tak perlu cemas tentang perkara pekuburan; di mana, dengan apa, atau bersama siapa. Segala urusan kewafatannya diurus sendiri oleh Allah dalam Ke-Mahacinta-anNya, dijulurkanNya dalam urusan para malaikat.

                Uwais tak akan pernah hadir lagi di dunia dalam bentuk yang serupa. Tapi, sekiranya mampu, kisah Uwais itu semestinya dibentangkan ke segala penjuru negeri, juga di San Diego. Ia yang mengajarkan bahwa kenikmatan akhirat pun bisa dijemput saat kewafatan, yang menasihati bahwa bekal sesungguhnya menjumpai Tuhan bukanlah kemewahan dan kehormatan dunia. Meski tak sepenuhnya keliru membuatkan pekuburan yang rindang dan nyaman selagi ada kesempatan di dunia, ada yang lebih utama dipersiapkan demi iringan amal yang mendampinginya; yang dibawanya ke dalam kubur, juga yang ditinggalkannya di dunia serupa amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak-anak shalih yang mendatangi pekuburannya dengan doa yang mustajab.

                Ketika si pasien kembali datang beberapa hari kemudian, ia sudah sanggup tersenyum. “Saya sudah bisa tidur enak sekarang, Dok,” katanya. Entah karena amitriptillin, nasihat saya, atau sekadar ingatan saya pada Uwais. Yang pasti, senyum si pasien membuat bayangan sendiri di kepala saya: Uwais tengah berdiri di San Diego Hill, bersama para malaikat.

 

Rotterdam, Januari 2013

Iklan

Menjadi Adam yang Kesumat

Aku belajar menjadi Adam, suatu ketika. Mencari-cari sejarah yang limbung, kemudian aku susupi dengan tawa yang menggelagak. Maka, aku hampiri Iblis dan bertanya, “Bagaimana dulu Adam bisa kau rayu dengan mulus?” Iblis diam sambil terus menggulir-gulirkan tasbihnya yang panjang. Panjang hingga beribu-ribu butir yang sibuk digilir sambil berdzikir. Sambil aku bertanya lagi, “Sejak kapan kau mulai berdzikir, Iblis?” Dia tetap saja diam. Melolong dalam diamnya yang khusyu’.

Atau aku bertanya saja hal yang sama pada Jibril yang semula masih satu barisan bersama Iblis. “Apa yang membuat Iblis mundur dan tak mau mendekatiku lagi?” Yang ditanya hanya menatapku kecewa. “Bukan padaku, seharusnya kau bertanya,” katanya. “Lalu pada siapa?” Dia menunjuk ke arah yang tak mampu aku kira ujungnya.

“Bagaimana aku bisa ke sidratul muntaha? Hanya Muhammad, hanya Muhammad.”

Tapi, Jibril menggelinjang. Tertawa terbahak-bahak. Aku pikir malaikat tak punya nafsu untuk menertawaiku. Mereka hanya tunduk patuh, kata guruku. Menggerayangi langit setiap malam menjelang fajar, mencurahkan rahmat kepada siapa yang Tuhan mau, juga membawa laknat ke dalam rumah tanpa memberi salam.

Aku pilih saja berjalan-jalan. Satu jembatan, antara surga dan neraka, menaiki bukit menuju A’raf yang penuh sesak dengan manusia yang tergelincir satu demi satu. Sahut-sahutan bergerilya -entah pada malam atau siang, karena matahari telah padam dan rembulan hilang pantulan cahayanya. Salamun ‘alaika, aku dengar. Juga sayup-sayup: Waylaka, waylaka.

Mana kitabmu?

Aku lupa bawa. Tertinggal dalam dompet di saku celana yang seharusnya tadi pagi masuk mesin cuci. Aku pilih mengeluarkan dinar, menggelontorkan dirham. Mata para malaikat terpaku, lalu diam seribu bahasa. Tak ada ruang berkolusi. “Ini bukan Jakarta,” katanya menghardik.

“Bagaimana kalau aku benar-benar lupa?”

“Maka kau bersalah.”

“Lalu, mengapa jika aku bersalah?”

“Masuklah neraka. Kemasi barangmu segera!”

“Mengapa tak kau buang aku ke dunia? Seperti Adam!”

Malaikat menyeringai. Aku ditarik, masuk dalam sebuah putaran aneh. Pelan-pelan semua bergentayangan satu per satu. Seperti film hitam putih, bergerak dalam layar bioskop tanpa suara.

Dan aku lihat, Iblis masih asyik dengan dzikirnya yang tak padam. Di bawan pohon khuldi.

kolonglangit, september 2009

Bakal Bekal

Kiai Badrun tampak sedang berkemas-kemas. Beberapa lembar pakaiannya dimasukkan ke dalam koper besar. Bukan koper mahal, hanya dibelinya dengan terburu-buru di pasar loak sehari yang lalu. Tanpa merk, juga tanpa label harga yang bisa dibanggakan. Sebenarnya Kiai punya satu koper besar, tapi ia sendiri tak pernah tahu diletakkan di mana lagi sekarang. “Kau pikir kapan terakhir kita berhaji?” Kiai balik bertanya ke Hindun, istrinya, yang bolak balik ke gudang dan tidak menemukan satu pun isyarat benda bernama koper. Warnanya pun Kiai lupa. Kiai Badrun keluar dari varian normal para Kiai yang mampu berhaji dan umrah berkali-kali. “Itu kan sekali-kalinya kita pergi haji. Kalaupun hilang atau lupa, mudah-mudahan yang menemukan dan mengambilnya jadi bisa pergi haji. Anggap saja itu haji kita kedua. Haji koper.” Hindun tak bertanya lagi setelah itu. Mukanya lega menatap wajah suaminya yang tanpa beban sepulang dari pasar loak. Dua buah koper besar berwarna hitam dijinjingnya di kanan-kiri. Tak ada koper kecil untuk kabin, juga tak ada tas selempang yang bisa dibawa berjalan-jalan. Ah, dua koper pun cukup. Hati yang lapang, bahkan, lebih dari cukup.

Jarun yang sedari tadi menunggu di pondok kecil Sang Kiai mengintip sebentar-sebentar ke dalam. Kiai masih berkemas-kemas, lengkap dengan peluhnya yang mulai bercucuran dari kening.

“Menganak pinak, Run?” Manun menarik-narik lengan Jarun, mencari tahu apa yang sesungguhnya yang terjadi di dalam sana. Murid-murid berpeci itu mendadak berubah jadi wartawan infotainment yang sudah menyuarkan berita meski belum tahu kebenaran kejadiannya. “Basah kuyup, Nun. Basah kuyup,” kata Jarun. Keduanya duduk berhadapan. Yang satu bercerita hiperbolik, yang satu lagi duduk khusyu’ mendengarkan sambil menyimpan niat dalam-dalam untuk segera menyuarkan lagi ceritanya kepada yang lain. Memang ada berita penting yang tidak penting dan ada berita tidak penting yang menjadi penting. Tak perlu pula ikut pelatihan apalagi kuliah jurnalistik berlama-lama karena pewarta boleh jadi cukup memiliki blog yang disebar-sebar ke penjuru dunia. Boleh juga menyimpan artikel di portal berita terkenal secara bebas. Lebih boleh lagi menyebar berita yang salin-tempel di status jejaring sosial. Jurnalisme orang kota, barangkali. Yang masih di kampung, cukup dengan istilah gosip di warung kopi. Dari mulut ke mulut.

“Aku update status dulu,” sela Manun. “Penting ini, semua orang mesti tahu kalau Kiai mau pergi jauh. Jauh sekali.” Sibuk mencari-cari telepon selulernya di dalam saku, Manun tak sadar jika Kiai Badrun tiba-tiba keluar ke ruang tamu.

“Loh, kok masih di sini? Sudah berkemas-kemas kalian?

Kiai Badrun berdiri tegap. Manun memperhatikan dalam-dalam periuk wajah sang Kiai. Tak ada lenguh, tak ada peluh. Bajunya pun tak basah kuyup. Diliriknya Jarun dengan picingan mata tajam seperti ada dendam membara yang menggelora di matanya. Ia baru saja sadar bahwa ada yang sempat berdusta dan hampir saja kedustaan itu disebarluaskan tanpa saringan apapun. Tanpa konfirmasi, tanpa cek ricek. Asal ketik, asal tempel. Asar koar, asal ceblak.

Ngg… anu Kiai. Sudah semua kami kemas. Lengkap dua koper, plus satu ransel. Lebih lengkap dari kemas-kemas Kiai.” Jarun menjawab lepas sambil membereskan kemejanya yang sedikit lusuh karena tak henti duduk dan berdiri mengawasi Kiai sedari tadi. Kain sarungnya ikut dibenahi sambil meluruskan posisi peci hitamnya yang agak miring. Lalu tersenyum.

“Ada yang kurang, Kiai? Jangan sampai nanti kami terlupa.” Manun menyela, mencari perhatian.

“Kalian mau pergi ke mana?”

“Belanda, Kiai. Eropa.”

Kiai Badrun, Hindun, Jarun, dan Manun memang akan pergi ke Belanda. Berempat. Farous Ibnu Wahab, seorang cendikia Islam dari Syiria yang memiliki sebuah intitut pendidikan Islam di Rotterdam mengundang Kiai Badrun untuk mengajar selama setahun. Tak banyak kisah tentang Farous. Ia hanya dikenalkan oleh Kiai Salamun kepada Kiai Badrun saat berkunjung ke Negeri Sukun. Dalam suratnya yang singkat, ia hanya mengungkap ketertarikannya kepada Kiai Badrun dan mengajaknya berkisah di Belanda. Ya, berkisah. Kiai badrun tak ingin berceramah dan menjadi pemateri kuliah. Kesepakatannya bersama Farous hanyalah berkisah, seperti yang ia lakukan di Negeri Sukun.

“Saya ndak punya video yang bisa bikin histeris. Saya juga ndak jago menulis. Saya cuma punya lidah, barangkali ada yang mau mendengar kisah-kisah saya. Kalau itu dianggap ceramah atau kuliah, silakan saja.” Begitu katanya kepada Farous dalam sebuah perbincangan telepon jarak jauh.

Kiai Badrun awalnya ragu. Meninggalkan Negeri Sukun untuk sementara waktu pastilah menyisakan beban yang harus ia tanggung. Dua murid sontoloyonya, Jarun dan Manun, belum bisa dilepas begitu saja meski tak lagi tampak pandir di depan jamaah. Maka, Kiai meminta syarat bahwa istrinya dan dua muridnya harus diikutsertakan. Farous menyanggupi. Kiai Badrun dan rombongan pun diberikan tempat tinggal tiga tingkat, lengkap dengan semua perlengkapan rumah tangga. Semua aktivitas pengajaran dipusatkan di institut Islam milik Farous, sedangkan segala tingkah kekonyolan murid sang Kiai dipadatkan pada sepanjang jalan kota Rotterdam.

“Kiai, apa pantas kita pergi kalau ndak ada syukuran?” Manun menyela lagi. Perhatian yang tadi sepertinya belum cukup banyak. Kali ini ia memasang muka yang lebih serius dengan alis mata yang saling menukik menuju pangkal hidung. Tangannya perlahan diangkat, menopang dagu yang entah mengapa selalu dielus-elusnya meski tak punya jenggot.

Haflatul wada[1], maksudmu Nun?” Jarun bertanya, tak kalah serius.

Walimatus safar[2]. Ramai-ramai sebelum berangkat. Jangan kalah sama yang pergi haji, Kiai. Bikin pesta besar-besaran seperti ingin menikahkan anaknya. Bikin seperti walimatul ursy[3].”

“Siapa tahu ada yang mau mbekeli[4]. Kasih rantang atau rice cooker buat dibawa ke sana?”

“Atau mau titip oleh-oleh.”

“Biar semua orang tahu, Kiai. Kita mau pergi ke negeri jauh. Bukan haji, lebih jauh dari haji, bahkan. Saya siap undang semua orang. Saya invite pakai status saya.” Manun sibuk mencari-cari telepon selulernya yang belum ketemu dari tadi.

Hahaha… Kiai Badrun tertawa. Khas.

“Saya ndak punya apa-apa, Run, Nun.”

“Kami yang bantu persiapannya, Kiai. Ndak perlu khawatir.”

“Ah, Rasul itu mau pergi, mau perpisahan, punya wasiat untuk umat. Saya ndak punya apa-apa sebagai wasiat, lalu mengapa justru memestakan kepergian dan perpisahan?”

Jarun dan Manun mendadak diam. Sunyi.

“Setiap saat kita itu safar, dalam perjalanan. Ndak ada yang tahu pasti tujuan akhir saat kita di-cap wada’, kapan sesungguhnya wada’ kita, perpisahan kita dengan orang yang kita cintai di dunia ini. Cukuplah berkemas, berbekal. Ndak perlu pesta dan bermewah-mewah.”

Semakin sunyi.

Tiba-tiba telepon seluler Manun berbunyi. Ah, akhirnya ia temukan. Langsung tangannya menyambar.

“Mak-mu kirim pesan?” Jarun penasaran.

“Mak mana bisa pakai hape. Ini notification, ada yang re-tweet.”

“Nah, kau sudah tahu kan apa bekalnya sekarang?”

Manun melepas telepon selulernya, memasukkannya ke bawah kain sarungnya.

“Ketakutanmu, kekhawatiranmu, kecemas-harapanmu. Itu yang kau persiapkan, yang jadi awal bekalmu.”

Telepon seluler Manun berbunyi berkali-kali. Tidak juga ia buka. Ia ingat, baru saja menuliskan “Away” pada statusnya.

Rotterdam, November 2012


[1] Haflatul wada : pesta perpisahan

[2] Walimatus safar : pesta (sebelum melakukan) perjalanan

[3] Walimatul ursy : pesta pernikahan

[4] Mbekeli : memberi bekal

Sense of Insecurity

Ada satu pasien yang bolak-balik datang ke meja praktik saya. Berkali-kali dijelaskan tentang penyakitnya, tetap saja tak ada yang berubah dari perilakunya. Penyakitnya kronik, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup. Setiap kali datang ke meja praktik saya, keluhannya selalu bertumpuk. Entah benar, entah mengada-ada. Nyaris tak ada penyesalan karena dianggapnya semua pengeluaran untuk berobat ke dokter dan membeli obat-obatan sudah ditanggung perusahaannya. Dia cukup datang membawa diri dan keluhannya, diperiksa, mengambil obat, dan pulang. Edukasi sudah bertubi-tubi, tapi terasa seperti menghantam tembok.

 

Pasien lain berulangkali datang tanpa keluhan yang jelas dan preokupasi penyakitnya yang makin lama makin saya kenali. Sampai suatu saat pihak asuransi menelepon dan curiga pada keluhannya. Barangkali klaimnya membengkak di luar batas perkiraan sang penjamin. Saya edukasi pula berkali-kali dan tampaknya memang nyaris tak menemui hasil.

 

Kedua pasien itu, bagi saya, sudah tak punya cost-consciousness lagi. Perusahaan dan pihak asuransi yang berperan membuatnya begitu –dan boleh jadi memang sudah diperkirakan sebelumnya. Orang yang sudah memiliki asuransi kesehatan akan merasa terjamin untuk mengakses layanan kesehatan sesuka hati mereka. Lihatlah Puskesmas –yang untuk berobat ke sana hanya perlu dua ribu perak sebagai biaya pendaftaran. Biaya yang sangat terjangkau dan kepemilikan asuransi memang baik di satu sisi untuk menjamin ekuitas, tapi itu menyimpan efek buruk di sisi lain. Ia membuat seseorang merasa terjamin mengenai masa depan layanan kesehatannya. Mau sakit apapun, bisa mudah berobat. Tak ada lagi kepedulian berapa harganya, yang penting terjangkau dan terpenuhi. “Di-cover perusahaan kok, Dok…” Begitu kata pasien saya.

 

Itu yang dikenal sebagai moral hazard. Asuransi, dalam bentuk jaminan kesehatan sosial maupun asuransi pribadi, memang punya efek samping menginduksi munculnya moral hazard. Saya tak tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia yang tepat –apakah bisa disebut ‘bahaya moral’?. Ia dapat berupa perilaku berisiko yang kerap terus dilakukan karena merasa akses layanan kesehatan bagi dirinya sudah terjamin (ex-ante moral hazard) atau berulangkali datang ke layanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan yang sebenarnya tak benar-benar ia perlukan (ex-post moral hazard). Tapi, saya tak perlu menceramahi itu semua. Saya hanya berpikir, barangkali keduanya telah kehilangan sense of insecurity, rasa tidak aman dan kerentanan.

 

Selesai mengingat kedua pasien itu, saya lantas teringat kisah Umar bin Khattab yang bertanya kepada Ubay bin Kaab tentang taqwa. Ubay bertanya balik, “Pernahkah Engkau berjalan di titian yang penuh duri?” dan Umar mengiyakan. “Apa yang engkau lakukan?” Tanya Ubay lagi. Umar menjawab bahwa ia akan berhati-hati berjalan, menggulung lengannya dan berjuang. “Itulah taqwa,” jawab Ubay. Ada sense of insecurity, keberhati-hatian dalam hidup.

 

Kita mungkin tak mampu lagi berhitung berapa banyak moral hazard yang sudah kita lakukan dalam hidup.  Allah, dalam bahasa ekonomi, adalah the Perfect Agent. Dia Mengetahui segalanya. Jika dokter tak pernah yakin 100% outcome pengobatannya, Allah Maha Tahu tentang akhir perjalanan hidup. Jika dokter tak pernah bisa menjamin kapan seseorang sembuh, Allah Maha Tahu bagaimana caranya seseorang mendapatkan ridha dan ampunanNya. Tapi, sense of insecurity kita seringkali hilang, merasa bahwa kita sudah begitu ‘aman’ dari penglihatanNya, juga merasa ‘aman’ akan mendapatkan tempat di surgaNya. Ketika sense of insecurity kita hilang, ada dosa yang seringkali kita lakukan, perilaku kita berisiko akan azabNya –ex-ante moral hazard kita kepada Allah. Di kesempatan lain, ada taubat yang tak pernah menjadi taubatan nasuuha, berkali-kali taubat tanpa penyesalan yang berarti –ex-post moral hazard kita kepada Allah. Padahal, sesungguhnya Allah sudah berikan panduan lengkapnya dalam al Qur’an dan hadits –yang tak akan tersesat bila kita memegang teguh keduanya. Allah sediakan jalan kebaikan, juga Allah sediakan pintu taubat. Insurance tentang surga pun berlimpah, tapi ancaman neraka pun mengimbangi. Barangkali ada yang tak seimbang dalam hidup kita.

 

Sense of insecurity itu yang membuat para sahabat kerap menangis dalam shalat malamnya. Sense of insecurity itu yang membuat para salafus shalih memperbanyak ibadahnya dan menguatkan sikap wara’. Karena kearifan kita tak pernah menyamai kearifan Rasul yang terus menerus berterima kasih dalam ibadahnya meski telah dijamin surgaNya, maka cukuplah memelihara sense of insecurity dalam diri kita. Itu yang disebut dengan taqwa, yang menginduksi lahirnya sikap muraqabatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah) dan wara’ (berlepas diri dari segala keharaman).

 

Saya merenung lagi. Barangkali ketika nanti menerima pasien, perlulah pula saya mewasiatkan taqwa kepadanya. Ittaqullah, ittaqullaha haqqa tuqaatihi. Taqwa yang seharusnya tak hanya berdiam di mimbar-mimbar masjid, tapi hadir di ruang praktik dan gelas-gelas penyerta minum obat. Agar semua mengerti: betapa rentannya hidup kita ini.

 

Rotterdam, Oktober 2012

 

Qur’an Based Life

Bolak-balik mahasiswa datang ke saya, kadang dengan menelepon berkali-kali terlebih dahulu, hanya untuk memastikan topik yang diambilnya untuk sebuah tugas. Memang, tugas itu barangkali menjadi momok bagi kebanyakan mahasiswa kedokteran. Barangkali pula banyak yang tak mengerti benar mengapa mereka harus berjibaku dengan jurnal, lengkap dengan metode dan analisis statistiknya. Tak ingin berpeluh hanya untuk menilai sebuah studi itu sahih atau tidak, kebanyakan beranggapan: Berikan saja kesimpulannya, beres!

Evidence Based Case Report, nama tugasnya. EBCR, atau i-bi-si-ar dalam pelafalan bahasa Indonesia. Entah siapa yang keliru, mahasiswa seringkali datang tidak dengan “masalah”, namun kesimpulan. Retrograde tasking, dalam istilah saya. Mengerjakan tugas dengan mundur yang dimulai dari kesimpulan menuju hipotesis dan masalah. Saya sering tersenyum-senyum sendiri dan mencari penyebabnya. Keterbatasan waktu pengerjaan tugas yang dikombinasi dengan kemalasan dan kekurangpahaman urgensi bisa jadi penyebabnya. Saya belum melakukan survey, jadi jangan tanyakan seberapa valid kebenaran asumsi saya itu. Tapi, pasti ada yang keliru dalam logika belajar mahasiswa.

Jika seseorang diminta untuk berjalan mundur, bias arahnya akan lebih besar dibandingkan jika ia diminta berjalan maju. Sedangkan yang berjalan maju akan tahu di mana posisi awalnya dan ke mana ia harus menuju. Seringkali kita tidak menyadari bahwa keberhasilan sesuatu, bahkan program, bukan karena seberapa canggihnya strategi kita menghadapinya, tapi bagaimana kita memformulasikan masalah. Salah penempatan titik berangkat permasalahan, tujuan semakin sulit dipecahkan. Parahnya, itulah yang kebanyakan terjadi pada mahasiswa, barangkali juga pada dosennya, para menteri, atau bahkan Presiden dan para staf ahlinya.

Life is bundles of problems. Itu kata saya, bukan mengutip tokoh terkenal. Jadi, jangan harap menemukannya di mesin pencari semacam Google. Bagi saya, hidup memang persoalan. Allah menciptakan ruang masalah dengan kehendakNya bukan untuk membuat manusia tersiksa, namun untuk membuat derajatnya meningkat. Bahkan, sejak Adam dan Hawa di surga pun, Allah menyediakan ruang masalah dalam ‘pohon keabadian’, khuldi –seperti yang dibisikkan Iblis. Ada harapan, ada realita. Para ahli menyederhanakan istilah masalah sebagai ‘jurang antar keduanya’.

Dan lihatlah hidup, seberapa banyak realita kita yang menemukan harapannya dengan sempurna. Mulai dari bangun tidur melihat rumah yang berantakan, pergi ke kantor dalam kemacetan dan berdesak-desakan, janji yang tak tepat waktu, mahasiswa yang membuat kesal, rekan kerja yang tak menuntaskan pekerjaannya, atau bos yang selalu marah-marah. Cobalah lagi tengok ke dalam diri kita, seberapa banyak ‘jurang antara harapan dan realita’ itu. Problems are anywhere. Allah yang menunjukkannya dengan alasan yang kuat –karena Ia menciptakan manusia dengan akal, jiwa, dan bekal pedoman hidupnya.

Takdir, dalam cernaan fisika, bukanlah hasil akhir tentuan Allah. Ia adalah sekumpulan atom positif dan negatif, dan kitalah yang membuatnya saling berinteraksi. Kita yang menentukan afinitasnya, kecenderungannya, sedangkan Allah menyediakan sarananya. Begitu pun problem –yang dengannya adalah bagian yang tak terpisah dalam takdir. The significant problems we face cannot be solved at the same level of thinking we were at when we created them, kata Einstein. Maka dalam kehidupan, Allah berikan petunjuk bagaimana menyelesaikan beragam permasalahan. Dia limpahkan karunia yang Muhammad titipkan saat khutbah Wada: Al Qur’an dan al Hadits –yang tak akan tersesat siapapun yang berpegang teguh kepada keduanya. Tingkat berpikir kita memiliki keterbatasan, sedangkan tidak bagiNya. Hingga pada satu saat Abu Bakar as Shiddiq berucap dalam kalimat hiperboliknya yang terkenal, “Jika tali untaku hilang, pasti akan aku temukan dalam Al Quran,” untuk menyebut betapa Al Qur’an melampaui karya pikir manusia.

Jika saya mengingat polah mahasiswa yang kebingungan mencari masalah dalam tugas EBCR-nya, saya lantas teringat betapa banyak persoalan dalam hidup dan betapa mudah menemukannya. Masalah yang kita hadapi bukanlah masalah yang sesungguhnya, bukan the real problems. Kita yang tentukan ambang batasnya, threshold-nya. Yang lantas jatuh karena permasalahan kecil adalah mereka yang tak mampu meningkatkan ambang batas ‘masalah’-nya. Maka tuntutlah ambang batas setinggi-tingginya hingga mendekati ambang batas Muhammad –yang meyakini bahwa ‘masalah sesungguhnya’ dalam hidup adalah ketiadaan Allah dalam sanubari. Qur’an bukan sekadar kesimpulan, lalu kita tarik ke belakang sebagai formalitas keilmuan. Tak pantas ia sekadar dijadikan bahan retrograde tasking. Ia harus jadi The Guidance; acuan sekaligus bukti.

Ketika mahasiswa-mahasiswa itu meminta tandatangan saya agar tugas EBCR-nya disahkan, saya tercenung sendirian. Saya berpikir barangkali juga nanti saya menyerahkan tugas ‘kehidupan’ saya ke hadapan Allah untuk ‘disahkan’. Bukan tugas EBCR. Tapi, tugas QBL, Qur’an Based Life –sejauh mana saya menginduksi pokok kehidupan saya dengan Al Qur’an.

Rotterdam, September 2012

Prijanto dan Politik Kesederhanaan

Memang tak baik menyulut api amarah justru di awal bulan Syawal, ketika bermaaf-maafan seharusnya ditradisikan. Tetapi, pemaafan bukan berarti pembenaran atas kelupaan terhadap peristiwa keruh di masa lampau. Peristiwa yang semestinya menjadi pelajaran dan memberi bukti untuk penyusunan kebijakan.

 

Justru di awal Syawal ini saya membaca buku Prijanto dalam bentuknya yang terpotong-potong di situs pribadinya. Ada gugatan yang lirih di dalamnya, keras tapi tak menggema. Saya membaca kepedihan di dalamnya, campuran antara aroma semangat keadilan dan busuknya sakit hati. Buku itu sesungguhnya telah lama diluncurkan, dibuka ke publik sebagai pembelajaran atas upayanya mengundurkan diri dari jabatan wakil gubernur DKI Jakarta. Ia membela diri, ia menuding, kemudian ia pasrah.

 

Tak ada yang peduli di mana Prijanto sekarang. Namanya mengkerut di antara pertarungan Foke vs Jokowi yang semakin hari semakin tak beretika. Padahal, ia sosok yang baik untuk menjadi pemimpin. Lurus dan tertib, karakter yang persis dibangun dari barak militernya. Ia yang dulu tak pernah memikirkan karir politik di puncak kepemimpinan ibukota, dipasangkan untuk menjadi boneka. Setidaknya, begitulah yang ia rasakan dalam penuturannya. Membaca tulisannya seperti membaca duka yang tak pernah tuntas bahwa politik di negeri ini tak mengizinkan kesederhanaan. Ia rumit dan memang diciptakan untuk menjadi rumit.

 

Mengikuti prosedur yang telah disusun adalah kesederhanaan, tetapi politik membuat terjemahannya menjadi rumit. Ia menjadi penuh penafsiran dan prasangka. Ia tampak absurd dan sulit dipahami justru ketika semestinya ia begitu mudah untuk dimengerti. Benarlah Napoleon ketika ia berucap bahwa absurditas dalam politik bukanlah sebuah kecacatan. Absurditas boleh jadi adalah seni. Publik boleh tak paham, tetapi kafilah seniman politik harus selalu berlalu meski selalu digonggong dalam setiap manuvernya.

 

Prijanto mungkin bukan seniman politik. Kalaupun seniman, pastilah ia realis murni yang mengerti bahwa dunia harus dijalani secara lurus dan sederhana, apa adanya. Tak perlu ada yang disembunyikan, apalagi disalahgunakan. Kesederhanaan yang membuat seseorang mampu bersikap tegas. Kesederhanaan pula yang menjadikan seseorang tetap menjejak di bumi. Siapakah yang tak pernah mendengar kesederhanaan Muhammad yang menjadikannya pemimpin politik termasyhur di dunia, juga kesederhanaan Gandhi yang memaknai tindakan yang benar sebagai langkah politik terbaik?

 

Pertarungan politik hari ini tidak mengizinkan Prijanto hadir di arena. Bahkan, sejarahnya pun seperti terlupakan. Riwayat perjuangannya sebegitu mudah diabaikan dan tidak menjadi pertimbangan politik bahwa ada kecacatan birokrasi dalam lima tahun terakhir. Memang tak ada satu orang pun yang menjamin uraiannya akan terbukti, berbanding terbalik dengan keyakinan partai-partai politik yang berani menanggung risiko mengusung sang incumbent. Sejarah masa lalu seolah tak punya peranan dalam bentukan sejarah masa depan. Ia bisa dengan mudah dihapus dengan sekadar kontrak politik. Pemaafan atas kelamnya sejarah adalah absurditas yang dapat dengan mudah dimaklumi para seniman politik.

 

Membaca Prijanto dan pertarungan politik ibukota hari ini seperti memaknai kalimat Galbraith dalam suratnya kepada John F Kennedy bahwa “…politik bukanlah seni kemungkinan. Ia adalah perkara memilih antara bencana dan kenikmatan.” Adalah hal yang teramat sulit untuk mencari siapa yang berani berduka dalam bencana hari ini. Seperti sulitnya mencari siapa yang berani berpolitik secara sederhana, mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat tanpa mencampuradukkan dengan apapun.

 

Jika kesederhanaan politik itu telah habis tak bersisa, biarlah saja Prijanto mengingat keterlelapannya dalam mobil tanpa AC di Taman Suropati lima tahun lalu. Karena begitu pula terlalu banyak yang terlelap untuk dapat segera bermimpi tentang kekuasaan yang ‘sekadar’ lima tahun itu.

 

Jakarta, Syawal 1433 H

Pindahan

Sesungguhnya ada keinginan yang menderu-deru untuk memakai WordPress sejaka dahulu. Tetapi, persentuhan saya dengan Multiply yang lebih awal menyisipkan keengganan untuk berpindah. Mengelola dua blog adalah kerumitan tersendiri yang saya hindari sejak semula. Maka, ketika Multiply mengumumkan ‘kepailitannya’ atas perangkat blog-nya dan segera ditutup di akhir tahun ini, mau tak mau saya harus hijrah ke tempat lain. Saya pikir WordPress adalah pilihan tepat. Saya tak perlu menggubris bila disebut pengkhianat sseperti Luis Figo yang pindah ke Madrid dari Barca atau Van Persie yang berlabuh ke MU dari Arsenal. Saya cukup melebarkan senyum saya dan berdoa: barangkali Tuhan masih menyisakan tenaga dan pikiran saya untuk berbagi manfaat.

Silakan mengkritik, mengomentari, dan mencaci maki saya di sini. Dan saya akan begitu sangat menghargainya bila ia disampaikan dengan rasa cinta yang mendalam.
Salam,

Ahmad Fuady

Iklan

catatan sepanjang jalan