aafuady.com

Penelitian Menuju Tuhan

Beberapa mahasiswa –untuk tidak menyebutnya terlalu banyak – seringkali risau jika dalam penelitian mereka tidak menemukan hubungan atau perbedaan yang bermakna antara variabel yang diteliti. Nilai signifikansinya (p) kurang dari 0,05, begitu sebut mereka dengan kisruh. Dosen pembimbingnya pun sama risaunya karena yang ada di kepala saat itu adalah semestinya hipotesis mereka terbukti, sesuai denganlandasan teori, menyokong kerangka dasar ilmiah yang sudah ada. Hanya sedikit yang saya temukan tetap bergembira meskipun hasil penelitiannya tidak sesuai dengan hasil studi lain yang mainstream.

Padahal, kita seharusnya memahami ilmu sebagai sesuatu yang baru yang diselami. Untuk itu, pemikiran harus dibuka seluas dan selebar mungkin dengan segala macam kemungkinannya: sesuai atau tidak sesuai dengan teori yang saat ini beredar kebanyakan. Maka, fakta apapun harus diterima. Tidak perlu ditertawakan, di-bully, atau dikritisi mati-matian. Justru yang paling penting dalam tradisi keilmuan adalah sikap terhadap fakta.

Cabai itu umumnya pedas. Jika suatu saat seorang anak SMP menemukan cabai yang pahit, jangan ditertawakan. Ia sedang menemukan fakta, dan fakta itu menjadi sebuah ilmu, teori, model yang baru ketika ia menemukan konsistensinya. Dicoba berkali-kali, ditemukan polanya. Maka, ajak ia mencari jalan yang valid untuk menyimpulkan mengapa cabai dapat terasa pahit dengan menguji seberapa konsisten dan pada kondisi apa saja cabai dapat terasa pahit. Ketika ia menemukan faktor tanah, cuaca, air, dan benih yang memengaruhi, maka pada itulah fakta tadi berubah menjadi pengetahuan baru.

Maka, jangan takut pada fakta yang baru. Orang pun boleh saja mengemukakan asumsi kebaruan sejarah tentang Majapahit dan Gaj Ahmada-nya, Borobudur dengan Nabi Sulaiman-nya, atau PKI dengan Soeharto-nya, misalnya. Jangan ditertawakan dan di-bully. Dalam tradisi ilmiah, asumsi itu harus dibawa ke meja teliti, lalu diuji: seberapa konsisten ia dengan temuan yang lain dan seberapa kuat data yang menyokongnya.

Kalau ada seorang anak bilang, listrik kedongdongnya bisa menerangi dunia, terima saja dulu dan bawa ke meja uji, ajak dia menghitung-hitung seberapa banyak pohon kedongdong yang dibutuhkan untuk menerangi seantero desa tempat tinggalnya, baru kemudian dipahami dan disimpulkan. Kalau ada dokter yang bilang fakta lain tentang kedondong bahwa kedondong bisa menyembuhkan typhus dan malaria, misalnya, ya silakan di bawa ke lorong fakta, namun jangan terburu-buru memasukkannya ke kotak kesimpulan, apalagi saran dan rekomendasi. Tidak pantas dia kemudian menjadikannya sebagai kebijakan publik, bahkan untuk public yang terbatas pada pasien-pasiennya yang manut-manut saja ketika diedukasi ‘bohong-bohongan’. Dia harus menjalani rangkaian proses terlebih dahulu, diuji metodenya, dites konteks dan variabel-variabel yang ada di sekelilingnya, dikaji kerunutan dan kesesuaiannya dengan pengetahuan lain yang telah ajeg, baru kemudian dia bisa membuka jalan menuju kesimpulan.

Kesimpulan itu semua pun bisa sangat lebar rentangnya. Diterima penuh, ¾, ½, dengan catatan beribu lembar, atau ditolak mentah-mentah. Semua bergantung kepada metode apa yang ia kerjakan. Tak boleh langsung lompat, apalagi nge-gelesor.

Maka, meneliti itu harus bersungguh-sungguh karena dengan begitu penelitian menjadi jalan menuju Tuhan dan khazanahnya yang sangat luas. Pengetahuan Tuhan itu semestinya menjadi daya tarik yang harus disingkap. Tuhan menyimpan qadha-nya yang selama ini kita tidak mampu memahaminya dengan penuh. Ketika menemukan sebuah teori atau model baru, anggaplah kita tengah menyingkap sebuah qadha baru, ketetapan Tuhan yang terformulasi dalam kerangka pikir manusia. Kita selama ini berteori bahwa anak yang rajin dan pintar akan lulus; itu sunnatullah, ketetapan. Tapi, toh ada variannya. Anak yang rajin dan pintar, tapi sakit-sakitan menjelang ujian, atau tak punya relasi yang baik dengan dosen pembimbingnya, atau teledor dan ceroboh, mungkin saja gagal. Di situlah kita menemukan algoritma qadha yang tidak kaku, fleksibel, dan menggairahkan.

Penelitian itu bukan guthak-gathuk mencocok-cocokkan temuan dengan teori. Kalau tidak sesuai hasilnya, diubah pemeriksaannya sampai sesuai dan signifikan. Kalau masih tidak signifikan, dicari-cari dan dipotong populasi dan analisisnya sampai sesuai dengan kehendak para penguji. Kalau masih tak sesuai juga dengan kebanyakan temuan di studi lain, variabelnya diubah-acak lagi sampai kongruen dengan temuan orang dan peneliti lain yang sudah mancer di jurnal terkemuka seluruh dunia. Padahal, ruang diskusi terbuka lebar untuk menganalisis sebanyak mungkin alasan. Dan dengan mengerti alasan, akar masalahnya, kita menemukan potensi fakta lain, pertanyaan penelitian lain, dan ruang teliti yang lebih luas. Dan dengan begitu kita menyadari: ilmu itu bukan hanya yang ada dan tertuang di jurnal, tapi ada di alam semesta yang memang disediakanNya untuk datang menujuNya.

Sebelum memulai perjalanan, jangan lupa untuk menyiapkan bekal: keterbukaan, kejujuran, keingintahuan, dan kerendahhatian di hadapan Tuhan. Selamat berlayar di khazanah Tuhan tak bertepi.

Rotterdam, Ramadhan 1438

Foto diambil dari: http://www.kompasiana.com/achmadpongsahidysaifullah/bersekolah-agar-jadi-peneliti-mengapa-jarang-diminati_57bbe2dd109373170cf75ff5

 

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on linkedin
Share on Linkdin
Share on pinterest
Share on Pinterest

Leave a comment

Pandemi Multirupa
24 Desember 2020
Pandemi ini sudah melintasi batasnya dari pertarungan melawan virus belaka menjadi pandemi krisis...
Benarkah Covid Menular Lewat Udara?
13 Juli 2020
Banyak yang bertanya apakah benar virus corona Sars-Cov2 ini sekarang sudah bermutasi menjadi lebih ganas...
Membuka Kembali Sekolah: Strategi Alternatif
26 Juni 2020
Membuka kembali aktivitas sekolah bukanlah keputusan yang mudah. Polarisasi kepentingan dan pendapat...
COVID-19 pada Anak Usia Sekolah: Waswas?
25 Juni 2020
Menjawab soal kapan sekolah dibuka kembali dan kapan harus ditutup adalah persoalan yang sangat sensitif....
COVID-19, Penutupan Sekolah, dan Krisis Sosial
23 Juni 2020
Semenjak COVID-19 menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia, banyak negara mengambil langkah cepat untuk...
Obat COVID-19, Overclaim, dan Politik Kabar Baik
16 Juni 2020
Dosa para politikus adalah memproduksi kebijakan yang serampangan. Dosa para saintis adalah mengklaim...
Tsunami Ilmu COVID-19 dan Problemnya
08 Juni 2020
Pekan lalu, Lancet dan New English Journal Medicine (NEJM) – dua jurnal medis terkemuka – menarik kembali...
Beriman kepada Corona (2)
21 Mei 2020
Jika kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat...
Beriman Kepada Corona (1)
20 Mei 2020
Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujungkuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya....
Kuncitara dan Kecemasan Global
09 April 2020
"Semua nampak rumit, dan terlalu dini hingga saat ini untuk memprediksi sebesar apa perseteruan antara...